Mengutuk teror Magelang dan Yogyakarta

Teror cutter di Yogya dan senapan angin di Magelang, apa motifnya?
Teror cutter di Yogya dan senapan angin di Magelang, apa motifnya? | Kiagus Aulianshah /Beritagar.id

Ketenangan kota sejuta bunga Magelang, Jawa Tengah, terusik oleh aksi penembakan oleh orang tak dikenal. Sebanyak 13 orang mengalami luka tembak. Kota di lereng Gunung merbabu, seluas 18 kilometer persegi, berhawa rata-rata 24 derajat Celsius, itu pun mendadak terasa panas.

Polisi belum memiliki data yang cukup untuk mengungkapkan pelaku, apalagi motif penembakan. Satu-satunya petunjuk adalah proyektil timah berupa gotri berukuran 4,5 mm. Barang bukti itu cukup bagi polisi untuk memastikan pelakunya menggunakan senjata angin (air gun).

Penyelidikan kasus penembakan memang agak lambat. Polisi terkesan kesulitan. Penyebabnya bukan sekadar minimnya bukti, tapi para korban pun sangat lambat melaporkan peristiwa ini ke polisi.

Laporan pertama dilakukan oleh Santi Rahayuningsih (20). Pedagang di kios buah Anugerah di Jalan Ikhlas, ini mendatangi polisi pada 20 April 2016. Padahal kejadian yang dialami dua hari sebelumnya.

Ketika itu dia tak menyadari jadi korban penembakan. Dia mendengar ada tiga kali bunyi aneh di kiosnya. Pertama di tripleks dinding kios, lalu ke tumpukan keranjang kemasan buah.

Semula ia mengira ada tikus di situ. Ketika memeriksanya, "tak!" pahanya tertembak. Meski dia memakai celana jin, kulitnya tetap terluka dan berdarah.

Polisi berusaha proaktif. Atas laporan tersebut, aparat mengecek ke lapangan dan bertanya ke rumah sakit. Polisi menemukan 13 orang yang menjadi korban. Hanya satu korban pria, lainnya wanita. Selain itu, diketahui penembakan sudah terjadi sejak 6 April 2016.

Bila hanya melihat luka ringan pada korban, peristiwa ini akan dikategorikan pidana biasa. Manun polisi memastikan pelaku akan dikenakan tindak pidana terorisme. Hal ini disampaikan Kepala Divisi Humas Polri, Brigadir Jenderal (Pol) Boy Rafli Amar.

Kesimpulan ini diambil, karena rentetan peristiwa yang berkelanjutan, diduga melalui perencanaan serta bertujuan menimbulkan teror di masyarakat. Jika benar, maka aksi terkutuk ini harus segera diungkap.

Menangkap pelaku dan membuka motifnya, memang menjadi desakan dari warga Magelang. Selama pelaku belum tertangkap, rasa kekhawatiran masyarakat akan jatuhnya tambahan korban, tak bisa dibendung. Meskipun polisi berkali-kali meminta warga tetap tenang.

Buktinya kini kios dan pertokoan di daerah itu kini tutup lebih cepat 1 sampai dua jam, dibanding hari-hari sebelum teror terjadi.

Polres Magelang dibantu Polda Jawa Tengah membentuk Posko Pengungkapan Kasus Penembakan. Dari ikhtiar ini, diharapkan akan terungkap misteri motif dan pelaku penembakan. Kapolri Jenderal Badrodin Haiti, meminta polisi fokus dalam mencari pelaku.

Fokus lainnya adalah, mencari tahu mengapa korban lambat melapor. Sehingga polisi harus proaktif mencari korban. Apakah menganggap hal ini tak penting, karena lukanya hanya ringan, atau ada masalah lain.

Masalah lain itu misalnya karena selama ini masyarakat punya pengalaman buruk dengan polisi: Selama ini laporan tak pernah direspons misalnya. Bila itu yang terjadi, tentu polisi Magelang harus melakukan introspeksi. Karena tugas polisi menjaga ketertiban dan ketenteraman, akan membuahkan hasil baik bila mengundang keterlibatan warga.

Tugas polisi Magelang memang cukup berat untuk mengungkap teror senapan angin ini. Data sementara yang terkumpul masih sangat minim: Korban kebanyakan wanita, pelaku memakai senapan angin, serta lokasi penembakan yang terkonsentrasi di satu wilayah. Yaitu di daerah pecinan, Jalan Pemuda sampai Jalan Ikhlas atau sekitar 500 meter dari Pecinan.

Ciri pelaku belum diketahui. Beberapa saksi menyebutkan pelaku diduga lebih dari seorang, menggunakan mobil. Sayangnya, meskipun terjadi di pusat kota, di daerah itu tidak terdapat CCTV. Kamera pemantau hanya ada beberapa toko, yang tak membantu informasi apapun.

Minimnya data tentu tak bisa jadi alasan bagi polisi bila tidak berhasil mengungkapkan kasus ini. Kredo kriminologi menyebut: Pelaku kejahatan selalu membawa jejak dari tempat kejadian perkara. Sebaliknya, si pelaku juga pasti meninggalkan jejak kehadirannya

Dengan menggunakan kredo itulah, Kepolisian Yogyakarta mulai bisa mengidentifikasi pelaku teror yang serupa tapi tak sama, yang terjadi di beberapa tempat di Yogyakarta. Pada Senin (25/4/2016) sekitar pukul 12.00-13.00 ada tiga orang melaporkan menjadi korban penyayatan di lengan kanannya.

Korban pertama adalah KR (16) siswa SMK, ia sedang berjalan di Jl Mondorakan, Prenggan, Kotagede, tiba-tiba pengendara sepeda motor memepetnya, tanpa disadari lengan kanannya luka sayatan sepanjang 5 cm.

Berselang beberapa saat siswi SD, NER (12) menjadi korban serupa di Jl Nyi Pembayun, masih di Kotagede. Berikutnya NRS (18), mahasiswi, ia sedang berjalan kaki menyusuri Jalan Prof Dr Soepomo, dari tempat parkir kendaraan menuju kampusnya, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta. Lengan kanannya disayat oleh pengendara motor.

Posek Kotagede lalu mengecek semua CCTV yang ada di seputar wilayah tersebut. Hasilnya, dari dua tempat berbeda ada seorang yang diduga pelaku terekam dala m CCTV.

Cirinya, lelaki berumur sekitar 40 tahun, menggunakan sepeda motor, berjenggot tipis. Saat menjalankan aksinya, pelaku mengenakan jaket biru tua dan celana berbahan kain. Ada tas di antara setang dan jok sebagai tempat senjata tajam (sajam) yang diduga cutter.

Polisi berencana membuat sketsa wajah pelaku dan segera melakukan pengejaran.

Kita tentu berharap polisi segera mengungkap siapa pelaku dan motif teror di Magelang dan Yogyakarta ini. Masyarakat juga harus terus diingatkan, jangan mudah percaya berbagai isu yang membumbui peristiwa ini, yang kemudian malah bisa membuat masyarakat semakin resah.

Hanya dengan cara itu masyarakat bisa mendapatkan kembali ketenteraman dan rasa aman yang sempat hilang.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR