Penyanyi Endah Laras berpose untuk Beritagar.id pada Selasa (17/04/2018) di Manohara Resto, Magelang, Jawa TEngah.
Penyanyi Endah Laras berpose untuk Beritagar.id pada Selasa (17/04/2018) di Manohara Resto, Magelang, Jawa TEngah. Reza Fitriyanto / Beritagar.id
FIGUR

Campuran sari-sari seni Endah Laras

Dari kamar mandi kariernya bermula. Ia menapaki panggung hajatan di kampung hingga menjadi penyanyi terkenal berkalung ukulele.

Besar di lingkungan keluarga pelaku seni tradisi, ia belajar tari pada usia dini. Ia populer sebagai penyanyi keroncong, tapi kerap nyinden ke sana kemari. Bergabung dalam pementasan ludruk dan ketoprak pun pernah. Belakangan, ia malah bermain teater dan menjadi aktor film.

Jadi, siapakah Endah Laras? Penyanyi keroncong atau pesinden?

"Sampai sekarang pun saya bingung kalau ditanya penyanyi keroncong atau sinden," kata perempuan bernama asli Endah Sri Muwarni itu.

Selasa, 17 April 2018 pekan kemarin, saya dan fotografer Beritagar.id Reza Fitriyanto menemuinya di sela kesibukan mempersiapkan pentas di pelataran candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.

Angin malam berhembus membawa dingin. Endah menyambut hangat di Manohara Resto, tak jauh dari Candi Borobudur. Ia menawarkan makanan dan minuman sebelum wawancara. Kami memesan pisang goreng, ia memesan cireng. Minumannya sama, wedang serai penolak masuk angin.

Rabu malam esoknya, Endah dijadwalkan menyanyikan dua lagu keroncong klasik. "Wanita Pesona" dan "Irama Desa". Siapa pula anak muda yang mengenal lagu semacam itu saat ini, kata dia.

Endah menyebut komponis Indonesia masa lalu sebagai empu yang karyanya tak lekang dimakan zaman. Di dalam syairnya terkandung makna yang dalam, musiknya tetap enak didengar.

Ia pun mengaku kecintaannya terhadap Indonesia semakin bertambah tiap kali pulang dari pentas di luar negeri. Ia melihat karya para maestro vokal tanah air selalu mendapat penghargaan luar biasa di mancanegara. Sebut saja Ismail Marzuki dan Cornel Simanjuntak.

Meski dihargai di luar negeri, lagu-lagu macam itu justru terlupakan di dalam negeri. "Siapa anak sekarang yang mau nyanyi "Serumpun Padi"?" katanya mempertanyakan.

Serumpun Padi adalah lagu yang digubah R Maladi. Ia seorang komponis asal Solo dan pernah menjadi menteri penerangan di era 1960an.

Endah tak ingin karya para maestro Indonesia itu tenggelam dalam hiruk pikuk pop Korea yang menghipnotis generasi muda.

Lahir di Sukoharjo, 3 Agustus 1976, bapaknya (Sri Joko Raharjo) seorang dalang. Sementara ibunya (Sri Maryati) pengajar tari.

Lahir dan tumbuh di lingkungan seniman tradisi, Endah kecil pun terbiasa melihat bule datang berguru gamelan, wayang, dan karawitan pada bapak ibunya. Mereka, kata dia mengenang, selalu tekun belajar. Serius dan detil.

"Jangan sampai nanti kita belajar ndalang ke Amerika, belajar karawitan ke Leiden (Belanda)," katanya prihatin.

Sembilan menit wawancara berlalu, asistennya datang membisiki. Endah harus menjalani proses gladi resik pementasan. "Tak tinggal disek ya nanti kita lanjut lagi ngobrolnya," ia pamitan menunda wawancara sembari menyambar sepotong cireng.

Pengunjung restoran tak berhenti berdatangan. Waktu makan malam masih tersisa. Dari kejauhan, stupa Borobudur terlihat gagah tersorot cahaya. Di kaki mahakarya wangsa Syailendra abad 8 itu terdengar suara seriosa Endah. Merdu nan laras.

Endah Laras dan ukulele (foto kanan) yang kerap ia bawa kala tampil menyanyi. Ukulele menjadi ciri khasnya sejak sutradara Garin Nugroho memintanya memainkan alat musik ini untuk film Soegija pada 2012.
Endah Laras dan ukulele (foto kanan) yang kerap ia bawa kala tampil menyanyi. Ukulele menjadi ciri khasnya sejak sutradara Garin Nugroho memintanya memainkan alat musik ini untuk film Soegija pada 2012. | Reza Fitriyanto /Beritagar.id

Penyanyi berkalung ukulele

Usianya masih belasan tahun ketika keluarganya pindah ke Jakarta. Orang tuanya bercerai, bapaknya menikah lagi.

Saat itu Endah baru lulus Sekolah Dasar. Sebagai "bocah kampung" di kota metropolitan, ia sering mendapat perlakuan tak menyenangkan di sekolah baru. Logat Jawa medok dan bahasa Indonesia berlepotan membuatnya menjadi sasaran empuk perundungan kawan sebaya.

Sakit hati? Mungkin. Tapi Endah terlecut membuktikan kemampuan dirinya. Ia mendaftar ekstrakurikuler paling bergengsi, yakni paduan suara. Adalah Daram Sitorus, guru pengajar vokal di sekolahnya, yang mula-mula mengajarkan seni tarik suara. Di sini bakat vokal seriosa Endah terasah.

Endah, dulu bocah ndeso kini tampil percaya diri. Ia tak lagi menjadi korban perundungan.

Menginjak bangku SMA, Endah bersekolah di dekat rumah. Meski bukan sekolah favorit, ia suka karena tak harus bergonta-ganti angkutan umum untuk mencapainya. Sialnya, sekolah ini tak punya grup paduan suara, ekstrakurikuler favoritnya. "Saya merasa tertantang untuk mendirikan grup vokal di SMA," katanya.

Baginya ini menjadi kesempatan membagikan keterampilan tarik suara yang dipelajari semasa SMP. Ia kumpulkan 15 orang kawan sebaya, diajak rutin berlatih, dan mencoba mengikuti lomba paduan suara. Bangga? Tentu saja. "Karena ini pengalaman pertama kali saya menjadi leader," katanya.

Pada tahun 1995, keluarganya boyongan ke Solo. Endah baru lulus SMA dan berencana kuliah di jurusan tari Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta, kini menjadi Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Meski terdorong mendalami tari, seni yang ditekuni sejak usia dini, proses kepindahan dari Jakarta ke Solo ini adalah titik awal kariernya sebagai penyanyi keroncong.

Cerita bermula saat menjelang berangkat. Endah mandi sembari menembangkan "Yen Ing Tawang Ono Lintang". Dari luar kamar mandi, sopir truk yang akan mengangkut barang pindahan tak sengaja mendengar suaranya. Ia kepincut suara Endah.

Pada Endah, sopir itu bercerita dua pekan lagi punya hajatan di kampungnya, Solo. Dan dia ingin Endah menyanyi di acara itu. "Kalau saya tak mau dia mengancam tak mau mengangkut barang-barang ke Solo," kata Endah mengenang peristiwa itu.

Tak ada pilihan bagi Endah selain mengiyakan permintaan sopir itu. Lagi pula, ia yakin si sopir bercanda. "Ah paling nanti juga lupa," ucapnya.

Dua pekan berlalu di Solo. Endah lupa tapi si sopir tidak. Lelaki itu datang ke rumah Endah dengan mengendarai motor. Ia menagih janji. Sopir edan, Endah gelagapan tapi lagi-lagi tak ada pilihan.

Endah lalu menyanggupi tapi mengajukan syarat. Ia hanya menyanyi "Yen Ing Tawang Ono Lintang", satu-satunya lagu keroncong yang ia kuasai saat itu. Negosiasi beres. Maka bercelana jins, berkaos oblong, dan bersepatu sneakers, Endah berangkat membonceng motor pak sopir. Tanpa dandan dan riasan.

Inilah pementasan perdana Endah Laras sebagai penyanyi keroncong. "Ternyata semua sudah diatur Tuhan," katanya.

Takdirnya tiba setelah pentas. Pembawa acara menjumpainya, menawarkan peluang bergabung di Orkes Keroncong Purnama Karya, pengiring musik di hajatan. Sejak itu, jadwalnya manggung di pementasan keroncong pun mengalir tak henti.

Pada tahun 1998 penyanyi asal Gunungkidul bernama Manthous mengenalkan musik campursari. Ia memasukkan orkestrasi gamelan dan keyboard dalam musik keroncong. Endah pun terpapar genre baru ini. Ia menyanyikan lagu-lagu campursari dari panggung ke panggung.

Sembari bekerja menjadi penyanyi, Endah kuliah. Di masa awal menapaki karier, ia mendaftar jadi mahasiswa di STSI Surakarta. Tiga kali mendaftar, seluruhnya berantakan.

Tahun 1995 ia mendaftar di jurusan tari. Malam tanggapan, pagi kuliah. Di kelas, ia tidur kecapekan. Kuliahnya takluk oleh jadwal manggung.

"Orang bilang terlanjur peye," kata dia.

"Apa itu?" saya bertanya.

"Payu (laku)."

Ia mengatakan merasakan kejayaan musik keroncong. Pada masa itu, dalam sebulan setidaknya ada 40 kali jadwal manggung. Di musim hajatan, pementasan bisa melonjak hingga 50 kali per bulan. Manggung di tiga lokasi dalam sehari itu sudah biasa. Pagi, sore, dan malam.

Nama Endah pun kian melejit sebagai penyanyi keroncong. Dari orkes Purnama Karya, Endah beralih ke orkes Tak Kusangka. Ini grup musik keroncong yang lebih populer dengan jadwal manggung lebih padat. Endah kerap tak pulang karena harus memenuhi jadwal pementasan, kuliahnya kian tak karuan.

Setahun kemudian, pada 1996, ia berusaha memperbaiki kuliahnya. Ia mendaftar di jurusan karawitan. Keteteran lagi. Ia mendaftar lagi di jurusan yang sama pada tahun berikutnya. Tapi, keteteran lagi. "Kasusnya sama berat di pentas," katanya terbahak mengenang kuliahnya.

Tiga kali kuliah, tiga kali gagal. Endah menghibur diri. "Mungkin jalan saya sekolah yang alami."

Penyanyi Endah Laras (di tengah sambil memegang ukulele) saat pementasan Mahakarya Borobudur 2018 di pelataran Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah pada Rabu (18/04/2018).
Penyanyi Endah Laras (di tengah sambil memegang ukulele) saat pementasan Mahakarya Borobudur 2018 di pelataran Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah pada Rabu (18/04/2018). | Reza Fitriyanto /Beritagar.id

Pentas dari panggung ke panggung memberinya kesempatan bertemu para penyanyi keroncong senior. Dari merekalah, Endah menyerap ilmu. Tahun 1996 saja, di masa awal kariernya, ia sudah membuat album rekaman Gemes bersama penyanyi keroncong Anjar Any. Duet itu berlanjut di album berikutnya, Jangkrik Genggong, di tahun berikutnya.

Dengan sang maestro campursari pun, Manthous, Endah pernah membuat album bersama Lego pada tahun 2008.

Pergaulannya pun meluas. Ia bergaul dengan beragam seniman, dari seni tradisi hingga modern. Endah terlibat dalam pementasan wayang di dalam serta luar negeri bersama sejumlah dalang kondang. Dari dalang wayang suket Slamet Gundono, dalang nyentrik Ki Enthus Susmono, hingga dalang wayang kancil Ki Ledjar Soebroto.

Belakangan, Endah menjajal dunia teater. Sepanjang 2010 hingga 2011, ia berperan sebagai penyanyi, penari, sekaligus musisi dalam pementasan Opera Jawa karya sutradara Garin Nugroho. Opera ini dipentaskan di Belanda dan Perancis, terakhir Solo, Yogyakarta, serta Jakarta.

Di panggung teater inilah Endah lalu muncul dengan ciri khasnya, yaitu mengalungkan ukulele. Garin menantang Endah bermain ukulele.

"Endah kamu bisa main ukulele?" katanya menirukan pertanyaan Garin saat itu. Endah tak bisa. "Tapi saya akan belajar."

Sejak itu, ukulele itu melekat pada Endah seperti hingga kini. Bahkan, ketika Garin menggarap film Soegija pada 2012, Endah bergabung sebagai pemain dan tampil dengan ukulelenya.

Seabrek pengalaman itu kini mengantarkan Endah jadi pengajar tari dan karawitan di sejumlah sekolah di luar negeri. Di Hongkong dan Singapura. Padahal ia tak pernah menamatkan kuliah.

"Anggap saja saya lulusan S3; SD, SMP, SMA," katanya, tertawa.

Sejenak ia diam. Teringat pesan almarhum bapaknya, di antara ganjaran Tuhan terbesar adalah diberi kehidupan. Maka, ia melanjutkan, pergunakanlah kehidupan sebaik-baiknya selagi masih ada kesempatan.

Tak lulus kuliah, biarlah. "Tapi sekarang saya bisa ngajar (ke luar negeri) meski dengan bahasa Inggris salah paham," katanya.

"Salah paham?" tanya saya lagi.

"Ya, bahasa Inggris saya salah tapi mereka paham."

Endah Laras, kisah penyanyi berkalung ukulele /Beritagar ID

Bertemu idola

Peristiwa itu terjadi 22 tahun lalu tapi Endah tak pernah lupa. Di suatu tempat di Gembongan Sukoharjo pada 1996. Untuk pertama kalinya, Endah muda bertemu sang idola, Waldjinah. Mereka bertemu dalam satu pementasan bersama musik keroncong di dekat pabrik gula.

"Dari rumah sudah deg-degan," kata Endah, mengenangkan.

Kala itu ia berdandan sebaik-baiknya, merias diri sepatut-patutnya. Tak dinyana, Waldjinah memanggil Endah menjelang naik panggung. Endah gugup mendekat, Waldjinah menyuruhnya membalikkan badan.

Rupanya, Waldjinah melihat tusuk konde Endah miring. Posisi selendangnya juga terpasang tak tepat di kebaya. Dan, si Walang Kekek sekadar ingin memperbaiki saja.

Endah mengatakan sangat mengidolakan Waldjinah. Perjumpaannya dengan karya Waldjinah berlangsung pada 1990 ketika ibu tirinya pulang ke rumah membawa kaset baru. Album keroncong itu dibeli di Pasar Baru. "Di volume ketiga ada lagu "Ayo Ngguyu" dan saya langsung suka," katanya.

Kelak, Endah sering menyanyikan lagu itu dari panggung ke panggung. Sampai-sampai, lagu itu menjadi trademark Endah sebagai penyanyi keroncong.

Endah menapaki reputasi sebagai penyanyi keroncong bukan tanpa tentangan. "Gak usah jauh-jauh, bapak saya sendiri (dulu) menentang," katanya.

Sebagai dalang, Sri Joko Raharjo adalah seniman tradisi yang idealis. Ia menginginkan anak-anaknya menekuni seni tradisional secara utuh tanpa terkontaminasi modernisasi kesenian.

Bapaknya tak setuju, Endah bergeming. Dimarahi, ia diam saja tapi tak berhenti menyanyi. Hingga suatu hari, suatu hari bapaknya mengakui. "Ternyata yo penak nek anakku bedo, nek kabeh dadi seniman tradisi piye sandang pangane," kata Endah menirukan ucapan bapaknya.

Endah sulung dari empat bersaudara. Tiga adiknya menekuni kesenian. Supanjang Murti Raharjo mahir bermain karawitan, Sruti Respati dan Retno Musti Sari jago menyanyi keroncong.

Adapun Endah, ia bermain keroncong, teater, sinden, campursari, teater, hingga film. Jadi, ia tak ragu menyebut dirinya sebagai seniman "campursari". "Campuran sari-sari seni yang saya pelajari," katanya.

Penyanyi Endah Laras berpose untuk Beritagar.id usai pementasan Mahakarya Borobudur 2018, di kawasan Candi Borobudur, Magelang, pada Rabu (18/04/2018)
Penyanyi Endah Laras berpose untuk Beritagar.id usai pementasan Mahakarya Borobudur 2018, di kawasan Candi Borobudur, Magelang, pada Rabu (18/04/2018) Beritagar.id /Reza Fitriyanto
BIODATA Diperbarui: 27 April 2018

Endah Laras

Nama Asli:
Endah Sri Murwani

Tempat, tanggal lahir
Sukoharjo, 3 Agustus 1976

Pendidikan:

  • TK Kristen Kartasura< Jawa Tengah (lulus 1983)
  • SD Kartasura 1, Jawa Tengah (lulus 1989)
  • SMP 111, Kemanggisan, Jakarta Barat (lulus 1992)
  • SMU 101, Joglo, Kembangan, Jakarta Barat (lulus 1995)
  • STSI, Surakarta (tidak lulus)

Album rekaman:

  • Gemes dengan Anjar Any (1996)
  • Jangkrik Genggong dengan Anjar Any (1997)
  • Lelo Ledhung Kendhang Kempul Vol. 1 (1997)
  • Kembang Kecubung dengan Mus Mulyadi (1998)
  • Lego dengan Manthou's (1998)
  • Jenang Gulo Kendang Kempul Vol. 2 (1998)
  • Jakarta Suroboyo dengan Boy Suryo (1998)
  • Andhe Andhe Lumut (2000)
  • Mung Sliramu (2000)
  • Aja Kanda Sapa Sapa dengan Cak Dikin (2003-2007)
  • Gajah Lampung dengan Bupati Lampung Timur (2008)
  • Keroncongkoe bersama musisi senior keroncong di Solo, Jawa Tengah (2010-2011)

Pengalaman berkesenian:

  • Terlibat pagelaran Wayang Revolusi di Musium Wayang Jakarta Barat (1996)
  • Juara 3 Lomba Seriosa dalam rangka Peksiminas di Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah (1997)
  • Bergabung dengan Ketoprak Sribudhoyo pimpinan Koko Srimulat dan Limbuk Cangik pimpinan Yati Pesek yang ditayangkan di Indosiar (2003-2007)
  • Terlibat pertunjukan Wayang Rai Wong Dewa Ruci, International Shadow Puppet Festival di Bali (2008)
  • Terlibat pertunjukan Semar Meteng karya Slamet Gundono dalam rangka semarak 30 Semar di Galeri Nasional, Jakarta (2009)
  • Terlibat Wayang Superstar Dewa Ruci Ki Enthus Susmono di Tropen theater/ Tropen Musium Amsterdam, Belanda (2009)
  • Terlibat Wayang Superstar Dewa Ruci Ki Enthus Susmono dalam International Puppet Theater Festival di Dordrecht, Belanda; Les Orientales Festival de Saint-Florent-Le-Vieil, Perancis; The 13th Suwon Hwaseons Fortress Theater Festival, Korea Selatan (2009)
  • Terlibat pertunjukan Semar Meteng karya Slamet Gundono Solo International Performing Arts (2009)
  • Terlibat pertunjukan Opera Wayang Dongeng Kancil Ki Ledjar Soebroto di Jakarta (2009)

Pengalaman berkesenian selama 2010-2011:

  • Terlibat sebagai penari, penyanyi dan musisi dalam pertunjukan "Opera Jawa" by Garin Nugroho. Dipentaskan dalam rangka 100 tahun Tropen Museum di Amsterdam Belanda, di Musee du quai Branly Paris, Solo, Yogyakarta, dan Jakarta.
  • Terlibat dalam Pagelaran Anne Avantie “Cinta Sahabat” di Keraton Kasunanan Surakarta
  • Terlibat dalam 30thn Garin Nugroho berkarya di Bentara Budaya Jakarta
  • Terlibat dalam musikalisasi puisi bersama Wied Sendjayani “Maniratari” di Teater Arena TBS Surakarta
  • Terlibat dalam karya tari “Sapu Jagad” karya Agung Kusumo Widagdo di Gedung Kesenian Jakarta
  • Kolaborasi dengan Mugiono Kasido, Dedek Wahyudi, Ronnarong Khampha, Thitipol Kanteewong di Korea
  • Terlibat dalam Tribute Franky Sahilatua untuk Indonesia di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki Jakarta
  • Pembuatan film Soegija dengan sutradara Garin Nugroho
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR