Menjaga harga pangan agar tak gampang terbang

Ilustrasi: Menjaga agar stabilitas harga agar tetap terjangkau.
Ilustrasi: Menjaga agar stabilitas harga agar tetap terjangkau. | Salni Setiadi /Beritagar.id

Terkait kebutuhan selama Ramadan dan lebaran nanti, ada dua hal yang yang menjadi perhatian besar publik: harga bahan pangan dan mudik. Tentu urusan harga panganlah yang akan lebih dulu menyita perhatian kita –setidaknya karena kepelikan urusan mudik berjarak satu bulan dari awal Ramadan.

Sejak jauh-jauh hari, dalam Sidang Kabinet paripurna pada awal Maret, Presiden Joko Widodo sudah meminta jajaran kabinetnya untuk menjaga harga kebutuhan pokok yang sangat mempengaruhi inflasi dan kemiskinan

"Berkaitan dengan harga beras dan daging dipastikan agar harganya turun sebelum bulan puasa," kata Presiden saat itu.

Sebulan kemudian, dalam rapat terbatas tentang lebaran 2018, Presiden Joko Widodo kembali mengingatkan pentingnya memastikan ketersediaan stok dan stabilitas harga bahan pokok.

Dalam rapat terbatas itu, selain menyinggung perihal bahan pokok, presiden juga mengingatkan pentingnya memastikan antisipasi mudik lebaran –termasuk perihal stok BBM, pembangunan dan perbaikan infrastruktur di jalur mudik- dan keamanan selama Ramadan.

Sejumlah langkah sinergis dilakukan oleh kementerian dan lembaga pemerintah serta pemerintah daerah untuk menjaga stabilitas harga bahan pangan. Salah satu kebijakan pemerintah terkait hal tersebut adalah intervensi untuk beberapa komoditas pangan –seperti beras, daging, daging ayam serta telur, minyak, dan gula.

Sejak awal Maret lalu Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita telah meminta agar komoditas tersebut tersebar di berbagai daerah sesuai dengan potensi kebutuhan yang ada berdasarkan perkiraan masa lalu.

"Sehingga tidak perlu dipikirkan masalah transportasi menjelang H min berapa H plus berapa," ujar Enggar akhir Maret lalu.

Kebijakan intervensi pemerintah tersebut tentulah menyandarkan ‘radarnya’ kepada beberapa hal. Termasuk di dalamnya adalah pemberlakuan ketentuan Harga Eceran Tertinggi, peran Perum Bulog dalam menjaga stok dan mendistribusikannya, peran Satgas Pangan Polri dalam mengendus dan menindak potensi pidana terkait dengan spekulan dan mafia pangan.

Terkait hal tersebut, bulan Februari lalu, Kementerian Perdagangan dan Perum Bulog telah memperluas jangkauan operasi pasar hingga 700 titik jual secara nasional, dari semula 1.100 titik menjadi 1.800 titik jual. Sementara Polri memang telah menjadikan urusan harga pangan sebagai salah satu fokusnya pada Ramadan tahun ini, selain mudik.

Untuk menjaga stabilitas harga pangan tersebut, pemerintah terlihat sekali cukup berpegang kepada mekanisme pasar yang lazim saja: stabilitas harga hanya bisa terjamin jika stok tersedia sesuai dengan kebutuhan di masing-masing wilayah. Stok adalah kata kuncinya.

Demi terjaganya stok itu, pemerintah terlihat cukup bersikap pragmatis. Jika stok nasional kurang, maka melakukan impor. Jika stok nasional berlebih, maka melakukan ekspor. Hal itu terlihat dari pernyataan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

"Yang paling penting, kebutuhan pokok tersedia dengan harga yang wajar. Kalau berlebihan, kita ekspor. Kalau kurang, kita impor. Itu berjalan untuk menjaga harga yang sudah ditetapkan oleh pemerintah, yang jadi harga acuan," ungkap Wapres Jusuf Kalla akhir Maret lalu.

Pemerintah mengklaim dan menjamin harga bahan pangan akan stabil pada Ramadan tahun ini. Kementerian Pertanian mengklaim telah menggenjot produksi komoditas pertanian. Bulan Maret lalu Menteri Pertanian menjelaskan bahwa stok ayam potong dan telur ayam dalam posisi cukup dan stabil; bahkan mengekspor dua komoditas tersebut.

Bahkan berkat ketersediaan stok yang memadai, pada awal April lalu Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengklaim harga beras mulai turun.

Di atas kertas, tidak ada alasan harga beras naik selama Ramadan. Sebab saat ini, seperti disampaikan Enggar dalam pertemuan dengan Pemimpin Redaksi media (14/5) ketersedaiaan beras sangat mencukupi: Stok Bulog mencapai 1.262.782 ton.

Bukan cuma beras, Enggar juga mengaku, tidak ada masalah dengan minyak goreng, gula, dan juga daging. Untuk masing-masing komoditas itu, Kemendag mengaku telah menyiapkan langkah untuk mengantisipasinya.

Jika stok terjamin ketersediaannya, bagi Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso, operasi pasar tidak diperlukan lagi. Bulog mampu memperluas penetrasi penjualan di segmen eceran.

Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, harga pangan hanya mengalami inflasi sebesar satu persen saja. Darmin yakin, meski dalam persentase kecil, harga beras dan daging mungkin akan mengalami penurunan. Sementara harga cabai dan bawang akan stagnan.

Berbeda dengan keyakinan pemerintah bulan sebelumnya, Darmin memperkirakan komoditas yang akan harganya akan sedikit naik adalah telur dan daging ayam.

“Tapi enggak banyak. Jadi orang bisa berpuasa dan berlebaran dengan tenang, bergembira," kata Darmin awal Mei lalu.

Sejauh ini memang tidak terlihat ada gejolak harga harga pangan. Namun asumsi psikologis pedagang dan pembeli, bahwa kenaikan harga pada setiap Ramadan dan lebaran merupakan hal yang lumrah dan niscaya, harus disikapi secara tepat oleh pemerintah.

Dengan asumsi psikologis itu, warga masyarakat akan sangat sensitif terhadap kenaikan harga sekecil apapun; dan bisa menyulut spekulasi-spekulasi yang meresahkan.

Pemerintah tidak lagi bisa mengandalkan sembarang data untuk menjaga stabilitas harga. Pembaruan yang cepat terhadap data dan situasi di lapangan akan sangat dibutuhkan agar pemerintah mampu merespons secara cepat di titik yang tepat untuk memastikan harga pangan stabil.

Dengan harga yang terjangkau dan stabil itu, meminjam ungkapan Menko Darmin, kita semua “bisa berpuasa dan berlebaran dengan tenang, bergembira.”

BACA JUGA