Ketika anak muda bercanda dengan sejarah

Tentara mengambil gambar rekannya di depan Monumen Pancasila Sakti yang terdiri dari tujuh patung Pahlawan Revolusi yang dibunuh anggota PKI (Partai Komunis Indonesia) di Kompleks Monumen Pancasila Sakti, Jakarta, Selasa (29/9/2015)
Tentara mengambil gambar rekannya di depan Monumen Pancasila Sakti yang terdiri dari tujuh patung Pahlawan Revolusi yang dibunuh anggota PKI (Partai Komunis Indonesia) di Kompleks Monumen Pancasila Sakti, Jakarta, Selasa (29/9/2015) | Hafidz Mubarak A /Antara Foto

"Jasmerah, artinya jangan sekali-kali melupakan sejarah," begitu kata Bung Karno, presiden pertama Indonesia.

Ir. Soekarno, memang tokoh yang selalu mengingatkan arti pentingnya sejarah. "Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya," kata Bung Karno dalam kesempatan yang lain.

Apakah kita termasuk orang yang menghargai sejarah? Mari melihat apa yang terjadi di sekeliling. Kebetulan hari ini tanggal 1 Oktober 2015, Hari Kesaktian Pancasila yang dilatari peristiwa Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30S PKI).

Media tentu saja banyak menurunkan berita seputar peringatan G30S PKI. Di media sosial, juga banyak ajakan mengenang terbunuhnya 10 pahlawan revolusi saat G30 S PKI meletus. Mereka berbagi doa atas jasa para pahlawan tersebut.

Namun di media sosial pula banyak generasi milenial bercanda dengan sejarah. Generasi milenial adalah istilah yang populer digunakan untuk mereka yang lahir pada era 90-an.

Memparodikan penggalan film G30S PKI di YouTube misalnya. Membuat meme pidato Ketua Komite Sentral PKI, DN Aidit juga ada. Foto Aidit berpidato di mimbar, ditempeli teks: "Kalau sedjarah PKI kau sebut kelam, lalu kisah tjintamu itu mau kau sebut Apa?"

Ada lagi yang membuat komik strip penggalan film G30S PKI, saat adegan di rumah Letjen (Anumerta) Mas Tirtodarmo Harjono, salah seorang pahlawan revolusi. Teks yang disertakan dalam 3 strip gambar tersebut:

"Selamat malam, Bu. Di mana Jenderal MT Harjono?"

"Ohh...Kalau dari kuningan belok kiri, tapi kalau dari Gatsu lurus aja mz.."

"Kalo dari Blok M, Bu?...."

Cara bercanda dengan sejarah ini tentu mengundang tawa. Namun bisa saja menjadi rawan. Karena bisa menyinggung perasaan keluarga besar MT Harjono. Tapi, mari berprasangka baik saja.

Anggap mereka tak memahami arti pentingnya sejarah. Sehingga mereka menganggap pahlawan hanya sekadar nama jalan. Tak beda dengan Gajah Mada atau Mangga Dua.

Bila benar generasi milenial tak memahami sejarah, sesungguhnya malah menjadi persoalan serius, setidaknya dalam pendidikan sejarah. Karena sejarah tak sekadar cerita masa lalu, yang membuat kesal karena mesti dihafalkan.

Selain pendapat Bung Karno di atas, memahami sejarah juga dimaksudkan agar generasi berikut bisa belajar soal nilai, perjalanan peradaban, juga perubahan zaman.

The Examplar Theory of History menyebut: Sejarah adalah teladan bagi kehidupan manusia, karena sejarah mengajarkan nilai-nilai dan norma-norma yang bisa dijadikan pedoman bagi kehidupan manusia.

"Historia vitae magistra," (Sejarah merupakan guru bagi Kehidupan) begitu orang Romawi berbilang.

Di Amerika Serikat, bahkan, sejarah dinilai penting untuk menguatkan rasa nasionalisme. Untuk menjadi gubernur, senator di negeri Rambo tersebut, harus lulus tes sejarah.

Memang tak semua sejarah adalah catatan jujur tentang peristiwa masa lalu. Ada yang bilang, sejarah dituliskan oleh kaum pemenang untuk kepentingan tertentu. Kaum pecundang tak layak menulis sejarah.

Meski demikian, sesungguhnya semua orang bisa menuliskan sejarahnya sendiri. Almarhum Sartono Kartodirdjo, guru besar sejarah UGM, pernah bilang, wong cilik juga bisa melahirkan sejarah seperti yang ia tuliskan dalam Pemberontakan Petani Banten 1888.

Ihwal sejarah G30S PKI sendiri, tidak sedikit pihak yang mengkritisi. Banyak yang menudingnya sebagai rekayasa historiografi penguasa saat itu yang disusupi kepentingan politik. Masalahnya, bukan hal gampang untuk memberikan fakta-fakta otentik sebagai pembenar tudingan tersebut.

Apa pun yang mewarnai polemik G30S PKI, rasanya ada yang tak pas jika menertawakan sejarah yang penuh amis darah. Empati jauh lebih penting. Namun, dibutuhkan pengetahuan yang memadai untuk melahirkan empati yang tulus.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR