Sungguh-sungguhlah menjaga uang nasabah

Ilustrasi: Modus kejahatan skimming harus segera diatasi
Ilustrasi: Modus kejahatan skimming harus segera diatasi | Salni Setiadi /Beritagar.id

Raibnya uang dari rekening nasabah Bank Rakyat Indonesia (BRI) di Kediri, Jawa timur, menyita perhatian kita. Bagian sebagian orang, jumlah uang yang hilang itu mungkin dianggap kecil.

Tapi jumlah uang yang hilang bukanlah satu-satunya masalah dalam kasus ini. Jauh lebih penting dari itu, kasus semacam ini akan menggerogoti tingkat kepercayaan publik kepada keamanan sistem perbankan.

Awalnya, nasabah yang yang merasa uangnya hilang, disebut-sebut, hanya beberapa belas orang. Namun ternyata lebih dari itu.

"Bukan lagi delapan sampai 33, tapi 45, bahkan kemungkinan bisa bertambah, masih kami periksa lagi dan konfirmasi," kata Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Frans Barung Mangera.

Dugaan awal penyebab raibnya uang dari rekening nasabah BRI itu adalah kejahatan skimming. Indikasi ke arah itu tampak dari catatan penarikan uang yang dilakukan di luar negeri, padahal para nasabah itu sedang berada di kampungnya.

Skimming adalah metode untuk merekam data nasabah yang sedang bertransaksi di mesin ATM. Para penjahat memasang peralatan untuk merekam data dari kartu ATM yang dimasukkan dan nomor PIN yang diketikkan oleh nasabah di mesin yang sama.

Bermodal data itu, para penjahat membuat kartu ATM tiruan dan melakukan penarikan uang di ATM di lokasi manapun; termasuk ATM di luar negeri.

Dalam rilis Kamis (15/3/2018), pihak kepolisian menyatakan telah menangkap 5 penjahat yang mencuri data nasabah dengan metode skimming. Empat di antara mereka adalah warga negara asing yang berasal dari Rumania dan Hungaria.

Menurut polisi, kelima penjahat itu sudah menjalankan kejahatannya sejak Juli 2017. Mereka menyebar skimmer di berbagai ATM di wilayah Bali, Bandung, Yogyakarta, Tangerang, dan Jakarta. Dari tangan para penjahat itu, polisi menyita 1.047 kartu ATM.

Tidak ada pernyataan yang jelas apakah para penjahat itu adalah pelaku skimming yang menggarong uang nasabah BRI Kediri.

Beberapa hari sebelumnya Kepolisian Daerah Bali menangkap tiga warga negara asing, asal Turki. Dua diantara mereka ditangkap ketika sedang menjalankan aksinya di sebuah ATM Mandiri. Mereka dipergoki sedang melakukan kejahatan dengan metode skimming.

Pelaku kejahatan serupa juga ditangkap di Bandung. Polisi menangkap dua orang warga negara asing asal Rusia terkait kejahatan skimming.

Dalam kasus hilangnya uang dari rekening nasabah di Kediri, pihak BRI memang telah mengganti kerugian masing-masing nasabah. BRI membayarkan Rp145 juta kepada 33 nasabah yang menjadi korban kejahatan itu.

Meski begitu persoalan ini sudah seharusnya tidak dianggap selesai dengan semata-mata membayar kerugian korban dan menangkap para pencuri data nasabah.

Kejahatan dengan modus skimming bukan sekali dua kali ini terjadi. Mengapa kejahatan ini terus terulang seolah tak bisa dibendung oleh perbankan?

Tahun lalu, Kepolisian Daerah Bali menangkap dua orang warga negara Bulgaria atas tuduhan melakukan kejahatan pencurian data nasabah lewat skimming. Di rekening salah satu pelaku, polisi mendapati saldo bernilai Rp1.835.188.000.

Akhir tahun lalu Polda Metro Jaya menyatakan telah menangkap dua belas penjahat. Sembilan di antaranya adalah WNA.

Bahkan, karena kasus pencurian data nasabah sedemikian banyak, tahun lalu DPR sempat memanggil empat direktur utama bank pemerintah. DPR mempertanyakan pengawasan dan antisipasi perbankan dalam menghadapi kejahatan pencurian data nasabah itu.

Satu tahu berlalu, kejahatan bermodus skimming masih saja terjadi. Seberapa seriuskah sebetulnya perbankan membangun sistem keamanan bagi para nasabahnya?

Perbankan tidak bisa berkelit dengan dalih bahwa skimming bisa terjadi pada ATM bank manapun, seolah kejahatan tersebut dianggap hal yang lumrah dan boleh diterima. Dalih itu sungguh fatal dan tidak bisa diterima.

Secara teknis barangkali metode skimming yang dipakai para penjahat berbeda dengan praktik sebelumnya, semakin canggih. Namun hal itu bukanlah alasan yang bisa dipakai untuk memaklumi rapuhnya sistem keamanan perbankan kita. Sudah menjadi tanggung jawab perbankan untuk menyediakan sistem yang paling aman bagi para nasabahnya.

Perbankan juga sudah sepatutnya berhenti menganggap kejahatan itu terjadi karena keluguan dan kelalaian nasabah: tidak menutup keypad ketika memasukkan pin, tidak memperhatikan bentuk aneh ATM, dan tudingan sejenis lainnya. Sistem keamanan perbankan sudah seharusnya mengantisipasi ketidaktahuan, keluguan dan bahkan kelalaian nasabahnya.

Bahkan dua kasus penipuan yang baru-baru ini viral di media sosial memperlihatkan bahwa kejahatan yang terjadi sudah melampaui urusan keluguan dan kelalaian nasabah.

Pengakuan korban penipuan dan calon korban yang berhasil lolos dari penipuan itu menunjukkan gelagat bahwa para penipu telah mempunyai kombinasi data penting nasabah.

Jika kombinasi data penting nasabah sungguh dikuasai penjahat, pihak perbankan harus segera ke depan untuk menjelaskan duduk perkaranya dan merespons dengan langkah yang tepat dan taktis atas kemungkinan semakin memburuknya keamanan sistem.

Ada masalah uang milik nasabah di sana. Dan juga ada masalah kepercayaan di dalamnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR