Surat dari Jati Baru: Selamat tahun baru

Pembaca budiman.

Dalam hitungan jam kita akan memasuki tahun 2019. Seperti pergantian tahun sebelumnya, selalu diwarnai dengan harapan bahwa tahun depan akan lebih baik dari tahunyang telah lalu.

Banyak orang membuat resolusi pribadi untuk 2019. Namun yang sudah pasti sebagai sebuah bangsa, pada 2019, Indonesia punya resolusi bersama, yaitu hajatan politik terbesar sepanjang sejarah. Untuk pertama kalinya, pemilu presiden dan legislatif dilaksanakan secara serentak, bebarengan waktunya.

Tahun 2019 bisa disebut sebagai puncak tahun politik. Pada 17 April, sebanyak 192.828.520 orang pemilik hak pilih, terdiri dari 96.271.476 laki-laki dan 96.557.044 perempuan, akan menentukan pilihannya di bilik suara, menentukan kehidupan bernegara kita untuk 5 tahun ke depan.

Dua pasangan calon presiden dan wakil: Joko Widodo - Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto – Sandiaga Uno; Sebanyak 7.968 calon anggota legislatif (4.774 laki-laki dan 3.194 perempuan) dari 20 partai politik; Serta 807 calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) akan ditentukan nasibnya.

Komisi Pemilihan Umum dan jajarannya, sebagai penyelenggara pemilu sudah pasti akan sangat sibuk, menyiapkan aneka perlengkapan pemilu. Dari kotak suara, surat suara, sampai formulir pendukungnya.

Perlengkapan itu mesti didistribusikan menuju 416 Kabupaten, 98 Kota, 7.094 Kecamatan, 8.490 kelurahan, dan 74.957 desa di Indonesia, sebelum hari pemungutan suara.

Jumlah surat suara pun sangat banyak, kecuali DKI Jakarta –yang hanya 4 surat suara--, setiap pemilih akan menghadapi 5 lembar surat suara: Presiden dan Wakil; DPR, DPRD I; DPRD II, dan DPD.

Polisi dan aparat keamanan juga sudah pasti sangat sibuk. Indeks Kerawanan Pemilu yang diluncurkan Badan Pengawas Pemilihan Umum, menyebutkan ada 15 daerah yang tingkat kerawanan di atas rata-rata nasional.

Daerah itu adalah: Papua Barat, Papua, Maluku Utara, Aceh, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Maluku, Lampung, Sumatera Barat, Jambi, Yogyakarta, NTB, NTT, Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah.

Kontestasi politik memang acap kali membuahkan pertikaian antarpendukung baik parpol maupun calon presiden. Ini menjadi ujian para elite politik untuk bisa berjiwa kenegarawanan. Mengendalikan para pendukungnya, serta melihat kepentingan yang lebih besar, yaitu stabilitas nasional.

Kedewasaan berdemokrasi, tentu paling diharapkan di tahun 2019. Jika menang tidak perlu membusungkan dada. Bila kalah pun bisa menerima dengan lapang dada.

Siapa pun yang akan terpilih sebagai pemimpin nasional, negeri ini akan terus menghadapi persoalan laten, yaitu bencana alam.

Gugusan pulau di Indonesia dari Aceh sampai Papua terletak di wilayah cincin api (Ring of Fire). Yaitu daerah mengelilingi cekungan Samudra Pasifik berbentuk seperti tapal kuda sepanjang 40.000 km. Daerah ini juga sering disebut sebagai sabuk gempa Pasifik, yaitu daerah yang sering mengalami gempa bumi dan letusan gunung berapi.

Data dari Pusat Gempa Nasional Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), selama 2018 terjadi aktivitas gempa sebanyak 11.577 kali dalam berbagai magnitudo dan kedalaman. Sementara pada 2017, jumlah aktivitas gempa tercatat 6.929 kali. Artinya, selama 2018 terjadi peningkatan aktivitas gempa yang drastis, yaitu 4.648 kejadian gempa tektonik.

Indonesia juga memiliki 127 gunung berapi aktif, tak kurang dari 5 juta penduduk yang berdiam di sekitarnya. Sementara sampai akhir 2018, aktivitas vulkanik gunung berapi di berbagai tempat juga menunjukkan peningkatan. Soputan, Anak Krakatau, Sinabung dan Gunung Agung terus bersenandung. Sedang Merapi pun mulai batuk-batuk.

Dari berbagai peristiwa gempa bumi baik tektonik maupun vulkanik disertai tsunami yang menelan banyak korban jiwa pada 2018, ada kesamaan diagnosa, yaitu lemahnya mitigasi bencana. Kesadaran dan kewaspadaan bahwa kita hidup di alam yang rawan bencana belum terbangun dengan baik.

Tahun 2019, meningkatkan mitigasi bencana sudah selayaknya menjadi resolusi bersama seluruh bangsa. Semua pihak bisa mengambil bagian masing-masing agar jatuhnya korban nyawa dan harta, lebih bisa ditekan.

Pemerintah dan lembaga di bawahnya harus mampu menyiapkan sistem peringatan dini yang lebih baik. Penanganan bencana dan pasca bencana yang lebih rapi. Juga keputusan politik tentang tata ruang yang mempertimbangkan kepentingan kebencanaan. Masyarakat pun harus lebih memahami dan bisa bersahabat dengan alam tempat hidupnya.

Kita tentu berharap semua paham bahwa Indonesia adalah Dangerous Beautiful. Kita tidak bisa hanya membanggakan dan mengeksploitasi keindahan alam Indonesia saja, tanpa peduli bahwa di balik keindahan itu ada bahaya yang kapan pun bisa menjadi sebuah ancaman.

Dengan pemahaman tersebut, kita bisa percaya bahwa 2019 akan menjadi lebih baik.

Selamat tahun baru 2019.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR