Anom Wijaya Darsana ketika berpose untuk Beritagar.id di Gianyar, Bali, Rabu (27/3/2019).
Anom Wijaya Darsana ketika berpose untuk Beritagar.id di Gianyar, Bali, Rabu (27/3/2019). Wayan Martino
FIGUR

Anom Darsana dan musik untuk kemanusiaan

Anom Wijaya Darsana anak anggota PKI. Namun, stigma itu tak menyurutkan keseriusannya berkarya. Kini, namanya terhitung penting dalam industri musik di Bali.

Bagi figur seperti Anom Wijaya Darsana, stigma bukan dalih buat bermuram durja. Bertahun-tahun dia telaten bekerja dalam bidang yang dikuasainya. Terutama di Bali, tempat bapaknya kena percik noda permanen sebagai anggota Partai Komunis Indonesia (PKI).

Pada Rabu (27/3/2019) siang, kami berbincang dengannya. Di kantor Mitra Bali, sebuah usaha kerajinan berbasis perdagangan berkeadilan. Pendiri lembaga tersebut Agung Alit, salah satu sosok yang membuat Anom Darsana tercebur di dunia yang sampai sekarang dia selami. Mengangkat namanya sebagai seorang tokoh penting industri musik Bali.

Anom Darsana dan Agung Alit masih famili. Orang tua keduanya beroleh stigma sama. Namun, selagi orang tua Agung Alit hilang hingga kini, ayah Anom Darsana pernah jadi tahanan politik dan terkena pandangan negatif hingga akhir hayatnya.

Pengalaman sebagai korban stigma itu membuat Anom, seperti juga Alit, bekerja tak semata demi alasan ekonomi, tapi juga kemanusiaan.

Salah satunya dengan mendukung Antrabez, band yang semua personelnya narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kerobokan, Bali. Hingga kini, Antrabez telah menerbitkan dua album, yaitu Saatnya Berubah (2016) dan No Limit (2018).

Pada album perdana, Anom menyediakan studionya untuk merekam lagu-lagu milik Antrabez. Waktu pengerjaan album kedua, dia menjadi produser.

Sukses Antrabez menginspirasi band-band lain serupa yang bermunculan di penjara lain di Bali. Para napi itu membentuk kelompok sebangsa Antrabez.

“Ini semacam memberikan kekuatan bahwa meskipun di dalam (penjara), anak-anak itu masih bisa berkarya,” kata pendiri studio Antida itu.

Wawancara dengannya sudah berlangsung lebih dari 1,5 jam ketika panggilan telepon memutus waktu kami. Anom Darsana mesti pergi. Laki-laki nan tengah berkaus merah dan berambut ekor kuda itu harus mengurus tata suara Bali Spirit Festival, festival tahunan yoga di Lodtunduh, Gianyar, Bali.

Stigma

Perjumpaan Anom dengan musik terjadi kala dia remaja. Kala itu, dia kena pengaruh dua anggota keluarganya, Agung Alit dan Degung Santikarma.

“Waktu saya kecil, mereka punya satu tape (pemutar kaset). Saya ikut mendengarkan sehingga terbiasa mendengarkan musik saat itu,” ujar Anom, yang pernah membuat band sewaktu SMA di Denpasar.

Setelah lulus SMA, Anom ambil kuliah di Lausanne, sebuah kota di Swiss yang berbahasa Prancis. Dia menyusul bapaknya, seorang mantan tahanan politik (tapol). Ayah kandungnya itu telah tinggal di sana sejak 1972.

Seperti mantan tapol lain, sang ayah sering terantuk dalam urusan administrasi kependudukan.

“Bapak saya anggota PKI. Dia pernah masuk penjara. Begitu keluar penjara, dia tidak diterima di masyarakat. Sebagai seorang anggota PKI, dia selalu dikecam. Bahkan di kelian (kepala desa) dinas pun tidak dikasih tanda tangan untuk apa pun,” katanya.

Di Swiss itu, Anom masuk Jurusan Sastra Perancis.

“Karena bapak saya tinggal di daerah berbahasa Prancis. Kalau dia tinggal di wilayah berbahasa Jerman, saya pasti kuliah Sastra Jerman,” ujarnya.

Swiss negara di Eropa dengan empat bahasa resmi, yakni Swiss, Jerman, Italia, dan Romania. Bagi Anom, bahasa menjadi pintu masuknya untuk mengenal budaya setempat.

Lalu, setelah empat tahun kuliah Sastra Prancis, Anom melanjutkan kuliah di Centre de Formation Aux métiers du Son di kota yang sama. Sekolah ini semacam kampus diploma khusus tata suara yang diakui pemerintah.

“Saya kuliah sound engineering karena memang suka musik,” katanya.

Selama 1,5 tahun, Anom mempelajari disiplin ilmu yang belum banyak dikenal di Indonesia. Ilmu tata suara, menurutnya, menggabungkan berbagai disiplin ilmu pasti, seperti matematika dan fisika.

Dalam sound engineering, unsur-unsur matematis seperti suara, getaran, ruang, dan waktu amatlah penting. Teori-teori seputar tata suara itu lantas diterapkan dalam beragam musik. Penerapannya berbeda-beda, bergantung pada acaranya. Konser musik, misalnya, berbeda dengan tata panggung teater atau siaran televisi.

Musisi Internasional

Setelah mengamankan ijazah Diploma Tata Suara, Anom bekerja di sebuah studio musik di Lausanne. Kesempatan itu membuka cakrawala kerjanya dengan ukuran internasional. Dia dikenai tuntutan lebih ketat di sisi waktu dan kualitas.

Dia tinggal di Swiss selama 13 tahun. Asam garam dari satu ajang musik ke ajang musik lain, termasuk festival terkemuka di dunia, Montreal Jazz Festival, dia nikmati. Dalam festival terakhir disebut itu, tugasnya antara lain mengawasi tata suara untuk penyanyi maupun musisi.

“Di sana banyak mendapat banyak pengalaman untuk belajar dengan musisi berkelas dunia. Harus benar-benar akurat. Harus tahu aturannya seperti apa,” katanya.

Sound engineer asal Bali, Anom Wijaya Darsana, saat berpose untuk Beritagar.id di Gianyar, Bali, Rabu (27/3/2019).
Sound engineer asal Bali, Anom Wijaya Darsana, saat berpose untuk Beritagar.id di Gianyar, Bali, Rabu (27/3/2019). | Wayan Martino

Anom juga pernah menjadi penata suara di sebuah acara tempat dua penyanyi jazz ternama, Diana Krall dan Phill Collins, tampil.

“Kebetulan rental tempat saya bekerja yang handle, jadi punya kesempatan menangani tata suara untuk mereka,” ujarnya.

Namun, sebetulnya kecakapannya tak melulu dipakai pada konser musik, tapi juga pentas teater. Sebab, menurutnya, tata suara teater secara teknis jauh lebih rumit. Pasalnya, para pemain kadang tak ingin mikrofonnya terlihat. Sudah begitu, pelbagai suara seperti burung, angin, atau ombak mesti pula muncul.

“Tidak boleh salah, terutama pas mengirim lagu atau suara. Harus tepat saat mereka beradegan,” katanya.

Tetapi, Anom memilih berfokus pada musik. Karena itu, dia juga membangun studio rekaman sendiri di rumahnya. Pun membentuk band. Itu awal dasawarsa 2000-an, masa ketika industri musik dunia sedang beralih dari analog ke digital. Hal itu mempermudah munculnya band-band indie di Swiss.

Ketika masih zaman analog, dia mengalami proses rekaman lama dan ruwet. Satu lagu bisa seharian penuh. Rekamannya pakai pita. Fade in, fade out pakai gunting. Merekam gitar saja bisa seharian. Kalau salah tidak bisa dihapus. Harus diulang dari awal.

“Kalau sekarang kan tidak ada lagi begitu,” katanya.

Kemunculan band-band indie menjadi pelengkap di tengah dominasi musisi terkemuka saat itu seperti Stone Temple Pilots, Pearl Jam, Spin Doctor, Iron Maiden, dan Bon Jovi. Hadirnya band-band internasional memantik gairah bagi menyembulnya banyak band berlabel independen.

Perbedaan Prinsip

Pada 2004, Anom kembali ke Bali bersama istrinya yang warga negara Swiss, Tiziana Darsana.

Belasan tahun tanah kelahiran membuat Anom mengalami gegar budaya. Dari budaya Swiss yang serba personal, cepat dan tepat, ke budaya Bali yang komunal, lambat, dan fleksibel. Dia juga tak punya kenalan untuk melangkah ke industri musik di Bali.

“Saya mulai dari nol,” katanya.

Toh, Anom tak benar-benar mengawali segalanya dari nol. Dia, setidaknya, sudah memiliki peralatan rekaman seperti mixer, gitar, mikrofon, dan interface. Semua dibawa dari Swiss.

Berbekal perkakas itu, dia mendirikan studio rekaman di rumah tuanya di Jalan W.R. Supratman, Denpasar, sebelum kemudian pindah ke Jalan Waribang, di dekat Padanggalak, Sanur.

“Saya ingin memfasilitasi anak-anak lokal dengan apa yang saya pelajari dan miliki selama di Swiss,” katanya.

Selain harus menghadapi budaya kerja yang berbeda, dia juga harus bekerja dengan penata suara di Bali yang pada saat itu memang belajar otodidak. Berbeda dengannya yang belajar tata suara secara formal di kampus.

Pergaulan dengan Bagus Mantra, pemilik studio rekaman Pregina, membawanya untuk lebih jauh mengenal industri rekaman musik di Bali. Di saat yang sama, dia juga makin intens mendukung band dan musisi lokal untuk rekaman di studionya.

Beberapa band di Bali pun melahirkan albumnya dengan bendera studio rekaman Antida. Di antaranya, Nosstress, Dialog Dini Hari, Ripper Clown, dan Scare of Bums.

Selain menerbitkan album untuk band-band terkemuka Bali, Antida juga pernah mengelola Serambi Antida sebagai tempat bertemu (melting point) musisi Bali. Salah satunya membuat pertunjukan jazz rutin, Jazz Rendezvous.

”Intinya saya ingin berteman dengan musisi di Bali. Kalau kita bergerak di bidang musik, harus bersosialisasi dengan musisi. Kalau tidak, kita hanya dikenal sebagai pemberi servis saja,” ujarnya.

Sayangnya, Serambi Antida tidak mampu bertahan lama. Setelah 1,5 tahun, bagian penting dari dinamika musik di Bali, terutama Denpasar, itu bubar. Penyebabnya adalah perbedaan prinsip antara dia dan dua mitra kerjanya, kata Anom Darsana.

Kini, dia mengelola Antida Sound Garden sebagai ruang bertemu musisi Bali. Meski begitu, frekuensinya tak lagi sekuat lima tahun lalu.

Kerja Kemanusiaan

Tutupnya Serambi Antida justru membawa ide baru bagi Anom dan teman-temannya. Bersama Yuri Mahatma, pemusik jazz di Bali, Anom malah memulai Ubud Village Jazz Festival sejak 2013.

“Kami benar-benar fokus di jazz. Kami coba membuat festival idealis sekali. Tidak menyajikan musik lain selain jazz, seperti folk, hiphop, atau rock,” katanya.

Tahun ini, festival tahunan yang diadakan di Ubud itu akan menghadirkan musisi jazz dari luar negeri termasuk Ilugdin Trio (Rusia) dan Michaela Rabitsch & Robert Pwalik (Australia).

Anom mengaku inisiasi itu semata untuk menghadirkan festival murni jazz. Tak ada genre musik lain. Tidak mudah, memang. Sebab, penggalangan sponsor juga jadi tak segampang jika menghadirkan festival yang lebih komersial.

Dia mencontohkan Montreal Jazz Festival yang akhirnya menjadi besar dan sangat komersial karena mengundang musisi non-jazz.

“Ketika punya sponsor besar, dibawalah musik rock, hiphop. Mereka jadi besar karena komersial,” ujarnya.

“Kami ingin tetap jazz dan intimate. Itu susah,” katanya.

Tak cukup dengan jazz, Anom dan dua temannya juga membuat festival musik tahunan lain: Festival Tepi Sawah. Melalui festival tersebut, dia ingin menghadirkan musik Indonesia kontemporer nan berpadu musik-musik tradisional.

“Musik-musiknya pun untuk membangkitkan musik Indonesia dengan aransemen berbeda,” ujar bapak dua anak itu.

Anom pun ikut menggagas Bali Prison Music Festival, kompetisi band untuk napi di Bali. Pertama diadakan tahun lalu. Dia menjadi bagian juri festival itu bersama pemusik Jerinx, videografer Erick Est, jurnalis musik Made Adnyana, dan vokalis Antrabez, Octav Sicilia.

“Yang menarik dari festival itu, dari segi kemanusiaan memberikan peluang bagi anak-anak yang merasa sudah dihukum. Seolah-olah tidak punya kebebasan lagi. Melalui festival ini mereka punya harapan dalam bermusik,” katanya.

Di luar itu, Anom juga menggelar aneka konser termasuk untuk menolak rencana reklamasi Teluk Benoa.

Dua tahun belakangan, Anom terlibat dalam promosi musisi dan festival musik Indonesia ke jaringan internasional melalui Asia Pacific Music Meeting (APAMM) di Korea Selatan. Melalui konferensi itu, Anom berbicara tentang bagaimana mengundang musisi internasional untuk datang ke Indonesia atau mengadakan festival di negeri ini.

“Cita-cita saya sekarang membuat event semacam APAMM karena itu belum ada di Indonesia. Padahal banyak sekali festival musik di Indonesia,” ujarnya.

/Wayan Martino
BIODATA Diperbarui: 05 April 2019

Anom Wijaya Darsana

Lahir:
Denpasar, 31 Mei 1972

Pendidikan:
(2000 – 2002) : Centre de Formation Aux métiers du Son Lausanne Swiss
(1994 – 1997) : Diploma Sastra Prancis Fakultas Sastra Universitas Lausanne Swiss
(1988 – 1991) : SMA di Denpasar, Bali

Pekerjaan:
Direktur Antida Music Production
Founder & Director Ubud Jazz Village Festival
Founder Festival Tepi Sawah
Tata suara festival-festival internasional di Bali, termasuk Bali Spirit Festival, Ubud Writers and Readers Festival, dan Soulshine Festival (Des 2013)
Kolaborasi dengan artis internasional seperti Michael Franti (USA), Yeshe Reiners (Australia), Afro Moses (Australia dan Gana)

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR