Hentikan kekerasan di sekolah kedinasan

Kekerasan senior terhadap junior
Kekerasan senior terhadap junior | Salni Setyadi /Beritagar.id

Kembali jatuh korban meninggal dunia, akibat penganiayaan senior kepada juniornya di sekolah berbasis kedinasan. Kali ini korbannya adalah Aldama Putra Pongkala (19) taruna tingkat pertama Akademi Teknik Keselamatan Penerbangan (ATKP) Makassar.

Orang tua Aldama, Pelda Daniel Pongkala, Anggota TNI AU Lanud Sultan Hasanuddin Makassar, tak pernah menyangka, Minggu (3/2/2019) adalah pertemuan terakhir dengan anak semata wayangnya. Malam itu Aldama pamit kembali ke asrama, setelah mendapat izin bermalam di rumah.

Menjelang tengah malam, Daniel mendapat kabar dari ATKP, agar segera menuju Rumah Sakit (RS) Sayang Rakyat, Bringkanaya, Kota Makassar. Ada kabar anaknya kecelakaan, jatuh di kamar mandi.

Sesampai di Rumah Sakit, Daniel mendapati Aldama sudah terbujur kaku, tak bernyawa di kamar mayat. Ia memeriksa dengan seksama jenazah anaknya. Ia menemukan luka di kepala serta memar di perut dan tangannya.

Tentu saja Daniel tak percaya pada staf ATKP yang mengatakan anaknya terjatuh di kamar mandi. Ia meyakini anaknya meninggal karena dianiaya. Selanjutnya ia melaporkan kasus tersebut ke Polsekta Biringkanaya dengan nomor polisi LP/91/II/2019/Restabes Makassar/Sek Biringkanaya.

Belakangan polisi memastikan Aldama meninggal karena dianiaya, setelah melakukan pemeriksaan terhadap 22 orang saksi, yaitu taruna seangkatan Aldama dan beberapa senior lainnya.

Kepala Polrestabes Makassar, Kombes Polisi Wahyu Dwi Ariwibowo dalam pernyataan kepada media, menyebutkan, polisi telah menetapkan seorang terangka: Muhammad Rusdi (21), taruna tingkat dua ATKP.

Penyebab penganiayaan, menurut polisi, sangat sederhana. Aldama pada Minggu malam yang nahas itu terlihat memasuki kampus mengendarai sepeda motor tanpa helm. Tidak mengenakan helm dianggap pelanggaran disiplin oleh seniornya.

Aldama lalu dipanggil ke kamar Rusdi. Ia diminta melakukan posisi bertobat. Yaitu merenggangkan kaki, kepala menyentuh lantai sebagai tumpuan, dan kedua telapak tangan di belakang pinggang.

Setelah itu ia diminta berdiri, lalu Rusdi memukul dada Aldama beberapa kali. Tak tahan dengan pukulan itu, Aldama tersungkur. Rusdi mencoba memberikan pertolongan dengan bantuan pernapasan dan mengoleskan minyak kayu putih, namun tidak tertolong. Aldama diperkirakan tewas saat dibawa ke Rumah Sakit.

Memang ada kejanggalan dalam kematian taruna ini. Mengapa pihak ATKP seolah ingin menutup-nutupi, dengan mengatakan Aldama jatuh di kamar mandi? Juga polisi yang begitu cepat menetapkan Rusdi sebagai pelaku tunggal, sementara berdasarkan bekas luka di tubuh Aldama, Daniel sangat yakin anaknya dikeroyok.

Polisi harus transparan mengungkap kematian Aldama ini. Tak hanya pada kemungkinan adanya pelaku lain, tapi juga tanggung jawab ATKP. Apa pun tempat kejadian perkara berada di dalam kampus, yang tentu saja pengelola ATKP harus ikut bertanggung jawab, tak bisa lepas tangan begitu saja.

Yang pasti kematian Aldama ini menambah daftar panjang korban kekerasan oleh senior di dalam lembaga pendidikan berbasis kedinasan. ATKP adalah Lembaga Pendidikan di bawah naungan Kementerian Perhubungan.

Bila menengok ke belakang, kasus kekerasan yang mengakibatkan kematian di lembaga pendidikan berbasis kedinasan oleh senior terhadap juniornya, selalu terjadi hampir setiap tahun.

Kita tentu masih ingat, beberapa waktu lalu taruna tingkat pertama STIP (sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran), Cilicing, Jakarta, Amirulloh Adityas Putra (18), meninggal dianiaya oleh 4 orang seniornya. Sebelumnya di kampus yang sama, Agung B Gultom, juga tewas di tangan 10 taruna seniornya.

Pada 2017, Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang, harus memecat 14 siswanya, karena menjadi tersangka penganiayaan yang menyebabkan kematian Brigadir Dua Taruna (Brigdatar) Mohammad Adam di Asrama Kesatria Akpol, Semarang.

Bukan rahasia bahwa pendidikan berbasis kedinasan menegakkan disiplin ala militer dalam proses pendidikannya. Keberadaan para senior sering dilibatkan sebagai penegak kedisiplinan.

Dalam beberapa hal para senior ini memang bisa membantu dalam peningkatan ketaatan terhadap peraturan, norma-norma dan kedisiplinan.

Sayangnya peran sebagai penegak kedisiplinan ini sering kali kebablasan, melebihi para pembimbing yang sesungguhnya. Pengendalian emosi yang belum stabil, sering menjadikan senior sebagai patron, sedang junior sebagai klien.

Relasi antara patron dan klien berjalan sangat primitif. Patron sebagai penguasa yang boleh menggunakan kekerasan, sementara klien sebagai orang yang harus tunduk, tak bisa melawan, pun melaporkan kepada pembimbing ketika patron melakukan kekerasan.

Akibatnya para pembimbing dan pengelola pendidikan baru tahu adanya kekerasan setelah jatuh korban.

Dalam setiap peristiwa kekerasan yang mengakibatkan kematian di lembaga Pendidikan berbasis kedinasan, selalu muncul pernyataan bahwa itu adalah kejadian terakhir. Lembaga pendidikan tidak pernah menghalalkan kekerasan.

Kementerian menjanjikan evaluasi termasuk melakukan penindakan terhadap pengelola lembaga pendidikan agar tidak terjadi korban berikutnya. Namun kenyataannya peristiwa serupa terjadi lagi.

Dalam kasus kematian Aldama ini, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi pun memerintahkan Kepala Badan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Perhubungan untuk membentuk tim investigasi.

Kekerasan di lembaga pendidikan berbasis kedinasan sudah seharusnya dihentikan. Namun untuk menghentikannya, tidak cukup hanya dengan pernyataan. Dibutuhkan perubahan radikal dalam sistem pembinaan taruna.

Melarang segala bentuk hukuman fisik, misalnya. Juga membuat sistem pengawasan dan pelaporan baik di kampus maupun di asrama.

Selain itu tentu saja mendewasakan emosi dan sikap metal para tarunanya. Mereka harus paham disiplin adalah hal penting, tapi yang jauh lebih penting adalah keselamatan jiwa sesamanya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR