GANGGUAN KEAMANAN

Mewaspadai teror individual

Ilustrasi: Melindungi pejabat negara dari teror individual.
Ilustrasi: Melindungi pejabat negara dari teror individual. | Salni Setyadi /Beritagar.id

Penyerangan dengan penusukan terhadap Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto, Kamis (10/10/2019), di Kabupaten Pandeglang, Banten, bukan sekadar teror. Peristiwa itu mengindikasikan pesan sangat spesifik yang bisa dimaknai pejabat dan simbol negara adalah musuh.

Peristiwa ini tidak bisa dianggap kecil, sebab boleh jadi ini adalah untuk pertama kali seorang menteri mendapat serangan fisik oleh teroris. Berarti pula target teroris semakin fokus, petinggi negara.

Jati diri kedua pelaku--Syahril Alamsyah alias Abu Rara (31) dan Fitri Andriana (21), yang terafiliasi dengan kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Bekasi, Jawa Barat--memperjelas pesan yang ingin mereka sampaikan.

JAD sendiri, sudah menjadi kelompok teror yang terus dipantau oleh aparat keamanan. Mereka terlibat dalam berbagai teror di banyak tempat, baik dengan target yang besar maupun kecil. Organisasi ini juga diketahui punya sel-sel kecil yang bisa melakukan teror secara mandiri, alias lone wolf.

Doktrin JAD yang terafiliasi dengan ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) ini jelas, memusuhi semua pihak yang dianggap kafir dan simbol kekafiran. Mereka juga memusuhi pemerintahan yang dianggap berpihak pada kafir serta mengecap pemerintah dan aparat penegak hukum sebagai thaghut yang harus diperangi.

Teror yang mereka lakukan juga dalam berbagai variasi, dari menyasar korban acak secara besar-besaran, sampai yang kecil, individual. Senjata yang mereka gunakan juga aneka ragam, dari senjata api, bom, sampai pisau kecil seperti yang dipakai untuk menyerang Wiranto.

Ikhwal teror individual yang dilakukan terhadap Menko Polhukam ini, pun bagian dari doktrin kelompok teror yang disebut ightiyalat.

Dalam laman Jihad Sabiluna, ightiyalat didefinisikan sebagai operasi pembunuhan mendadak terhadap sasaran tertentu yang menjadi lawan, dalam rangka menghentikan kekejamannya terhadap kaum muslimin, atau dalam rangka menggentarkan orang-orang jahat.

Di Indonesia, ightiyalat sesungguhnya bukan hal baru. Pada 2011 polisi pernah mengungkap kehadiran Tim Ightiyalat Klaten. Kelompok anak muda yang dipimpin Roki Aspridianto, alias Atok, tersebut sejak November 2010 berikrar untuk melakukan jihad pada aimmatul kufr (pimpinan kafir yang memusuhi Islam, termasuk polisi).

Polisi juga beberapa kali menemukan kasus serupa. Penikaman polisi di dalam masjid Falatehan Blok M, saat solat jamaah dua tahun lalu adalah salah satunya. Saat terjadi kemelut tahanan terorisme di Mako Brimob, Depok, Jawa Barat, beberapa waktu lalu, polisi juga menangkap dua perempuan membawa gunting yang siap menikam polisi.

Teror tak semata bisa diukur dengan banyaknya korban yang jatuh. Tapi menebar rasa takut kepada masyarakat secara sistematis, menjadi salah satu ukuran keberhasilan mereka.

Pemilihan korban, seorang pejabat negara, Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan, tentu bukan suatu kebetulan. Menko Polhukam adalah pejabat negara yang paham dan tahu banyak tentang keamanan di negeri ini.

Menarget Menko Polhukam, bisa diduga menjadi bagian dari cara sistematis menebar rasa takut kepada warga negara. Selain menunjukkan eksistensi mereka kepada warga dunia, baik yang bersimpati kepadanya maupun yang memusuhinya, karena peristiwanya akan mendapat publikasi baik media lokal maupun internasional.

Kita tentu sangat prihatin dengan peristiwa ini dan berempati kepada Jenderal Purnawirawan Wiranto yang menjadi korban. Namun di balik keprihatinan tersebut, terselip harapan yang kuat, agar negara secara seksama menutup ruang kepada para teroris yang selalu mengusik rasa aman dan menebar ketakutan.

Ada beberapa hal yang patut diperhatikan atas peristiwa penusukan Wiranto ini, pertama tentang perlunya evaluasi SOP (Standard Operating Procedure) pejabat negara. Presiden Joko Widodo pun sudah meminta kepada kepolisian agar memberikan pengamanan –kepada pejabat negara— yang lebih baik.

Hal lain adalah memetakan lebih detail kelompok radikal yang menggunakan teror sebagai alat perjuangan. Sehingga bisa menemukan cara paling efektif dalam melakukan deradikalisasi.

Harus diakui kelompok teroris ini bertumbuh tak hanya top down dari organisasi besar, tapi muncul juga dari akar rumput.

Dalam penelitian Transformasi Radikalisme menuju Terorisme yang dilakukan SETARA Institute (2011), terlihat terjadinya transformasi dari sosok yang semula hanya 'berjuang' memberantas maksiat di sekelilingnya, menjadi radikal dan jihadis. Teroris Siqit Qordhawi (Solo), dan M. Syarif (Cirebon) adalah contoh dari tranformasi tersebut.

Yang tidak kalah penting adalah, pemerintah harus terus meyakinkan masyarakat, bahwa aparat keamanan mampu mengatasi gangguan keamanan dari kelompok teroris ini. Negara juga mesti bisa mengajak masyarakat untuk mewaspadai keamanan di lingkungannya.

Sesungguhnya semua gangguan keamanan, bisa dihadapi dengan persatuan, kebersamaan, dan kepedulian warga dalam menjaga lingkungannya. Dengan begitu, masyarakat bisa lepas dari tujuan para teroris, yaitu ketakutan dan kepanikan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR