Penulis Alberthiene Endah berpose untuk Beritagar.id di Plaza Senayan, Tanah Abang, Jakarta Pusat pada Kamis (10/01/2019).
Penulis Alberthiene Endah berpose untuk Beritagar.id di Plaza Senayan, Tanah Abang, Jakarta Pusat pada Kamis (10/01/2019). Wisnu Agung Prasetyo / Beritagar.id
FIGUR

Alberthiene Endah, intuisi penulis biografi

Seorang perfeksionis, ia disiplin dalam mengatur hidupnya, termasuk soal menulis.

Sebuah restoran di kawasan Senayan, Jakarta Pusat menjadi tempat kami berjumpa. Alberthiene Endah datang lebih dulu dan duduk sendiri.

Saat kami datang, ia sudah memesan makanannnya. Siput ala Prancis atau escargot dan salmon steak.

Beberapa tahun terakhir ia membatasi konsumsi protein hewani. Hanya makanan laut dan ayam menjadi pilihannya.

Bukan ingin menjadi vegetarian. Pilihannya ini semata karena kasihan. "Gue makin nggak tega. Dipaksa (makan daging merah) juga nggak bisa," katanya ketika ditemui pada Kamis (10/01/2019).

Sejak kecil ia dekat dengan satwa. Anjing dan kucing menjadi peliharaannya. Kebiasaan ini melekat hingga sekarang.

Di rumahnya yang luas di kawasan Ciganjur, Jakarta Selatan, ia merawat 10 anjing. Sembilan di antaranya hasil adopsi. Semua ia anggap seperti anak sendiri.

Mengapa hanya anjing? "Ia hewan domestik yang sering ditolak lingkungannya. Tanpa alasan apa pun orang lebih senang nyerang anjing daripada kucing," ujarnya.

Perempuan yang kerap dipanggil dengan insial namanya, AE, itu berujar, anjing juga dibiakkan untuk dipelihara. Tapi di sisi lain dikonsumsi juga.

Karena itu, sejak 2010 AE aktif dalam kegiatan penyelamatan anjing terlantar. "Organisasinya punya teman. Aku mendonasi," katanya. Ia juga sering berkampanye membela kesejahteraan satwa lainnya.

Kami berbincang dengan penulis biografi yang produktif ini sambil menikmati santap siang. Obrolannya santai. Dari soal satwa hingga presiden. Di tengah pembicaraan, suaminya, Dio Hilaul, datang menemani.

Berikut ceritanya.

Penulis Alberthiene Endah berpose untuk Beritagar.id di Plaza Senayan, Tanah Abang, Jakarta Pusat pada Kamis (10/01/2019).
Penulis Alberthiene Endah berpose untuk Beritagar.id di Plaza Senayan, Tanah Abang, Jakarta Pusat pada Kamis (10/01/2019). | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

KD, pembuka jalan

Kehidupan masa kecilnya ia habiskan di Depok, lalu pindah ke Bandung, Jawa Barat, sebelum akhirnya menetap di Jakarta. Ia hidup sederhana. Orang tuanya melatih kelima anaknya untuk tidak manja dan hidup mandiri.

"Aku dari dulu sudah punya plan A, B, C. Jadi nggak takut lagi menghadapi hidup," ujarnya.

Buku Lima Sekawan karya Enid Blyton menjadi favoritnya ketika kecil. Lama-kelamaan dia mencoba untuk menulis. Lalu, ia melihat ada profesi yang sesuai dengan minatnya, wartawan.

"Gue senang ketemu orang tenar. Norak gitu loh," kata AE sambil tertawa. "Maksudnya, ingin tahu kehidupan dia."

Saat kuliah ia masuk jurusan Sastra Belanda, Universitas Indonesia. Pilihan yang aman untuknya karena selepas lulus Sekolah Menengah Atas, ibunya mengancam. Kalau tidak diterima di universitas negeri, AE tidak kuliah.

Jurusan itu tak salah-salah amat. Minatnya dalam hal tulis-menulis semakin berkembang. Ia bertemu banyak pengajar, yang juga berprofesi sebagai penulis. Salah satunya, sastrawan Ismail Marahimin.

Lulus kuliah pada 1993, ia bekerja sebagai wartawan. Di Femina yang paling lama, dari 1994 sampai 2004. Ia banyak menulis profil tokoh terkenal untuk majalah khusus perempuan tersebut. Dari sinilah ia bertemu dengan penyanyi Krisdayanti.

Suatu hari diva musik pop tanah air itu meminta bantuannya menulis buku. "Dia yang buka karierku. Sampai sekarang gue berterima kasih sama KD (Krisdayanti)," ujar perempuan berusia 40an tahun itu.

Buku berjudul Seribu Satu KD yang terbit pada 2003 meledak di pasaran dan dicetak berulang kali. AE membuat konsep buku biografi yang berbeda pada saat itu.

Foto lebih banyak dari tulisan. Tampilannya mirip majalah fesyen. Tapi pembaca juga mendapat informasi tentang perjalanan hidup KD hingga rahasia kecantikannya. Publik sempat heboh ketika membaca pengakuan KD yang melakukan operasi plastik.

Fotografer terkenal tanah air AE ajak untuk mengisi buku tersebut, di antaranya Jay Subiakto, Davy Linggar, dan Darwis Triadi. Tanpa modal apapun, AE bisa mewujudkannya berkat sponsor dari produk-produk yang dibintangi oleh KD.

"Waktu itu gue masih tolol dan bloon, tapi gue bikin aja. Yang penting bikin bener-bener," kata AE.

Hasil kerja kerasnya terbukti berhasil. Jalannya sebagai penulis biografi terbuka lebar. Banyak yang lalu memintanya menuliskan buku serupa.

AE lalu memberanikan diri keluar dari pekerjaannya dan menjadi penulis lepas. "Semangatku itu semangat orang tolol, nggak ada pengalaman tapi jadinya to die for," ujar bungsu dari lima bersaudara itu.

Ia sempat was-was apakah dirinya sanggup hidup mandiri tanpa pekerjaan tetap. Waktu membuktikan hal tersebut. Kurang dari sebulan setelah ia keluar dari Femina, produser Raam Punjabi mengontaknya. "Honornya lumayan," katanya tersenyum.

Penulis biografi, Alberthiene Endah, berpose untuk Beritagar.id di Plaza Senayan, Tanah Abang, Jakarta Pusat pada Kamis (10/01/2019).
Penulis biografi, Alberthiene Endah, berpose untuk Beritagar.id di Plaza Senayan, Tanah Abang, Jakarta Pusat pada Kamis (10/01/2019). | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Anak rumahan

Tahun lalu ia sibuk mengerjakan buku untuk Presiden Joko Widodo. Judulnya Jokowi: Menuju Cahaya. Buku ini terbit pada Desember 2018.

Ini bukan pertama kalinya AE menulis biografi Jokowi. Sebelumnya ia juga pernah mengerjakan hal serupa. Tapi momennya berbeda.

Yang pertama muncul ketika Jokowi menjabat gubernur DKI Jakarta. Kali ini menjelang pemilihan presiden 2019.

Bedanya apa? "Tentu sekarang lebih tegang sedikit. Jadi presiden pasti beliau lebih banyak masalahnya," kata AE.

Wawancara untuk buku ini ia lakukan pada Mei lalu. Demi penulisan, AE sampai ikut kegiatan blusukan Jokowi ke banyak kota.

Tapi sesi wawancara paling sering ia lakukan di Istana Bogor. Biasanya setiap akhir pekan. "Beliau commit memberikan waktu. Benar-benar nggak diganggu apa pun," ujarnya.

Dari semua tokoh yang pernah ia tulis kisah hidupnya, Chrisye yang paling sulit. AE mendapat panggilan langsung dari penyanyi yang wafat pada 30 Maret 2007 itu untuk menulis biografinya.

"Dia ketemu aku pada Mei 2006. Aku menghadapi orang yang tahu dirinya akan meninggal," katanya. Jelang akhir hidupnya, Chrisye menderita kanker paru-paru stadium akhir.

Ada momen ketika wawancara berjalan sangat sedih. Chrisye menangis. Pada saat seperti itu, AE harus tahu diri dan tidak memaksakan diri untuk bertanya.

"Wawancara biografi itu seperti psikiater (bertanya) ke pasien. Kita harus memahami hati narasumber," ujar AE.

Ia tak pernah mengandalkan alat perekam. "Tape recorder itu benda paling nggak penting dalam wawancara," katanya. "Kalau perlu, kita harus menguasai jawaban-jawaban dia dengan intuisi."

Sebagai penulis biografi, ia harus mempersiapkan percakapan yang bisa menyentuh narasumbernya. "Kalau narasumber bisa bercerita dengan sendirinya, berarti kita berhasil," katanya.

Selesai wawancara, AE tak membutuhkan waktu lama untuk menulis. Seperti buku Jokowi yang setebal 384 halaman, selesai ia tulis pada September 2018.

Tak butuh inspirasi, AE memilih disiplin dalam bekerja. Pukul tiga sampai enam pagi ia dedikasikan waktunya menulis. Setelah itu, ia bermain dengan 10 anjingnya dan memberi mereka sarapan.

AE kemudian mengisi paginya dengan menyedot debu. Rumahnya harus bersih karena anjing peliharaannya yang banyak. "Gue orangnya perfeksionis," ujarnya.

Karena itu, jangan harap bisa bertemu dengannya di pagi hari. Rapat dan pertemuan biasa ia lakukan setelah pukul 10.

Selesai rapat, jam tiga sore ia sudah harus kembali ke rumah. "Jarang sekali bertemu orang sampai malam," ujar AE.

Ia akan kembali bermain dengan anjing-anjingnya. Lalu, berolahraga yoga atau fitnes. Waktu tidurnya tak lewat dari jam sembilan malam.

Ia tak suka begadang. Minum teh menjadi pilihannya ketimbang kopi. Ia lebih suka di rumah, ketimbang jalan-jalan. Ke luar negeri jarang ia lakukan, kecuali ada undangan atau pekerjaan.

"Gue nggak suka penulis dihargain rendah. Nulis itu susah."

Alberthiene Endah

Selesai dengan biografi Jokowi, AE langsung mengerjakan buku lainnya. Total sudah 54 buku yang ia tulis. Mayoritas buku biografi.

Banyak tokoh yang memintanya dibuatkan buku. Tapi tak semua ia terima. Kalau tak menarik baginya, tak akan ia kerjakan. "Gue milih pakai intuisi," katanya.

Saat ini AE juga sedang mempersiapkan aplikasi untuk orang yang ingin membaca karyanya secara gratis.

"Ini cara gue menyiasati dunia buku yang semakin dijauhi. Harganya semakin mahal," kata AE. "Orang nggak boleh berhenti membaca. Oleh sebab itu gue berdamai saja dengan keadaan, biar sekalian digratisin saja."

Tapi ia juga tak mau profesi penulis diremehkan. "Gue nggak suka penulis dihargain rendah. Nulis itu susah. Kalau memang gampang, ngapain nyari gue?" ujarnya.

Penulis biografi, Alberthiene Endah, berpose untuk Beritagar.id di Plaza Senayan, Jakarta Pusat pada Kamis (10/01/2019).
Penulis biografi, Alberthiene Endah, berpose untuk Beritagar.id di Plaza Senayan, Jakarta Pusat pada Kamis (10/01/2019). Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id
BIODATA Diperbarui: 17 Januari 2019

Alberthiene Endah

Tempat, tanggal lahir:
Bandung, 16 September

Pendidikan:

  • Sarjana Sastra Belanda, Universitas Indonesia

Karier:

  • Wartawan majalah Hidup (1993-1994)
  • Wartawan hingga menjadi redaktur di majalah Femina (1994-2004)
  • Pemimpin redaksi majalah Prodo (2004-2009)

Karya biografi:

  • Seribu Satu KD
  • Panggung Hidup Raam Punjabi
  • Dwi Ria Latifa: Berpolitik dengan Nurani
  • Venna Melinda's Guide to Good Living
  • Anne Avantie: Aku Anugerah dan Kebaya
  • Titiek Puspa: Never Ending Diva
  • Chrisye: Sebuah Memoar Musikal
  • Krisdayanti: My Life My Secret
  • The Last Words of Chrisye
  • Jejak Batin Jenny Rahman
  • Probosutedjo: Saya dan Mas Harto
  • Ani Bambang Yudhoyono: Kepak Sayap Putri Prajurit
  • RAMLI: 35 Tahun Berkarya
  • Anne Avantie: 20 Tahun Berkarya
  • Penari Legon Peliatan (bersama Guruh Soekarnoputra)
  • Junaedi Perwata: A Miraculous Journey
  • Rooslinawati Perwata: Love, Faith, and Hope
  • Siti Aminah: Inspirasi Sukses Membangun Group Tiga Serangkai
  • Djoko Susanto: Langkah Sukses Membangun Alfamart
  • Menulis Fiksi itu Seksi
  • Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar
  • Anang Hermansyah: Aku dan Diva
  • Jusuf Kalla: Athirah
  • Joko Widodo, Memimpin Kota Menyentuh Jakarta
  • ELOY: Perjalanan Ajaib Anak Pedalaman nias ke Panggung Dunia
  • Spirit Menembus Sukses Djoko Susanto
  • Arini P Tofani ME: Golden Opportunity in Aesthetic Clinic
  • KEN & KASKUS: Cerita Sukses di Usia Muda
  • H Wahidin Halim: Jejak Langkah Sebagai Walikota, Jurus Saya Memimpin Tangerang
  • DR Rizal Sini, Love & Devotion
  • Dato'Sri Prof. DR Tahir, Living Sacrifice
  • DR Bayu Satya BSc, Berani Melangkah
  • Teng Hui: Kunci Kebahagiaan
  • Biografi Ciputra
  • Jokowi: Menuju Cahaya

Karya novel:

  • Jangan Beri Aku Narkoba
  • Cewek Matre
  • Jodoh Monika
  • Dicintai Jo
  • Selebriti
  • Ojek Cantik
  • Nyonya Jetset
  • I love My Boss
  • Rockin GIrls
  • Cerita Sahabat
  • Cerita Sahabat 2 Asmara Dini Hari
  • The Story of Dogs
  • Laki-Laki Dari Tidore

Penghargaan:

  • Penghargaan khusus dari Badan Narkota Nasional dan juara pertama Adikara Award 2005 dari IKAPI untuk novel Jangan Beri Aku Narkoba. Novel ini juga telah difilmkan dengan judul Detik Terakhir dan meraih penghargaan dalam Bali Film Festival 2005.
  • Naskah FTV yang ia buat berjudul Supermodel masuk dalam nominasi PIala Vidya.
  • Meraih She Can Award pada 2009.
BACA JUGA