Tinggalkan kekerasan dalam pendidikan

Butuh perubahan paradigma dan budaya agar hubungan senior-yunior tidak menjelma menjadi situasi penindasan
Butuh perubahan paradigma dan budaya agar hubungan senior-yunior tidak menjelma menjadi situasi penindasan | Kiagus Aulianshah /Beritagar.id

Pepatah mengatakan "hanya keledai yang jatuh ke lubang yang sama dua kali". Maknanya, hanya kedunguan yang membuat seseorang mengulangi kesalahan yang sama. Keledai, dianggap sebagai simbol binatang yang dungu, dalam pepatah ini.

Amirulloh Adityas Putra (19), Taruna Tingkat I Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Marunda, Jakarta Utara, tewas setelah "diberi pelajaran" oleh para seniornya (10-1-2017). Dia salah seorang korban dari enam taruna tingkat I yang dianiaya.

Tengah malam, pukul 22.00 WIB, enam taruna tingkat I tersebut dipanggil seniornya. Mereka diminta berkumpul di lantai 2 kamar M-205 gedung dormitory ring 4. Para senior akan mengajari bermain alat musik tam-tam, bagian dari drum band STIP.

Ternyata bukan cara bermain tam-tam yang didapat, tetapi, bug... bug... bug..., pukulan tangan kosong para senior ke bagian perut, dada dan ulu hati. Kegiatan meneruskan keterampilan alat musik yang menjadi tradisi di STIP, berubah jadi demonstrasi kekerasan.

Polisi pun dikabarkan sudah menangkap lima orang yang diduga pelaku, berinisial SM, WH, I, AR, dan J. Peran masing-masing pelaku sedang didalami petugas, dan ditetapkan sebagai tersangka pengeroyokan terhadap korban.

Kekerasan di STIP Marunda itu bukan hal baru. Para taruna--demikian panggilan para siswa--berulang kali jadi korban, bahkan hingga meninggal. Penelusuran Kompas.com dalam kurun waktu kurang dari 10 tahun, menemukan setidaknya enam kali kekerasan di STIP yang ditangani polisi.

Sebelum menimpa Amir, pada 2014 nyawa taruna pertama, Dimas Dikita Handoko, melayang sia-sia di tangan para senior. Dimas tewas dianiaya para seniornya karena dianggap tidak respek terhadap para senior.

Korban jiwa juga tercatat pada 2008, di institusi pendidikan yang sama, dalam kasus serupa. Korban mengalami luka memar di dada dan muka, kepala bagian belakang mengalami pendarahan. Levernya rusak.

Sekilas seperti deskripsi korban sebuah tindak kejahatan yang biadab di jalanan.

Lalu apa kata yang tepat untuk mengungkapkan sebuah institusi pendidikan yang mengulangi kekeliruan yang sama tak cuma dua kali, tapi berulang kali? Kita bisa saja malah kehilangan akal untuk memilih kata-kata yang pas untuk itu.

Sekolah yang diresmikan pada 27 Februari 1957 oleh Presiden pertama RI, Sukarno, itu awalnya diharapkan menjadi tempat penyelenggaraan nation building. Pesan itu bisa dilihat setiap saat di plakat berbahan marmer yang terpampang di depan gedung utama sekolah yang dulu bernama Akademi Ilmu Pelayaran.

Berubah nama menjadi STIP pada 2000, sekolah di bawah Kementerian Perhubungan inipun mengemban misi mulia. Alumninya diharapkan menjadi sumber daya manusia yang berkualitas, kompeten dan profesional di dunia kelautan di negeri maritim ini.

Disadari pula bahwa pembangunan nasional di bidang pendidikan merupakan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, meningkatkan kualitas manusia seutuhnya. Di antaranya menyebut budi pekerti luhur, mandiri, dan bertanggung jawab.

Entah apa yang terjadi kemudian, cita-cita Amirulloh mengikuti jejak kakek dan pamannya menjadi pelaut, justru kandas di tangan seniornya. Berdasarkan hasil otopsi, ia mengalami luka lebam pada bagian dada, perut dan ulu hati, diduga akibat benturan benda tumpul.

Para ahli sering menyebut bullying atau perisakan sebagai penyebab tragedi seperti ini.

Olweus (Flynt & Morton, 2006) mengartikan bullying sebagai suatu perilaku agresif yang diniatkan untuk menjahati atau membuat individu merasa kesusahan, terjadi berulang kali, dari waktu ke waktu, dan berlangsung dalam suatu hubungan dengan ketimpangan kekuasaan atau kekuatan.

Perilaku agresif itu dapat berupa aksi fisik seperti menampar, menimpuk, menjegal, memalak, melempar dengan barang, dan sebagainya); bisa pula bentuknya verbal seperti menghina, memaki, menjuluki, meneriaki, mempermalukan di depan umum, menyoraki, menebar gosip, memfitnah dan sebagainya.

Bahkan ada pula yang sifatnya psikologis, lewat gestur atau gerak tubuh seperti memandang secara sinis, mengancam, mempermalukan, mengucilkan, mencibir, mendiamkan, dan perilaku lain sejenis.

Uniknya, pelaku perisakan cenderung temperamental. Mereka menjadi pelaku terhadap orang lain, sebagai pelampiasan kekesalan dan kekecewaannya. Ada kalanya mereka justru takut menjadi korban, sehingga berinisiatif menjadi pelaku bullying.

Bahkan hasil studi yang dipresentasikan dalam pertemuan tahunan American Academy of Pediatrics di New Orleans, Amerika Serikat, pada 2012, menyatakan bahwa anak-anak pelaku bullying mungkin punya masalah kesehatan mental, sehingga memerlukan perhatian khusus.

Tampak jelas dari kasus di STIP--maupun kasus serupa pada masa lalu--adanya hubungan yang tak seimbang dalam hal kekuasaan atau kekuatan. Senior, merasa lebih kuat dan berkuasa, ingin mendemonstrasikannya terhadap para yunior.

Sungguh sebuah ironi. Institusi pendidikan yang bercita-cita menciptakan manusia berbudi luhur, justru dibayangi oleh persoalan mental para penghuninya. Persoalan yang terlembaga dalam sebuah "tradisi" pergantian pemain drum band.

Pihak STIP memang mengaku kecolongan. Selama ini keamanan sudah ditingkatkan, bahkan dengan menggandeng kepolisian dan TNI untuk melakukan pengawasan. Kamar atau asrama untuk yunior dan senior pun sudah dipisah. Tapi kekerasan tetap terjadi.

Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, pun sudah memecat Ketua STIP, Weku F. Karuntu untuk mempermudah investigasi kasus ini. Tapi itu semua belum cukup, bila tidak ada langkah untuk menghentikan kekerasan berlanjut, mencegah "kedunguan ala keledai" dengan mengulangi kesalahan yang sama berulang kali.

Butuh perubahan paradigma dan budaya yang berlaku di lingkungan institusi pendidikan, agar hubungan senior-yunior tidak menjelma menjadi situasi penindasan. Kakak tingkat bukan penguasa yang perlu mendemonstrasikan kekuasaannya dengan kekerasan.

Jangan biarkan para taruna atau mahasiswa di lingkungan pendidikan tinggi, mempraktikkan metode yang bertentangan dengan misi mulia pendidikan--menciptakan manusia seutuhnya yang berbudi pekerti luhur.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR