Arief Hamdani berpose untuk Beritagar.id di rumahnya di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (27/5/2019).
Arief Hamdani berpose untuk Beritagar.id di rumahnya di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (27/5/2019). Bismo Agung / Beritagar.id
RAMADAN 2019

Arief Hamdani menari demi Cinta Sang Kekasih

Sebelum meniti jalan tasawuf dan menari, Arief Hamdani mengaku bengal dan suka berdisko. Ramadan menjadi bulan ketika hidupnya berbalik.

Dia ingin dimabuk Cinta, karena itu dia menari. Tiap gerakannya adalah upaya menuntut kecermatan. Sebab, Sang Kekasih terlindung selubung yang mesti dikelupas dengan sabar. Selapis demi selapis. Seberapa tebal tabir itu, hanya dia yang tahu.

"Dulu pertama kali menari, orang-orang pada tabrakan. Namanya baru belajar, ego masih tinggi," ujar Arief Hamdani, sang penari dimaksud, kepada Beritagar.id, Senin (27/5/2019).

Aktivitas yang dia tempuh untuk mengasah rohani setajam mungkin memang bertabur istilah-istilah yang mewakili relasi Tuhan dan manusia: Cinta, Sang Kekasih, ego, untuk menyebut beberapa.

Semakin kuat si manusia sebagai hamba mengenali Tuhannya, kian besar kesadarannya untuk menganggap diri bukan siapa-siapa. Adab kehambaan melebur egonya. Dirinya tiada. Luluh.

Dalam kata-kata Jalaluddin Muhammad Rumi, yang lebih dikenal sebagai Maulana Jalaluddin Rumi atau Jalaluddin Rumi atau Rumi--pelopor tari sema--tiap orang dan tiap unsur dalam semesta sejatinya merupakan bayang-bayang Sang Kekasih.

"Saya sudah lima kali ke Konya, 1,5 jam naik pesawat dari Istanbul. Makamnya Maulana Jalaluddin Rumi. Sempat menari di sana juga. Tiap 17 Desember, banyak orang datang ke sana" untuk memperingati hari kematian Rumi, kata Arief tentang kota di Turki tempat mausoleum sang penyair sufi Persia itu berada.

Sema tercipta ketika Rumi, pendiri Tarekat Maulawiyah itu, tengah berjalan-jalan di pasar sebuah kota dan mendengar debum ritmis palu pandai emas. Beriring ketukan berirama itu, telinganya konon menangkap zikir berupa tahlil La Ilaha Illallah (Tiada Tuhan Selain Allah) yang dilantunkan para pemagang di bengkel tempa dimaksud.

Kenyataan itu menggirangkannya. Secara spontan, sang sufi lantas merentangkan kedua tangan dan memulai gerakan berputar. Dia mabuk. Dia memasuki teritori Cinta.

Namun, jauh sebelum itu, sebelum sanggup tenggelam dalam sema, perjumpaan dengan seorang darwis kelana bernama Syamsuddin Tabriz mengubah jalan hidupnya. Lewat bimbingan Syams, Rumi muda menyingkap pelbagai tirai kerohanian. Syams, yang berarti matahari, seakan memanggang Rumi yang masih mentah. Dari proses pembakaran itu kelak terlahir gairah cinta mistik begitu besar pada dirinya.

Arief Hamdani pernah mencicipi pengalaman serupa. Pada 1999, dia merasakan kegelisahan besar. Dalam pikirnya kala itu, kehidupannya berlangsung searah saja, cuma untuk mencari uang. Kariernya sebagai arsitek berjalan baik. Memulai pekerjaan di Arkonin, lalu pindah ke Hadiprana, dia lantas lama mengabdi di PT Jababeka. Hasil pekerjaannya terang. Dia punya mobil dan rumah beberapa.

"Saya mulai bertanya-tanya, sebenarnya misi untuk hidup saya ini apa. Saya merasakan kesedihan spiritual," ujar alumnus jurusan Arsitektur Universitas Sebelas Maret Solo itu.

Seiring rasa cemas, Arief mulai meniti jalan batin. Sejak tahun itu hingga 2002, dia senantiasa ambil cuti beberapa hari Ramadan. Tujuannya hanyalah agar bisa beriktikaf di sebuah masjid di bilangan Bangka, Jakarta Selatan. Pria yang pernah aktif sebagai gitaris band saat SMA dan kuliah itu--juga sempat menjadi anggota Jamaah Tabligh--tekun bertafakur. Bermeditasi. Dia tak berputus asa dari belas kasih Tuhan.

Momen epifani akhirnya terjadi pada 2002. Satu kali dalam laku iktikafnya, dia didatangi seorang lelaki yang membawa sebuah buku berisi petuah-petuah Mehmet Nazim Adil, atau lebih kesohor sebagai Syekh Nazim Haqqani, seorang sufi dan pemimpin spiritual Tarekat Naqsabandiyah Haqqani.

Dia membaca buku itu. Lantas, beberapa hari setelahnya, Arief bermimpi bertemu dengan Syekh Nazim. Dia beroleh empat wejangan, yang dua di antaranya merupakan instruksi untuk mengumandangkan azan dan mengurangi konsumsi daging.

"Dia terasa nyata di depan saya. Dada saya dipegangnya hingga bergetar. Tugas azan itu kemudian ternyata perintah untuk berdakwah," kata Arief mengenangkan.

Pada tahun sama, Syekh Muhammad Hisham Kabbani, seorang murid Syekh Nazim, berkunjung ke Indonesia. Arief pun berhasil menemuinya. Dari Syekh Hisham dia beroleh amar untuk menari. "You can whirl," kata Arief menirukan Hisham Kabbani, "now you whirl".

Tanpa pernah mencecap asam garam tari sema, Arief tiba-tiba sanggup menari sema. Satu jam tiga puluh menit tanpa henti. Dia merasa saat itu dirinya diantar ke alam lain. Di alam itu, cintanya seakan meluap-luap.

Arief Hamdani berpose untuk Beritagar.id di rumahnya di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (27/5/2019).
Arief Hamdani berpose untuk Beritagar.id di rumahnya di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (27/5/2019). | Bismo Agung /Beritagar.id

Menari, dan menari lagi

Sejak mendapat mimpi dan perintah verbal untuk menari datang, Arief Hamdani membalik ritme hidupnya. Dia tak lagi memikirkan rohani secara sambil lalu. Pekerjaan kantoran ditinggalkan, tapi tidak profesinya. Sebab, jika tidak bekerja, rasa malas bisa terbit. Tetap mengerjakan proyek sebagai arsitek adalah bagian laku syukur.

Dia aktif dalam Tarekat Naqsabandiyah Haqqani. Banyak materi yang berasal dari gurunya dia terjemahkan. Hasil alih bahasa itu lalu disebarkan. Dia juga membuka majelis zikir yang salah satu aktivitasnya adalah menari.

"Pertama kali dakwah, saya mengajak anak-anak jalanan di Bulungan. Mereka diajak zikir malas. Diajak menari, senang. (Tarian) memang untuk anak muda. Menari itu untuk membuat sebanyak mungkin anak muda tertarik," ujarnya.

Tak ada persyaratan teknis bagi anggotanya untuk bisa ikut menari. Arief juga tak pernah mengajarkan para peserta untuk mengambil posisi tubuh tertentu. Siapa yang akan menari pun tak pernah melalui proses seleksi. Ketika berzikir penuh semangat menggungkan nama Tuhan, mereka tiba-tiba ingin menari.

Namun, seperti sempat diceritakan di muka, besarnya ego akan berefek pada cara tarian dilakoni. Saat tengah belajar menari, para pemula bakal unjuk kekuatan. Karenanya adu cepat dalam berputar lazim terjadi. Jika ada persinggungan, ada yang tak segan menjepit tangan peserta lain, atau bahkan mencampakkan kawan menari.

"Paling kencang merasa paling hebat. Padahal, (penari) yang paling lembut yang paling hebat. Yang paling khusyuk yang paling hebat karena yang disebut nama Tuhan," kata Arief, pendiri zawiyah bernama Pondok Rumi.

Rata-rata pengikut Arief anak-anak muda. "Orang susah," katanya, "miskin". Ada pula yang telah ikut menari dengannya sejak masih usia 8 atau 9 tahun, "dan sekarang sudah berusia 19 tahun". Anak berusia di bawah 14 tahun, menurutnya, akan lebih mudah diarahkan karena adabnya bagus. Terutama untuk anak jalanan.

Di Turki dulu, ketika sema belum dianggap sebagai ancaman bagi kekuasaan, terdapat banyak sekolah untuk para penari yang disebut sebagai tekke. Orang yang ingin menjadi darwis sejak muda diharuskan untuk belajar di sekolah-sekolah itu.

Mereka bakal dipandu oleh anggota senior di sekolah itu. Biasanya sang syekh akan terlebih dulu membaiat mereka. Meski begitu, calon murid tetap diberikan pilihan. Mengikuti retret selama 1001 hari dan bergabung dengan Tarekat Maulawiyah, atau semata pulang-pergi tiap hari untuk berlatih menjadi darwis. Jika yang dipilih adalah mengikuti retret, maka ia mesti lulus sejumlah tes.

"Di sini anak kecil senang. Dia panggil teman-temannya (untuk bergabung). Pulangnya bisa dapat makan gratis. Kalau pusing mereka penginnya ke sini. Biasanya kalau kita pusing karena enggak puas dengan kehidupan ini. Atau merasa enggak bahagia. Padahal, bahagia datang cuma kalau kita dekat sama Allah," ujarnya.

Begitulah. Arief menari di mana-mana. Di acara pernikahan. Di pusat perbelanjaan. Di muka pejabat. Di hadapan rakyat jelata. Di masjid. Di jalanan. Di dalam negeri. Di mancanegara.

Ketika menari, pelakunya harus dalam keadaan sudah berwudu atau menyucikan diri. Setelahnya, ia bakal mendirikan salat syukur. Fase berikut adalah upaya menjalin koneksi dengan para guru melalui meditasi. Kemudian, para penari tinggal menegakkan adab-adab menari sema dan berzikir.

"Saat kita whirling itu, yang lain (dalam majelis) bisa menyebut Hayy (dari Al Hayyu, salah satu sifat Allah yang berarti Mahahidup). Kelihatannya seperti main-main. Tapi saya membatin, 'Ya Allah, mereka telah menuruti perintah untuk menyebut nama-Mu. Perbaikilah rohani mereka, spiritual mereka'," katanya.

Arief Hamdani saat menunjukkan pose yang lumrah ditampilkan ketika menari sema kepada Beritagar.id di rumahnya di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (27/5/2019).
Arief Hamdani saat menunjukkan pose yang lumrah ditampilkan ketika menari sema kepada Beritagar.id di rumahnya di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (27/5/2019). | Bismo Agung /Beritagar.id

Perjalanan menggerus ego

Menurut Arief, bagian tersulit untuk melakoni sema dan menajamkan rohani adalah menekan ego sekuat-kuatnya. Sebab, ia senantiasa mengiringi diri. Dan runyamnya, perjuangan untuk melakukan penaklukkan itu berlangsung hingga kematian menjelang.

"Jalan menaklukkan ego enggak bisa lain harus punya mursyid. Banyak ustaz masih terjerumus ke dalam ego karena enggak punya mursyid. Bahkan, sudah punya mursyid dan merasa ego sudah selesai pun kadang ego itu masih muncul. Karena tergantung niatnya, ikut untuk dunia, atau untuk Allah," ujarnya.

Untuk menekankan maksudnya, dia mengutip sebuah cerita yang disampaikan gurunya. Kisah yang mengetengahkan pengalaman seorang laki-laki saleh dan berilmu.

Sang cendekiawan muslim dimaksud dikenal pandai meredam amarah. Sudah 40 tahun dia masyhur sebagai sosok yang susah dibikin gusar. Namun, satu waktu, ada orang yang mengaku sanggup memancing kemarahannya dalam waktu singkat.

Ketika menemui orang yang tak pernah marah itu, si penantang hanya menanyakan nama gurunya. Ulama itu memberikan. Nama gurunya Imam Hanafi. Mendengar itu, si penantang langsung bilang Imam Hanafi masuk neraka. Kontan, emosi ulama itu meledak. Penantang itu pun dia kejar sebisa-bisanya.

"Cuma dalam beberapa menit itu. Artinya, tidak gampang. Ujian tiap orang beda-beda," katanya.

Arief merasa tantangan paling berat baginya untuk menaklukkan ego adalah jika memiliki banyak murid. Sebab, biasanya, jumlah orang yang datang ke suatu majelis dijadikan patokan akan tingkat kefasihan sang pengampu. Ujungnya, perasaan hebat akan terbit. Apalagi kalau dibarengi banyak pujian.

Jika tak kuat menanggungnya, ego bakal menggemuk. Konsekuensinya, perasaan bahwa satu kelompok lebih unggul dari kelompok lain bakal mengemuka. Bagi mereka, orang-orang di luar kelompok patut dipertanyakan keislaman dan keimanannya.

Makanya dia mewajarkan kalau ada komentar bahwa sema dan laku bertarekat sebagai bidah, yakni pembaruan yang dianggap tak pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad dan tak termaktub dalam Alquran. Namun, dia tak ambil pusing. Untuk orang-orang semacam itu, dia hanya memberi satu reaksi: ucapkan salam kepada mereka, dan setelah itu berpaling pergi.

"Dulu banyak orang Indonesia diajarin Islam melalui wayang. Tiba-tiba banyak sekali orang Buddha dan Hindu masuk Islam. Tapi kalau terjadi di zaman ini, pasti sudah disebut bidah. Sesat. Masuk neraka," ujarnya.

Arief Hamdani saat berpose untuk Beritagar.id di rumahnya di kawasan Kebayorang Baru, Jakarta Selatan, Senin (27/5/2019)
Arief Hamdani saat berpose untuk Beritagar.id di rumahnya di kawasan Kebayorang Baru, Jakarta Selatan, Senin (27/5/2019) | Bismo Agung /Beritagar.id

Arief pun memberikan lagi sebuah kisah dari gurunya tentang perilaku orang-orang yang tak berhasil mengekang ego dan justru membuat citra Islam tercoreng.

Dia bilang, pada satu masa, ada seorang kaya nonmuslim yang mendengar azan dilantunkan dengan baik. Orang itu lalu meminta sang muazin diundang ke rumahnya. Setelah tiba di rumahnya, muazin itu diajak berbincang dan diberikan sekantong emas. Kemudian, orang kaya itu memutuskan untuk memeluk Islam.

"Dia masuk Islam karena mendengar (suara muazin) yang indah. Dia jadi bisa menangis. Bisa mengingat Tuhan," kata Arief.

Namun, tak lama berselang, muazin itu meninggal. Ia digantikan oleh orang bersuara buruk. Orang kaya itu akhirnya meminta muazin baru tersebut untuk datang ke rumahnya. Dia kali ini menyerahkan dua kantong emas.

Tetapi, keputusannya itu dianggap ganjil oleh pelayannya di rumah. Seharusnya, muazin bersuara baik yang telah wafat itu mendapat dua kantong emas alih-alih satu.

Jawab si orang kaya, "yang pertama membawa saya kepada Islam, sedangkan yang kedua membawa saya kembali ke agama lama saya. Makanya dia saya kasih dua kantong emas." Menurut Arief, kondisi semacam itu berulang hari ini. "Banyak orang Islam berbicara buruk, dan itu menyebabkan orang-orang tadinya mengenal Islam dengan baik akhirnya keluar. Banyak orang takut masuk Islam," katanya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR