Mengutuk serangan teroris di Sarinah

Ilustrasi #kamitidaktakut pada aksi terorisme.
Ilustrasi #kamitidaktakut pada aksi terorisme. | Foto: Frannoto/Tempo /Olah visual Beritagar.id

Aksi teror kembali mengguncang Jakarta, Kamis (14/1/2016). Terjadi di depan pusat perbelanjaan Sarinah, Jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat, serangan mematikan itu mengakibatkan sedikitnya 7 orang meninggal dan 20 luka-luka. Insiden ini melengkapi gelombang terorisme yang mengguncang kota-kota besar dunia, seperti Paris dan Istanbul, secara simultan belakangan ini.

Meski mirip di Paris, modus operandi aksi di Sarinah tergolong baru pertama kali di Indonesia. Para pelaku melakukan serangan terbuka di tengah keramaian, menembak polisi dan warga sipil, melempar granat, dan meledakkan bom. Ini berbeda dari modus kelompok Dr. Azhari, Noordin M. Top, Amrozi, dan Imam Samudera yang hanya meledakkan bom.

Aksi di Sarinah memperlihatkan bahwa para pelaku teror satu langkah di depan aparat keamanan. Sebab sinyal akan datangnya serangan teroris yang mematikan sebenarnya sudah dideteksi jauh-jauh hari, setelah beberapa terduga teroris ditangkap di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, antara Desember 2015 - Januari 2016. Dari penangkapan tersebut diketahui adanya rencana aksi teror dengan nama sandi "konser akhir tahun."

Serangan di Sarinah juga menunjukkan operasi penangkapan itu belum tuntas. Masih banyak anggota jaringan teroris yang bergerak bebas. Sel-sel yang sewaktu-waktu muncul ini membuat satuan intelijen sulit memastikan kapan dan di mana "konser" akan berlangsung. Sementara aparat keamanan mustahil melindungi semua tempat yang berpotensi jadi sasaran serangan. Bukan tak mungkin serangan sejenis akan meledak di tempat lain.

Akibatnya jelas: ketakutan segera menyebar di tengah masyarakat. Takut itu manusiawi tapi kita tak boleh takluk pada tindak terorisme. Kejahatan seperti ini harus dikecam dan dilawan. Aksi teror wajib dikutuk karena, seperti yang terjadi di belahan dunia mana pun, sering kali memakan korban orang awam.

Terorisme bukan tindakan kekerasan destruktif biasa, melainkan kejahatan luar biasa yang mengorbankan perdamaian dan keamanan umat manusia. Teror harus dilawan. Sebab jika dibiarkan, ia akan mengganggu keamanan, ketenangan, dan menimbulkan keresahan masyarakat.

Untuk mencegah berulangnya aksi jahat itu, semua pihak harus bekerja sama. Pemerintah, tokoh masyarakat, para pemimpin agama, juga orang-orang biasa, harus mencari penyebab munculnya tindakan teror dan kemudian mengantisipasinya.

Negeri ini menyimpan aneka potensi yang bisa memicu detonator teror: radikalisme, gerakan radikal, kelompok militan, kemiskinan, intoleransi. Program deradikalisasi harus terus-menerus dijalankan secara meluas dan intensif. Deteksi dini harus selalu diingatkan untuk mengendus potensi terorisme di lingkungan terdekat.

Jangan sampai potensi-potensi terorisme itu menemukan jalan ke panggung yang mereka cari. Sebab aksi teroris ibarat pertunjukkan. Para pelaku memerlukan pentas dan penonton. Panggung untuk memamerkan keganasan mereka. Penonton sebagai saksi yang merasakan dampaknya ke dalam hidup mereka, sejenak ataupun lama.

Teror juga sebuah penyataan. Meski pernyataan itu tidak pernah jadi jelas bagi jutaan penonton. Efeknya mengharu biru, tapi ia tak menyebabkan pihak yang diteror bertobat atau tunduk. Pada akhirnya teror akhirnya bukanlah untuk menggerakkan dukungan yang konsisten untuk perubahan. Teror tak punya daya transformatif. Teror bukan sebuah revolusi.

Kita harus menunjukkan bahwa semua aksi teror yang kehilangan tujuan itu akan berhadapan dengan sesuatu yang lebih berharga; sebuah harapan; sebuah ikhtiar untuk sebuah negeri yang aman dan demokratis. Dan kita tahu siapa yang akan menang. Kita. Indonesia.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR