Didik nini thowok

Saat kecil ia tumbuh sebagai bocah kemayu dan sering diolok-olok temannya.

Penulis: Anang Zakaria
Editor: Sorta Tobing
Fotografer: Reza Fitriyanto
06:00 WIB - Jumat, 27 Oktober 2017

0

sebaran
didik nini thowok didik nini thowok didik nini thowok didik nini thowok didik nini thowok didik nini thowok didik nini thowok

Reza Fitriyanto untuk Beritagar.id

Didik Nini Thowok adalah sosok unik. Terlahir sebagai laki-laki, pesonanya justru bersinar ketika memainkan tarian perempuan. Ia menjelajahi feminitas sejak kanak-kanak.

Tarian pertama yang ia mainkan adalah Gambiranom. Tarian klasik gaya Surakarta itu ia pelajari dari Sumiyati, seorang pengajar tari di kampungnya, Temanggung, Jawa Tengah.

Kala itu usianya belasan tahun. Ia jadi keranjingan menari dan bertekad mengabdikan diri untuk dunia tari.

Kini usianya sudah 63 tahun. Didik telah menciptakan lebih dari seratus tarian. Bermula dari Tengkorak Tandak, sebuah tarian kreasi yang ia buat saat meraih gelar Sarjana muda di Akademi Seni Tari Indonesia, Yogyakarta, pada 1977.

Dari situ ia tak berhenti melahirkan tarian baru. "Ada yang dibuat insidental, ada juga untuk kepentingan tertentu," katanya kepada Beritagar.id saat lawatannya ke Surakarta, Ahad (17/09/2017).

Namanya sekarang sejajar dengan para maestro tari se-Nusantara. Rusini (Solo), Ayu Bulantrisna Djelantik (Bali), Retno Maruti (Jakarta), Munasiah Daeng Jinner (Makassar), dan Dariah (penari Lengger Lanang dari Banyumas).

Pada saat kami mewawancarainya, Didik sedang bersiap untuk mementaskan tiga tarian pada acara penutupan Festival Payung Indonesia di Pura Mangkunegaraan. Tak terlihat sedikit pun penat di wajahnya.

Padahal, beberapa hari sebelumnya ia baru saja menghadiri perayaan upacara Kasada suku Tengger di Gunung Bromo, Probolinggo, Jawa Timur.

Usai pementasan di Surakata, Didik harus kembali ke Malang untuk mempersiapkan produksi film dokumenter perjalanan kariernya.

"Saya kan Simatupang, siang malam tunggu panggilan," ujar Didik tentang kepadatan jadwalnya.

Seandainya dulu saya tanggung-tanggung belajar, mungkin tak seperti ini hasilnya

didik nini thowok didik nini thowok didik nini thowok didik nini thowok didik nini thowok didik nini thowok didik nini thowok

Reza Fitriyanto untuk Beritagar.id

Nama lengkapnya Didik Hadiprayitno. Ia lahir di Temanggung, 13 November 1954 dengan nama asli Kwee Tjoen Lian.

Ayahnya peranakan Tionghoa-Temanggung bernama Kwee Yoe Tiang. Ibunya, Suminah, seorang perempuan Jawa asal Cilacap, Jawa Tenggah.

Saat kecil, Didik sakit-sakitan sehingga namanya pun berubah menjadi Kwee Tjoen An. Dalam bahasa Tionghoa, an bermakna selamat. "Jadi, nama saya sebenarnya Slamet," kata Didik sambil tertawa.

Saat menjadi mahasiswa di ASTI, ia pun dikenal dengan nama Didik Nini Thowok. Penyebabnya, seorang mahasiswi senior, Bekti Budi Hastuti, meminta Didik bermain sebagai edan untuk pementasan Nini Thowok pada 1974.

Mula-mula tarian ini dimainkan dua orang. Hastuti berperan sebagai boneka Nini Thowok. Sunaryo, mahasiswa lainnya, sebagai pawang.

Nini Thowok atau Nini Thowong, adalah permainan tradisional di Jawa yang mirip dengan ritual magis jelangkung. Untuk menghilangkan kesan angker, Hastuti - sebagai pencipta tarian ini sebagai syarat ujian meraih Sarjan Muda - meminta Didi berperan sebagai dukun pembawa sesaji.

Tingkah Didi yang genit dan lincah ampuh membuat penonton yang melihat tarian itu tergelak. Belakangan Tari Nini Thowok semakin populer dipentaskan masyarakat di ruang publik.

Para pemainnya berhak menyandang nama Nini Thowok. Termasuk Didik. Jadilah Didik Nini Thowok hingga kini.

Penyanyi favoritnya adalah maestro keroncong asal Solo, Waldjinah. Keduanya sempat berkolaborasi mementaskan Wayang Tiga Kelir. Didik juga membuat tarian yang terinspirasi dari lagu Waldjinah, yaitu Topeng Walang Kekek.
Penyanyi favoritnya adalah maestro keroncong asal Solo, Waldjinah. Keduanya sempat berkolaborasi mementaskan Wayang Tiga Kelir. Didik juga membuat tarian yang terinspirasi dari lagu Waldjinah, yaitu Topeng Walang Kekek.
© Reza Fitriyanto /Beritagar.id

Belajar dari tukang cukur

Sejak usia belia, Didik dikenal sebagai bocah klemak-klemek dan kemayu di sekolah. Tubuhnya kecil dengan gerak-gerik kalem seperti tak bertenaga. Ia sering jadi sasaran olok-olok temannya.

Bahkan di SMA, ketika teman-teman laki-laki hobi berkelahi, Didik memilih melipir dan bergaul dengan teman perempuan.

Di bangku Sekolah Rakyat (kini SD), Didik dikenal sebagai siswa yang piawai melukis. Hingga engkongnya, Kwee Liang Lek, berharap kelak Didik jadi pelukis.

Tapi sejak mengenal tarian Gambiranom, Didik lebih banyak berlatih menari daripada melukis. Ia terlanjur gandrung pada tarian. Tekadnya sudah bulat, ia ingin menjadi penari.

Guru tarinya merentang dari maestro hingga tukang cukur. Asal mau mengajarkan tarian, Didik tak ragu belajar.

Semasa kuliah di ASTI Yogyakarta, ia pernah belajar Legong Bapang Saba dari maestro tari Bali I Gusti Gede Raka Saba asal Gianyar. Tarian ini ia mainkan saat ujian tarian klasik untuk meraih gelar Sarjana Muda tahun 1977.

Setelah menyabet gelar sarjana muda, ia pun tak segan berguru pada penari tradisional Topeng Cirebon, perempuan bernama Sudji, di Palimanan. Jauh hari sebelum kuliah, ia pernah belajar menari Bali dari Sugiyanto, seorang tukang cukur di kota Temanggung.

Banyak tarian ia pelajari. Baik yang berkarakter lelaki maupun perempuan. Ia menguasai tari Kelana dan Lawung yang gagah, juga lakon wayang wong berkarakter laki-laki. Tapi hasilnya tak sebagus ketika menari perempuan.

Pernah suatu kali, Didik menari Lawung. Usai pementasan teman-temannya meledek Didik mementaskan tari humor, Sarapada. Gara-garanya karakter lawung yang gagah berubah menjadi kocak.

Di awal menari karakter perempuan, Didik pun tak lepas dari cemooh. "Dulu saya sering diledek laki-laki kok menari perempuan," katanya. "Kenapa aneh-aneh, bagus juga tidak."

Jengkel, tentu saja. Tapi justru kemampuan tarinya semakin melejit. Celaan orang-orang itu menjadi cambuk yang menyemangatinya belajar lebih tekun tentang tari perempuan.

Didik mengatakan, sejak itu ia ingin memperlihatkan kualitasnya sebagai penari. Ia belajar dari berbagai sumber. Tak hanya dari buku dan dosen di kampus, tapi juga dari video dan penarinya langsung. "Guru di lubang semut pun saya datangi," katanya.

Bagi dia, belajar harus total. Jika ingin hasil maksimal, jangan pernah setengah hati melakukannya. Terbukti kelemahannya dulu, kini berubah menjadi kekuatannya. "Seandainya dulu saya tanggung-tanggung belajar, mungkin tak seperti ini hasilnya," katanya.

Setumpuk penghargaan pernah diraihnya. Ketika Beritagar.id masuk ke Sanggar Tari Natya Lakshita, Yogyakarta, sanggar tari yang ia dirikan pada 2 Februari 1980, dinding kantornya dipenuhi piagam, poster pertunjukan, sertifikat hak cipta dan foto pementasan.

Di depan pintu masuk sanggar sebuah rak kaca berdiri. Isinya vandel penghargaan yang tak kalah banyaknya. Di ruang kerjanya di dalam sanggar terdapat dua ribuan kaset rekaman berbentuk mini DV tersusun rapi di rak kaca.

Menurut Didik, tak kurang dari 800 kaset di antaranya sudah terdigitalkan. Kaset-kaset itu merekam sejarah perjalanan karirnya sejak tahun 1990an. Rencananya, koleksi inilah yang akan menjadi bahan film dokumenter di Malang dalam waktu dekat. "Ini harta karun saya," katanya.

Ia mengatakan tak pernah luput mendokumentasikan pementasannya, baik dalam bentuk foto maupun video. Didik juga menyiapkan perekam suara dalam tiap kunjungan. Fungsinya, ketika bertemu dengan para penari, ia bisa sekaligus mewawancarainya. "Dokumentasi itu penting agar generasi mendatang bisa menikmatinya," kata Didik.

Pada awal dekade 1980, nama Didik terus populer dengan Bengkel Tari Nini Thowok-nya. Jadwal pementasan nyaris tak pernah surut. Dalam sebulan, ia bisa manggung berkali-kali di kota berbeda. Saat itu wajahnya kian sering muncul di tayangan layar kaca. Sampai-sampai pada 1982, ia dinobatkan sebagai pria terpopuler se-Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pada 1985, ia memulai lawatan ke Eropa. Ini sekaligus pementasan pertamanya di luar Indonesia. Ia mengunjungi Belgia, Perancis, Belanda dan Inggris. Di tiap kota yang disinggahi, ia mementaskan beragam tarian tradisional Indonesia dan menggelar workshop tari.

Hasilnya tak terduga, kegiatannya selalu mendapat apresiasi masyarakat kota yang dikunjunginya.

Pada 1990, Didik bergabung dalam tim muhibah kesenian Indonesia dalam peringatan "Satu Abad Migrasi Orang Jawa" di Suriname. Rombongan tim Indonesia dipimpin Soepardjo Rustam (kala itu Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat).

Dalam rombongan itu ada seniman lain, salah satunya maestro keroncong asal Solo Waldjinah. "Dia adalah penyanyi favorit saya," kata Didik tentang Waldjinah. Pertemuan itu membuatnya kian dekat dengan Waldjinah.

Sekitar empat tahun setelah peristiwa itu, mereka berkolaborasi mementaskan Wayang Tiga Kelir. Pementasan pertamanya berlangsung di Simpang Lima, Semarang.

Saking gandrungnya pada keroncong Waldjinah, Didik bahkan mencipta satu karya tari berjudul Topeng Walang Kekek. Tarian itu terinspirasi oleh lagu Waldjinah, Walang Kekek.

Di Pura Mangkunegara Surakarta malam itu, Didik mementaskannya di acara penutupan Festival Payung Indonesia. Tari Topeng Walang Kekek menjadi tarian jenaka yang mengocol perut penonton. Betapa tidak, sejak semula penarinya yang menutup wajah dengan topeng bermuka monyong lincah berjoged disko.

Gelak penonton kian tak tertahan ketika penari berganti topeng bermuka perempuan tua dan berkerudung hijau. Ia berjalan tertatih-tatih. Lalu ketika musik disko diputar dengan cepat ia ikut bergoyang. Musik berhenti, ia tertatih. Mendadak nyala lagi, dan ia bergoyang lagi. Lincah bak anak remaja belasan tahun.

Antara mystical gender dan cross gender

Didik masih ingat suatu peristiwa di New Conservatory Theater, San Fransisco, Amerika Serikat, pada 2011. Saat itu pementasan tari Indonesia bertema "Mystical Gender" digelar.

Seorang penonton, penonton perempuan Indonesia yang menentap di AS, berjalan tergopoh menemui Didik usai mementaskan Tari Beskalan Putri. "Dia melihat aura yang aneh di diri saya ketika menari," katanya.

Tak jelas aura apa yang dimaksud perempuan itu. Didik hanya ingat beberapa detik ketika berada di atas panggung kesadarannya seakan hilang.

Beskalan Putri adalah tarian klasik asal Malang yang sudah ada sejak zaman Kerjaan Singasari. Didik mempelajari tarian itu beberapa tahun sebelumnya dari seorang empu tari, lengkap dengan ritual sebelum melakukannya.

Pada masa lalu, menari memang tak sekadar olah gerak tubuh. Buku Kakawin Nagarakretagama mencatat, Raja Majapahit Hayam Wuruk sempat memainkan tari topeng untuk menghormati leluhurnya ketika mampir ke Candi Singasari.

Setiap tarian, menurut Didik, memiliki jiwa sendiri. Agar jiwa itu hadir, seorang penari harus menjiwai tariannya. Penari Kelana Topeng asal Cirebon, misalnya, kebanyakan adalah perempuan. Gerakannnya gagah dan jauh dari karakter gemulai. "Kalau dilihat, kita tak akan mengira mereka perempuan," ujar Didik.

Begitu juga sebaliknya, ketika melihat Didik menarikan tarian perempuan. Orang akan dengan mudah terkecoh mengira penarinya perempuan. Transformasi dari laki-laki ke perempuan di atas panggung pementasan itu, atau sebaliknya dari perempuan ke laki-laki, yang disebut mystical gender. "Dalam arti seperti (ada pengaruh) mistis," katanya.

Fenomena penari seperti itu, sebenarnya lazim dalam kesenian di Nusantara sejak dahulu kala. Sebutlah ludruk, yang pemainnya lelaki tetapi memerankan perempuan. Pada seni tari, ada Lengger Banyumasan. Dikira leng (lubang) ternyata ngger (lelaki). Dalam tradisi tari topeng Malang ada istilah pawestren. Lalu di Bali ada bebancian.

Sayangnya, ia melanjutkan, tak ada istilah baku untuk mendefinisikan fenomena itu. Selama ini istilahnya terlalu lokal dan hanya dipahami di tempat sekitar kesenian itu hidup dan berkembang.

Didik pun mulai mempopulerkan cross gender sebagai istilah penari perempuan yang memainkan tarian berkarakter laki-laki, atau sebaliknya, laki-laki yang menarikan karakter perempuan.

"Beda dengan di Jepang," katanya. "Saat bilang onnagata orang langsung paham bahwa itu bermakna lelaki yang menari perempuan."

Pada tahun 2000, Didik mendapat beasiswa dari Japan Foundation. Ia mendapat kesempatan selama tiga bulan, dari Oktober hingga Desember, mempelajari tarian Nihon Buyo dan Noh Drama di Jepang.

Selama di Jepang, Didik juga belajar Hagoromo. Tarian Jepang ini berkisah tentang seorang pemancing yang mencuri jubah bidadari. Kisahnya mirip dengan lakon Jaka Tarub dari tanah Jawa.

Pada 2001, sepulang dari Jepang, Didik mengawinkan dua kisah dalam satu tari, yaitu Bedaya Hagoromo.

Bedaya adalah tarian klasik Jawa dan dimainkan sembilan orang penari. Umumnya para penari adalah perempuan. Tarian ini cenderung disakralkan dalam tradisi keraton dan kasunanan pewaris tahta Mataram Islam.

Di awal penggarapan Bedaya Hagoromo, Didik kuatir masuknya penari laki-laki akan merusak fitrahnya. Terlebih lagi, ia membawa unsur Jepang ke dalamnya.

Ia sempat berkonsultasi ke seorang ahli bedaya Keraton Yogyakarta. "Dan dia merestui," katanya.

Sejumlah Bedaya, ia mengatakan, bisa dimainkan lelaki. Bedaya Sinom salah satunya. Bedaya ini berkisah tentang Putri Adaninggar asal Tiongkok dan Putri Kelaswara. "Jadi kalau sekarang saya kolaborasikan dengan Jepang kenapa tidak," katanya.

Pada Desember 2014, Bedaya Hagoromo dipentaskan di Bangsal Kepatihan. Didik mempersembahkan secara khusus pada Sultan Hamengku Buwono X. Selama 43 tahun, sejak ia menginjakkan kaki di Yogyakarta, inilah capaian yang paling berharga baginya. "Saya bisa berbuat sesuatu untuk dipersembahkan pada raja," katanya.

Didik Nini Thowok, maestro tari Indonesia, saat menari di Surakarta, Jawa Tengah, pada Ahad (17/09/2017).
Didik Nini Thowok, maestro tari Indonesia, saat menari di Surakarta, Jawa Tengah, pada Ahad (17/09/2017).
© Beritagar.id / Reza Fitriyanto
BIODATA Diperbarui: 23 Oktober 2017

Didik Nini Thowok

Nama asli:

Kwee Tjoen Lian (nama ini kemudian diganti karena Didik kecil kerap sakit-sakitan)

Nama lengkap:

Didik Hadiprayitno atau Kwee Tjoen An

Tempat, tanggal lahir:

Temanggung, 13 November 1954

Orang tua:

Kwee Yoe Tiang dan Suminah

Saudara :

  • Wiwik (Kwee Gwat An)
  • Tintin (Kwee Tien An)
  • Ninik (Kwee Kiem An)
  • Lilik

Pendidikan :

  • Sekolah Rakyat Masehi Temanggung lulus 1966
  • SMP Negeri 1 Temanggung lulus 1969
  • SMA Negeri 1 Temanggung lulus 1972
  • Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI), Yogyakarta angkatan 1974, meraih gelar Sarjana Seni Tari pada 1983

Pekerjaan :

  • Anggota Bengkel Tari Nini Thowok sejak 1974
  • Asisten dosen ASTI pada 1977
  • Dosen ASTI (ISI Yogyakarta) 1983
  • Pendiri Sanggar Tari Natya Lakshita Yogyakarta pada 2 Februari 1980

Karya :

  • Tari kreasi baru Tengkorak Tandak tahun 1977. Tarian ini dibuat untuk meraih gelar Sarjana Muda di ASTI Yogyakarta
  • Menggarap operet berjudul Sari dipentaskan di TVRI pada 1987
  • Ditunjuk WS Rendra menjadi koreografer drama pertunjukan Oedipus Rex karya Sophocles di Balai Sidang Senayan Jakarta, 24-28 Juli 1987

Lawatan ke luar negeri :

  • Maret 1985 melakukan lawatan pertama ke luar negeri. DIdik mengunjungi Belgia, Perancis, Belanda, dan Inggris
  • Pada 2000, mendapat beasiswa Japan Foundation untuk belajar tarian tradisional Jepang, Nihon Buyo dan Noh Drama. Pada 2011, ia menciptakan Bedhaya Hagoromo, perpaduan tarian tradisional keraton Yogyakarta dan Jepang.

Pementasan :

  • Bengkel Tari Nini Thowok di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta pada 1976
  • Bengkel Tari Nini Thowok di Convention Hall Jakarta pada 1977
  • Bengkel Tari Nini Thowok di Taman Ismail Marzuki Indah Jakarta pada 1979
  • Kolaborasi dengan Warung Kopi Pambors dalam pementasan “Wayang Orang Humor” dan “Ratu Dadi Petruk” di Taman Ismail Marzuki Jakarta 1980
  • Operet “Saya Anak Indonesia” karya Titiek Puspa di Balai Sidang Senayan Jakarta tahun 1987

0

sebaran
Muat lagi