Fotografer Adek Berry saat berbincang dengan Beritagar.id di Flyover Cafe, Sunbreeze Hotel, Senayan Jakarta Pusat pada Rabu (07/02/2018). Ia telah bekerja selama lebih 20 tahun dan meliput berbagai peristiwa penting di dalam dan luar negeri.
Fotografer Adek Berry saat berbincang dengan Beritagar.id di Flyover Cafe, Sunbreeze Hotel, Senayan Jakarta Pusat pada Rabu (07/02/2018). Ia telah bekerja selama lebih 20 tahun dan meliput berbagai peristiwa penting di dalam dan luar negeri. Beritagar.id / Wisnu Agung Prasetyo
MEDIA DAN JURNALISME

Adek Berry, Perempuan pengabadi peristiwa

Profesinya masih didominasi laki-laki. Ia tak setengah-setengah menjalaninya. Berbagai peristiwa bencana dan perang pernah terekam dalam kameranya.

Tak banyak jurnalis memiliki kesempatan untuk meliput daerah perang dan konflik. Mereka adalah orang terpilih. Rekam jejak jurnalistiknya harus baik. Perlu pula keberanian dan insting yang tajam. Persoalan di lapangan bukan sekedar mau meliput apa tapi juga bagaimana nyawa tetap selamat.

Adek Berry adalah salah satu orang terpilih tersebut. Ia menyajikan berita bukan melalui tulisan, tapi dari balik lensanya. Selama 20 tahun, perempuan berusia 46 tahun itu bekerja sebagai fotografer atau jurnalisfoto.

Berbagai daerah konflik di Indonesia pernah terekam dari kameranya. Timor Timur, Aceh, dan Poso. Di luar negeri, ia tiga kali meliput perang Afghanistan.

Itu belum ditambah dengan daerah bencana yang risikonya tak kalah tinggi dari perang dan konflik. Tsunami Aceh, letusan Gunung Merapi, hingga banjir di Pakistan pernah ia liput juga.

Adek bisa menjalani semua itu bukan dengan aksi heroik, apalagi bergagah-gagahan. Sebagai perempuan, keberadaannya termasuk langka di dunia jurnalisfoto. "Harus disiplin, patuh, dan tahu kondisi," katanya di Djournal Coffee Bar, Grand Indonesia, Jakarta Pusat, pada Jumat sore (02/02/2018).

Sore itu, Adek menemui kami dengan membawa tas ransel kecil berwarna hijau di punggung dan tas kanvas bergantung di bahu. "Saya mau ke Bandung malam ini," katanya.

Ia minum kopi dengan gula sambil berbicara soal pengalaman liputan dan masa kecilnya. Suaranya pelan. Setiap kata yang terucap dari mulutnya ia susun dengan rapi, mirip dengan gaya tulisannya dalam buku Mata Lensa.

Usai wawancara, kami memotretnya di depan mal tersebut. Ia berjalan lincah dengan celana jin, kaos, dan sepatu ketsnya. Sekilas orang yang melihat tak akan menduga ibu dua anak yang sudah remaja ini hampir menginjak usia setengah abad.

Biasa berada di balik lensa, Adek tanpa canggung berpose di dalam bajaj. Ia luwes mengembangkan senyum dan bergaya. Bahkan ia tak menolak ketika kami memintanya melakukan pemotretan lagi lima hari kemudian.

Kepada Fajar WH, Sorta Tobing, Achmad Ghifari, dan fotografer Wisnu Agung Prasetyo, Adek menceritakan kisah hidupnya selama hampir dua jam. Berikut ceritanya.

Beberapa karya foto Adek Berry saat meliput bencana tsunami di Aceh (foto kiri) dan perang di Afghanistan (foto kanan atas dan bawah).
Beberapa karya foto Adek Berry saat meliput bencana tsunami di Aceh (foto kiri) dan perang di Afghanistan (foto kanan atas dan bawah). | Adek Berry /AFP/ Mata Lensa/TransMedia Pustaka

Setan gunung tak suka rok

"Aku senang IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) soalnya suka Biologi," kata Adek. "Tapi ternyata antara interest pelajaran dengan jiwa itu beda banget."

Perempuan kelahiran Curup, Bengkulu ini tak pernah menyangka dirinya bisa menjadi fotografer. Saat kuliah, ia sempat masuk kedokteran gigi di universitas swasta di Jakarta. Tapi ia hanya bertahan setahun.

Salah satu alasan ia enggan melanjutkan kuliah karena harus pakai rok. Fakultas kedokteran, baik umum maupun gigi, memang kerap mewajibkan mahasiswinya mengenakan pakaian tersebut. "Aku sulit pakai rok dari dulu," ujar bungsu dari tujuh bersaudara ini.

Alasan lainnya karena ia tak bisa bergaul di jurusan itu. Sekitar 200 mahasiswa angkatannya didominasi perempuan, sementara yang laki-laki hanya sembilan. Adek akhirnya berteman dengan anak-anak pendaki gunung di fakultas komunikasi universitas tersebut.

Saat memutuskan untuk pindah kuliah, ibunya sempat kecewa. Adek maklum. Biaya untuk belajar di fakultas kedokteran gigi tak sedikit. Hanya ayahnya yang bisa menerima keputusan ini. "Ia memeluk saya saat itu," katanya.

Adek lalu kembali mengikuti tes masuk perguruan tinggi negeri. Ia diterima di Fakultas Pertanian, Universitas Jember, Jawa Timur. Lagi-lagi pilihan itu semata karena ia menyukai pelajaran biologi.

Pada masa kuliah ini ia menemukan gairah dalam hidupnya, yaitu fotografi. Ia bergabung dengan klub Holycon Photography Club. Ia juga sering naik-turun gunung saat masih mahasiswi. "Saya dulu sampai disebut setan gunung," ujar Adek sambil tertawa. Tak terhitung sudah berapa kali ia naik-turun gunung.

Di klub fotografi, Adek belajar banyak hal. Tak hanya teknik fotografi, tapi juga soal persiapan hingga eksekusi.

Pengalamannya tak bisa diremehkan. Adek dan teman-teman satu klubnya kerap mendapat permintaan dari kampus untuk memotret acara wisuda. Ratusan wisudawan dan wisudawati mereka potret satu per satu ketika bersalaman dengan rektor.

Sebelum hari H, Adek dan tiga temannya harus membagi tugas. Ada yang memotret, mengganti film dan baterai, serta menggulung film. Dua hingga tiga kamera cadangan mereka siapkan. Kesalahan sedikit saja, bukan hanya duit melayang, momen pun hilang. Fotografer dan klien sama-sama akan kecewa.

Adek kala itu merasakan sekali tantangan memakai kamera manual dengan film. Setelah klik, ia tak bisa langsung melihat hasilnya. Film harus melewati proses panjang sebelum menjadi foto. Karena itu, tim ini harus memastikan sistem kerja berjalan supaya tidak ada kegagalan.

Tak hanya wisuda, ia juga kerap menerima pemotretan untuk acara pernikahan. Dari pagi buta, Adek harus siap memotret calon pengantin yang sedang berdandan. Lalu, saat acara berlangsung ia harus memastikan mendapat gambar pada setiap momen.

Semua itu ia anggap pelajaran yang sangat berharga. "Kita harus committed dengan pekerjaan sampai selesai. Kalau ada kendala harus dicari bagaimana mengatasinya," katanya mengingat pengalaman yang sudah ia dapat.

Saat hampir lulus kuliah, ia mencari-cari pekerjaan sebagai fotografer di berbagai media, tapi hasilnya nihil. Kesempatan baru ada di Majalah Tiras tapi sebagai reporter. Keinginannya terlampau kuat untuk masuk dunia jurnalistik, Adek pun mendaftar dan diterima.

Satu momen tak terlupakan baginya ketika menjadi penulis adalah wawancara dengan Ratu Ekstasi Zarima. Adek sampai harus berpura-pura mengaku sebagai teman masa sekolah supaya mendapat akses masuk ke dalam rumah tahanan Pondok Bambu, Jakarta Timur. Kisah ini ia tuliskan dalam buku Mata Lensa.

"Di lapangan memang tidak boleh ego harus dapat (gambar bagus). Keselamatan yang paling utama."

Adek Berry

Setahun di sana, Adek pindah ke Majalah Tajuk. Kali ini ia mendapatkan keinginannya, menjadi fotografer. Adek sempat meliput kerusuhan 1998. Di Tanah Abang, Jakarta Pusat. ia hampir ribut dengan kerumuman massa yang sedang merusak mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM).

Penyebabnya, massa tak suka ia memotret peristiwa tersebut. Secara refleks, Adek langsung berusaha melindungi dirinya. "Enggak apa-apa, Mas, ini kan uang rakyat," katanya saat itu. Massa pun melunak. Di dalam hatinya, Adek sangat waswas sekali.

Ketika meliput kerusuhan Ambon pada 1999, Adek juga sempat dalam situasi genting. Ia bersama fotografer lainnya berada di tengah dua kubu masyarakat yang sedang bertikai. "Mereka main parang semua," ujarnya.

Tangannya refleks membidikkan kamera. Tiba-tiba rekan-rekan jurnalisfoto lainnya, yang semua laki-laki, melarang Adek memotret.

"Cowok antisipasinya memang lebih bagus. Kalau perempuan kurang," kata Adek mengakui. "Jadi, ketika di lapangan memang tidak boleh ego harus dapat (gambar bagus). Keselamatan yang paling utama, jangan sampai membahayakan teman juga."

Akibat krisis moneter 1998, Tajuk tak bisa bertahan lama. Adek kehilangan pekerjaan. Di saat seperti itu, kenalannya di lapangan, Chief Photo AFP Indonesia Maya Vidon menelponnya. Awalnya hanya ingin menanyakan soal jadwal liputan, tapi berakhir dengan Adek mendapat tawaran pekerjaan.

Di AFP Adek bekerja sebagai fotografer hingga sekarang. Ia mengabadikan berbagai peristiwa penting di dalam dan luar negeri, dari mulai olahraga hingga perang dan bencana.

Menurut Adek, menjadi fotografer harus disiplin, patuh, dan tahu kondisi.
Menurut Adek, menjadi fotografer harus disiplin, patuh, dan tahu kondisi. | Wisnu Agung Prasetyo/dokumen pribadi Adek Berry /Beritagar.id

Meliput perang Afghanistan

Ia tak menyangka naik gunung dan belajar fotografi ternyata sangat berharga untuk menjalani pekerjaannya. Dua kali ia liputan ke Gunung Salak untuk memotret pesawat jatuh.

Naik gunung tak jadi masalah, apalagi memotret. Yang jadi kendala adalah pada saat naik Gunung Salak yang pertama Adek tidak membawa sepatu bot. Ia nekad memakai sepatu pantofel untuk mendaki.

Begitu mendengar ada pesawat jatuh, ia langsung cabut dari kantornya di AFP (Agence France-Presse), Jakarta Pusat, ke Bogor. Perlengkapannya hanya dua kamera, jas hujan, dan komputer jinjing di tas ranselnya.

Semalaman ia mendaki gunung mencari bangkai pesawat yang hilang bersama tim pencari. Kakinya sempat sakit, ditambah lagi udara malam yang dingin. Baru esok paginya mereka menemukan pesawat yang sudah jadi serpihan.

Adek sempat dongkol karena tidak boleh memotret oleh tentara. "Oh my God, rasanya mau nonjok, mau marah," ujarnya.

Lalu, ia melihat dua orang videografer dan reporter yang semua laki-laki bisa mengendalikan emosi. Mereka cuek, pura-pura tidak mendengar larangan itu, dan mencari tempat untuk mendapatkan gambar. "Aku pikir harus ikutin mereka. Kalau argue, cerewet, marah enggak dapat apa-apa, padahal sudah jalan jauh," kata Adek.

Akhirnya dengan segala cara ia berhasil mendapatkan foto yang bagus. Jerih payahnya terbayarkan walaupun dengan cara yang ekstrem, naik gunung dengan pantofel.

Liputan berbagai bencana di tanah air juga tak luput dari bidikan kameranya. Tsunami Aceh, gempat bumi Yogyakarta, berbagai kecelakaan pesawat. Semua ia kerjakan dengan baik dan konsisten. Ia jarang mengeluh dan selalu berusaha mendapat gambar dengan bagus. Dari situ reputasi Adek terangkat.

Ia lalu mendapat kesempatan liputan perang Afghanistan. Tak hanya sekali, tapi tiga kali. Liputan yang pertama dan ketiga ia embedded atau tandem dengan pasukan marinir Amerika Serikat. Yang kedua, ia bekerja di AFP biro Kabul. Semua memakan waktu sekitar sebulan penuh.

Berbagai masalah ia hadapi kala itu. Dari mulai berhadapan dengan aturan super ketat sampai cuaca yang ekstrem. "Di lapangan, saya harus ikut aturan karena ini bukan keselamatan sendiri, tapi 15 hingga 20 orang lainnya," ujar Adek.

Adek Berry di tengah konflik /Beritagar ID

Dari semua pengalamannya itu, Adek tak bisa memilih mana yang paling berkesan untuknya. "Semua berkesan ya," katanya. Ia tak menganggap liputan perang lebih tinggi derajatnya dari yang lain. Malah menurut dia memotret acara panggung mode pun sama-sama menarik dan menantang.

Buku yang ia tulis selama tiga tahun merupakan kilas balik kisahnya selama bekerja. Ia ingin memberikan sudut pandang lain tentang kehidupan perempuan berjilbab, ibu dua anak yang bekerja sebagai jurnalisfoto.

Ia tak sungkan menyebut dirinya ibu rumah tangga, walaupun aktif bekerja. "Saya sudah lama tidak punya asisten rumah tangga," ujarnya. Kalau pergi jauh dan lama, Adek menyewa asisten hanya untuk selama ia pergi.

Rasa bersalah pasti ada ketika ia lama meninggalkan keluarganya. Tapi ia sangat bersyukur suami dan dua anak-anaknya selalu mendukung pekerjaannya ini. "Alhamdullilah, mereka tidak pernah protes. Yang penting bagaimana cara mengomunikasikannya," kata Adek.

Fotografer Adek Berry berpose untuk Beritagar.id pada Rabu (07/02/2018) di Flyover Cafe, Sunbreeze Hotel, Senayan, Jakarta Pusat
Fotografer Adek Berry berpose untuk Beritagar.id pada Rabu (07/02/2018) di Flyover Cafe, Sunbreeze Hotel, Senayan, Jakarta Pusat Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id
BIODATA Diperbarui: 08 Februari 2018

Adek Berry

Nama:
Adek Berry

Tempat, tanggal lahir:
Curup, Bengkulu, 14 September 1971

Nama suami:
Ir. Yudiana

Nama anak:
Hafizh Rahmadhian Sholeh
Nafisah Firzana

Pendidikan:
Fakultas Pertanian, Universitas Jember, Jawa Timur (lulus 1997)

Karya buku:
Mata Lensa (2017)

Pengalaman liputan antara lain:

  • Sea Games Malaysia (2017)
  • Kecelakaan pesawat AirAsia di Kalimantan (2014)
  • Olimpiade London (2012)
  • Perang Afghanistan, embedded atau tandem dengan US Marines (2012)
  • Sea Games Jakarta (2011)
  • Bekerja di AFP biro Kabul, Afghanistan selama satu bulan (2011)
  • Perang Afghanistan, tandem dengan US Marines 2nd Batalyon 1st Marines (2011)
  • Banjir di Provinsi Sindh, Pakistan (2010)
  • Erupsi Gunung Merapi, Yogyakarta (2010)
  • Gempa bumi di Tasikmalaya, Jawa Barat (2009)
  • Gempa bumi di Padang, Sumatera Barat (2009)
  • Bom JW Marriott dan Ritz Carlton, Jakarta (2009)
  • Eksekusi terpidana mati bom Bali, Lamongan, Jawa Timur (2008)
  • Pemilihan presiden di Timor Leste (2007)
  • Pesawat Adam Air jatuh, Makassar, Sulawesi Selatan (2007)
  • Gempa bumi di Yogyakarta (2006)
  • Tsunami di Aceh (2004)
  • Referendum Timor Leste (1999)
  • Kerusuhan Ambon (1999)

Beberapa karya fotonya pernah masuk dalam:

  • National Press Photographers Association, Amerika Serikat
  • Best Journalistic Photos 2010 untuk kategori bencana, Life Magazine, Amerika Serikat
  • TIME Lightbox
BACA JUGA