David Tarigan berpose untuk Beritagar.id di kantor Irama Nusantara, Jakarta Selatan, Selasa (03/09/2019)
David Tarigan berpose untuk Beritagar.id di kantor Irama Nusantara, Jakarta Selatan, Selasa (03/09/2019) Bismo Agung / Beritagar.id
FIGUR

David Tarigan, jihad pengarsipan, dan mental berbagi

David Tarigan beken dalam kancah musik independen lokal. Kecintaannya pada musik Indonesia dari masa lalu membuatnya bersemangat melakukan kerja pengarsipan.

Lewat David Tarigan saya baru tahu kalau Koes Plus pernah bikin lagu cadas. Judulnya "Pentjuri Hati", termuat dalam album Volume 2 yang dilempar ke pasar oleh label Mesra Records. Album sama yang mengekalkan lagu patah hati nan bikin ambyar, "Kisah Sedih di Hari Minggu" dan "Hidup yang Sepi".

"Hey, kau pencuri hati, hey/Hey, kau membuat aku sedih," begitu sepenggal lirik "Pentjuri Hati". Diantar dengan lengkingan vokal Yok yang seakan-akan ingin mematahkan tiang-tiang penyangga langit. Sebuah determinasi yang bersambaran dengan bunyi 'mentah' dawai gitar Tonny nan beriring efek suara seadanya.

"Panbers punya lagu-lagu super keren dan mengagetkan juga," ujar David lagi. Kini pemuda asal tanah Karo, Sumatra Utara, itu mengutip band asal Surabaya, Jawa Timur, Pandjaitan Bersaudara (Panbers) yang dua di antara lagu masyhurnya adalah "Gereja Tua" dan "Terlambat Sudah".

"Di album pertama (Panbers) itu," kata David mengacu album Volume 1 yang dirilis pada 1972 oleh Mesra Records, "ada lagu 'Haai', 'Djakarta City Sounds'. Itu kayak Jane's Addiction".

Jane's Addiction band asal Los Angeles, Amerika Serikat. Baru terbentuk pada 1985. Satu dasawarsa lebih lambat dari 'temuan' gagrak bunyi yang ditawarkan Panbers pada sejumlah karyanya.

David Tarigan tidak cuma menyinggung Koes Plus dan Panbers. Banyak lagi dia kasih informasi. Kepingan-kepingan penerangan dari hasil konsistensinya selama bertahun-tahun mengulik lagu-lagu Indonesia dari masa lalu yang keberadaannya sulit dijejaki.

Namun, kesenangan David pada lagu-lagu lawas itu tak sekadar berhenti di garis seorang penikmat. Dia melangkah lebih jauh dengan bertolak pada visi personal: membagi yang dia suka agar orang lain merasakan apa yang dia rasakan. Dengan kredo itu, dia melakoni kerja yang di negeri ini tak pernah berlaku sistematis: pengarsipan.

"Kami bukan pengarsip profesional. Kerja karena insting-insting kebutuhan aja. Jalanan banget deh," ujarnya mengenai aktivitasnya bersama para koleganya--Christoforus Priyonugroho, Toma Avianda, Alvin Yunata, Norman Ilyas, Dian Wulandari, dan Mayumi Haryoto--di Irama Nusantara.

Jalan Surabaya, sebuah mula

Irama Nusantara merupakan sebuah yayasan yang mengupayakan pendataan dan pengarsipan musik populer Indonesia yang beredar sejak mula abad ke-20. Ia berwajah situs web. Orang bisa leluasa mendengarkan pengaliran (streaming) musik-musik yang sudah mereka digitalisasi lewat situs tersebut.

Meski David meyakini koleksi lagu tertua Indonesia yang Irama Nusantara punya bertarikh 1920-an, tapi dia menukil sinyalemen bahwa rentang terjauh rekaman di negeri ini berangka tahun 1904. Itu zaman sebelum Perang Dunia Pertama pecah dan VOC sudah lama bangkrut karena, salah satunya, korupsi.

Kalau anda menengok laman yang beroperasi sejak 2013 itu, sila ketik Tio Tek Hong pada mesin pencarinya. Lis rekaman perusahaan milik saudagar Tionghoa di Pasar Baru, Tio Tek Hong, bakal tersaji. Semua lagu dimulai dengan woro-woro, "terbikin oleh Tio Tek Hong Batavia".

Mendiang penulis dan pengamat ihwal musik Indonesia, Denny Sakrie, pernah mengatakan bahwa Tio Tek Hong adalah label rekaman pertama di Indonesia. Bisnisnya dimulai pada sekitar 1904.

Setahun kemudian, label itu mulai mengeluarkan piringan hitam. Lagu-lagunya berkisar pada stambul, keroncong, gambus, kasidah, musik India, swing, hingga irama melayu.

"Semua susah dapatnya. Kebanyakan (milik) pribadi," kata David tentang rekaman-rekaman lama dalam bentuk piringan hitam. "Yang kita punya kebanyakan dari koleksi Haryadi Suadi. Waktu beliau masih hidup, saya minta izin. Dia bilang boleh. Lalu dia meninggal. Kami lalu kontak keluarganya. Mereka membolehkan".

Haryadi dosen David waktu berkuliah di Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Teknologi Bandung (ITB). Dia dikenal sebagai pionir grafis kontemporer Indonesia.

Sebelum dipertemukan dengan koleksi milik Haryadi--pun bersua dengan "teman-teman yang sepikiran" waktu di Bandung--David keluyuran sendiri untuk mencari plat-plat. Kebiasaan yang akarnya melesak dalam hingga ke masa kanaknya.

"Waktu SD saya tumbuh dengan musik 1960-an dari luar. The Beatles. The Rolling Stones," ujar pria kelahiran 1977 itu. "Musik mainstream 1980-an tidak menggugah saya. Saya lebih suka dari yang 1950-an sampai 1970-an. Jadi itu sebenarnya selera musik saya. Waktu itu belum punya akses untuk menemukan band-band keren 1980-an".

David Tarigan berpose untuk Beritagar.id di kantor Irama Nusantara di Jakarta Selatan, Selasa (03/09/2019)
David Tarigan berpose untuk Beritagar.id di kantor Irama Nusantara di Jakarta Selatan, Selasa (03/09/2019) | Bismo Agung /Beritagar.id

Eksposur pertamanya ke musik lawas adalah koleksi kaset orang tuanya yang hanya 10. Di antaranya terdapat kompilasi The Beatles dan Simon and Garfunkel. Koleksi baru bertambah kalau ada famili orang tuanya yang datang ke rumah dan membawa kaset lain.

Beriring waktu, dahaga David akan musik lawas kian kuat. Problemnya, pilihan tidak banyak. Undang-undang baru tentang hak cipta bikin peredaran kaset bajakan raib. Namun, kaset-kaset baru berlisensi masih miskin pilihan. Sementara opsi lain, cakram padat atawa CD, terlampau mahal.

Solusi datang dari tetangganya, seorang kolektor barang antik, yang menyebut nama Jalan Surabaya. Di sana, dia bilang, David bisa beroleh piringan hitam.

"Akhirnya bisa ke sana saat ulang tahun. Tahun 1989. Habis makan sekeluarga, ramai-ramai ke Jalan Surabaya. Beli piringan hitam untuk pertama kali. The Faces - Oh La La, Jefferson Airplane - Crown of Creation, The Knack - Get the Knack, dan The Edward Winter Group," ujarnya. "Padahal belum punya pemutarnya".

Hasil belanja itu memang belum menyediakan apa yang kemudian menjadi bagian dari gairahnya yang meletup-letup akan musik Indonesia dari masa lalu. Namun, setelah membeli pemutar bermerek Technics, David jatuh cinta pada suara yang dihasilkan piringan hitam. Itu yang membuatnya tak bosan menyambangi Jalan Surabaya.

Salah satu berkat yang bisa diberikan kawasan itu adalah kebebasan untuk coba-coba dengar rekaman. "Berharap ada yang nyangkut," katanya. Dari nama-nama familiar seperti Koes Plus dan Panbers, dia akhirnya menemu, "bongkahan-bongkahan permata". Di antara permata itu adalah "Pentjuri Hati" yang terlampir dalam album Volume 2.

"Gila ini, liar banget Koes Plus," katanya mengenang temuan saat dia di sekolah menengah. "Enggak kayak yang, 'Hidupku selalu sepi...', enggak kayak Bee Gees Jawa. Ada juga lagu-lagu liar yang primitif. Itu cinta pertama saya terhadap hal-hal seperti itu."

Indonesia Jumawa

Begitu menemukan rekaman-rekaman 'klasik' itu, David seperti menemukan dirinya. Dia pun sudi membagi pengetahuan baru itu kepada kawan-kawannya. Amalan sedemikian terus berlanjut hingga dia bertolak ke Bandung untuk kuliah di FSRD ITB.

Namun, kebuntungan menyelinap di tengah situasi yang baginya menguntungkan tersebut. Informasi sangat terbatas. Sementara, bukan pekerjaan mudah pula mencari majalah musik, Aktuil, untuk mengais data.

Karena itu, setelah David bertemu dengan "teman-teman sepemikiran" kala berkuliah di FSRD ITB, mereka terpikir untuk meluaskan kemungkinan berbagi informasi lewat medium yang saat itu sudah mulai mudah diakses: situs web.

"Saat itu akhir '90-an, hampir semua mahasiswa di Bandung punya email. Warnet udah ada di mana-mana. Kita udah tahu cara buat website. Terutama teman saya, Toma. Akhirnya buat website yang menjadi prototip. Indonesia Jumawa. Saya masih ingat landing page-nya gambar Gito Rollies dan Deddy Stanzah di (album) Higher and Higher," ujar David.

Pada rentang 1999-2000, mereka rajin mengalihformatkan tiap rekaman komersial Indonesia dalam bentuk kaset dan piringan hitam yang mereka punya untuk diunggah di situs baru tersebut. Namun, karena kapasitas terbatas, hanya "audio snippet" saja yang tampil selain visual sampul dan teks.

"Buat senang-senang. Karena ide dasarnya pengin ada obrolan. Dengan ngumpulin semua yang ada--data--kami bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi. Urutannya seperti apa, mapping-nya seperti apa," katanya. "Tapi (akhirnya) terbengkalai karena kami juga ada kesibukan nge-band, berkarya sebagai mahasiswa seni rupa, liar-liaran".

David pernah tergabung sebagai gitaris kelompok musik indie yang jadi kultus, The Jonis. Sepak terjangnya sempat terekam dalam dua album kompilasi, Ticket to Ride: A Benefit for Your Local Skate Park dan O.S.T Janji Joni. Salah satu aksi panggungnya yang layak diingat adalah ketika The Jonis tampil di GOR Saparua yang legendaris itu bersama para pemandu sorak (cheerleaders).

Selain itu, David juga mengelola majalah Ripple, terbitan yang sesungguhnya ditujukan sebagai media promosi untuk 347/UNKL, jenama pakaian Dendy Darman. Konten Ripple mengulas subkultur, seperti misalnya musik di luar arus utama. David di sana bersama--di antaranya--Satria Nur Bambang (Pure Saturday, Teenage Death Star), Arian Arifin (Seringai, Puppen), Robin Malau (Puppen).

Aksara Records

Proyek Indonesia Jumawa terlantar hingga paruh akhir dasawarsa 2000-an. Itu juga setelah ada kegairahan baru dari mancanegara akan musik Indonesia dari masa lalu yang sudah dilupakan khalayak luas. Negara-negara yang jauh itu mulai membicarakan musik Indonesia masa lalu. Kadang, mereka berkorespondensi dengan David.

David Tarigan berpose untuk Beritagar.id di kantor Irama Nusantara di Jakarta Selatan, Selasa (03/09/2019). Pada Latar belakang adalah stick notes berisi jalinan kronologi perjalanan Harry Roesli.
David Tarigan berpose untuk Beritagar.id di kantor Irama Nusantara di Jakarta Selatan, Selasa (03/09/2019). Pada Latar belakang adalah stick notes berisi jalinan kronologi perjalanan Harry Roesli. | Bismo Agung /Beritagar.id

Sebelumnya, pada paruh awal 2000-an, David Tarigan dan Hanindito Sidharta mulai mencoba merintis produksi kompilasi lagu-lagu Indonesia lama yang terlupakan dan merilisnya. Semacam ekstensi kegiatan David selama di Bandung. Aktivitas berlangsung di studio milik Hanindito, Pendulum.

"Kami udah ke mana-mana. Datang ke keluarganya Irama Records. Akhirnya kepikiran, berat juga. Masalah HAKI, atau masalah master udah enggak ada. Enggak kebayang kalau mau buat kompilasi tapi satu lagu clearance-nya sesibuk itu," ujarnya.

Berbarengan dengan upaya itu, kancah musik independen di Jakarta tengah menghangat, terutama dengan keramaian yang terjadi di Blues Bar--biasa disebut BB's, sebuah lokasi 'nyantai' tiga lantai di Jalan Sidoarjo, Menteng, yang kini sudah tutup.

"Awalnya ada DJ, mainin lagu-lagu yang kita suka. Lama-lama ada band. Lama-lama semua lantainya dipakai. Lantai bawah, band-band yang lebih low-key, lebih akustik kayak White Shoes versi awal waktu belum ada drum. Di lantai dua, band-band yang crowd-nya bisa slam kayak The Upstairs. BB's yang beneran, butuh detail, kayak Sajama Cut, di atas," kata David mencoba melukiskan suasana di BB's kala itu.

Telinga peka, dan naluri tajam seorang 'pengarsip', menuntun David untuk membujuk Hanindito. Dia tak ingin musik yang dianggapnya berpotensi besar itu raib begitu saja. Seperti sebelum-sebelumnya. Setelah Hanindito luluh, muncullah kompilasi album yang hingga sekarang masih dibicarakan, JKT:SKRG.

"Dulu enggak (pengin) macam-macam. Hanya ingin membagi sesuatu yang kita suka ke orang banyak. Sama-sama belajar. Karena kita sebenarnya juga enggak tahu apa yang kita kerjain. Hanya dituntun oleh passion. Sampai sekarang, kebanyakan band (yang direkam) juga masih ada," ujar David.

JKT:SKRG menjadi penanda kemunculan Aksara Records pada 2004. Label itu menjadi pintu bagi masuknya band-band yang kini menonjol seperti Seringai, White Shoes and the Couples Company, Sore, Efek Rumah Kaca, The Brandals, untuk menyebut beberapa nama.

Irama Nusantara

Pada 2009, setelah Aksara Records akhirnya gulung tikar, lingkaran 'pengarsip' David mulai berkumpul lagi dan membuat radio daring, Kentang. Stasiun itu memiliki situs web yang menyediakan ruang mengobrol dan terhubung dengan Facebook. Lagu-lagu yang diputar berasal dari katalog Indonesia masa silam.

"Itu yang bikin kami mikir untuk meneruskan Indonesia Jumawa. Bikin pengarsipan, ngumpulin data," kata David.

Beriring waktu, mereka akhirnya bersepakat mendirikan Yayasan Irama Nusantara pada 2013.

Saat saya dan fotografer, Bismo Agung, menemui David di kantor Irama Nusantara, Jakarta Selatan, pada Selasa (03/09/2019), tak terendus aroma 'barang kuno' di ruangan, sebagaimana bayangan banyak orang akan kerja pengarsipan. Di sana-sini hanya komputer. Piringan hitam--fokus mereka saat ini--teronggok di satu tempat. Pada sebuah sisi dinding, barisan stick notes dibariskan berdasar kategori tahun.

"Kami lagi bikin dokumenter Harry Roesli," ujarnya tentang informasi yang menempel di situ.

Setahun-dua setelah Irama Nusantara berdiri, sebuah LSM internasional, Hivos, memberi hibah. Berkat itu pula tim Irama Nusantara berhasil lebih serius mengarsipkan. Sekitar 800 rekaman berhasil didigitalisasi. Pengalaman itu juga teramat berarti bagi perbaikan kerja pengarsipan mereka.

Masalahnya, sumber data masih bersandar pada seleksi pribadi dan perbendaharaan para kolektor. Menurut David, tak mungkin mengandalkan itu terus. Lalu Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) bersedia ulur tangan. Dengan fasilitasi lembaga pemerintah itu, Irama Nusantara mulai percaya diri masuk ke lemari penyimpanan RRI.

"Dia radio paling tua di Indonesia. Pasti banyak arsip atau rekaman yang masih tersimpan. Setelah survei beberapa RRI di Jawa, kami akhirnya memutuskan untuk kerja mengarsipkan di RRI Bandung dan Jakarta," katanya.

David tak bisa menyebut pasti berapa entitas yang sudah tersimpan. Dia hanya menyebut ribuan. Yang terekam pun bukan cuma lagu, tapi iklan atau pengajian, sebagai misal.

Dan karena terbiasa mendengarkan rekaman musik Indonesia baheula, telinga David jadi lebih sensitif dengan irama musik kiwari yang memiliki kesamaan. Malahan, kupingnya pernah memergoki karya kelompok musik Inggris, Whyte Horses, punya kemiripan dengan tembang berjudul "Pasti Kembali" milik grup musik Indonesia pada 1970-an, The Favourites.

Padahal, band Inggris itu baru merilis single perdana pada 2014. Dan itu yang tak sengaja didengar David.

"Saya lagi di Starbucks. Lagi nongkrong. Ada lagu sound-nya kuno. Terus saya (spontan) ikuti. Kok lagunya mirip kayak lagunya The Favourites. Saya pikir, jangan-jangan The Favourites menjiplak. Tapi, kayaknya (lagu) itu retro masa kini. Terus saya pinjam handphone istri saya yang ada Soundhound. Keluar namanya, Whyte Horses," ujar David menyebut aplikasi pendeteksi audio.

David menduga The Favourites sampai ke Inggris lewat perantaraan kolektor plat. Menurutnya, pentolan band itu, Dom Thomas, punya label rekaman yang sering menelurkan ulang "rekaman-rekaman aneh" dari banyak negara.

"Pasti ini kolektor plat-plat internasional," katanya. "Harapannya orang-orang enggak tahu. (Mungkin mereka) enggak tahu di sini banyak kolektor (juga) kali, ya?"

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR