Putu Wijaya berpose untuk Beritagar.id pada Kamis (13/12/2018) di rumahnya di Cireundeu, Tangerang Selatan.
Putu Wijaya berpose untuk Beritagar.id pada Kamis (13/12/2018) di rumahnya di Cireundeu, Tangerang Selatan. Beritagar.id / Wisnu Agung Prasetyo
FIGUR

Bagasi pengalaman Putu Wijaya

Meski sakit, Putu Wijaya tetap produktif. Bekerja baginya adalah beristirahat.

Konon, seorang penulis adalah ikhtisar seluruh pengalaman hidupnya. Ada irisan-irisan pengalaman yang sangat menonjol. Banyak pula cuilan kecil belaka.

I Gusti Ngurah Putu Wijaya seorang penulis. Kesohor sebagai Putu Wijaya. Namanya bersinonim dengan produktivitas. Karyanya berderet-deret.

Begitulah. Puluhan novel. Puluhan naskah drama. Seribuan cerita pendek. Ratusan esai. Lusinan skenario sinetron dan film.

Tengok saja beberapa nan menonjol. Telegram. Stasiun. Pabrik. Aduh. Dag-dig-dug. Ramadhan dan Ramona (film). Keluarga Rahmat (sinetron yang mempopulerkan tokoh Ibu Subangun).

Tetapi, Putu Wijaya tak menganggapnya teramat istimewa.

"Menulis buat saya bekerja seperti petani yang mencangkul," begitu katanya kepada Bonardo Maulana Wahono, Fajar W.H., dan fotografer Wisnu Agung, Kamis (13/12/2018).

Kata-kata barusan diucapkan di rumahnya di Cireundeu, Tangerang Selatan. Dengan volume terjaga dan tekanan teratur. Sambil duduk di sofa kulit bergaya Chadwick. Pet putih khas di kepala.

Kata-kata yang rasanya dipungut dengan rasa awas. Sekaligus rileks. Seperti bukan muncul dari seseorang nan sempat ditampar stroke.

Pada September 2012, darah menggumpal di batang otaknya. Menyerang keseimbangan tubuhnya. Menggerus pendengarannya. Meringkus kepaduan tangan dan kakinya.

Kariernya dianggap habis. Setidaknya oleh kalangan film dan sinetron.

"Enggak ada yang mau pakai saya lagi (untuk menggarap film dan sinetron). Terakhir bikin FTV (film televisi) judulnya Keris," ujarnya menyebut FTV yang dia garap pada 2012.

Namun, Putu Wijaya adalah ikhtisar pengalaman hidupnya. Sakit boleh merengkuh kebebasan geraknya. Tetapi, bukan suara dan pikirannya.

Makanya dia masih terus menulis. Juga menyutradarai kolektif teater yang sudah eksis sejak 1971. Teater Mandiri. Sembari masih rutin menjalani fisioterapi di rumah sakit.

"Ada banyak hal yang tidak bisa saya lakukan lagi. Tetapi, justru dengan begitu saya melihat dengan indahnya sekarang. Minum saya pelajari. Jalan saya pelajari. Tiba-tiba banyak keindahan yang dulu saya lewatkan begitu saja," katanya.

Menulis jadi makin menyenangkan. Meski kini perangkat mengetiknya bukan lagi mesin manual atau komputer. Tapi smartphone. Bersistem operasi Android.

Waktu menulis juga lebih banyak. Juga untuk membaca ulang tulisan. Menimbang-nimbangnya. Begitu pun penyutradaraan. Bahkan sekarang lebih cerewet dan telaten.

"Dengan manner yang begitu, ketika saya melihat tulisan-tulisan di masa lalu, mungkin sekarang lebih menukik. Saya enggak bisa lagi menulis dengan cara seperti dulu. Apakah itu lebih baik? Saya tidak tahu," ujarnya.

Lima buku jadi selama dia sakit. Masing-masing punya tebal rata-rata 700 halaman. Semua diketik di telepon seluler. "Tapi, buku hibah," ujarnya.

Tukang obat dan sengatan kalajengking

Semuanya berawal di Bali. Di Puri Anom Tabanan. Kampung halamannya. Rumah masa kecil dan remajanya. Tempatnya lahir pada 1944.

"Saya kini takut pulang karena semua kebahagiaan (masa kecil dan remaja) itu lenyap," ujarnya.

Putu Wijaya berpose untuk Beritagar.id di rumahnya di Cireundeu, Tangerang Selatan, Kamis (13/12/2018)
Putu Wijaya berpose untuk Beritagar.id di rumahnya di Cireundeu, Tangerang Selatan, Kamis (13/12/2018) | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Dia bicara tentang sebuah kompleks perumahan besar. Tegak di kawasan lereng Gunung Batukau. Dihuni para bangsawan. Berselubung "udara sejuk," di sebuah "kota yang tenang dan bersih".

Jauh silam, di lereng sama, Puputan Margarana yang terkenal itu pernah pecah.

Karakter umum warga Tabanan selaras dengan dialek bahasanya. Polos. Tidak berirama.

Putu Wijaya jarang keluar rumah. Makanya, banyak kebisaan anak Bali yang meleset sebagai kecakapannya. Menabuh gamelan, misalnya. Atau menari.

Puri itu sesak dengan upacara. Banyak upacara. Dia saksikan hampir tiap hari. Selain itu, atmosfer Puri tebal dengan kesopanan dan kesantunan. Wajar mungkin kalau dia lurus-lurus saja. Tak badung.

"Hidup selesai dalam kurungan," ujarnya.

Namun, "kurungan" itu juga yang menawarkan pencerahan. Para penghuninya--keluarga dekat dan jauh Putu Wijaya--suka membaca. Dia ketularan. Dia ikut-ikutan membaca.

Dia bertualang. Ke dunia yang dihadirkan Karl May, Rudyard Kipling, William Saroyan, Hans Christian Andersen. Ke jagat yang dihamparkan R.A. Kosasih, Pramoedya Ananta Toer, Amir Hamzah, Chairil Anwar.

Selain kegaliban ala aristokrat itu, Putu Wijaya ambil peduli dengan pertunjukan jalanan. Itu berkat lokasi Puri Anom yang dekat alun-alun, lokasi pasar malam digelar. Untuk jadi penonton, dia cuma perlu menyeberangi jalan.

"Saya suka sekali menonton wayang dan bakul jamu/tukang obat di Pasar Tabanan," ujarnya. "Tukang obat membual selama dua jam untuk menjual obat palsu selama 10 menit, lalu disambung ngecap lagi."

Kelak kebiasaan itu mempengaruhi proses kreatifnya. Di kemudian hari, banyak karyanya disebut berwatak 'jalanan'. Berwatak tontonan. Berani menihilkan bentuk seni tinggi. Percaya diri memajukan distorsi. Atau ketakterdugaan. Atau kejutan.

Atau teror mental.

Waktu SMA, Putu Wijaya sempat serius berselisih. Dengan ayahnya. Dia masih kelas dua. Penyebabnya: dia akan dikawinkan.

Sebelum reformasi agraria, familinya bertopang pada hasil bumi. Namun, awal 1960-an, kondisi berubah. Pemerintah melangsungkan land reform. Kebijakan itu seketika melindas tuan sawah atau bangsawan. Banyak yang jatuh bangkrut. Termasuk ayahnya.

Siasat untuk mempertahankan tanah diajukan. Harus ada anak dinikahkan. Dalihnya, tanah dapat terus dikuasai jika jika diwariskan kepada anak yang sudah berkeluarga. Sang ayah memilih Putu Wijaya.

Sialnya, taktik itu gagal. Berujung kekecewaan. "Dua tahun saya tidak bicara dengan ayah," ujar Putu Wijaya.

Belakangan, muncul insiden kecil. Melerai kebuntuan. Seekor kalajengking menyengat kaki Putu Wijaya. Sang ayah, yang mengetahui kejadian itu, spontan bereaksi. Menolong.

"Hati saya langsung luruh," kata Putu Wijaya.

Dunia jurnalistik dan komunitas Ittoen

Setelah lulus SMA, Putu Wijaya menatap ke Yogyakarta. Melanjutkan sekolah ke Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada.

Seiring itu, dia menyambi di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI). Belajar melukis. Dia juga menekuni drama di Akademi Seni Drama dan Film (ASDRAFI). Dua-duanya di Yogyakarta.

Di kota itu pula Putu Wijaya turut Bengkel Teater yang diasuh W.S. Rendra. Nama disebut terakhir ini menyuntikkan pengaruh sangat dalam kepadanya.

"Buat saya, Rendra itu guru, sahabat, dan musuh. Saya harus mengalahkannya kalau mau berhasil," ujarnya.

Putu Wijaya: Bekerja adalah beristirahat /Beritagar ID

Namun, beban untuk membantu kehidupan orang tua mengarahkannya ke Jakarta. Dia sadar kerja kesenian di Yogyakarta tidak memungkinkan sebagai penghidupan. Di Jakarta, dia melirik ke bidang pekerjaan yang paling dekat dengan keahliannya menulis.

"Hidup ini penuh dengan kecelakaan," katanya melukiskan keputusannya menjadi wartawan, "kecelakaan yang kadang-kadang disengaja".

Tak pernah terpikir baginya menjadi jurnalis ulung. Hasratnya semata mendapat pekerjaan. Bermula dari majalah Ekspres pada 1969. Lalu di majalah Tempo pada 1971-1979. Dan majalah Zaman pada 1979-1985.

Upah sebagai wartawan ada yang dikirimkan kepada orang tuanya. Setelah menunaikan itu, dia bisa bebas berekspresi dan berkesenian.

"Saya hanya ingin menjadi pegawai yang baik. Tidak mendapat teguran. Lalu (melakukan) hal lain ketika semua pekerjaan sudah selesai," ujarnya. "Itu yang saya jaga betul."

Dengan model kerja sebegitu, Putu Wijaya menjadi sangat disiplin. Kedisiplinan yang mengawal ritme dua alamnya: alam kewartawanan, dan alam kesenian. Terutama setelah Teater Mandiri terbentuk.

Dia beradaptasi. Belajar menuliskan berita dengan cara Tempo. Memupuk etos kerja. Menjaga tenggat. Tak mengabaikan perintah atasan.

"Di Jogja, orang mengenal saya sebagai orang teater. Sutradara. Penulis. Tapi ke Jakarta, saya bukan siapa-siapa. Saya posisikan diri saya di sana sehingga saya tidak merasa terluka. Ngikutin ke mana air mengalir. Strateginya, menikam ke diri dulu," ujarnya saat menjawab kenapa sanggup bertahan. "Mungkin saya mempelajari itu di Jepang".

Pada 1973, Putu Wijaya beroleh beasiswa untuk berlatih drama ke Jepang. Dia tinggal dengan masyarakat komunal Ittoen di Yamashina. Komunitas itu berpakaian hitam-hitam. Mereka tak terikat kepemilikan.

"Semboyan mereka, kerja adalah ibadah," kata Putu Wijaya. "Kalau pergi ke rumah orang, sepatu yang berantakan akan ditata. Ketawa cekakakan tidak ada. Main-main tidak ada. Tidak boleh berpikir tidak ada pekerjaan. Saya pernah diminta memindahkan batu dari sini ke sana".

Hidup seperti itu menyiksanya. Sebab, dia baru kali pertama ke luar negeri, sedang ingin menempuh karier, dan mau hidup enak.

"Tapi sudah kenal hidup (di Ittoen). Saya jadi merasa seperti dihukum," ujarnya.

Di satu pagi, dia melihat "pemandangan ajaib". Di halaman rumah yang dia tinggali, seorang tua tampak berupaya menyambung tangkai bunga. Dengan lidi. Tangkai patah itu dipasangi lidi. Diikat supaya tersambung lagi.

Putu Wijaya menertawakan laku itu. Sekaligus membatin. Orang tua itu begitu ingin berfungsi, tapi tak tahu bagaimana. Supaya tetap bekerja, dia pilih menyambung setangkai bunga.

"Saya berbahagia pernah ke (Ittoen). Dan merasa berdosa sudah ketawa. Seorang anak muda yang materialistis, americanized, tiba-tiba melihat sesuatu yang luhur, enggak tahu bagaimana menghargainya," katanya sambil menyindir diri.

Identitas

Pet putih selalu jadi penanda identitasnya. Tanpa disengaja. Topi yang mulai dia pakai karena sejumlah narasumber memandang asing wajahnya. Kepala yang tak lagi berambut.

"Waktu itu saya lagi nulis tentang diskotek Tanamur. Kakak saya mengabarkan ayah saya meninggal. Saya harus pulang. Di Bali, kalau berkabung keluarga harus gundul. Selesai upacara, saya kembali ke Jakarta. Waktu mewancarai orang-orang, banyak yang tidak kenal saya karena sudah gundul. Sejak itu saya pakai topi. Kalau sudah pakai, orang ingat lagi," katanya.

Ke-Bali-annya pun tak pernah menyembul dengan sengaja sebagai identitasnya. Di mana pun berada, dia hanya ingin menjadi Indonesia. Di Yogyakarta. Di Jakarta. Di Jepang. Di Amerika Serikat. Dia merasa tidak berbakat menjadi orang Bali.

Namun, saat berekspresi, memori ke-Bali-an itu mencuat. Tanpa disadarinya. Pengalamannya saat di Bali. Caranya melihat sesuatu. Caranya berpikir.

"Di bali ada yang namanya, desa-kala-patra. Atau tempat-waktu-suasana. Segala sesuatu itu kembalinya ke sana. Itulah yang meng-adjust kita untuk selalu aktual. Perubahan itu tidak perlu dibuat, karena tubuh kita secara instingtif akan mengikuti itu," ujarnya mencoba merumuskan kediriannya.

"Ditambah lagi dengan yang lebih tinggi. Namanya Tri Hita Karana. Orang bali itu percaya kepada hubungan antara manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan alam, hubungan manusia dengan Yang di Atas. Itu membuat kita jadi selaras dengan waktu, zaman, dan ruang," katanya.

/
BIODATA Diperbarui: 28 Desember 2018

Putu Wijaya

I Gusti Ngurah Putu Wijaya

Lahir :
Puri Anom, Tabanan, Bali, 11 April 1944

Pendidikan :
- SR, Tabanan (1956)
- SMP Negeri Tabanan (1959)
- SMA-A Singaraja (1962)
- Fakultas Hukum UGM (1969)
- ASRI dan Asdrafi, Yogyakarta
- LPPM, Jakarta (1981)

Karier :
- Pemimpin Teater Mandiri, Jakarta (1971-sekarang)
- Penulis skenario film, antara lain Perawan Desa (Piala Citra FFI 1980), Kembang Kertas (Piala Citra FFI 1985), Ramadhan dan Ramona, Wolter Monginsidi
- Penulis skenario sinetron, antara lain Keluarga Rahmat, Pas, None, Warung Tegal, Dukun Palsu (komedi terbaik pada FSI 1995), Jari-Jari Cinta, Balada Dangdut, Dendam, Cerpen Metropolitan, Plot, Klop, Api Cinta Antonio Blanco

Kegiatan Lain :
- Wartawan majalah Ekspres (1969)
- Dosen teater Institut Kesenian Jakarta (1977-1980)
- Wartawan majalah TEMPO (1971-1979)
- Redaktur Pelaksana majalah Zaman (1979-1985)
- Dosen tamu di Universitas Wisconsin dan Universitas Illinois, AS (1985-1988)

Penghargaan :

- 3 Piala Citra untuk penulisan skenario (1980, 1985, 1992)
- 3 kali juara sayembara penulisan novel DKJ
- 4 kali juara sayembara penulisan lakon DKJ
- Sekali juara penulisan esai DKJ
- Hadiah buku terbaik Depdikbud (Yel)
- Pemenang sinetron komedi FSI (1995)
- SEA Write Award 1980 di Bangkok
- Anugerah Seni dari Menteri P&K, Dr Fuad Hasan (1991)

Keluarga :
Ayah : I Gusti Ngurah Raka
Ibu : Mekel Erwati
Istri : Dewi Pramunawati
Anak : I Gusti Ngurah Taksu Wijaya

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR