Tambang emas ilegal perlu penanganan komprehensif

Ilustrasi: Tambang emas ilegal kembali memakan korban
Ilustrasi: Tambang emas ilegal kembali memakan korban | Salni Setiadi /Beritagar.id

Kecelakaan demi kecelakaan terjadi di kawasan pertambangan emas tanpa izin (PETI). Orang-orang seperti tidak jera dan kehilangan rasa takut untuk tetap menjadi penambang emas ilegal –yang identik dengan pertambangan yang mengabaikan standar keselamatan.

Kali ini kabar kecelakaan datang dari Sulawesi Utara. Tepatnya di Desa Bakan, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong). Kecelakaan itu terjadi akibat longsor yang terjadi pada Selasa (26/2/2109) lalu.

Hingga Kamis (28/2/2019) suah 27 orang dievakuasi di daerah bencana itu. Delapan orang di antaranya meninggal, sedangkan 19 orang lainnya selamat.

Proses evakuasi masih berjalan. Diduga masih ada orang yang tertimbun longsoran.

Ini bukanlah kecelakaan pertama terkait PETI yang terjadi di daerah tersebut. Tahun 2018 lalu di desa yang sama terjadi beberapa kali kecelakaan. Bulan Juni tahun lalu 5 orang dikabarkan meninggal akibat longsoran di kawasan PETI itu. Bulan November tahun yang sama, PETI di desa tersebut kembali memakan korban.

Sepanjang tahun 2018 nyaris tidak ada bulan yang tidak diwarnai oleh berita kecelakaan yang menewaskan pekerja di PETI di berbagai kawasan di Indonesia. Terutama, selain Boolang Mongondow, di kawasan yang memang dikenal sebagai kawasan PETI seperti Maringin Jambi, Katingan Kalimantan Tengah, Kepulauan Buru, Sukabumi dan Bogor di Jawa Barat, Lebak Banten, Lombok Barat, dan daerah lainnya.

Jumlah kecelakaan dan korbannya di kawasan PETI hampir bisa dipastikan lebih dari yang pernah dilaporkan oleh media.

Standar keselamatan kerja di tambang emas ilegal sudah barang tentu tak ada. Dengan risiko yang sangat tinggi, pekerja di bidang PETI sebenarnya melakukan dua hal pada saat yang sama: bekerja dan mempertaruhkan nyawa.

Dan persoalan tambang emas ilegal bukan melulu perkara keselamatan para pekerjanya. Ancaman yang paling nyata dari tambang emas ilegal adalah kerusakan lingkungan. Contoh petaka yang belum lama ini menjadi sorotan adalah kerusakan lingkungan di kawasan Gunung Botak di Kepulauan Buru, Maluku.

Perburuan emas di kawasan itu bukan saja merusak alam, melainkan juga telah mencemari lingkungan yang membahayakan kesehatan warga di kawasan tersebut.

Mengapa PETI terus berlangsung? Tidakkah kita merasa cukup dengan korban yang sudah sangat banyak?

Benar bahwa sejumlah tindakan telah dilakukan oleh pemerintah. Beberapa di antaranya adalah janji, yang belakangan tak terlihat dampaknya. Contoh, ketika ada 5 orang tewas di tambang emas ilegal di Boolang Mongondow Juni tahun lalu, Kapolres Boolang Mongondow berjanji akan menutup tambang tersebut.

Nyatanya, pada bulan November tahun lalu dan Februari tahun ini masih jatuh korban di tambang emas ilegal di kabupaten itu.

Benar pula bahwa pernah ada tindakan yang lebih keras dari sekadar janji. Contoh, penertiban tambang emas ilegal di Gunung Botak, Kepulauan Buru, Maluku. Polisi mengaku berhasil memulangkan 4 ribu orang penambang emas ilegal di kawasan itu dalam sebuah operasi terpadu pada Oktober tahun lalu.

Namun harus diakui juga, ada daerah yang membiarkan PETI beroperasi. Di Musi Rawas Utara, misal, politisi berdalih bahwa PETI sulit untuk dilarang karena menyangkut nafkah rakyat.

Benarkah tambang emas ilegal memang demi nafkah rakyat?

Faktanya, berbagai operasi penertiban yang dilakukan pihak kepolisian maupun reaksi masyarakat setempat terhadap tambang emas ilegal menunjukkan bahwa PETI bukanlah pertambangan yang dilakukan secara tradisional; melainkan sudah melibatkan alat-alat berat.

Hal itu mengindikasikan adanya pemodal besar yang memang dengan sengaja menjerumuskan rakyat biasa ke pekerjaan berbahaya demi keuntungannya sendiri.

Masih maraknya tambang emas ilegal di sejumlah kawasan di negeri ini yang disertai dengan kecelakaan mematikan itu menandakan bahwa upaya-upaya selama ini untuk menghentikan PETI tidaklah cukup. Tepatnya, tidak cukup serius, tidak cukup tepat, dan tidak cukup komprehensif.

Pembiaran terhadap operasi tambang emas ilegal adalah sikap yang tak bisa diterima. Pelarangan dan penindakan secara hukum terhadap usaha-usaha ilegal itu adalah upaya yang tak bisa dibiarkan berjalan sendirian. Hal itu harus disertai dengan langkah-langkah lain dalam aspek-aspek lain.

Kita memerlukan siasat yang komprehensif dalam menangani PETI. Itu diperlukan segera, sebelum korban nyawa jatuh lagi dan kerusakan lingkungan semakin sulit untuk dipulihkan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR