Kesiapan pendidikan menyambut revolusi 4.0

Ilustrasi: Revolusi 4.0 dan dunia pendidikan.
Ilustrasi: Revolusi 4.0 dan dunia pendidikan. | Salni Setyadi /Beritagar.id

Setelah menggenjot infrastruktur, pengembangan sumber daya manusia (SDM) menjadi prioritas pemerintah. Itulah yang disampaikan Presiden Joko Widodo dalam berbagai kesempatan.

Pada kesempatan yang lain, presiden juga mengingatkan semua pihak terkait untuk bersiap memasuki revolusi industri 4.0. Sebuah revolusi yang mengubah berbagai hal, baik, cara bekerja, cara berbisnis, cara berjejaring, cara berinvestasi, cara melayani, dan yang sangat penting adalah cara berpikir.

Perubahan yang sangat besar dalam revolusi industri 4.0, tak mungkin dicegah. Dia sudah hadir di depan kita dan harus dihadapi, dengan perubahan yang signifikan, baik di sektor regulasi, birokrasi, kecepatan pelayanan dan perizinan, sampai kesiapan SDM.

Beberapa hal di hilir kerap ditekankan presiden dalam menyiapkan SDM yang tepat untuk menyambut tantangan revolusi industri 4.0. Misalnya, tentang vocational school, vocational training, politeknik, kemitraan dengan industri juga upgrading SDM di seluruh kementerian dan lembaga.

Namun hal yang tak boleh dilupakan dalam menyiapkan SDM dalam revolusi 4.0 adalah di hulu, di pendidikan dasar dan menengah. Pendidikan memang menjadi keniscayaan untuk mencetak siswa yang tangguh yang pada ujungnya menjadi SDM berdaya saing tinggi.

Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional (2 Mei), menjadi momentum yang tepat untuk melihat kembali bagaimana dunia pendidikan kita mencetak siswa yang siap untuk menghadapi perubahan dan kompetisi global.

Mesti disadari bersama bahwa pendidikan nasional seperti tengah mencari bentuk. Kurikulum silih berganti. Coba kita simak, mulai Kurikulum 1984, Kurikulum 1994, Kurikulum 2004, berikutnya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006. Perubahan kurikulum ini harus jujur diakui, belum bisa meningkatkan kualitas pendidikan yang progresif.

Penyebabnya, belum tentu karena kurikulumnya yang tidak bagus. Tapi ada beberapa faktor lain yang sering kurang menjadi perhatian, yaitu pemahaman guru terhadap kurikulum tersebut.

Tolok ukurnya sangat sederhana. Coba perhatikan cara pendidik mengajar di depan kelas, tak berubah secara signifikan dari waktu ke waktu. Kurangnya pelatihan guru untuk memahami kurikulum sering menjadi alasan. Jumlah guru yang sangat besar memang perlu waktu panjang untuk memberikan pelatihan.

Celakanya ketika belum semua guru berkesempatan mendapat pelatihan, kurikulum sudah berubah lagi. Masalah seperti ini semestinya menjadi perhatian serius yang tidak perlu terulang kembali.

Saat ini yang tengah berjalan adalah Kurikulum 2013. Dalam penerapannya pada 3 tahun terakhir, dimasukkan sistem pembelajaran berbasis kemampuan nalar tingkat tinggi atau yang dikenal dengan higher order thinking of skills (HOTS).

Ada perubahan cukup mendasar dalam pembelajaran HOTS ini. Siswa tidak lagi hanya mengandalkan kemampuan mengingat atau menghafal, lalu menceritakan kembali, apa yang telah diajarkan.

HOTS memerlukan kemampuan yang levelnya lebih tinggi. Yaitu, berpikir logis, kritis, analitis, sintesis, serta kreatif dan inovatif dalam banyak hal. Harapannya siswa akan memiliki pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, dan evaluasi.

Kurikulum 2013 ini secara kualitatif bisa dikatakan sangat tepat untuk menjawab tantangan revolusi 4.0. Namun sekali lagi mesti diingat, kurikulum yang bagus, belum tentu bisa seketika menghasilkan output yang bagus pula.

Coba kita cermati hasil Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2015. PISA diselenggarakan oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), sebagai program untuk mengukur pencapaian pendidikan di seluruh dunia.

Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi ini melakukan survei untuk mengukur kemampuan anak berusia 15 tahun dalam literasi membaca, matematika, dan sains.

Hasil survei 2015, yang diumumkan pada 2016, menunjukkan kemampuan siswa Indonesia untuk literasi membaca berada pada urutan 66 dari 72 negara, dengan skor 397. Matematika di urutan 65 dengan skor 386. Sedang sains di peringkat 64 dengan skor 403.

Hasil tersebut, cukup menyedihkan kalau tidak mau disebut buruk. Sebab, kemampuan dasar siswa Indonesia berusia 15 tahun di bidang membaca, matematika dan sains, di bawah rata-rata negara OECD. Bahkan bila dibandingkan dengan negara di kawasan ASEAN pun, peringkat Indonesia berada di bawah Thailand dan Vietnam.

Hasil serupa juga ditunjukkan dalam Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) yang dilakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2016. Asesmen tersebut, menyebutkan persentase pencapaian siswa yang kurang di bidang matematika sekitar 77,13 persen, kurang di bidang kemampuan membaca sekitar 46,83 persen dan kurang di bidang sains 73,61 persen.

Meski demikian, hasil tersebut tidak bisa dipakai untuk memberikan penilaian final bahwa siswa di Indonesia berkemampuan buruk. Hasil tersebut sesungguhnya hanyalah evaluasi di hilir. Kita harus merunut sampai jenjang atasnya. Artinya, hulunya pun harus dievaluasi.

Apakah para pendidik sudah memahami metode pembelajaran HOTS? Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan lah yang bisa menjawabnya, tentunya setelah melakukan evaluasi.

Dalam penerapan HOTS, guru dituntut lebih kreatif dan inovatif dalam menyajikan materi pelajaran. Karenanya menyegerakan pelatihan pada para pendidik, harus menjadi program prioritas.

Kita sangat tidak berharap kekeliruan-kekeliruan pada kurikulum sebelumnya, terjadi lagi. Kegagalan dalam peningkatan kualitas pendidikan saat ini, pengaruhnya akan sangat besar pada ketersediaan SDM yang diharapkan mampu menjadi pemenang di era revolusi 4.0.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR