KINERJA PLN

Terima kasih PLN

Padamnya layanan listrik, mengingatkan semua pihak betapa strategisnya listrik.
Padamnya layanan listrik, mengingatkan semua pihak betapa strategisnya listrik. | Salni Setyadi /Beritagar.id

Judul tersebut sama sekali tidak diniatkan untuk mengolok-olok Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang sudah 3 hari ini ditulis tak kurang dalam 2.000 pemberitaan media dengan sentimen negatif. Tapi justru untuk melihat sisi positif dari insiden padamnya listrik.

Penjelasan Plt. Direktur Utama PLN, Sripeni Inten Cahyani, tentang pemadaman listrik di sebagian besar bagian barat Jawa pada Minggu (4/8/2019) memang tak mudah dipahami oleh banyak orang. Bahkan Presiden Joko Widodo yang mendapat penjelasan langsung dalam sebuah rapat pun memilih beringsut dan menyingkir.

Penjelasan Sripeni dianggap tidak simpel dan berbelit-belit dengan persoalan teknis. Ada pemeliharaan rutin yang dilakukan di beberapa jaringan dan pembangkit; Ada SUTET (Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi) dengan kekuatan 500 kV yang terputus.

Ada frekuensi yang drop sampai 46 hz dari seharusnya 50 hz yang membuat sistem mesin pembangkit melepaskan diri. Ada pula ketidakseimbangan supply and demand, pembangkit yang collapse, ada kebutuhan waktu beberapa jam untuk memfungsikan kembali PLTU. Semua itu tak menjawab pertanyaan sederhana publik, mengapa peristiwa itu terjadi.

Kini layanan listrik sudah kembali normal. Namun masyarakat masih tetap pada posisi bertanya-tanya, apa sesungguhnya yang terjadi di balik pemadaman listrik (blackout) yang nyaris 12 jam, dari sekitar jam 11.00 hingga pukul 22.30 WIB?

Bahkan sebagian wilayah (Depok dan Tangerang Selatan) setelah listrik menyala sekitar 1 jam, kembali terjadi padam dan baru menyala pada Senin (5/8) pukul 12.30 WIB.

Pertanyaan lain yang belum terjawab, kenapa pemadaman justru terjadi pada hari libur, siang hari, ketika beban kelistrikan rendah? Juga ketika alam sangat ramah, cerah, tak ada hujan, petir, tanah longsor, atau gempa?

Mengapa pula bisa terjadi kerusakan yang nyaris kompak di PLTU Paiton, Pacitan Jawa Timur, Ground Steel Wire (GWS) PLTU Suralaya, Cilegon, Banten, dan kabel SUTET Ungaran-Pemalang di Jawa Tengah. Dan mengapa, PLN terkesan tidak punya contingency plan atas kasus seperti ini sehingga penanggulangannya relatif lama.

Apa pun, semua peristiwa pasti ada hikmahnya. Bagi PLN, sudah seharusnya punya rencana kedaruratan yang lebih baik. PLN harus punya service level agreement (SLA), bukan cuma dengan konsumen premium dan korporat, tapi bahkan juga masyarakat pelanggan yang tarifnya disubsidi.

Berapa lama pemadaman listrik di konsumen bisa ditoleransi? Sama persis dengan konsumen yang akan didenda, bahkan diputus aliran listriknya bila telat melunasi kewajiban membayar tagihan listrik pada tanggal 20 setiap bulan.

Bagi pemangku kebijakan kalangan usaha, juga masyarakat, blackout kemarin seperti mengingatkan bahwa kehidupan ekonomi dan sosial kita sangat bergantung pada setrum PLN.

Jaringan telekomunikasi seluler, bagian penting dari interaksi masyarakat juga dunia usaha masa kini, lumpuh setelah 3 jam pemadaman terjadi. Tidak semua BTS (Base Transceiver Station) memiliki cadangan suplai listrik semisal genset, sementara UPS (Uninterruptible Power Supply) sebagai catu daya cadangan BTS hanya mampu bertahan tak lebih dari 3 jam.

Terjadi kepanikan di berbagai tempat. Transportasi masal berenergi listrik berhenti total. PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) membatalkan 240 perjalanan kereta. Ribuan penumpang telantar di berbagai stasiun. Kereta MRT (Moda Raya Terpadu) Jakarta mengalami hal serupa.

Kereta yang tiba-tiba mati di tengah perjalanan harus dievakuasi, ditarik dengan lokomotif lain yang bertenaga BBM. KCI juga harus melakukan pengembalian ongkos tiket kereta penumpang yang tak bisa sampai stasiun yang dituju.

Sejumlah jalan tol menggratiskan layanannya karena gerbang pembayaran elektronik tak berfungsi lantaran tidak ada koneksi internet.

Kalangan dunia usaha juga terimbas kepanikan. Mal, super market, toko sampai restoran, hanya melayani pembayaran tunai. Sekali pun mereka memiliki genset untuk menggantikan listrik PLN, tapi uang elektronik tidak bisa diotorisasi pemakaiannya karena tidak ada koneksi internet.

Sejumlah transaksi pun dibatalkan. Kerugian bisnis akibat matinya listrik ini semestinya tidak susah untuk dihitung.

Semua ekses yang ditimbulkan dari padamnya listrik ini tentu saja mengingatkan para pengambil kebijakan, yang tengah menggalakkan transaksi nontunai, serta penggunaan kendaraan berpenggerak listrik.

Betapa pun aneka kebijakan pemerintah soal itu tidak bakal bisa berjalan optimal bila layanan listrik tidak prima. Buntut buruknya layanan listrik PLN ini amat panjang dan berpengaruh signifikan terhadap program yang tengah didorong pemerintah tersebut.

Saat ini, tidak ada salahnya bila pemerintah mulai berpikir ulang, haruskah monopoli listrik oleh PLN dipertahankan? Beberapa waktu lalu pemerintah mewacanakan akan mengundang maskapai asing sebagai solusi untuk menurunkan harga tiket pesawat.

Dengan memasukkan pesaing asing, maskapai nasional diharapkan menjadi lebih baik layanannya, lebih efisien dan kompetitif sehingga harga tiketnya pun rasional. Hal serupa semestinya juga bisa dipikirkan untuk listrik. PLN semestinya juga butuh pesaing agar bisa memperbaiki layanannya, juga operasional bisnisnya.

Apakah pesaingnya asing atau swasta nasional, itu pe-er yang mesti dipikirkan lebih bijak. Yang pasti monopoli listrik ini tidak memberikan ruang bagi pengambil kebijakan untuk bisa menyimpulkan bahwa kinerja layanan PLN sudah sesuai harapan atau tidak, karena tak ada pembandingnya.

Yang juga tak kalah penting dan harus dicermati dengan seksama adalah menyangkut pertahanan dan keamanan. Bila benar penjelasan PLN tentang insiden pemadaman ini, dari kaca mata yang berbeda bisa dilihat betapa mudahnya untuk "melumpuhkan" bagian barat pulau Jawa ini.

Instalasi vital seperti PLTU yang disebut, seperti di Paiton, SUTET Ungaran-Pemalang, dan PLTU Suralaya, begitu gampang dilacak dalam peta digital gratisan sekalipun. Begitu pun penjelasan tentang peta suplai listrik untuk bagian barat Jawa, tak ada yang ditutupi.

Semua narasi dan data yang terkait dengan "lumpuhnya" bagian Barat pulau Jawa itu, bisa diakses semua pihak, termasuk pihak yang punya niat buruk terhadap keamanan negara ini. Artinya pengamanan instalasi vital tersebut butuh perhatian serius dari otoritas keamanan.

Itulah hikmah peting dari pemadaman listrik PLN kemarin. Terima kasih PLN, insiden layananmu sudah mengingatkan kita semua, betapa vitalnya listrik sekaligus bahayanya layanan buruk PLN.





BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR