Mengapa kelalaian fatal dalam pelayaran terjadi lagi?

Ilustrasi: Anggota keluarga penumpang KM Sinar Bangun melihat daftar nama penumpang yang hilang, di posko Pelabuhan Tigaras, Danau Toba, Simalungun, Sumatra Utara, Selasa (19/6).
Ilustrasi: Anggota keluarga penumpang KM Sinar Bangun melihat daftar nama penumpang yang hilang, di posko Pelabuhan Tigaras, Danau Toba, Simalungun, Sumatra Utara, Selasa (19/6). | Irsan Mulyadi /ANTARA FOTO

Sebagian warga masyarakat bergembira dalam libur Lebaran tahun ini. Mereka yang melakukan perjalanan mudik di Pulau Jawa banyak yang mengaku puas. Arus mudik di Pulau Jawa, banyak diakui, berjalan lebih lancar ketimbang tahun sebelumnya.

Meski di puncak arus balik di Pulau Jawa masih ditandai kemacetan yang cukup parah di beberapa titik, namun secara umum para pemudik mengaku lebih puas dengan kondisi lalu lintas Lebaran tahun ini daripada sebelumnya.

Di tengah kabar baik di Pulau Jawa itu, terdengar kabar duka dari Sumatera Utara. Sebuah kapal motor mengalami kecelakaan di perairan Danau Toba pada Seni (18/6/2018). Kapal Motor (KM) Sinar Bangun tenggelam sekitar satu mil dari Pelabuhan Tiga Ras, Kabupaten Simalungun, pada sore hari sekitar pukul 17.15 WIB.

Sejauh ini, sudah 21 penumpang KM Sinar Bangun ditemukan. Delapan belas orang di antaranya selamat. Sedangkan 3 orang lainnya meninggal dunia.

Korban kecelakaan KM Sinar Bangun bukan hanya 21 orang itu saja. Masih ada banyak korban yang dinyatakan hilang.

Kepala Polda Sumut Inspektur Jenderal Paulus Waterpauw, seperti dikutip Kompas, memperkirakan korban hilang sekitar 200 orang. Angka itu hampir sama dengan data yang diungkap oleh Kepala Kantor SAR Medan, Budiawan.

" Hingga pukul 11.25 WIB, korban yang harus dicari 192 orang," kata Budiawan, pada Rabu (20/6).

Jelas, itu bukan angka yang kecil. Ini adalah kecelakaan transportasi yang sangat besar.

Kecelakaan terjadi ketika KM Sinar Bangun dalam perjalanan dari Pelabuhan Simanindo, Kabupaten Samosir, menuju Pelabuhan Tiga Ras di Kabupaten Simalungun. Kapal yang biasa mengangkut penumpang dan motor itu berukuran 35 GT (gross tonage). Sebuah kapal kecil saja.

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) memang belum merilis penyebab kecelakaan tersebut. Namun dugaan yang mengemuka, kecelakaan itu berkaitan dengan cuaca buruk: angin kencang dan gelombang besar.

Terkait dengan cuaca buruk di perairan Danau Toba itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengaku telah menyampaikan peringatan dini terkait cuaca ekstrem kepada pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat serta otoritas penyeberangan.

Peringatan dini itu disampaikan dua kali oleh pihak BMKG, pukul 11.00 WIB dan 14.00 WIB. Dalam peringatan dini yang kedua –yang juga berisi peringatan cuaca 3 sampai 4 jam ke depan, BMKG mengingatkan bahwa kecepatan angin di kawasan Danau Toba mencapai 2-3 meter per detik.

Kecepatan angin meningkat pada pukul 17.00 WIB, mencapai 6 meter per detik. Angin dengan kecepatan tinggi seperti itu tentu membahayakan kapal-kapal kecil seperti KM Sinar Bangun.

Data-data itu memperlihatkan, kecelakaan terjadi 15 menit dari terjadinya fluktuasi kecepatan angin. Hal ini tentu memunculkan pertanyaan, tidakkah pengelola pelabuhan mensosialisasikan peringatan dini dari BMKG tadi, dan menjadikannya pertimbangan penting dalam mengelola pelayaran sore itu?

Kecelakaan yang terjadi dalam masa liburan Lebaran itu menjadi terasa sangat mengenaskan karena tampaknya terkait juga dengan sejumlah kelalaian yang sudah berulangkali menjadi penyebab kecelakaan di perairan.

Perkara muatan adalah salah satunya. KM Sinar Bangun yang berukuran 35 GT itu seharusnya, seperti disampaikan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, hanya berkapasitas 43 orang saja. Sedangkan muatan KM Sinar Bangun sore itu, berdasarkan laporan jumlah orang hilang saja, sudah melewati kapasitas tersebut. Belum lagi terhitung puluhan kendaraan bermotor yang juga diangkutnya.

Jaket pelampung yang tersedia di KM Siar Bangun hanya berjumlah 45 saja. Tentu tidak cukup untuk ratusan penumpang yang diangkutnya.

Kelalaian lain, yang juga sering mewarnai kecelakaan pelayaran, adalah bahwa KM Sinar Bangun tidak memiliki manifes. Tidak ada data resmi jumlah penumpang dan muatan.

Bahkan, seperti diungkap pihak kepolisian, KM Sinar Bangun tidak memiliki izin untuk berlayar. Polisi juga mengungkapkan, pada hari raya Lebaran banyak kapal-kapal ilegal yang beroperasi mengangkut penumpang.

Sangatlah disesalkan bahwa kelalaian yang berakibat fatal seperti itu masih saja terjadi dalam pengelolaan pelayaran. Pengelola pelayaran seolah tidak belajar dari sejumlah kecelakaan yang pernah terjadi pada masa sebelumnya; seolah tidak ada upaya yang sungguh-sungguh untuk meningkatkan perhatian kepada aspek keselamatan dalam pelayaran.

Pemerintah daerah, sesuai amanat Undang-undang Pelayaran, seharusnya memperlihatkan tanggung jawab yang sungguh-sungguh untuk membina pelayaran –termasuk aspek keselamatan dan keamanannya. Jika indikasi bahwa pemerintah daerah cenderung abai dalam pembinaan pelayaran, pemerintah pusat seharusnya juga lebih sigap berinisiatif untuk melakukan koordinasi.

Kecelakaan di perairan Danau Toba ini sekaligus menjadi pengingat bahwa perhatian tidak boleh hanya diberikan kepada urusan transportasi darat –dan bahkan hanya di Pulau Jawa saja. Terlebih karena Indonesia lebih berupa negara kepulauan, pelayaran juga harus mendapat perhatian yang patut.

Seperti halnya di darat dan di udara, negara harus bertanggung jawab atas kelancaran, keamanan dan keselamatan transportasi di perairan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR