Agung Bezharie Hadinegoro, 29, CEO dan co-founder Warung Pintar, saat berpose untuk Beritagar.id di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (8/4/2019).
Agung Bezharie Hadinegoro, 29, CEO dan co-founder Warung Pintar, saat berpose untuk Beritagar.id di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (8/4/2019). Wisnu Agung Prasetyo / Beritagar.id
FIGUR

Agung Bezharie, Warung Pintar, dan siasat menyudahi problem

Agung Bezharie Hadinegoro berangkat dari anggapan personal sebagai underdog. Namun, kini, kepercayaan dirinya meninggi. Dia pun optimistis dengan Warung Pintar.

Pada sebuah titik dalam kehidupannya, Agung Bezharie Hadinegoro pernah merasa teramat kecil. Kata persis yang dia pilih untuk menggambarkan situasi batinnya belasan tahun silam itu "underdog".

"Gue selalu berada di sekolah yang isinya anak-anak yang sangat mapan dan pintar. Mereka dari SMP udah bawa mobil, gue cuma naik bajaj. Gue berada di keluarga yang enggak lengkap. Secara finansial cukup doang," ujarnya kepada Beritagar.id, Senin (8/4/2019), di kantornya di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Karena anggapan personalnya itu, masa-masa sekolah menengahnya terasa tak meninggalkan jejak berkilau. Di sisi akademik, capaiannya biasa saja. Tak selalu menjadi juara kelas. Di luar itu, sama. Sejauh ingatannya menggapai, dia tak punya prestasi di bidang lain.

"Opportunity-nya terbatas. Kalau mereka (yang mapan), opportunity lebih banyak," katanya.

Agung, 29, alumnus SMA Labschool, Jakarta Timur. Sebuah sekolahan swasta di Rawamangun, kawasan strategis yang pula menjadi tempatnya lahir dan tumbuh. Di Jakarta, sekolah itu punya status mentereng. Sejumlah lulusannya layak dipujikan. Di antaranya, Riri Riza, seorang sutradara kesohor.

Wajar jika dia jadi susah susah tutup mata atas gaya kawan-kawan sebaya. Di sisi lain, dia juga jadi tertantang untuk bisa melakukan lebih. Untungnya, situasi terimpit membuat pandangannya meluas. Di titik itu, dia mulai meyakini bahwa bakat bukan bawaan lahir. Bakat adalah kerja keras.

Dan untuk mengimbangi perkembangan di tengah lingkungan tersebut, dia mesti telaten menabung. Uang biasa didapat dari sukses menyisihkan sangu. Pun salam tempel ketika Lebaran, yang cuma dikantongi sekali setahun. Yang agak rutin, pendapatan dari berdagang--barang atau jasa.

Usaha-usaha minimalis tersebut membantunya untuk punya barang-barang dimau. Sebab, minta dari orang tua tak bakal dikabulkan.

Dia pernah punya pengalaman tentang penolakan itu. Satu waktu, usai beroleh peringkat bagus di kelas, dia berharap ibunya kasih imbalan. Soal yang sebetulnya lazim dalam hubungan anak dan orang tua. Sialnya, sang ibu menampik.

"Gue pernah nanya ke nyokap gue, kenapa gue dapet ranking tapi enggak dikasih hadiah kayak temen gue. Dia bilang, 'Lo tuh bukan kebo. Lo manusia. Kalau kebo, lo ngelakuin kerjaan lo, terus dikasih makan'," katanya.

Kondisi sedemikian jelas bikin perniagaannya mesti terus berlanjut. Dengan barang jualan macam-macam. Malah, pas SMA, dia pernah berani kasih jasa gelap. Mengerjakan tugas sekolah milik kawan. Dia dapat bayaran dari layanan itu.

Tetapi, jadi joki tentu cuma angin lalu. Siasat sementara. Rupiah paling banyak tetap diraup dari menawarkan hal-hal khusus. Yang sulit diakses orang kebanyakan, dan asalnya dari internet. Dari mulai panduan gaming, kode gameshark, hingga lagu, klip video, dan film. Semua diulik sendiri.

Agung Bezharie Hadinegoro, 29, CEO dan co-founder Warung Pintar, ketika berpose untuk Beritagar.id di kantornya di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (8/4/2019).
Agung Bezharie Hadinegoro, 29, CEO dan co-founder Warung Pintar, ketika berpose untuk Beritagar.id di kantornya di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (8/4/2019). | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Ke Bandung, masuk FSRD ITB

Dengan latar belakang begitu, Agung girang bukan main waktu berhasil menembus Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Teknologi Bandung (ITB). Dagunya sedikit terangkat. Terlebih, teman-temannya dari Labschool yang bareng mendaftar dengannya ke kampus itu tak diterima. Di sana, Agung ambil Seni Intermedia.

"Gue masuk Intermedia karena gue suka sama teknologi. Di sana gue mau enggak mau belajar tentang filosofi teknologi. Belajar tentang simulakra, things about digital technology dan internet," ujarnya.

Kota itu menjadi lingkungan baru baginya. Dengan kawan-kawan baru. Plus kebiasaan baru. Namun, Agung mengaku lebih banyak main saat di Bandung.

Mungkin karena itu pula jejaringnya melar. Dia mulai kebagian tawaran untuk mengerjakan proyek-proyek tertentu. Masih berkaitan dengan kecakapannya coding atau fokusnya di sektor teknologi media atau digital.

Semua jenis order dia hajar. Dari mulai bikin desain sampai mengerjakan video, animasi, dan situs web. Dia juga tak sungkan bergelut dengan pembuatan instalasi suatu acara, juga video mapping.

Kliennya beragam. Teman sendiri, juga firma besar. Ada maskapai iklan, dan perusahaan energi. Bahkan Pemerintah Kota Bandung pernah melibatkannya menyiapkan studi kelayakan pembangunan suatu apartemen.

"Selama bisa dan ada yang mau bayar, gue senang banget," katanya.

Agung Bezharie Hadinegoro: 80 persen waktunya di kantor /Beritagar ID

Banyak pekerjaan berarti pula banyak masalah. Dan tabiat problem adalah kekeraskepalaan untuk tetap hadir hingga solusi tiba. Agung melihat teknologi dapat menjadi salah satu cara jitu mengurai perkara. Problem solving di kemudian hari memang menjadi perhatian terbesarnya.

Di tengah banyak kegiatan, dia terbentur misi menyelesaikan tugas akhir kuliah. Sudah setahun tema yang disuntukinya tak kunjung beres digarap. Terlalu susah, katanya. Akhirnya, dia menengok ke topik yang telah sejak lama membelenggunya secara psikologis. Fatherhood. Keayahan.

Butuh keberanian untuk melongok ke dalam lubang hitam pribadi itu. Namun, kehendaknya sudah bulat untuk menemukan katarsis atawa kelegaan emosional alias pelepasan ketegangan.

Lewat perantaraan teknologi, dia membuat karya instalasi yang memproyeksikan siluet sosok lelaki di sebuah ruang rumah. Sang objek seolah-olah sedang bersantai di kursi goyang. Judulnya, Homage to A Fatherhood.

"Gue kan melihat teknologi sebagai sesuatu yang menyelesaikan masalah. Teknologi yang gue pakai (pada karya itu) hologram projection. Itu gimana teknologi bisa menyentuh manusia. Bisa bercerita tentang figur ayah untuk gue. Karena basically, fatherhood part gue tuh kebelah ke mana-mana. Sosok ayah gue tuh ada di kakek gue, ada di sekolah, ada di macam-macamlah," ujarnya.

Mendirikan Warung Pintar

Ibu dan ayah Agung Bezharie hidup terpisah. Dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan kakek dan neneknya. Namun, itu tak lantas mengandaskan hidupnya. Masih ada bagian kesadarannya yang menekannya untuk terus bertarung.

Mungkin saja, interaksi dengan sang kakek yang insinyur, dan nenek yang berprofesi sebagai dokter menjadi penyuntik semangat. Mereka orang-orang yang menurutnya "terdidik dan jadi intellectual partners untuk ngomongin sesuatu". Dengan kebiasaan bertukar pikiran, dia jadi terlatih melongok masalah pada substansinya.

Maka, saat Warung Pintar terbentuk, perusahaan rintisan itu seperti tinggal menemukan momen lepas landasnya saja. Pendirinya memang bukan Agung sendiri. Ada dua lainnya, yakni Harya Putra, lulusan Sistem dan Teknologi ITB, dan Sofian Hadiwijaya, sarjana Teknik Industri Universitas Bina Nusantara.

Namun, Agung yang melihat peluang untuk meningkatkan kapasitas bisnis warung. Dia menyadarinya waktu bekerja di sebuah perusahaan investasi tahap awal, East Ventures.

"Awalnya side project. Gue lagi ngerjain konstruksi salah satu working space. Gue lihat banyak ojek online nongkrong. Waktu gue tanyain, mereka bilang pengin nongkrong di situ. Gue bilang, gue bagusin, ya, tempatnya biar enak. Gue pikir orang-orang yang ada di coworking space pasti butuh. Buat Go-Food, buat Go-Ride. Soalnya, mereka (ojek online) ngumpul karena warung-warung," katanya.

Dia lantas mendekati seorang pendiri ojek online untuk mengajukan gagasannya. Tetapi, proposalnya ditolak. Agung kemudian membicarakan konsep mentah itu ke rekannya. Dia juga belajar lebih dalam tentang warung.

Agung dan rekannya lalu sepakat bahwa warung, yang wujudnya dapat ditemui di segala penjuru tanah air, mesti mendapat peningkatan di sisi proses bisnis. Arahnya ke tiga hal: pembelian, penjualan, dan pemantauan.

"Di pembelian, gimana mereka bisa dapat barang terbaik dengan harga terbaik tanpa kena fluktuasi harga dan sampai pada waktu yang tepat. Selling, gimana mereka bisa berjualan dengan terkontrol. Yang ketiga, gimana caranya mereka bisa monitor. Warung kalau lo nanya, 'Pak, hari ini penjualannya berapa?' Enggak ada yang bisa jawab, kan?" ujarnya.

Agung Bezharie Hadinegoro, 29, CEO dan co-founder Warung Pintar, di muka satu outlet Warung Pintar di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (8/4/2019).
Agung Bezharie Hadinegoro, 29, CEO dan co-founder Warung Pintar, di muka satu outlet Warung Pintar di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (8/4/2019). | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Langkah-langkah dimaksud bikin warung jadi punya sistem manajemen inventori. Jadi, bisnis warung dapat menghasilkan data, yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan skalanya. Rantai produksi jadi bisa lebih efisien. Peluang bisnis baru jadi terbuka. Pemilik warung pun diharapkan punya akses lebih mudah ke pembiayaan.

"Hubungan dengan pemilik warung lebih ke kemitraan. Si pemilik warung jadi mitra yang menjalankan teknologi dan sistem kita. Mereka sebenarnya bisa cari supplier sendiri. Tapi kami meng-encourage mereka untuk beli dari kami," katanya.

Upaya Agung dan kawan-kawannya terbayar cukup cepat. Sejak rilis pada triwulan terakhir 2017, kini Warung Pintar telah memiliki setidaknya 1200 mitra. Pemasukan bulanan para pengelola warung rata-rata naik 15 persen per bulan. Untuk yang tangguh, pemasukannya bahkan bisa melonjak hingga 41 persen.

70 persen dari mitranya berada di usia produktif, dan 59 persen hanya punya ijazah SMA. Sebagian besar mitra Warung Pintar masih didominasi laki-laki, yakni sekitar 54 persen.

Baru-baru ini, Agung dan tim melakukan ekspansi perdana ke Banyuwangi, sebuah kabupaten multikultur di ujung timur Pulau Jawa. Mereka buka 101 kios pintar di sana.

Perluasan bisnis itu jadi mungkin karena dukungan dana untuk Warung Pintar juga melambung. Kini, total pendanaan bagi mereka 10,5 juta dolar AS. Beberapa di antara investornya adalah Vertex Ventures, Line Ventures, SMDV, East Ventures, Insignia Ventures Partners, OVO, Digital Garage, dan Triputra Group.

"Rencana setelah Banyuwangi, pasti kita akan buka beberapa kota lagi sih. Kemarin kita validate aja, 'Oh, ternyata kita bisa loh buka di kota tier-2. Gini caranya, ini blueprint-nya'. Sekarang tinggal cari lagi kota tier-2, dan kota tier-1 untuk expand," ujarnya.

Tentang kepemimpinan dan perusahaan rintisan

Capaian Warung Pintar bikin Agung Bezharie dan dua pendiri lainnya masuk lis 30 orang muda di bawah 30 tahun yang paling cemerlang di Asia versi perusahaan media berpengaruh dunia, Forbes.

"Gue senang bisa achieve sesuatu," katanya tentang daftar tersebut. "Tapi gue rasa tim gue yang lebih senang. "Masuk ke lis itu membantu dan mempercepat kita untuk sampai ke aim kita, ke target kita."

Bukan hal mudah membawa perusahaan yang tadinya cuma berisi kurang dari 25 orang lantas membesar jadi lebih dari 200 orang. Tanpa kepemimpinan kuat, organisasi bisa rontok berantakan.

Mengenai itu, dia berkaca dari Jack Ma, pebisnis Tionghoa yang mendirikan perusahaan e-commerce terbesar di Tiongkok, Alibaba Group.

Agung berinteraksi dengan Jack Ma saat terpilih untuk masuk program Kelas Asia eFounders Fellowship di Tiongkok, sebuah program diselenggarakan oleh Alibaba Business School dan United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD).

Dia dapat waktu dua minggu di negeri Cina, dan sempat menanyai Jack Ma dalam sesi mengobrol bareng selama 45 menit. Satu pertanyaannya menyasar alasan tentang mengapa Jack Ma bisa menjadi sebesar sekarang walau cuma lulus dari universitas lokal.

"Dia enggak pernah ningkatin ceiling-nya untuk bisa lebih pintar, dia bilang. Ceiling dia segitu-gitu aja. Tapi, dia build team to increase that ceiling. Intinya, it's not the founders. Founders bukan yang paling pinter. Tapi, gimana caranya founders bikin tim yang isinya orang yang bisa build the company. Yang bisa beneran break that ceiling," ujarnya.

Dalam hemat Agung Bezharie, membangun perusahaan rintisan dan organisasi memang ujungnya berurusan dengan bagaimana cara mengumpulkan orang-orang mumpuni pada saat yang tepat untuk menyelesaikan masalah yang sebenarnya.

Namun, sialnya, pendiri biasanya diharapkan untuk tumbuh teramat cepat. Padahal, "growth manusia," kata Agung, "enggak secepat itu. Makanya hal paling sering terjadi sama start-up adalah perusahaan menjadi lebih besar dari pegawainya, organisasinya, atau bahkan founders-nya."

Karena muncul kebutuhan untuk mekar itu, Agung Bezharie mesti menyisihkan waktu untuk mengasah kecakapan dan kepribadiannya. Upayanya lumayan. Mengundang penasihat dan mentor. Meditasi. Baca buku.

"Gue suka buku The Art of Thinking Clearly (karya Ralf Dobelli). Isinya tentang bias. Ngebahas tentang kenapa manusia sering berat sebelah. Kita pikir kita benar, tapi ternyata enggak. Kita pikir kita baik bagi orang lain, tapi ternyata enggak. Kondisi psikologis, kondisi lingkungan, bikin kita begitu," ujarnya.

Praktiknya, dia mengatakan selalu mencoba blak-blakan tentang sesuatu. Di kantor misalnya. Dia berharap, dengan begitu orang lain juga bisa berlaku sama kepadanya tanpa malu-malu.

"Bikin culture tuh butuh waktu. Kadang-kadang gue enggak punya cukup waktu untuk build the culture. Output-nya kadang-kadang kita hire orang yang gak cocok. Maksudnya, dia bring bad things to the culture. Itu pasti terjadi sih," katanya.

Beritagar.id /Wisnu Agung Prasetyo
BIODATA Diperbarui: 19 April 2019

Agung Bezharie Hadinegoro

Lahir:
Jakarta, 11 Agustus 1989

Pendidikan:
2014-2016: ITB Master of Business Administration, Entrepreneurial Studies
2007-2012: FSRD ITB, Intermedia
2004-2007: SMA Labschool Rawamangun

Pekerjaan:
2017-kini: Warung Pintar
2016-2018: East Ventures
2016-2017: EV Hive
2015-2016: Global Entrepreneurship Program Indonesia
2014-2015: ZHU Business&Creative Solutions
2013-2014: afteridea.com
2013-2014: Double O
2010-2011: urban lite

Prestasi:
Forbes 30 Under 30 2019 Indonesia
Forbes 30 Under 30 2019 Asia

Catatan redaksi: Judul diubah pada Kamis (16/5) untuk lebih meraih keselarasan dengan isi.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR