Andy Wijaya berpose di markas Bumilangit di bilangan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Selasa (17/09/2019)
Andy Wijaya berpose di markas Bumilangit di bilangan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Selasa (17/09/2019) Wisnu Agung Prasetyo / Beritagar.id
FIGUR

Andy Wijaya habis Rp2-4 miliar untuk 2.000 judul komik

Cinta komik sejak kecil, Andy Wijaya tak sungkan gelontorkan uang miliaran untuk memperkaya koleksi.

"Rakus itu bagus," kata Gordon Gekko di muka para pemegang saham Teldar, sambil pamer setelan jas dan gaya rambut slickback yang populer pada 1940-an. Karakter antihero dalam film arahan Oliver Stone, Wall Street (1987), itu tak canggung terlihat kolot sekaligus modis.

Pada derajat mirip--beriring piuh antitesis--Andy Wijaya berujar bahwa "serakah itu masalah". Dia memang tidak sedang berpidato di muka siapa pun. Hanya meladeni wawancara dengan Beritagar.id di kantor Bumilangit, tempat dia bekerja sejak 2004, di bilangan Kebayoran Lama. Namun, kata-katanya seakan-akan mengimbangi bobot pernyataan dari karakter yang dimainkan aktor Michael Douglas.

Penampilannya kala itu memang tak seperlente Gekko. Dia mengenakan jin plus kaus oblong bersablon Gundala, karakter komik rekaan Harya Suryaminata alias Hasmi. Namun, rambutnya menjadi aksen penting. Ia sama licin dengan rambut Gekko. Bedanya cuma di gagrak. Andy pakai belah pinggir.

Cetusan tentang keserakahan tersebut muncul saat dia bicara mengenai aktivitasnya mengoleksi komik lawas Indonesia selama lebih dari 15 tahun terakhir. Kedengarannya main-main. Tetapi, dia rasanya sedang bicara apa adanya.

Ungkapan tersebut bisa dilihat sebagai upayanya melakukan kritik-diri. Perkomikan acap kali bikin dia kalap. Kalau dorongan memiliki sedang tinggi, dia sanggup beli komik yang sebenarnya sudah dia punya.

"Nanti kalau sudah beresin koleksi yang dobel-dobel, baru (saya) akan buka toko lagi," ujarnya, Selasa (17/09/2019), mengomentari komik hasil buruannya.

Sekitar 2004 hingga 2007, Jaya Suprana, pendiri Museum Rekor Dunia - Indonesia (MURI) beberapa kali mendatangi Andy di toko komiknya. Bos Jamu Jago itu tak jemu mengajukan sebaris pertanyaan: Andy pengoleksi komik terbanyak di Indonesia atau bukan.

Data perkomikan di negeri ini tak jelas, begitu Andy menjawab. Makanya dia tak bisa mengaku sebagai kolektor terbesar. Bisa saja ada orang lain yang mengoleksi lebih banyak darinya. Jika benar begitu, bisa-bisa bukan penghargaan MURI yang dia dapat dari Jaya Suprana, tapi trofi kelirumologi.

"(Kalau saya disebut) salah satu kolektor terbesar masih masuk akal," kata penyimpan sekitar 50 ribu eksemplar komik (2000 judul) tersebut merevisi.

Bagaimanapun, Jaya angkat topi padanya. Pada 2015, dia tetap kasih penghargaan MURI ihwal perkomikan kepada lelaki kelahiran 1971 itu. Andy mewakili penerbit Bumilangit untuk kategori "tokoh/karakter komik". Kehormatan yang sama diberikan kepada tiga orang lain. Satu di antaranya Hans Jaladara, pencipta karakter komik Panji Tengkorak.

Kenal komik sejak kecil

Sekitar 20 ribu buku koleksinya kini disimpan di sebuah ruang yang pendingin udaranya selalu menyala di kantor Bumilangit. Sisanya masih berjejal-jejalan di sejumlah rak di rumahnya.

Ilustrasi Andy Wijaya dan komik-komik lawas yang menjadi incarannya
Ilustrasi Andy Wijaya dan komik-komik lawas yang menjadi incarannya | Tito Sigilipoe /Beritagar.id

Dan semua itu bermula dari rasa dongkol.

Suatu hari pada 1979, kakaknya menyewa Gundala Sampai Ajal dari sebuah kios penyewaan komik. Buku tersebut bagian dari serial Gundala karya Hasmi yang diterbitkan pada 1976 oleh penerbit Prasidha.

Namun, dia menganggap Gundala Sampai Ajal tak memiliki daya betot. Pasalnya, Andy mengenangkan, sebuah kisah yang mematikan jagoannya merupakan keganjilan.

"Kesal saja, saya. Jagoan kok mati? Itu bikin saya belum nyantol dengan komik Indonesia," ujarnya.

Sebenanya dia mau melanjutkan bacaan. Namun, uang jajannya terbatas. Meski orang tuanya memiliki usaha kelontong di rumah dan toko sepatu di dekat kawasan Pasar Baru Bogor, Andy tak banyak beroleh sangu. Sehari dia dapat jatah Rp50. Sementara, tempat penyewaan menetapkan harga sewa per buku Rp25. Belum lagi ditambah uang jaminan.

"Karena masih kecil, saya mau nyewa juga enggak dipercaya," ujarnya, "kecuali kenal."

Dia mesti menunggu dua tahun untuk dapat giliran melahap judul lain. Pada 1981, dengan masih mengandalkan kakaknya, Andy membaca Lima Jari Setan dari serial Laba-Laba Merah goresan Kus Bram, dan Bernapas Dalam Lumpur (Gundala). Setelah itu, pikirannya mulai terusik.

"Lima Jari Setan ceritanya menarik karena menggantung. Saya harus baca yang berikutnya. Bernapas Dalam Lumpur juga. Dia bersambung dengan Gundala Cuci Nama. Mau enggak mau saya harus cari kelanjutannya," katanya.

Andy tinggal bersama orang tuanya di dekat Kali Krukut, kawasan Cideng, Jakarta Pusat. Kalau mau meminjam komik, dia mesti berjalan kaki atau naik sepeda ke daerah Krendang atau Gang Songsi yang jaraknya sekitar tiga kilometer dari rumahnya. Meski yang disewakan rata-rata cerita silat karya Kho Ping Hoo, taman-taman bacaan itu menjanjikan sumber hiburan alternatif bagi generasinya.

Bagi Andy yang selalu penasaran, uang lebih mutlak dibutuhkan untuk memungkinkan bahan bacaan lebih luas. Problemnya, menyewa saja tak mampu, apalagi membeli.

"Waktu saya (akhirnya) beli Hantu Selaksa Racun karya Pak Man (Mansyur Daman), itu saya penasaran. Saya bacanya sore-sore. Saya mesti cari lanjutannya. Mumpung komik masih terbit, saya jalan kaki ke Jembatan Lima untuk cari lanjutannya," ujarnya sekalian bilang bahwa jarak dari rumahnya ke Jembatan Lima sekitar empat kilometer. "Kalau komik bagus kan begitu. Begitu dibaca, pengin baca ulang lagi. Simpel".

Membuka penyewaan

Akhirnya, dia mulai menggali-gali pikirannya sendiri untuk menyiasati keadaan. Pada masa itu, usaha penyewaan komik sungguh lumrah. Sejak menyentuh periode emasnya pada 1960-an dan 1970-an, komik Indonesia banyak dibaca orang. Problemnya, harganya bikin keki begitu banyak orang. Satu jilid yang berisi 48 atau 64 halaman dihargai Rp150. Maka, mereka yang tidak mampu membeli bakal datang ke kios penyewaan.

Andy Wijaya beralaskan bantal-bantal bergambar karakter-karakter komik kelolaan Bumilangit, Selasa (17/09/2019). Di dadanya tampak buku Gundala Putra Petir cetakan pertama karya Harya Suryaminata alias Hasmi.
Andy Wijaya beralaskan bantal-bantal bergambar karakter-karakter komik kelolaan Bumilangit, Selasa (17/09/2019). Di dadanya tampak buku Gundala Putra Petir cetakan pertama karya Harya Suryaminata alias Hasmi. | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Andy pun melihat peluang. Pada 1981, dia nekat minta modal ke ibunya. "Mamah saya minta uang Rp5000," kata Andy mengingat pinta itu. "Saya mau buka taman bacaan". Tanpa bisa diduga, permintaan itu kontan diluluskan. "Kalau omongannya bisnis, orang tua OK," ujarnya.

Dengan uang segitu, Andy berangkat ke pertokoan Candra di kawasan Glodok, Jakarta Barat. Dia mencari komik-komik fantasi dan karya H.C. Andersen. Satu jilid ditebus dengan Rp200. Hari itu dia dapat 25 jilid.

"Teman-teman pun nyewa. Sehari saya bisa dapat Rp300 atau Rp400. Saya kumpulin, lalu saya putar. Setiap hari harus ada buku-buku baru. Di situ saya belajar. Ternyata komik itu enggak hanya di supermarket atau pertokoan. Ada di kaki lima juga," katanya.

Pengetahuan itu membawanya ke daerah lain. Andy yang bersemangat berangkat ke daerah Jembatan Lima di Tambora, Jakarta Barat. Sebuah kios di sana kasih harga bagus. Untuk satu jilid dia cuma keluar Rp150.

"Lokasinya dekat bioskop Marila, seberang bioskop Dewi. Saya dapat Godam Gundala. Saya beli (seri) A-B-C. Misalnya serial Tira, saya beli Rp450. Saya sewain A-B-C, Rp75. Jadi cepat (untung)," ujarnya.

Pada 1983, Andy menemukan tempat penjualan komik lebih murah di Pasar Baru, Jakarta Pusat. Dia menyebut kawasan itu sebagai "surga". Di sana-sini hanya komik. Hampir semua yang dia cari tersedia. Harganya bikin kepala Andy ringan. Sejilid Rp125.

Penerbit seperti Prasidha, Sastra Kumala, dan Mutiara--untuk menyebut beberapa--membuka lapak di sana. Juga penjual langsung. Menurut Andy, paruh awal 1980-an masih bisa dibilang ujung-ujung periode emas. Selain dicari orang, komik masih diadaptasi sebagai film.

Siasat Andy berhasil. Uang awal itu kini sudah naik berlipat-lipat. Target utamanya tercapai, yakni bisa membaca dan mengoleksi komik sebanyak-banyaknya.

Periode tanpa upaya

Namun, semua itu berhenti kala dia menginjak usia sekolah menengah.

"STM Strada itu sekolah sampai sore," katanya tentang periode sekolah kejuruan. "Masuk jam 7, pulang bisa jam 15. Komik-komik sempat saya jual. Ada pula yang saya titipkan ke kakak".

Kebuntuannya di ranah perkomikan berlanjut terus hingga dia tamat kuliah di Bina Nusantara (Binus) pada 1997 dan bekerja di IBM sebagai pengembang aplikasi front-end untuk perbankan. Hari-hari Andy tak lagi menyangkut dialog-dialog hidup pada panel, dan gambar-gambar karakter yang mewakili visi para komikusnya.

Pada 2001, lepas dari IBM, dia masuk Bank Universal. Lalu dari sana, dia pindah ke Maybank di Singapura. Pekerjaan lulusan Teknik Informatika itu berkaitan dengan pengembangan dan pemeliharaan aplikasi.

"Nah, 2003 akhir itu, saya mimpi tentang komik. Lagi tidur, mimpi komik. Lalu awal 2004 lihat berita di Detik ada pameran komik. Dibuka sama Arswendo Atmowiloto," ujarnya.

Pameran dimaksud digagas himpunan Pengumpul Komik Indonesia (Pengki). Berlangsung pada 21 Januari - 29 Februari 2004 di British Council, Jakarta Pusat. Ekshibisi memajang karya-karya sejumlah komikus top yang masih hidup saat itu seperti Hasmi, Wid NS, Hans Jaladara, Djair, Mansyur Daman (Man), Simon Iskandar (Sim), dan Zaldy.

Andy Wijaya berpose memegang komik Sri Asih, 'superhero' Indonesia pertama, karya R.A. Kosasih, di kantor Bumilangit, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Selasa (17/09/2019)
Andy Wijaya berpose memegang komik Sri Asih, 'superhero' Indonesia pertama, karya R.A. Kosasih, di kantor Bumilangit, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Selasa (17/09/2019) | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Sialnya, waktu kembali ke Jakarta pada 2004 untuk menonton pameran, Andy kehilangan sebagian besar koleksi komiknya. Buku-buku yang dia titipkan ke kakaknya itu banyak dibuang. Maka untuk bisa beroleh tanda tangan dari para komikus di pameran Pengki, dia tergesa-gesa berburu.

"Di (pameran), saya minta tanda tangan, minta digambarin, foto bareng. Wah banget deh lihat idola," katanya.

Kembali ke 'jalan yang benar'

Titik balik Andy terjadi pada 2004. Pertemuan dengan Iwan Gunawan, seorang kolektor komik, di pameran Pengki membuka cita-cita baru baginya. Apalagi setelah dia melihat--dan memegang--koleksi komik Iwan. Gairahnya yang lama hilang sontak menyembul. Dia akhirnya bergabung dengan Iwan, Surjorimba Suroto, dan Syamsuddin untuk bikin situs komikindonesia.com.

Di tahun yang sama, dia merapat dengan Bumilangit, penerbitan yang memegang lisensi ratusan karakter komik Indonesia. Ini firma sama yang salah satu karakter kelolaannya--Gundala--baru-baru ini meramaikan layar-layar bioskop. Ke depan, masih ada karakter-karakter Bumilangit lain yang bakal tayang di layar lebar. Mereka berhimpun dalam Jagat Sinema Bumilangit.

Pada 2004 pula Andy kembali melanjutkan perburuannya. Dia tak pilih tempat dan orang. Asal ada barang dimau, dia bakal menyerbu. Tentu saja prosesnya tak mesti selalu begitu.

"Enggak semua nilai komik lama mahal. Ada beberapa judul saja. Misalnya yang mahal itu Gundala pertama, atau Wiro (Si Anak Rimba). Itu yang mesti dicari," ujarnya. "Sekarang saya lagi ngejar Wiro (Si Anak Rimba). Ngejar yang kondisinya lebih bagus."

Wiro bergaya Tarzan, genre yang sempat cukup banyak beredar di Indonesia. Ia rekaan Kwik Ing Hoo, komikus asal Semarang, dan dirilis pada 1956. Wiro digambarkan bersenjatakan ketapel, dan suka berayun dari satu pohon ke pohon lain.

Bagi para kolektor, mencari komik langka berkondisi baik merupakan tantangan terbesar. Bukan soal mudah karena mesti punya modal jaringan luas. Sebab, kabar sampai lewat mulut. Kadang, kalau tak kesampaian mencari kolektor, Andy bakal berburu langsung ke banyak daerah: Madiun, Tegal, Yogyakarta, Semarang, Padang.

"Saya ke Padang sekitar 2004 atau 2005. Cari taman bacaan. Lalu dapat sekitar 200 kg (komik). Satu jilid ditebus Rp2000. Barang dikirim ke Jakarta pakai bus," katanya. "Kadang rezeki susah ditolak. Pernah saya dapat Gundala Sampai Ajal cuma Rp1500. Dapat tujuh jilid. Pernah juga dapat sekardus isi cetakan pertama semua. Si Buta, Panji Tengkorak, dll., Rp2000 per jilid".

Sepanjang pengalamannya itu, paling cepat cincai kalau sudah bertemu kolektor. Pendekatannya bisa personal. Beda dari pedagang. Untuk yang disebut terakhir, harga adalah panglimanya.

"Saya pernah keluar Rp20 juta untuk nebus beberapa komik. Ada (Trilogi) Sandhora karya Teguh (Santosa). Manusia Serigala dari Gunung Tambora (Ganesh T.H.). Ada Merayapi Telapak Hitam (Hasmi). Sekitar delapan judul deh," ujarnya sembari menyinggung bahwa artwork dan cetakan pertama selalu punya harga tinggi.

"Harga mahal bisa diusahkaan. Slogan kami itu, lebih baik menyesal membeli daripada menyesal tidak membeli. Soalnya sering kejadian. Begitu udah diambil orang, berapa pun kita mau tawar udah enggak bisa," katanya. Hingga kini, Andy sudah menggelontorkan sekitar dua hingga empat miliar rupiah untuk membeli ribuan judul komik.

Salah satu stasiun terpanas untuk pencarian komik adalah pelelangan daring. Bagian tawar-menawarnya, kata Andy, selalu mengasyikkan. Perkara yang bikin rungsing adalah kalau sudah ditelikung di menit-menit akhir. Makanya, perburuan di sana tak senantiasa sukses. Untuk harga, tak bisa diprediksi juga.

"Sekarang semua komik hampir saya punya. Mungkin 80 persen. Semakin diburu, semakin banyak. Enggak ada habisnya. Itu bikin asyik, juga buang duit. Kadang udah dapat, tapi mau jual susah. Kadang sesama kolektor saling nego. Kejar terus," ujarnya.

Di luar itu, nilai perjumpaan dengan para komikusnya tak pernah bisa diganti. Andy merekam dengan baik semua pertemuan dan perbincangan dengan mereka di kepalanya. Kesan mendalam terutama dia dapatkan dari Hasmi.

Menurut Andy, Hasmi sering bercerita macam-macam. Salah satunya ihwal Pengantin Buat Gundala, yang dirilis pada 1977. Waktu itu, Hasmi masih jomlo. Usianya 31. Sebenarnya dia pernah mau menikah. Tapi, karena orang tuanya tak setuju, dia membatalkan.

Karya itu pun dia bikin karena sempat dapat nasihat dari seseorang untuk bikin Gundala menikah. Harapannya, Hasmi ketularan kawin. Ternyata tidak juga.

Hasmi juga pernah mengisahkan teguran dari sesama komikus, Wid NS, sang kreator Godam dan Aquanus. Hasmi mengajukan kritik atas gambar bagus Wid yang dibayar murah. Namun, Andy bilang, jawaban Wid menyentak Hasmi.

"Orang itu melihat gambar kita," kata Andy menirukan jawaban Wid NS. "Mereka enggak tahu kita dibayar berapa. Kalau kita sudah deal, gambar mesti bagus, kerjakan dengan profesional. Orang yang melihat tidak pernah bertanya berapa kita dibayar. Kalau hasilnya jelek, nama yang bikinnya juga jelek".

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR