Yusi Avianto Pareanom berpose untuk Beritagar.id di kawasan Rasuna Epicentrum, Jakarta Selatan, Selasa (10/09/2019)
Yusi Avianto Pareanom berpose untuk Beritagar.id di kawasan Rasuna Epicentrum, Jakarta Selatan, Selasa (10/09/2019) Bismo Agung / Beritagar.id
FIGUR

(bukan) Muslihat Yusi Avianto Pareanom

Yusi Avianto Pareanom penulis beken di kalangan anak muda. Barusan dia dan koleganya di DKJ menggelar festival sastra internasional di Jakarta.

"Kenapa? Karena bikin kau terangsang?"

Itu respons Yusi Avianto Pareanom atas komentar saya tentang satu bagian mengasyikkan pada novel pertamanya, Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi --selanjutnya ditulis Raden Mandasia saja.

Bab dibicarakan bertajuk "Rumah Dadu Nyai Manggis", porsi terbesarRaden Mandasia yang seluruhnya berisi 13 bab. Pada bagian yang banyak mengambil latar cerita di sebuah kasino itu, Sungu Lembu, sang juru cerita, untuk kali pertama bertemu dua tokoh pokok novel--Raden Mandasia dan Nyai Manggis alias Endang Projowati.

Pembaca mana pun rasanya sulit tak terlarut dalam lukisan suasana erotis serta hubungan antarkarakter yang menuntut perhatian pada bab tersebut. Salah satu sajian utama adalah bagaimana daya pukau--juga aksi--Nyai berusia "tiga puluh enam" itu acap kali membuat Sungu kehilangan kendali atas berahinya sendiri.

Aku ingin siksaan ini berlanjut selama mungkin. Tapi, pada akhirnya, tangannya yang indah dan pemurah itu singgah juga ke situ. Baru saja ia menggerakkan tangannya maju-mundur beberapa kali, aku sudah tak bisa menahan diri lagi.

Demikianlah ujung retrospeksi Sungu usai mengeluhkan upaya Nyai Manggis dalam mengendurkan syahwatnya. Model pemerian sedemikian sesungguhnya pada 1960-an dan 1970-an lumrah terjejaki pada karya-karya penulis sebangsa Motinggo Busye.

"(Ada) pengaruh novel-novel silat dan novel-novel erotis (dalam Raden Mandasia). (Saya) mulai membaca cerita-cerita gitu ketika masih remaja, ketika fantasi anak muda bertemu wanita matang," ujar Yusi kepada Beritagar.id di Kuningan City, Jakarta Selatan, Selasa (10/09/2019). "Meski untuk menunjuk satu penulis (yang mempengaruhi) agak sulit".

Meski demikian, erotisisme bukan satu-satunya elemen dalam novel yang digarap selama enam tahun itu. Raden Mandasia memberi ruang lapang pada humor--dengan kadar lumrah hingga gelap. Pun bersungguh-sungguh menggambar kepekaan lidah naratornya dalam memetakan rasa makanan.

Semua dipungkas dengan sudut pandang strategis, yakni orang pertama tunggal. Pakai rangka pengisahan sadar-diri (self-conscious). Pada derajat tertentu, narasi jenis itu sanggup mengingatkan pembaca pada, misalnya, Kura-Kura Berjanggut karya penulis Aceh, Azhari Aiyub, dan Cala Ibi karya pengarang Ternate, Nukila Amal.

"Sempat pakai sudut pandang orang ketiga supaya hal-hal di luar pengetahuan Sungu Lembu bisa kuceritakan. Tapi, kurang asyik. Kemarahan si narator enggak muncul," katanya tentang karya yang 300 halamannya terpangkas selama proses penyuntingan.

Kini, produk Banana, penerbit rumahan yang dirintis Yusi, yang dilempar ke pasar pada 2016 itu sudah terjual hampir 11 ribu eksemplar. Capaian berarti bagi sebuah penerbit alternatif. Pada 2016 pula, Kusala Sastra Khatulistiwa (d/h Khatulistiwa Literary Award) menobatkan Raden Mandasia sebagai pemenang kategori prosa.

"Dari sisi penulis, penghargaan seperti Kusala membantu. (Saya bertemu) dengan pembaca baru, (dan itu) selalu menyenangkan. Ada orang yang mungkin memerlukan ajang seperti Kusala untuk mengetahui produk Banana atau tulisanku," ujar sosok yang juga menerbitkan kumpulan cerita pendek Rumah Kopi Singa Tertawa (2011) dan Muslihat Musang Emas (2017) itu.

Jakarta International Literary Festival

Di antara penulis segenerasinya seperti Joni Ariadinata, Ayu Utami, atau A.S. Laksana--demi menyebut sedikit nama--Yusi telat mengemuka. Namun, kemunculan terbelakang itu tak mengusiknya. Sebab, dia masih beroleh basis pembaca yang lebih muda darinya. Seturut keyakinannya, mereka justru bisa dipupuk lebih intensif.

Yusi Avianto Pareanom berpose untuk Beritagar.id di kawasan Rasuna Epicentrum, Jakarta Selatan, Selasa (10/09/2019)
Yusi Avianto Pareanom berpose untuk Beritagar.id di kawasan Rasuna Epicentrum, Jakarta Selatan, Selasa (10/09/2019) | Bismo Agung /Beritagar.id

"Dugaanku kebanyakan (pembaca karyaku) teman-teman yang usianya relatif muda. 30-an ke bawah. Atau mungkin 35. Mungkin ada juga yang seusiaku, tapi rasanya enggak sebanyak teman-teman muda," ujar pria bertarikh lahir 1968 itu. "Teman-teman remaja mungkin awalnya (membaca karya) yang di luar zona nyaman mereka karena ikut-ikutan dipasang buat Instagram".

Ia menafikan hasil survei tertentu mengenai tingkat kegirahan membaca penduduk Indonesia yang rendah. Padahal, menurutnya, sejumlah acara yang melibatkan penjualan buku seperti festival literasi, Patjar Merah, dan bazar buku, Big Bad Wolf, bikin laris banyak judul.

Bahkan, waktu sebuah hajatan sastra internasional, Jakarta International Literary Festival (JILF), berlangsung di Jakarta pada 20-24 Agustus 2019, pasar bukunya mesti tutup hingga jauh malam karena ketumpahan pengunjung.

"Orang-Orang Oetimu, misalnya. (Penerbit) Marjin Kiri harus datangin terus karena habis. Raden Mandasia juga sama," katanya menyebut judul novel karya penulis Nusa Tenggara Timur, Felix Nesi, serta sebuah penerbit alternatif Jakarta milik Ronny Agustinus.

JILF digagas oleh Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) yang diketuai Yusi. Biaya penyelenggaraannya nyaris empat miliar. Untuk memilih pelaku sastra dunia yang diajak datang, festival ini bersandar pada tiga kurator: Yusi; penulis, Eka Kurniawan; dan jurnalis, Isyana Artharini.

Di Jakarta, baru kali ini ada festival sastra bertaraf internasional. Seluruh acara bertempat di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Di antara undangan dari mancanegara adalah Adania Shibli (Palestina), Bejan Matur (Turki), Zainab Priya Dala (Afrika Selatan), Momtaza Mehri (Somalia).

Menurut Yusi, sang direktur festival, JILF bertolak dari kegemasannya dan koleganya di Komite Sastra yang merasa "tak melakukan apa-apa" selain mengadakan sayembara. "Komite ini paling tenang," ujarnya. "Sedemikian kalemnya, seperti tasik yang tak beriak".

Karenanya, mereka memutuskan bikin festival, dan mesti didukung pemerintah "karena DKJ mitra pemerintah", katanya. Karakteristik festival pun ditentukan. Akhirnya, panitia memutuskan untuk menghadirkan penulis-penulis dari negeri Selatan.

"Selama ini (khalayak luas) tidak cukup kenal penulis di dunia Selatan sampai karyanya terbit dalam bahasa Inggris di Eropa atau Amerika Serikat. Orang Indonesia yang dikenal mungkin cuma Pramoedya (Ananta Toer), sekarang Eka (Kurniawan). Apa mau dianggap Eropa atau Amerika bagus dulu, lalu baru baca?" ujarnya. "(Kami) meminjam semangat (Konferensi) Asia-Afrika tanpa menegasikan Amerika dan Eropa Barat".

Yusi Avianto Pareanom berpose untuk Beritagar.id di kawasan Rasuna Epicentrum, Jakarta Selatan, Selasa (10/09/2019)
Yusi Avianto Pareanom berpose untuk Beritagar.id di kawasan Rasuna Epicentrum, Jakarta Selatan, Selasa (10/09/2019) | Bismo Agung /Beritagar.id

Pengaruh Semarang

Waktu bicara tentang JILF dan Raden Mandasia, Yusi sering melirik jam tangan saya. Saya tahu dia sedang tidak menaksir harga Casio 200 ribuan itu. Tetapi, semata menghitung waktu yang tengah memojokkannya. Sebab, selain mesti mengambil surat izin masuk Jerman di kantor VFS Global, Kuningan City, dia ada janji lain di kawasan Rasuna Epicentrum.

"Saya mau ke Jerman, riset tentang fasisme Perang Dunia II dan kebangkitan Tentara Merah," katanya menukil faksi ujung kiri Jerman Barat yang kesohor dengan label Baade-Meinhof Group. "Ada beberapa cerita yang tempatnya harus didatangi supaya dapat feel-nya".

Penelitian sebulan itu ditujukan untuk calon novel ketiganya, yang dia harap bisa terbit pada 2020. Bagaimanapun, bukan itu saja cita-citanya. Dia pengin novel keduanya bisa dirilis tahun ini. Judulnya Anak-Anak Gerhana. Bercerita tentang bagaimana pabrik bernama Orde Baru menghasilkan manusia-manusia serbapatuh.

"Anak-Anak Gerhana mengibaratkan anak-anak Orde Baru adalah anak-anak gerhana. Ada cahaya, tapi tidak sepenuhnya. Ada kegelapan, tapi masih bisa lihat. Momennya gerhana matahari total 1983. Mesin propaganda orde baru berjalan sepenuhnya hari itu," ujarnya. "Setting awal di Semarang, bagian masa kecil. Lalu Indonesia, dan beberapa luar negeri".

Sejak lahir hingga selesai SMA, Yusi memang tinggal di Semarang, Jawa Tengah. Tepatnya di sebuah kampung bernama Gendong Selatan. Ketika dia kanak, panjang kampung itu berasa "seperti Jalan Raya Pos" walau di tiap sisinya hanya memuat delapan rumah.

Di sana dia menemu kehangatan. Sebab, interaksi bisa terwujud di sana-sini. Bentuknya macam-macam. Lewat permainan anak-anak, persewaan komik, masjid, panti asuhan untuk orang buta, kali kecil sumber belut, lapangan bola, bahkan tempat berjudi, hal yang menginspirasinya untuk membuat bab rumah dadu pada Raden Mandasia.

"Terlalu banyak untuk diceritakan. Galinya banyak. Makanan enak banyak. Ada eks tahanan politik. Ada gedung Sarekat Islam, cikal bakal berdiri PKI di kampungku. Ceritanya enggak habis-habis. Mau dikeduk selalu ada. Orang tuaku juga meninggal di sana semua," katanya.

Ayah Yusi pernah menjadi aktor panggung pada dasawarsa 1960-an. Ibunya guru sekolah dasar, dan doyan menulis tembang-tembang macapat. Mereka berpisah waktu Yusi belum lagi berusia lima.

Karena ayahnya Ketua RT, Yusi jadi tahu ada beberapa warga yang pernah menjadi tahanan politik Orde Baru. Sudah lazim bahwa warga satu lingkungan butuh surat pengantar untuk mengurus hal-ihwal tertentu. Saat pengajuan berkas itu dia tahu KTP mereka menerakan inisial pendek yang menjadi penghambat hidup.

"Di (kampung itu) ada kegembiraan, kenangan-kenangan menyenangkan, keantikan. Cerita yang disediakan banyak. Kayak jalan ke pertambangan emas yang di permukaannya saja sudah ada emas berlimpah-ruah," ujarnya mengajukan perumpamaan.

Namun, latar sebegitu tak berarti menjadikan novel keduanya autobiografis. Seperti karya-karyanya yang lain, purwarupa tokohnya diambil dari pelbagai persinggungan dengan bermacam manusia. Terutama yang terdekat dengannya. Dan untuk memperkaya bahan itu, dia mengaduk materi personal dengan riset.

Yusi Avianto Pareanom ketika berpose untuk Beritagar.id di kawasan Rasuna Epicentrum, Jakarta Selatan, Selasa (10/09/2019)
Yusi Avianto Pareanom ketika berpose untuk Beritagar.id di kawasan Rasuna Epicentrum, Jakarta Selatan, Selasa (10/09/2019) | Bismo Agung /Beritagar.id

Bukan seniman

"Fiksi harus meyakinkan, dan harus berterima," katanya. "Untuk membuatnya meyakinkan, bahannya harus bagus. Kalau sudah begitu, nanti bisa diubah dengan pengetahuan, bukan asal saja".

Riset dan peliputan penting untuk mereguk pengetahuan dimaksud. Karena tuntutan itu pula dia rela pergi ke tempat-tempat jauh demi mencari penopang ceritanya. Bukan rutinitas baru, sebenarnya. Sebab, waktu masih menjadi wartawan di majalah Forum Keadilan dan Tempo, dia sudah terbiasa melakukannya.

Olah semacam itu melatihnya untuk tak berharap pada apa yang banyak orang kata sebagai 'menunggu ilham'. Makanya, dia tak memiliki ritus spesial ketika menulis. Satu-satunya yang mesti ada cuma secangkir kopi.

"Enggak ada yang misterius dalam penciptaan (karya) kecuali berpikir. Kalau misterius, tulisannya malah biasanya jelek-jelek," ujarnya.

Supaya terarah dalam meriset, Yusi sudah siap dengan kerangka cerita. Dia mengumpamakan outline itu seperti sebuah rumah. Struktur bangunannya--fondasi, tiang, atap--adalah yang utama. Bagian-bagian kecil seperti warna cat, jenis lantai, bahan kusen, dapat menyusul.

Dalam prosesnya, dia bisa mengerjakan bagian-bagian tulisan tanpa harus memikirkan keberurutannya. Bab 10 bisa dikerjakan lebih dulu dari Bab 2, misalnya. Halaman rumah selesai mendahului pagar. Yang penting struktur utama terjaga.

Tentu saja, pengalaman dalam mencerap dan menyerap karya-karya yang dianggap bagus turut membantu proses rancang-bangun tulisan. Yusi berutang pengaruh pada penulis Amerika Serikat seperti Ernest Hemingway dan J.D. Salinger, pengarang Amerika Latin serupa Gabriel Garcia Marques, Roberto Bolano, dan Jorge Luis Borges, atau prosais Serbia, Milorad Pavic.

"Kalau dari Indonesia enggak merujuk ke satu pengarang. Budi Darma suka. Idrus, cerpen-cerpen Surabaya zaman 1945 keren banget," katanya.

Paparan karya-karya para begawan sastra itu, serta pengalaman meriset dan melakukan peliputan, membuatnya tersadar bahwa proses menulis niscaya membawanya kepada "humbling experience".

"Perjumpaan dengan orang baru, pengalaman baru, pengetahuan baru. Ada pengetahuan baru terserap, tapi pada saat bersamaan ada kesadaran bahwa tahuku sebelum mengerjakan itu sedikit. Proses yang menyadarkan kita untuk belajar lagi," ujarnya.

Dengan pembawaan begitu, diri kreatifnya pun diandaikan tak menetap, tapi bergerak dari satu stasiun ke stasiun lain. Seperti laku para murid Tasawuf, ajaran yang pernah sejenak dia tekuni saat masih tinggal di Yogyakarta untuk kuliah di Teknik Geodesi Universitas Gadjah Mada. Ajaran yang mengajarkannya akan arti penting menjadi mukhlis.

Dia pun akhirnya tak sungkan menjauhkan diri dari stiker artist, seniman. Sebab dalam hematnya, menganggap diri penulis cukup belaka.

"Seniman bukan profesi. Itu label yang dilekatkan oleh publik saja. Kalau aku menganggap diri kayak begitu, ya selesai. (Cap) itu enggak penting bagiku," katanya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR