Berharap Alutsista baru benar-benar tersedia tahun depan

Alutsista harus segera diperbarui.
Alutsista harus segera diperbarui. | Kiagus Aulianshah /Beritagar.id

Pesawat C-130 Hercules TNI AU bernomor A-1334 itu direncanakan mendarat di Bandara Wamena pukul 06.13 waktu setempat pada hari Minggu 18 Desember 2016. Rencana itu tidak terlaksana. Menjelang mendarat, pesawat itu jatuh.

Pesawat yang dipiloti oleh Mayor Penerbang Marlon A Kawer tersebut berangkat dari Skadron 32 Lanud Abdulrahman Saleh, Malang, Sabtu (17/12) sore. Pesawat dengan 12 kru itu langsung menuju ke Kupang di Nusa Tenggara Timur, kemudian ke Timika dan ke Wamena.

Seperti dijelaskan Kepala Penerangan Pangkalan TNI AU Abdulrachman Saleh, Mayor Sus. Hamdi Londong Alow, pesawat itu terbang ke Papua dalam misi navigasi excercise. Yaitu, misi latihan peningkatan kemampuan penerbangan dari co-pilot menjadi pilot.

Lebih jelas lagi, seperti dikutip Tempo, Wakil Kepala Staf TNI AU (Wakasau) Marsekal Madya TNI Hadiyan Sumintaatmadja mengatakan, "Misi di Papua, salah satunya tes. Uji coba. Latihan bahwa nantinya para penerbang mampu mengoperasikan pesawat di mana pun pangkalan yang ada."

Selain menjalankan misi latihan tersebut, pesawat yang sama juga membawa semen atas permintaan resmi pemerintah Papua.

Pesawat yang berangkat dari Timika pukul 05.35 WIT itu sebetulnya sempat menjalin kontak dengan petugas tower Bandara Wamena pada pukul 06.02 WIT. Bahkan pada pukul 06.08 petugas tower secara visual sudah melihat pesawat tersebut bersiap mendarat. Namun satu menit kemudian tower tak bisa menghubungi pesawat itu lagi.

Kecelakaan di Wamena itu adalah kecelakaan keenam yang menimpa pesawat milik TNI pada 2016. Sebelumnya sejumlah pesawat TNI juga mengalami kecelakaan di sejumlah tempat.

Awal Februari pesawat jenis Super Tucano milik TNI AU jatuh menimpa rumah di Malang. Tiga orang meninggal dunia dalam kecelakaan tersebut.

Sebulan kemudian, helikopter Bell 412 EP milik TNI AD jatuh di Poso. Semua kru dan penumpang pesawat tersebut meninggal.

Pada Jumat sore di awal bulan Juli helikopter jenis Bell 205 A-1 milik TNI AD Jatuh di Sleman. Korban meninggal dalam kecelakaan itu mencapai 4 orang.

Helikopter jenis Bell 412 milik TNI AD juga jatuh di pegunungan Malinau pada bulan November. Dalam kecelakaan itu 3 orang tewas, dan 2 orang lainnya ditemukan selamat.

Sebuah pesawat Skytruck milik Polri jatuh di perairan Lingga, Kepulauan Riau pada 3 Desember. Kru dan penumpang, yang berjumlah 13 orang, tewas dalam kejadian itu.

Pertanyaan yang perlu segera dicari jawabannya sekarang adalah "apakah penyebab kecelakaan pesawat di Wamena itu?"

Ketika pesawat Hercules itu hendak mendarat, kabut memang sedang menyelimuti Wamena. Bagi para penerbang, cuaca di Bandara Wamena memang sering tidak bersahabat. Kabut, itulah soalnya. Landasan dan punggung-punggung bukti di sekitarnya seringkali tertutup kabut.

Tapi apakah faktor cuaca yang menyebabkan kecelakaan itu? Bagaimana dengan kondisi pesawat?

Wakil Kepala Staf TNI AU (Wakasau), Marsekal Madya TNI Hadiyan Sumintaatmadja, memastikan bahwa pesawat tersebut layak terbang. Pesawat Hercules itu masih memiliki masa operasional 69 jam terbang, sebelum masuk hanggar untuk perawatan per-1000 jam terbang.

Penyelidikan atas kecelakaan tersebut sudah dimulai Senin 19 Desember ini. Nantinya, selaku Ketua Dewan Keselamatan Terbang Kerja (Lambangja), Wakasau akan memimpin sidang untuk kasus kecelakaan tersebut. Dari hasil sidang itulah kita akan tahu penyebab kecelakaan Hercules tersebut.

Semula beredar kabar bahwa pesawat yang memperkuat Skadron 32 Wing II Lanud Abdulrachman Saleh itu adalah pesawat hibah dari Royal Australian Air Force (RAAF). Namun hal itu dibantah oleh Wakasau saat jumpa pers di Halim Perdananakusuma.

"Pesawat 1334 ini adalah bagian dari pesawat yang kita beli," tegasnya seperti ditayangkan oleh Kompas TV. Pemerintah Indonesia memang pernah menerima hibah empat pesawat C-130 bekas pakai AU Australia setelah ditingkatkan kemampuannya.

Keempat pesawat C-130 tersebut telah datang ke Indonesia, bernomor registrasi A-1330, A-1331, A-1332, dan A-1333. Setelah itu, Indonesia membeli lima pesawat bekas pakai lagi, yang dihargai US$15 juta, plus simulator dan suku cadang yang dibutuhkan. Salah satunya adalah A-1334.

Pesawat itu memang sudah cukup berumur ketika dibeli. Meskipun baru diterima TNI pada Februari 2016 lalu, pesawat buatan 1978 itu sudah dipakai RAAF sejak 1980-an, dan 'dipensiunkan' sejak 2012. Pesawat lalu diperbarui, dan dijual "murah" ke Indonesia.

Belum bisa dipastikan apakah kecelakaan terjadi karena kondisi pesawat. Namun kecelakaan di Wamena itu sudah selayaknya membuat kita waspada dengan pesawat-pesawat yang kita miliki. Bagaimana pun faktor umur akan berpengaruh kepada kondisi pesawat, tergantung bagaimana perawatannya.

Untuk memastikan kondisi pesawat, kita sangat berharap TNI melakukan audit kelaikan pesawat-pesawatnya. Dan, seperti ditegaskan Presiden Joko Widodo, maintenance pesawat-pesawat TNI harus selalu diawasi.

Ide tentang pembaruan Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) juga sebaiknya memang tidak lagi tertunda. Kita sangat berharap rencana kehadiran Alutista baru pada tahun depan benar-benar terwujud. Kita ingin tentara bekerja dengan peralatan yang layak untuk menjaga kedaulatan negara ini.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR