Novelis Aprila Wayar berpose di sekretariat Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta, Jumat (11/05/2018).
Novelis Aprila Wayar berpose di sekretariat Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta, Jumat (11/05/2018). Reza Fitriyanto / Beritagar.id
FIGUR

Aprila Russiana, Identitas ganda jurnalis dan novelis

Emil bicara tentang diskriminasi, konflik bersenjata dan perjuangannya melawan penyakit kronis.

Di ujung kuliah, Aprila justru punya waktu luang. Jadwal kelas tak lagi ada, tanggungan kuliah juga cuma tersisa untuk menyusun skripsi. Saat itu tahun 2006 ketika ia iseng menulis cerita pendek untuk menghabiskan waktu senggang. “Rencananya mau saya kirim untuk Jubi,” katanya.

Jubi adalah media online di Papua, tanah kelahirannya. Tak disangka, gagasannya mengalir deras, draf cerpen menjelma jadi naskah novel. Meski proses penulisan sempat tertunda, empat tahun kemudian novel pertamanya lahir. Mawar Hitam Tanpa Akar terbit pada 2009 dan mengantarkan namanya pada ajang sastra bergengsi Ubud Writters and Readers Festival 2012.

Nama lengkapnya Aprila Russiana Amelia Wayar tapi ia biasa disapa Emil. Delapan tahun sejak novel pertamanya lahir, ia tak berhenti menulis.

Saya bertemu dengannya untuk pertama kali pada Kamis (26/4/2018). Seorang kawan aktivis Lembaga Bantuan Hukum Yogyakarta mengenalkan pada saya dan ia bercerita Emil baru saja menerbitkan novel ketiga, Sentuh Papua.

Emil berkata, meski belum resmi diluncurkan, tawaran membedah novelnya terus berdatangan. Di Yogyakarta saja novel ini sudah didiskusikan di dua tempat berbeda. “Tawaran ketiga (diskusi novel) datang dari LBH. Dari pada didiskusikan terus tapi belum di­-launching, kenapa tidak sekalian diluncurkan dulu,” katanya.

Sentuh Papua dicetak 300 eksemplar untuk cetakan pertama pada Januari 2018. Novel setebal 374 halaman ini mengisahkan undercover reporting jurnalis Belanda bernama Rohan di tanah Papua. Ia datang dengan visa turis, menembus belantara, melintasi batas negara, menumpang perahu kecil untuk sampai Tanah Merah, dan mewawancarai tokoh Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Kisahnya mengingatkan pada dua wartawan Prancis Thomas Dandois dan Valentine Bourat yang ditangkap polisi Papua empat tahun silam. Dua jurnalis TV Arte ini dideportasi karena menggunakan visa turis untuk menjalankan kerja jurnalistik.

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mencatat dalam laporan tahun 2017, Papua adalah wilayah tergelap sepanjang sejarah kebebasan pers dan berekspresi di Indonesia. Jurnalis asing harus berhadapan dengan clearing house (terdiri dari 12 kementerian dan lembaga negara) untuk menginjakkan kaki di Papua. Janji Presiden Joko Widodo pada 9 Mei 2015 untuk membuka akses jurnalis asing ke Papua ternyata hanya berhenti di Jakarta.

Emil apik menggambarkan sulitnya memberitakan Papua. Latar belakangnya sebagai jurnalis--ia menjadi reporter Jubi sejak 2009--memberikan pengalaman langsung meliput isu sensitif di sana. Kesulitan menggali informasi tak hanya datang dari pemerintah tapi juga kaum lelaki tokoh-tokoh Papua yang konservatif.

Ah siapa kamu perempuan (tanya-tanya),” katanya mengisahkan perjuangan meliput di tengah masyarakat Papua yang patriarkis.

Sentuh Papua dibangun dari kisah nyata. Delapan puluh lima persen isinya adalah fakta, termasuk tokoh dan peristiwanya. Hanya beberapa nama disamarkan dengan alasan keamanan dan etis. Karakter utama Rohan pun terasa dekat dikisahkan dalam novel. Emil menarasikan sosok dan perjalanan jurnalis Belanda keturunan India itu dengan detail.

Fotografer jurnalistik asal Hungaria Robert Capa (1913-1954) pernah berujar, if your pictures aren’t good enough, you aren’t close enough. Ternyata, Emil nyaris selalu menemani Rohan sepanjang melakukan liputan di Papua. Bahkan belakangan keduanya berpacaran.

Di luar urusan asmara, Sentuh Papua adalah novel yang kaya data. Banyak kisah tak terceritakan tentang Papua yang tertulis di dalamnya. Tentang Tanah Merah misalnya, atau tentang tokoh-tokoh OPM dan bagaimana hubungan di antara mereka.

Tanah Merah adalah julukan untuk pusat OPM di Papua. Secara administratif, wilayah ini memiliki sebutan tersendiri dalam geografi Indonesia. Tak sembarang orang bisa menjamahnya, bahkan jurnalis sekalipun.

“Selama ini orang mengenal ada dua markas OPM; Tanah Merah dan Marvik (Markas Viktoria),” kata Emil. Dan ia tersenyum ketika saya menanyakan apakah ia pernah mengunjungi Tanah Merah. “Baca saja novelnya,” jawabnya.

Malam hari itu, Kamis (26/4/2018), Sentuh Papua akhirnya diluncurkan di Sekretariat Aliansi Jurnalis Independen Yogyakarta. Sebuah diskusi kecil yang dihadiri belasan orang digelar untuk merayakan kelahirannya.

Dalam Novel, Emil gambarkan dirinya sebagai perempuan cerewet. Saya pun mendapati sosoknya persis dengan yang di novel: doyan ngomong.

Dua jam diskusi berlangsung, stamina Emil untuk bicara seolah tak ada habisnya. Ia bicara tentang Papua, keindahan alamnya, diskriminasi, konflik bersenjata dan tentu saja proses penulisan novel. “Saya hanya ingin orang Papua mengenal sejarah bangsanya,” katanya.

Novelis Aprila Wayar berpose di sekretariat Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta, Jumat (11/05/2018).
Novelis Aprila Wayar berpose di sekretariat Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta, Jumat (11/05/2018). | Reza Fitriyanto /Beritagar.id

Antara jurnalis dan novelis
Jurnalisme itu terbatas, tapi sastra lebih luwes dan luas. Seperti judul buku karya jurnalis cum sastrawan Seno Gumira Ajidarma, ketika jurnalisme dibungkam sastra harus bicara. Itulah yang dilakukan Emil.

Lahir di Jayapura, 15 April 1980, Emil besar di Jawa. Orangtuanya pindah ke Tasikmalaya, Jawa Barat ketika usianya masih kanak-kanak. Lepas sekolah menengah atas, ia masuk Jurusan Ekonomi Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta.

Lulus 2006, seorang kawan yang baru saja membuka hotel di Bitung mengajaknya bergabung. Meski berkesempatan menerapkan ilmu yang didapatnya semasa kuliah, manajemen, Emil hanya bertahan enam bulan dalam kerja ini. Ia memilih kembali ke Jayapura, bergabung dengan Forum Kerjasama Lembaga Swadaya Masyarakat (Foker-LSM) Papua sebagai peneliti.

Pengalaman menjadi peneliti di lembaga sosial terbesar Papua ini membuat Emil akrab dengan dunia riset. Wawancara, mengkaji dokumen dan menyusun laporan, jadi makanan sehari-hari. Di saat yang sama, ia juga menjadi kontributor Jubi.

Jubi mulanya buletin dua mingguan. Media ini dirintis sejak 1996 oleh aktivis Foker-LSM Papua sebagai corong advokasi isu lingkungan hingga sosial. Kini, Jubi berkembang jadi media online profesional dan lepas dari induknya, Foker-LSM.

Setelah 3 tahun menjadi peneliti di Foker-LSM, Emil resmi menekuni dunia jurnalistik. “Saya masuk Jubi tahun 2009,” katanya.

Menjadi jurnalis, kata dia, memberikan kesempatan melihat Papua sedekat mungkin. Pengalaman liputan membuat matanya terbuka terhadap masalah yang dihadapi masyarakat. Hal itu mendorongnya untuk menelusuri lebih dalam. Sayangnya, tak semua yang didapat bisa dipublikasikan dalam laporan jurnalistik.

Keterbatasan sumber, baik orang maupun dokumen, juga menjadi alasan. Misalnya, ia memberi contoh, sepanjang melakukan liputan konflik Papua, ia tak asing dengan nama Seth Jafet Rumkorem, Richard Yoweni, dan Goliath Tabuni. Tapi pikiran, ucapan, dan tindakan mereka tak banyak dimuat dalam literatur Indonesia. Contoh lain, peristiwa kematian seniman Papua Arnold Ap tahun 1984 yang tetap menjadi misteri hingga saat ini.

“Gagasan itu harus diikat. Kalau tidak, Anda akan keburu lupa”

“Gagasan itu harus diikat. Kalau tidak Anda akan keburu lupa”

Ironisnya, ketika tak banyak sumber dalam negeri yang mampu menjelaskan tokoh-tokoh itu, ia justru menemukan buku-buku berbahasa asing yang membahasnya. Ia pun miris. Catatan sejarah Papua dianggapnya musnah. Padahal sejarah adalah pijakan. “Itulah yang mendorong saya menulis (novel),” katanya.

Emil juga merasa budaya Papua terus tergerus. Banyak anak-anak yang tak mampu bicara dalam bahasa ibunya. Lazimnya mereka bicara bahasa Melayu dialek Papua.

Baginya itu adalah penanda krisis identitas bagi orang-orang Papua. “Saya tak bisa bahasa ibu,” kata dia menjelaskan identitasnya.

Ia mengatakan betapa kompleksnya persoalan tentang Papua kini. Masalah itu bahkan berlangsung di luar tanah Papua. Masih lekat dalam ingatannya ketika ia baru tinggal di Yogyakarta. Saat itu ia duduk di semester satu. Di sela proses belajar-mengajar di kelas, seorang dosen melontarkan ucapan diskriminatif dan rasis. Mendapat perlakuan tak menyenangkan, Emil pun memilih tak ikut mata kuliah si dosen sebagai bentuk protes.

Bagi sebagian orang yang memandang Papua dari “kacamata Jakarta”, ia mengakui novelnya bisa jadi dianggap berbahaya. Alih-alih malah dicap subversif. Tapi Emil tak heran. Jangankan mereka, ia pun shock menemukan fakta baru ketika melakukan riset untuk novelnya.

“Di sinilah persoalannya, apa yang ditulis orang Papua jangan dianggap sebagai kepentingan segelintir orang,” katanya.

Menurut dia, masalah yang ada bukan untuk ditutupi. Dan, novel pun semestinya jadi media untuk lebih memahami masalah. “Jakarta memang mendengar tapi tidak mendengarkan.”

Novelis Aprila Wayar berpose di sekretariat Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta, Jumat (11/05/2018).
Novelis Aprila Wayar berpose di sekretariat Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta, Jumat (11/05/2018). | Reza Fitriyanto /Beritagar.id

Serangan jantung
Suatu hari di tahun 2015. Hati Emil membuncah berbunga-bunga. Namanya tercatat dalam daftar perempuan Indonesia yang diundang ke Amsterdam Book Festival, satu deret dengan penulis novel Ayu Utami.

“Dulu saya baca novelnya (Ayu Utami) tapi sekarang bisa satu daftar,” kata perempuan pengagum karya Pramoedya Ananta Toer itu mengisahkan.

Sejak kecil, bungsu dari enam bersaudara itu memang gemar baca. Buku apapun ia lahap. Kebiasaan inilah yang membawanya menekuni dunia menulis. Membaca dan menulis, bagi dia, adalah dua aktivitas yang tak terpisahkan.

Menurut dia, cara terbaik menulis adalah mulai menulis. Apapun gagasan di kepala, tuliskan segera. “Jangan takut salah, saya belajar menulis otodidak,” katanya.

Ia bercerita kerap bertemu dengan kaum muda yang tertarik mengikuti jejaknya sebagai penulis. Mereka menyatakan rencananya menulis, tapi tak pernah mulai menulis sepatah kata pun, bahkan hingga setahun setelah bertemu.

Musuh terbesar penulis datang dari diri sendiri. Maka melawan malas menjadi keharusan bagi tiap penulis.

Emil ingat, pada tiga semester terakhir kuliahnya, rencana penyusunan skripsi molor, cuma sebatas wacana. “Tiga semester itu saya hanya registrasi saja tapi tak pernah mulai menulis skripsi,” katanya tertawa mengenang proses penyusunan skripsi untuk meraih gelar sarjana ekonomi di kampusnya.

Banyak waktu terbuang percuma, ia pun mulai mengisinya dengan menulis cerita pendek selain skripsi. Hasilnya, cerpennya berubah menjadi novel Mawar Hitam Tanpa Akar (terbit 2009), skripsinya pun kelar. Empat tahun setelah novel pertamanya terbit, novel kedua Dua Perempuan lahir pada 2013.

Sejak itu, ia tak berhenti menulis. Bahkan ketika penyakit jantung menderanya.

Cerita bermula ketika ia mendapat serangan jantung pada 2015. Untuk memulihkan kondisi, ia harus jalani perawatan selama delapan bulan di Den Haag, Belanda. Selama terbaring di rumah sakit, usai operasi jantung, muncul keinginan untuk menulis novel ketiga.

Dalam kondisi kesehatan yang belum pulih itu, beragam gagasan seliweran di kepalanya. Sementara salah satu tangannya belum bisa digerakkan karena dampak operasi. Ia pun meminta selembar kertas dan pulpen untuk mencatat kepada pihak rumah sakit. “Gagasan itu harus diikat. Kalau tidak, Anda akan keburu lupa,” katanya.

Dari kertas, gagasan beralih ke laptop pinjaman. Mengalir bersama pengalaman dan hasil riset hingga jadi tulisan sepanjang 335 halaman. Naskah itulah yang kini menjadi novel ketiganya, Sentuh Papua : 15000 miles, 153 hari, satu cinta.

Selama menulis Sentuh Papua, Emil mengatakan mendapatkan banyak data yang bisa ditulis. Ia sadar, data itu terlampau panjang untuk sebuah novel. Hingga gagasan baru muncul, ia menjadikan Sentuh Papua sebagai edisi pertama untuk tetralogi novelnya tentang Papua. “Ini seperti menyusun puzzle, saya hanya menempatkan sesuai pada tempatnya,” katanya.

Sementara novel ketiganya, edisi pertama dari tetraloginya, diluncurkan 27 April 2018 lalu, ia sudah menulis novel keempat. “Sudah bab tiga semoga akhir tahun ini bisa terbit.”

Aprila Russiana Amelia Wayar
Aprila Russiana Amelia Wayar Beritagar.id /Reza Fitriyanto
BIODATA Diperbarui: 21 Juni 2018

Aprila Russiana Amelia Wayar

Lahir di Jayapura, 15 April 1980
Kuliah : Jurusan Ekonomi Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta (lulus 2006)

Pekerjaan :
- Peneliti di Forum Kerjasama Lembaga Swadaya Masyarakat (Foker-LSM) Papua (hingga 2009)
- Jurnalis Jubi (2009-sekarang)
- Novelis

Karya novel :
- Mawar Hitam Tanpa Akar (2009)
- Dua Perempuan lahir pada (2013)
- Sentuh Papua : 15000 miles, 153 hari, satu cinta (2018)

Forum sastra yang pernah diikuti :
- Ubud Writters and Readers Festival 2012
- Asian Literary (2014)
- Ubud Writters and Readers Festival 2015

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR