Muak dengan percekcokan, berilah debat capres yang bermutu

Ilustrasi: Hentikan percekcokan, siapkan perdebatan yang bermutu
Ilustrasi: Hentikan percekcokan, siapkan perdebatan yang bermutu | Salni Setiadi /Beritagar.id

Meskipun dilakukan serentak dengan pemilihan anggota di berbagai lembaga legislatif (Pileg), keriuhan Pemilu tahun ini lebih didominasi oleh pemilihan presiden (Pilpres). Perhatian publik lebih mengarah kepada dua pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres).

Sayangnya, dalam masa kampanye yang sudah berjalan lebih dari 3 bulan ini, publik tidak mendapat suguhan yang cukup bergizi ihwal kedua kandidat itu. Masa kampanye selama ini lebih diwarnai percekcokan antar pendukung kedua kandidat –yang tak jarang jauh dari hal-hal yang substansial.

Barangkali ada satu dua kesempatan kedua kubu pasangan capres-cawapres memaparkan beberapa gagasan substansial. Namun itu tidak terlalu kuat dibandingkan keriuhan percekcokan antar pendukung tadi.

Tim sukses dari masing-masing capres-cawapres sejauh ini juga tidak tampak mengarahkan kampanye menjadi perdebatan gagasan dan rencana program yang diturunkan dari visi dan misi paslon.

Itu sebabnya penampilan kedua paslon secara bersama di sebuah forum debat bisa jadi memang ditunggu publik. Tentu dengan asumsi, di forum debat itu publik akan mendapatkan gambaran atas gagasan dan arah kepemimpinan yang akan dijalankan oleh kedua calon.

Pemaparan gagasan-gagasan substansial dan arah kepemimpinan yang akan diambil oleh calon presiden dan wakilnya itu akan lebih meyakinkan publik bahwa Pemilu bukan melulu soal mempertahankan atau mengganti kekuasaan.

Dalam demokrasi, upaya untuk mempertahankan atau mengganti kekuasaan adalah lumrah saja, selama dilangsungkan dalam proses yang melibatkan suara rakyat. Namun jauh lebih penting dari itu, rakyat lebih mencari perbaikan kualitas hidup. Mengganti atau mempertahankan kekuasaan hanyalah salah satu jalannya saja.

Publik tak bisa menebak kepemimpinan yang menawarkan perbaikan kualitas hidup itu dari percekcokan antar para pendukung fanatik masing-masing capres. Lewat pemaparan dan perdebatan gagasan-gagasan penting dalam mengelola negara beserta program-programnya yang diterjemahkan dari visi dan misi masing-masing calon, publik lebih dapat membaca kepemimpinan yang diyakini mampu memberikan perbaikan kualitas hidup itu.

Dengan begitu forum debat pasangan capres-cawapres layak ditunggu oleh para pemilih. Salah satu hal penting dalam kegiatan itu adalah bahwa Komisi Pemilihan Umum (KPU_ -sebagai penyelenggara Pemilu- memperlakukan setiap pasangan capres-cawapres secara adil: tidak ada salah satu pihak yang lebih diuntungkan atau lebih dirugikan ketimbang pihak lain.

Sikap kritis terhadap KPU, sudah barang tentu, sangat diperlukan. Namun hendaknya sikap kritis itu ditunjukkan secara proporsional dan jernih.

Terkait hal itu, sejauh ini ada 3 hal yang menjadi perhatian. Pertama, KPU tidak memfasilitasi sosialisasi visi dan misi pasangan capres-cawapres. Kedua, KPU memberikan kisi-kisi debat capres kepada masing-masing tim sukses para kandidat. Ketiga, pemilihan panelis debat capres.

Di tengah masyarakat saat ini muncul selentingan bahwa ketiga hal itu cenderung menguntungkan salah satu capres dan merugikan capres lain, dan merupakan bentuk keberpihakan KPU kepada salah satu pasangan capres-cawapres.

Benarkah kecurigaan itu?

Kecurigaan itu agaknya terlalu berlebihan. Kenapa? Ketiga hal itu bukanlah keputusan sepihak KPU. Keputusan itu melibatkan diskusi bersama dengan perwakilan masing-masing pasangan capres-cawapres. Tidaklah mungkin sebuah keputusan yang dirembuk bersama hanya akan menguntungkan salah satu pihak saja.

Lagi pula, keputusan untuk tidak memfasilitasi sosialisasi visi dan misi pasangan capres-cawapres itu diambil KPU karena kedua kubu capres tidak menemukan kata sepakat tentang tata cara penyampaiannya. Yang perlu dicatat, dengan keputusan itu, sosialisasi visi dan misi capres tetaplah dilakukan –namun tidak difasilitasi oleh KPU melainkan dilakukan oleh masing-masing tim pasangan capres-cawapres.

Sedangkan pemberian kisi-kisi soal debat capres seminggu sebelum pelaksanaan dilakukan dengan mempertimbangkan agar masing-masing pasangan capres-cawapres lebih siap untuk menyampaikan gagasan yang lebih utuh dan menyeluruh. Bagi publik, hal itu jelas jauh lebih berguna menjadi bahan pertimbangan dalam memilih calon presiden ketimbang forum perdebatan yang berisikan pernyataan-pernyataan yang pendek, sloganistis dan normatif.

Pemilihan panelis debat capres pun, demi memastikan independensinya, melibatkan masukan dari masing-masing perwakilan pasangan capres-cawapres. Jadi, kecurigaan bahwa debat capres hanya akan menguntungkan salah satu capres adalah hal yang agak berlebihan.

Ketimbang menjadi gaduh dalam kecurigaan yang berlebihan, masing-masing pihak sebaiknya membantu kandidat yang didukungnya untuk lebih siap menghadapi debat capres agar mampu meyakinkan publik untuk memilihnya.

Publik sudah muak dan capek dengan percekcokan yang tidak bermutu. Publik mau menyaksikan sendiri bagaimana para capres dan cawapres menyampaikan secara langsung arah kepemimpinannya kelak.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR