Chaim Fetter, pendiri Yayasan Peduli Anak, pada tahun lalu bersama anak-anak jalanan yang ia didik dan asuh di Desa Langko, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.
Chaim Fetter, pendiri Yayasan Peduli Anak, pada tahun lalu bersama anak-anak jalanan yang ia didik dan asuh di Desa Langko, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Dokumentasi Yayasan Peduli Anak
FIGUR

Chaim Fetter dan anak jalanan

Ia meyakini pendidikan adalah kunci masa depan anak.

Ia tak bahagia punya perusahaan dagang daring alias ecommerce. Lombok menjadi pelabuhan hatinya dalam berkarya.

Tepat di samping gapura Desa Langko, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, ia membangun sekolah dan asrama seluas 1,5 hektare.

Hamparan sawah mengelilingi kompleks bangunan tersebut. Di situlah Chaim Fetter tinggal bersama anak-anak jalanan.

Lokasinya jauh dari perkampungan warga. Tembok pembatasnya tinggi pula, tiga meter.

Menurut seorang petugas keamanan, tembok itu untuk mencegah anak-anak kabur. Ada juga kekhawatiran datangnya penyamun.

Namun demikian, Chaim mengaku hidupnya berbaur dengan masyarakat Desa Langko. "Saat acara-acara pernikahan, warga sering mengundang saya," kata Chaim ketika ditemui di sana pada Agustus tahun lalu.

Tiga petugas Family Care melaporkan hasil pemeriksaan mata warga. Beberapa di antara mereka memesan kaca mata.

Tim Family Care merupakan bagian dari yayasan yang Chaim dirikan, Yayasan Peduli Anak. Setiap bulan tim ini memeriksa kesehatan masyarakat sekitar. Tujuannya, untuk kesejahteraan sosial anak dan keluarga.

Chaim tampak sibuk menerima laporan dari para petugas. Sambil memeriksa, ia juga mengawasi pembangunan asrama putra di sebelah barat kompleks yayasan.

Kami diajak berkeliling. Tampak anak-anak bermain di pinggir kolam renang. Ada juga yang sedang belajar bersama guru-gurunya.

Melihat sosok Chaim, anak-anak lantas berlari mendekat. Salah seorang bocah meloncat ke pangkuannya. Ia menggendong anak itu sambil berjalan mengitari Yayasan Peduli Anak.

Sudah hampir 15 tahun ia meninggalkan negaranya, Belanda. Sejak lama Chaim memiliki ikatan khusus dengan Indonesia.

Ayahnya lahir di Jakarta. "Kakek seorang diplomat waktu Sukarno menjadi presiden," katanya.

Banyak hal yang neneknya ceritakan tentang negara ini. Keindahan alam, budaya hingga kulinernya.

Bahkan rumahnya di Belanda penuh dengan pernak-pernik Indonesia. "Keluarga saya senang sekali mengetahui saya tinggal di sini," kata Chaim. “Pertama kali saya ke Indonesia saya merasa seperti pulang."

Saat ini ia fasih berbahasa Indonesia. Ia mempelajarinya dalam tempo satu tahun. Itu pun melalui percakapan dengan anak-anak di Lombok.

"Anak-anak sangat membantu saya belajar Bahasa Indonesia," ujar pria yang menyukai nasi goreng seafood ini.

Chaim Fetter, pendiri Yayasan Peduli Anak, pada tahun lalu bersama anak-anak jalanan yang ia didik dan asuh di Desa Langko, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.
Chaim Fetter, pendiri Yayasan Peduli Anak, pada tahun lalu bersama anak-anak jalanan yang ia didik dan asuh di Desa Langko, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. | /Dokumentasi Yayasan Peduli Anak

Bertemu anak jalanan

“Saya memilih Lombok karena alamnya indah dan masyarakatnya ramah,” kata pria kelahiran Baarn, 15 Maret 1981 itu.

Setelah tiba di Lombok pada 2004, ia merasa terpesona dengan pemandangan alam. “Tapi sedih melihat anak jalanan,” ujarnya.

Chaim menemukan anak-anak ngamen di pinggir jalan. Ada pula jaringan mafia yang membawa anak-anak itu setiap hari untuk meminta-minta.

Sejak awal ia tak mau memberikan uang kepada anak jalanan. Menurut dia, itu cara yang tak mendidik.

Ia malah bertanya, "Kalian mau sekolah?". Pertanyaan tersebut dijawab ya oleh anak-anak jalanan yang ia temui.

Ia tak tega. Lalu, berinisiatif membawa anak-anak itu ke sekolah terdekat. Tapi pihak sekolah menolak. Salah seorang guru memberi tahu Chaim, kalau ingin memasukkan anak-anak ke sekolah, harus ada biayanya.

"Saya memilih Lombok karena alamnya indah dan masyarakatnya ramah."

Chaim Fetter

Baginya, kondisi ini sangat ironis, karena di negara asalnya, setiap anak bisa sekolah gratis sampai perguruan tinggi. "Pemerintah Belanda sangat tegas menindak orang tua yang menelantarkan anaknya," katanya.

Tanpa berpikir panjang, Chaim memutuskan membiayai seluruh kebutuhan anak-anak itu. Dari biaya sekolah, buku, hingga kebutuhan sehari-hari.

Setelah itu, Chaim pulang kembali ke negaranya.

Di Negeri Kincir Angin, ia bertanya perkembangan anak-anak yang ia biayai pada salah seorang guru di Lombok. Semuanya antusias belajar. Chaim puas.

Dari situ, ia tertarik terjun ke dunia pendidikan. Ia meyakini pendidikan adalah kunci masa depan anak.

Jual-beli barang bekas

Masa kecil Chaim tak sepenuhnya bahagia. Saat berusia enam tahun, orang tuanya bercerai. Ia tinggal bersama ibunya.

"Ibu saya miskin. Ia tak mampu membelikan saya pakaian," katanya. Pemerintah sampai memberikan mereka bantuan untuk kebutuhan hidup.

Di usia yang sama, Chaim mulai mencari uang. Ia membeli barang bekas di pasar lokal dan menjualnya dengan harga yang lebih mahal.

Pada usia 13 tahun, ia membangun situs sendiri. Empat tahun setelahnya, Chaim menjalankan ecommerce yang sepenuhnya ia miliki.

"Tapi saya belum merasa bahagia, meski banyak uang," katanya.

Pria yang hobi lari dan diving itu terpikir untuk memberikan jalan keluar kepada anak jalanan di Lombok. Pada 2005, bersama istrinya, Martina Natratilova, Chaim membangun tempat penampungan untuk mereka.

Chaim menjual perusahaannya di Belanda. Hasil penjualan sepenuhnya ia pakai untuk membeli lahan seluas 1,5 hektare di Desa Langko.

"Saya ingin membuat sekolah, panti asuhan, dan tempat bermain," ujarnya.

Pada 2006 ia mendirikan Yayasan Peduli Anak. Menurut Chaim, yayasan ini adalah lembaga swadaya masyarakat terpadu. Tak hanya memberikan rumah dan pendidikan, tapi juga layanan kesehatan bagi anak-anak kurang beruntung.

Dua tahun setelah pendiriannya, yayasan ini mulai beroperasi.

Anak-anak yang masuk harus melalui seleksi, apakah benar-benar tidak mampu. Beberapa anak juga direkomendasikan oleh Dinas Sosial.

Di Sekolah Dasar Peduli Anak, mereka belajar sesuai kurikulum nasional. Di asrama, mereka mendapat bimbingan konselur tentang perilaku, agama, dan sopan santun.

“Kami juga menyediakan banyak aktivitas di luar sekolah, seperti olahraga, keterampilan, kesenian, dan kelas ekstrakurikuler lainnya," kata Chaim.

Saat ini Chaim mempekerjakan sekitar 50 karyawan yang berasal dari Lombok untuk mengelola yayasan tersebut. Kini Yayasan Peduli Anak mengasuh 100 anak dan 200 anggota Family Care.

Pada 2013, Chaim sempat pindah ke Jakarta. Ia melakukan apa yang pernah dilakukan di Belanda, mendirikan perusahaan jual-beli barang bekas. Nama situsnya, Jualo.com.

Situs ini masih berjalan sekarang. Tapi Chaim lebih banyak menghabiskan waktunya di Lombok. "Yayasan ini membuat saya bahagia," katanya.

Pemerintah daerah NTB menganggap apa yang dilakukan Chaim berhasil. Karena itu sejak beberapa tahun terakhir, ia mendapat tawaran untuk bekerja sama dan memperoleh subsidi dari Dinas Sosial.

Ia juga banyak mendapat donasi dari masyarakat di Belanda. Terhitung ada tujuh ribu donatur dari sana. Tentu saja, Chaim juga menyisihkan uang dari perusahaan untuk yayasan.

Tak kurang dari satu jam kami berkeliling di yayasan, lantas Chaim meminta izin untuk melanjutkan pekerjaanya.

Setelah itu, selang beberapa hari kami berjumpa, gempa berkekuatan tujuh skala Richter menguncang Pulau Lombok pada Minggu (05/08/2018).

Via aplikasi WhatsApp, Chaim menulis singkat, “Beberapa bangunan yayasan kami rubuh."

Chaim Fetter, pendiri Yayasan Peduli Anak, di Desa Langko, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, beberapa waktu lalu.
Chaim Fetter, pendiri Yayasan Peduli Anak, di Desa Langko, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, beberapa waktu lalu. /Dokumentasi Yayasan Peduli Anak
BIODATA Diperbarui: 01 Februari 2019

Chaim Fetter

Tempat, tanggal lahir:
Baarn, Belanda, 15 Maret 1981

Nama istri:
Martina Natratilova

Pendidikan:

  • SD: Soest, Belanda
  • SMP: Stedelijk College Eindhoven, Belanda
  • SMA: Stedelijk College Eindhoven, Belanda
  • Open University in the Netherlands (Bidang Studi Psikologi dan Psikiatri)

Karier:

  • Founder & Chairman Peduli Anak Foundation (2005-Saat ini)
  • Founder & CEO Jualo.com (2013)
  • Founder & CEO Pan Pacific Consultancy Pte Ltd Singapore (2008)
  • Co-Founder & Director Dwars Netherlands (2000)
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR