Mencari jalan mencegah lonjakan harga cabai

© Kiagus Aulianshah /Beritagar.id

Harga cabai seperti bersayap dalam dua bulan belakangan ini. Terbang tinggi. Naik.

Di Sumenep, misal, pada minggu kedua Februari ini harga cabai mencapai Rp150.000 per kilogram. Dibandingkan minggu sebelumnya, komoditas itu naik Rp20.000 per kilogram. Sedangkan komoditas pertanian lainnya cenderung stabil.

Di Badung, di tingkat petani saja, harga cabe rawit merah bisa mencapai Rp125.000 per kilogram. Sedangkan di Bojonegoro, harga cabe merah di pasaran bisa mencapai Rp130.000 per kilogram. Harga cabai di atas Rp100.000 per kilogram juga terjadi di sejumlah daerah lain.

Masyarakat merasa, harga cabai seolah tidak terkendali. Wajar jika kemudian masyarakat bertanya-tanya, apakah lonjakan harga cabai ini terjadi karena ada praktik perdagangan yang tidak sehat?

Ketua KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha) RI, Syarkawi Rauf, menganggap harga cabai yang mencapai di atas Rp100.000 per kilogram itu tidak rasional.

"Sangat tidak rasional, biasanya kenaikan itu hanya berkisar 10-30 persen, tapi ini 100 persen kenaikannya. Inilah kita kumpulkan informasinya di seluruh daerah, apakah ada permainan bandar (pengusaha besar) ataukah tidak," katanya seperti dikutip Antara.

Sejauh ini, menurut Syarkawi, KPPU belum menemukan indikasi ke arah permainan antar bandar itu. "Tim masih bekerja," ucap Syarkawi mempertegas.

Pada beberapa kesempatan Pemerintah cenderung terlihat bersikap pasrah atas situasi ini. Telunjuk pemerintah cenderung menuding cuaca sebagai faktor penyebab kenaikan itu--seolah tidak ada jalan keluarnya.

"Ya gimana? Kita pakai doa aja supaya enggak hujan," ujar Menteri Perdagangan di Kantor Koordinator Perekonomian, Enggartiasto Lukita, ketika ditanya wartawan Kamis (9/2/2017) malam. "Tanya sama Tuhan kapan hujan berhenti," lanjutnya.

Kementerian Pertanian pun menganggap tingginya harga cabai sebagai sesuatu yang wajar. "Ini masih wajar, mahalnya harga cabai tidak terjadi hanya di Indonesia saja. Bahkan di luar negeri juga terjadi hal demikian," kata Riwantoro, Kepala Pusat Distribusi Cadangan Pangan Kementerian Pertanian Senin (13/02).

Hal serupa juga disampaikan oleh Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Darmin Nasution. "Kalau (harga) cabai tinggi di musim penghujan, normal saja itu," katanya di kompleks Istana Negara, Jumat (10/2).

Masyarakat sebetulnya bisa memahami kaitan logis antara menurunnya pasokan cabai dengan musim hujan saat ini. Itu adalah hal yang logis saja. Masyarakat paham itu. Yang dipertanyakan masyarakat adalah: apakah wajar jika harga cabai melonjak naik seperti tidak terkendali?

Sederhananya, masyarakat menginginkan penjelasan yang terkait dengan solusi yang konkret dari lonjakan-lonjakan harga cabai sekarang ini.

Sempat tersiar kabar bahwa pemerintah mengimpor cabai sebagai jalan keluar dari situasi ini. Tapi desas-desus itu dibantah oleh pemerintah.

"Sampai saat ini, kami tidak memberikan persetujuan impor cabai segar," jelas Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag), Oke Nurwan, Jumat (17/2/2017).

Wakil Presiden Jusuf Kalla juga membantah kabar tentang impor cabai itu. "Ada kasus-kasus penyelundupan karena Indonesia terlalu banyak pantai. Jadi kalaupun ada masuk (ke pasar) itu pasti bukan impor resmi, tapi dari pantai-pantai yang terbuka ini," ujarnya di Istana Wakil Presiden.

Lewat Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Tjahya Widayanti, Pemerintah pernah memandang salah satu upaya untuk menurunkan harga cabai adalah mengimbau agar masyarakat mengubah pola konsumsi cabai. Ide ini terasa naif.

Bagaimanapun, data di Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa proyeksi konsumsi langsung itu hanya sekitar 42 persen dari proyeksi produksi cabai. Artinya, produksi cabai kita masih bisa memenuhi kebutuhan konsumsi langsung masyarakat.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, juga memang mempertegas bahwa stok cabai itu aman. "Cabai ada di lapangan," kata Amran. Pendistribusiannya, menurut Amran, perlu diperbaiki.

Enggartiasto juga melihat hal serupa. Menteri Perdagangan itu juga menyatakan bahwa beberapa daerah mengalami kelebihan pasokan cabai dan akan didistribusikan ke daerah yang kekurangan.

Masyarakat ingin mendengar, melihat, dan merasakan langkah konkret ke arah itu agar harga cabai lebih terkendali. Langkah-langkah nyata pemerintah untuk mengatasi masalah ini akan lebih menenteramkan warga negara ketimbang terlihat pasrah kepada keadaan.

Alam mungkin tidak bisa dilawan. Tetapi itu bukan alasan untuk menghentikan kita mencari jalan keluar ke arah yang lebih baik.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.