Atlet Panjat Tebing Indonesia, Aries Susanti Rahayu, berpose di depan kamera untuk Beritagar.id di sela sesi Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) Asian Games 2018 di Kompleks Stadion Mandala Krida, Yogyakarta, Rabu (23/05/2018).
Atlet Panjat Tebing Indonesia, Aries Susanti Rahayu, berpose di depan kamera untuk Beritagar.id di sela sesi Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) Asian Games 2018 di Kompleks Stadion Mandala Krida, Yogyakarta, Rabu (23/05/2018). Reza Fitriyanto / Beritagar.id
FIGUR

Aries, sang ''Spiderwoman'' dari Grobogan

Di ajang Asian Games nanti ia dan timnya bertekad untuk mengharumkan nama Indonesia di kancah Internasional.

Gadis berusia 23 tahun itu terkesan pemalu dan irit bicara. Nada bicaranya pelan Duduk santai di sofa pada lobby lantai dua sebuah hotel di Yogyakarta, pembawaannya pun kalem. “Sejak lebaran tahun lalu (tinggal di sini),” kata Aries Susanti Rahayu, Rabu (23/5/2018).

Tapi di balik kekalemannya itu sebenarnya ia seorang perempuan yang amat lincah dan gesit. Apalagi kalau sudah dihadapkan pada dinding panjat tebing. Semua kesan pemalu dan kalem itu sirna.

Setahun lalu, Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) Tim Panjat Tebing Indonesia memanggilnya. Bersama sejumlah atlet panjat tebing lain, Aries menjalani hari-hari panjang latihan. Tiap hari, tak kurang enam hingga delapan jam, mereka menjalani latihan Pelatnas di Kompleks Stadion Mandala Krida Yogyakarta. Pagi, sore, dan kadang malam.

Kerja keras itu membuahkan hasil. Pertengahan Mei lalu, International Federation of Sport Climbing (IFSC) menempatkan Indonesia pada peringkat pertama dalam kejuaraan olahraga panjat tebing dunia. Mengantongi poin 1.023, Indonesia menggusur dominasi Rusia (poin 980) yang selama bertahun-tahun tak terkalahkan.

Kesuksesan itu tak lepas dari keberhasilan sejumlah atlet Indonesia di kejuaraan dunia; di Moskow, Rusia (21-22 April), Chongqqing, Cina (5-6 Mei), dan Tai’an, Cina (12-13 Mei). Salah satunya, Aries.

Di balik pembawaan, penampilan Aries di kategori speed climbing performa di Chongqing tak bisa dianggap kalem. Ia berhasil memuncaki dinding setinggi 15 meter dalam waktu 7,51 detik dan menyisihkan lawannya, Elena Timoveeva asal Rusia.

Dengan catatan waktu panjat itu, artinya Aries hanya butuh waktu satu detik untuk naik setinggi dua meter. Media massa dan warganet Tanah Air pun riuh menjuluki gadis asal Grobogan, Jawa Tengah itu dengan spiderwoman.

Toh, ia tak jumawa dengan gelar itu. Dari 16 atlet speed climbing Indonesia, delapan di antaranya perempuan. Kecepatan mereka menjangkau puncak dinding pun rata-rata sama. “Di sini (Pelatnas) banyak spiderwoman, bukan hanya saya,” katanya.

Maka kemenangannya di Chongqing, bagi dia, bukanlah kemenangan pribadi. Itu keberhasilan tim Indonesia seluruhnya. Kalau pun dari kejuaraan itu namanya melambung, katanya, “mungkin ini rejeki yang diberi Allah pada saya.”

Aries berhasil menjadi juara pertama pada International Federation of Sport Climbing (IFSC) pertengahan Mei lalu. Pada kejuaraan yang diadakan di Cina itu menempatkan Indonesia pada peringkat pertama dalam kejuaraan olahraga panjat tebing dunia.
Aries berhasil menjadi juara pertama pada International Federation of Sport Climbing (IFSC) pertengahan Mei lalu. Pada kejuaraan yang diadakan di Cina itu menempatkan Indonesia pada peringkat pertama dalam kejuaraan olahraga panjat tebing dunia. | Facebook Aries /Facebook Aries

Pemanjat pohon mahoni

Suatu hari di tahun 2007, Ari Mulyanto punya “pekerjaan rumah” yang harus diselesaikan segera. Anggota Pengurus Daerah Federasi Panjat Tebing Indonesia Grobogan itu harus mendapat atlet baru. Ia pun mendatangi sepupunya, Yuli, seorang guru olahraga di SMP Negeri I Grobogan.

“Dia datang ke Pak Yuli dan bilang ‘Mbah saya butuh atlet buat ikut kejuaraan daerah’,” kata Aries, menceritakan obrolan mereka.

Di SMP itu, Aries terbilang murid yang berprestasi di bidang olahraga. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, perempuan kelahiran 21 Maret 1995 itu sudah menekuni cabang olahraga atletik. Ia pernah mengikuti lomba lari di tingkat kabupaten dan provinsi.

Melihat potensi Aries di kejuaraan lari, Yuli pun menawarinya cabang olahraga baru, panjat tebing. Pucuk dicinta ulam tiba, Aries yang sebelumnya terpesona melihat tayangan panjat tebing di sebuah stasiun televisi, langsung mengiyakan tawaran guru olahraganya itu. “Seru (olahraga) ini,” katanya.

Pulang sekolah, ia dan beberapa teman sekolahnya datang ke rumah Ari. Di sana, sebuah dinding panjat setinggi 12 meter yang dibuat Ari secara mandiri menjadi wahana pertama kali untuknya mengenal olahraga panjat tebing. “Dia (Ari) guru pertama panjat tebing saya,” katanya.

Meski baru mengenal jenis olahraga ini saat usia SMP, Aries hobi memanjat sejak kecil. Saat usia SD, ia mengatakan, pohon mangga, jambu, dan alpukat di pekarangan rumahnya pernah dipanjatnya. Bahkan ujung pohon kelapa dengan batang tinggi menjulang pun pernah digapainya.

Yang menggelikan, sambung dia, di sekitar rumahnya tumbuh pohon mahoni berbaris-baris. Pohon mahoni muda adalah pohon berpokok lurus. Saat itu, Aries sering memanjat pohon itu setinggi mungkin hingga batangnya melengkung. Sebelum pucuknya menyentuh tanah, hap, ia melompat ke pohon lain. Lalu ia naik setinggi mungkin, melengkung lagi, dan kembali melompat dari satu pohon ke pohon lain. Begitu seterusnya. “Kayak monyet begitu,” katanya.

Tamat SMP, Aries melanjutkan SMA di Semarang. Di sana, ia bergabung dalam latihan yang diselenggarakan Pengurus Daerah Federasi Panjat Tebing Indonesia Semarang.

Bagi sebagian orang, dunia panjat tebing adalah olahraga ekstrim. Apalagi itu dilakukan seorang perempuan. Berada di atas ketinggian, memang menimbulkan rasa takut. Tapi bagi Aries, tak ada alasan untuk takut melakoni olahraga panjat tebing jika orang sudah mengenal baik aturan dan sistem keamanannya. “Kalau sudah kenal tak akan seekstrim yang dibayangkan orang,” katanya.

Aries Susanti: Spiderwoman dari Grobogan /Beritagar ID

Alih-alih takut, bisa-bisa kita dibuat keranjingan dengan olahraga ini. Kedua orangtua Aries, Maryati (48) dan S.Sanjaya (55) sebenarnya menginginkan anak bungsunya itu jadi polisi.

Dasar sudah gandrung, Aries justru menjatuhkan kariernya di dunia olahraga panjat tebing. Dalam bayangannya, jadi polisi juga akan membuatnya tak banyak di rumah karena harus sering berpindah-pindah tugas. “Saya kepingin nantinya kalau sudah kerja bisa lebih banyak kumpul keluarga,” ujarnya.

Tahun 2013, ketika masuk Jurusan Manajemen Universitas Muhammadiyah Semarang, Aries tak berhenti berlatih panjat tebing. Saat kuliahnya mencapai semester III namanya masuk dalam tim Pelatnas panjat tebing Indonesia. Ia pun memilih cuti kuliah dan fokus latihan olahraga ini di Yogyakarta.

Baginya, olahraga ini banyak memberikan banyak pengalaman baru. Yang jelas, olahraga ini memberinya kesempatan membuktikan diri bisa berprestasi. Jika cabang olahraga atletik menempatkan prestasinya di tingkat kabupaten dan provinsi, panjat tebing mengantarkannya ke kancah internasional.

Di dunia panjat tebing, ia mengaku juga menemukan keluarga baru. Rekan dan pelatih sudah seperti keluarga baginya.

Tapi di tengah kesibukannya menjalani Pelatnas panjat tebing, kadang terselip kerinduan pada keluarga di Grobogan. Kalau sudah begitu, ia biasa meminta mereka datang ke Yogyakarta untuk melepas kangennya.

Atlet Panjat Tebing Indonesia, Aries Susanti Rahayu.
Atlet Panjat Tebing Indonesia, Aries Susanti Rahayu. | Reza Fitriyanto /Beritagar.id

Fokus hadapi Asian Games

Catatan waktu 7,51 detik sebenarnya bukan masa tercepat bagi Aries meraih puncak dinding. Di kejuaraan panjat tebing dunia yang berlangsung di Moskow pada 21-22 April lalu, ia bahkan mampu menorehkan waktu 7,39 detik.

Tapi saat itu Aries harus puas dengan peringkat ke-4 dalam kejuaraan itu. Posisi tercepat diraih oleh Anouck Jaubert asal Prancis dengan catatan waktu 7,32 detik.

Dalam kejuaraan lanjutan, yang digelar di Chongqing, Cina pada 5-6 Mei, Jaubert anjlok di posisi delapan. Dengan catatan waktu 9,40 detik, ia tersisih di babak perempat final. Sementara Aries, menjuarai kejuaraan dengan catatan waktu 7,51 detik.

“Di dunia panjat tebing, atletnya ya itu-itu saja,” kata Aries tentang kejuaraan olahraga panjat tebing dunia.

Bagi dia, sederet kejuaraan itu adalah ajang try out untuk kejuaraan olahraga terbesar kedua setelah Olimpiade, Asian Games, yang bakal digelar di Palembang dan Jakarta, Indonesia pada Agustus-September 2018 mendatang.

Predikat sebagai tercepat di kejuaraan panjat tebing dunia di Chongqing bisa menjadi beban sekaligus tantangan bagi Aries. Betapa tidak, ia harus mampu menyuguhkan penampilan yang terbaik dalam Asian Games 2018. “Dibilang beban iya, tidak juga iya,” katanya.

Yang jelas, ia melanjutkan, Asian Games adalah ajang pertaruhan untuk mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Di tim panjat tebing, beban itu terbagi merata pada tiap atletnya. “Semua bertanggung jawab karena kemenangan adalah kemenangan tim,” katanya.

Bagi atlet panjat tebing, menurut dia, dinding setinggi 15 meter yang akan menjadi arena pertandingan tak berubah. Di kejuaraan dunia atau pun Asian Games dindingnya sama. Rute panjat pun tetap. Sehingga tiap atlet panjat tebing di seluruh dunia pasti menghapalnya di luar kepala.

"Kalau orang baru mungkin susah tapi karena kami sering (melaluinya) jadi ada di alam bawah sadar (rute itu),” katanya.

Meski demikian, tim Indonesia mewaspadai sejumlah tim negara lain. Iran, Cina, Jepang, dan Kazakhstan di antaranya. Atlet panjat tebing mereka dikenal memiliki kemampuan dan manajerial yang bagus.

Bagi Aries, lawan itu berat tapi bukanlah yang terberat. Lawan paling berat yang harus ia hadapi adalah ego pribadi. “Kalau kita bisa mengalahkan diri sendiri, Insya Allah kita bisa menjalani pertandingan (dengan baik),” katanya.

Atlet Panjat Tebing Indonesia, Aries Susanti Rahayu, berpose di depan kamera untuk Beritagar.id di sela sesi Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) Asi
Atlet Panjat Tebing Indonesia, Aries Susanti Rahayu, berpose di depan kamera untuk Beritagar.id di sela sesi Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) Asi Beritagar.id /Reza Fitriyanto
BIODATA Diperbarui: 08 Juni 2018

Aries Susanti Rahayu

Nama: Aries Susanti RahayuTempat/tanggal lahir: Grobogan, 21 Maret 1995Pendidikan: Jurusan Manajemen Universitas Muhammadiyah Semarang (angkatan 2013)Orangtua: Maryati (48 tahun) dan S.Sanjaya (55 tahun)
Prestasi:

- Peringkat 2 (poin 220) Kategori Women Speed dalam olahraga panjat tebing dunia (IFSC) per IFSC Climbing Worldcup di Tai'an, Cina 12 Mei 2018. - Rangking 1 kategori Women Speed (7.51 detik) di IFSC Climbing Worldcup (B,S) - Chongqing (CHN) 2018, 6 Mei 2018. - Peringkat 4 kategori Women Speed (8.47 detik) di IFSC Climbing Worldcup (B,S) - Moscow (RUS) 2018, 22 April 2018.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR