Dalam kecelakaan transportasi, pemerintah jangan pasang wajah tak berdosa

Ilustrasi: Rem blong sudah banyak memakan korban kecelakaan transportasi
Ilustrasi: Rem blong sudah banyak memakan korban kecelakaan transportasi | Salni Setiadi /Beritagar.id

Kabar duka itu datang dari Subang, Jawa Barat. Bus wisata Premium Passion mengalami kecelakaan. Korbannya sangat banyak.

Bus itu adalah salah satu dari beberapa bus yang mengangkut rombongan Koperasi Simpan Pinjam Permata Ciputat Tangerang Selatan. Setelah sempat menyenggol motor di depannya, bus terguling di Turunan Cicenang Kampung Cicenang Desa Ciater Kecamatan Ciater Kabupaten Subang, yang lebih dikenal dengan sebutan Tanjakan Emen.

Kecelakaan yang terjadi sekitar pukul lima sore itu mengakibatkan 26 penumpang bus dan satu orang pengendara motor -yang tersenggol bus- meninggal dunia. Puluhan penumpang lainnya di bus itu terluka.

Jumlah korban tewas itu terhitung sangat banyak; bahkan berlipat-lipat dibandingkan dengan jumlah korban tewas pada kecelakaan serupa di kawasan Puncak pada tahun lalu.

Dalam kecelakaan bus pariwisata HS Transport di kawasan Puncak Bogor Jawa Barat pada 22 April tahun lalu itu, jumlah korban tewas mencapai 4 orang. Seminggu kemudian, 20 April tahun lalu, bus pariwisata Kitrans juga mengalami kecelakaan serupa di kawasan Puncak juga. Dalam kecelakaan itu, korban tewas mencapai 12 orang.

Bus Premium Passion, yang dikemudikan Amirudin, sore itu sedang dalam perjalanan pulang dari rekreasi di Tangkuban Perahu, Bandung, menuju arah Subang. Ketika melintasi jalan yang menurun dan berkelok, pengemudi tidak dapat mengendalikan kendaraannya. Bus kemudian menabrak sepeda motor, menabrak tebing di sebelah kiri, lalu terguling di bahu jalan.

Jalan di kawasan itu memang berkelok dan mempunyai turunan yang cukup tajam. Namun kita tahu, faktor alam seperti itu barulah salah satu hal yang bisa menjadi faktor penyebab kecelakaan. Di negeri ini ada banyak jalan berkelok dan menurun, namun kondisi itu tidak selalu mengakibatkan kecelakaan.

Faktor lain yang bisa menyebabkan kecelakaan adalah cuaca, manusia, dan kondisi kendaraan. Apa yang terjadi dengan bus Premium Passion Sabtu sore itu?

Berdasarkan jejak-jejak ban bus tersebut di jalan, kecelakaan bus Premium Passion itu diduga terkait dengan rem yang tidak berfungsi secara normal. Kebanyakan dari kita menyebutnya sebagai rem blong.

"Ada bagian lain dari sistem rem mobil bus yang tidak berfungsi sehingga meski ada aktivitas pengereman yang terbukti dengan adanya jejak-jejak ban, bus tetap melaju hingga ke turunan dan menabrak di pas tikungan," jelas Bripka D Iskandar, petugas olah TKP Polres Subang yang berada di lapangan, seperti dikutip oleh Tribunnews.

Dugaan bahwa penyebab utama kecelakaan itu adalah rem blong, diperkuat dengan pengakuan kondektur bus. Pada awal perjalanan, menurut kondektur, bus berjalan dengan normal. Namun di tengah perjalanan rem belakang bus mengalami gangguan.

Sopir, pada jam makan siang setelah berkonsultasi dengan pihak manajemen bus, berusaha memperbaikinya. Ia memotong karet rem yang bocor dan mengakalinya dengan memasang baut.

Rem blong menjadi kesamaan berikutnya antara kecelakaan bus Premium Passion dengan kecelakaan bus HS Transport dan Kitrans tahun lalu. Bedanya terletak pada uji kir pada ketiga kendaraan itu. Uji kir dilangsungkan untuk memastikan bahwa kendaraan memenuhi syarat untuk layak jalan sehingga tidak menimbulkan masalah di jalan.

Pada kasus kecelakaan bus HS Transport, buku kir-nya diindikasikan palsu. Pada kasus kecelakaan bus Kitrans, buku kir-nya tidak sesuai dengan peruntukannya.

Sedangkan bus Premium Passion yang mengalami kecelakaan di Tanjakan Emen Subang itu tercatat sudah melakukan uji kir pada bulan Oktober tahun lalu, atau 4 bulan lalu. Artinya uji kir itu masih berlaku sebab uji kir diwajibkan setiap 6 bulan.

Publik berhak untuk bertanya, mengapa kendaraan umum yang tercatat melakukan uji kir namun ternyata kondisinya tidak layak jalan -terbukti dengan kerusakan pada rem belakang bus sebelum kecelakaan terjadi seperti diakui oleh kondektur itu?

Pertanyaan itu bisa disusul dengan pertanyaan berikutnya, apakah kendaraan yang tercatat telah melakukan uji kir itu memang melakukan uji kir? Apakah uji kir itu dilangsungkan dengan sempurna?

Semua pihak harus memaklumi jika publik menyangsikan kesungguhan uji kir selama ini. Publik belum lupa, pada saat Wakil Gubernur DKI -yang saat itu dijabat oleh Ahok- dan salah satu Wakil Ketua KPK -Bambang Widjojanto- pada tahun 2014 melakukan inspeksi mendadak ke Satuan Pelayanan Pengujian Kendaraan Bermotor, Kedaung, Kaliangke, Jakarta Barat.

Selain menemukan indikasi korupsi di tempat itu, mereka mendapatkan sejumlah alat uji kir ternyata rusak. Dalam kondisi alat uji yang rusak itu, jumlah kendaraan yang diuji per hari mencapai 500 unit. Itu jelas bukan keadaan yang masuk akal untuk uji kir yang sesuai dengan standar.

Uji kir yang dilakukan asal-asalan, bukan saja merupakan bentuk korupsi, melainkan juga sekaligus bentuk penganiayaan dan mengancam keselamatan warga negara.

Sopir bus Premium Passion, yang menurut penumpang berkendara secara disiplin dan tidak ugal-ugalan itu, telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus kecelakaan di Tanjakan Emen. Seharusnya, itu saja tidak cukup.

Pemerintah pun harus ikut bertanggung jawab atas kecelakaan itu. Pemerintah semestinya melakukan penyelidikan yang serius untuk memverifikasi kebenaran catatan dan kualitas uji kir atas bus tersebut.

Hal itu bisa sekaligus menjadi momentum bagi pemerintah untuk membenahi uji kir di seluruh pelosok negeri sebagai bagian dari upaya membangun kembali kepercayaan publik.

Dalam kasus kecelakaan yang memakan korban begitu banyak seperti di Tanjakan Emen itu, pemerintah tidak patut memasang wajah tak berdosa.

BACA JUGA