Dipha Barus berpose untuk Beritagar.id di sebuah studio rekaman di Taman Bona Indah, Jakarta Selatan, Kamis (10/10/2019).
Dipha Barus berpose untuk Beritagar.id di sebuah studio rekaman di Taman Bona Indah, Jakarta Selatan, Kamis (10/10/2019). Bismo Agung / Beritagar.id
FIGUR

DJ Dipha Barus dan musik yang menyelamatkan

Dipha Barus pernah mendefinisikan diri sebagai manusia yang terus melangkah maju. Kini, bagaimana dia melihat dirinya?

Dipha Barus pernah dua hari mengalami koma di Rumah Sakit Marinir Cilandak. Tanda dari momen hidup-mati itu tercetak hingga kini di jidatnya sebagai bekas luka. Panjangnya lumayan. Menyerong mulai dari batas rambut hingga nyaris ke alis. Pernah saat berpacaran dengan seseorang, codet itu membuatnya "merasa insecure".

Parut di dahi itu terbentuk lebih dari sewindu silam setelah dia mengalami rentetan peristiwa 'stranger than fiction' dalam jangka waktu sebulan. Satu untaian yang bermula pada sebuah aksi pencurian di parkiran toko pigura di bilangan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.

"Gue habis dari ngedrop playlist (lagu) ke restoran di Kuningan yang gue lupa namanya. Laptop, hard drive eksternal, dan iPod ada di tas," ujarnya mengenangkan pangkal rangkaian.

Setelah menemui klien dimaksud, Dipha mengendon di Halte Hotel Gran Melia, Kuningan. Dia menunggu seorang kawan lama yang berjanji menjemputnya dengan mobil. Waktu akhirnya sang teman tiba, dia memilih duduk di belakang. Tas dia simpan di ruang kaki. Namun, sesampainya di kios tujuan, bawaan itu dia tinggal.

Berbilang menit berlalu ketika dia mendengar bunyi hantaman pada kaca. Gebukan itu beriring teriakan, "Maling! Maling!" Dipha dan kawannya tertegun. Sebentar kemudian, mereka langsung berlari ke parkiran. Tak satu pun barang-barang di kendaraan kawannya hilang kecuali tas milik Dipha.

Dia lemas.

"Setelah itu (melapor) ke pos polisi. (Tapi), dua minggu kemudian, (pas) gue lagi lihat harga-harga laptop di internet di tempat temen gue, gue lihat laptop gue (di daftar jualan). Gue (meyakini itu) karena gue inget ada penyok," katanya.

Dia menyampaikan temuannya kepada polisi. Pun berupaya meyakinkan aparat bahwa laptop keluaran Apple yang ditawarkan di situs jual beli daring itu memang kepunyaannya.

Usahanya berhasil. Polisi lantas menyarankannya untuk berlagak sebagai calon pembeli. Dipha manut, dan sepakat bertemu dengan si penjual. Mereka akur bersua di Botani Square, sebuah pusat perbelanjaan di Kota Bogor, Jawa Barat, untuk bertransaksi. Dipha didampingi reserse.

"Username (si penjual) Kocang. Gue inget banget. Dia ternyata penadah. Pas ketemu, dia nanya gue suka nge-DJ apa enggak. (Soalnya) di dalam (laptop) ada software DJ. Pas buka, ada dua username. Satu kalau enggak salah guest, satu lagi Dipha," ujarnya tentang detail saat rendezvous dengan sang kriminal.

Namun, keriangan itu ternyata cuma mampir. Dua pekan setelah Dipha kembali mendapatkan MacBook hasil menabung selama tiga tahun itu, datang hari yang hampir membunuhnya. Kejadian berlangsung di Jalan Muhammad Kafi, Jakarta Selatan, tepat di hadapan rumah sewaan yang dia huni bersama ibunya.

"Itu hari Selasa juga. Gue lagi nunggu (angkutan) M20. Ada motor trek-trekan. Terus tiba-tiba kayak belok gitu. Kata tukang nasi goreng yang lihat, gue mental sekitar lima meter. Gue masih (bisa) bangun dan teriak, 'Siapa yang nabrak gue?!' Terus gue jatuh (lagi)," katanya.

Kecelakaan itu bukan saja mengancam nyawanya, tapi juga menghancurkan laptopnya. Semua hasil pekerjaannya raib. Arsip-arsip yang kelak ikut menggiringnya menuju pelataran industri musik tak bisa diselamatkan.

"Music saves my life"

Dipha mengisahkan seruas fragmen ganjil dalam hidupnya tersebut dengan perasaan ringan di sebuah studio rekaman di Taman Bona Indah, Jakarta Selatan, Kamis (10/10/2019).

Tepatnya, dia terlihat begitu rileks dan hangat sepanjang wawancara hampir dua jam. Tubuhnya yang berlindung pada hoodie 5 Cuts Tie Dye bercorak psychedelia keluaran Needles, jenama bentukan desainer Jepang berpengaruh, Keizo Shimizu, acap kali berguncang karena tawa: sejenis tawa yang sanggup menyemburkan apa pun dari rongga dada.

Kali ini dia tentu saja bukan lagi penyusun daftar putar lagu kelas bulu. Pria berusia 33 itu sudah tergolong disc jockey atawa DJ diperhitungkan. Dua kali dia dapat Paranoia Awards--penghargaan mulia bagi pelaku industri electronic dance music (EDM) tanah air--sebagai DJ terbaik, yakni pada 2014 dan 2018.

Laman TOP100DJ Indonesia pada 2018 dan 2019 selalu menempatkannya dalam posisi tiga teratas.

Dipha Barus berpose untuk Beritagar.id di sebuah studio rekaman di Taman Bona Indah, Jakarta Selatan, Kamis (10/10/2019).
Dipha Barus berpose untuk Beritagar.id di sebuah studio rekaman di Taman Bona Indah, Jakarta Selatan, Kamis (10/10/2019). | Bismo Agung /Beritagar.id

Selain itu, dalam rentang 2016-2018, kiprahnya sebagai produser juga diakui AMI Awards, penghargaan tertinggi industri musik Indonesia. Dipha mendapat penghormatan pada kategori Karya Produksi Dance/Electronic Terbaik baik lewat "No One Can Stop Us" bersama Kallula, maupun lewat "All Good" bersama Nadin Amizah.

Di sektor Karya Produksi Rap/Hip-Hop Terbaik, penghargaan datang lewat "Made in Jakarta" bersama Adrian Khalif, serta "Decide" bersama Ramengvrl, A. Nayaka, dan Matter Mos. Selain itu, "Money Honey (Count Me In)" yang menampilkan Monica Karina beroleh Karya Produksi Terbaik-Terbaik dan Karya Produksi Elektronika Terbaik.

Panggung-panggung musik seperti Djakarta Warehouse Project (DWP), We The Fest (WTF), Synchronize Festival, atau Sunny Side Up Tropical Festival sudi sedia slot buatnya.

Dan Single terbarunya bersama Monica Karina, "You Move Me", dirilis oleh Ultra Records, label terkemuka dunia. Perusahaan rekaman yang berbasis di New York, Amerika Serikat, itu kesohor menaungi sejumlah jagoan EDM seperti Tiesto, Steve Aoki, Armin Van Buuren, atau David Guetta.

"Label internasional (seperti Ultra Records) memperluas pendengar. Sebelum Ultra, gue enggak tahu gimana cara masuk Billboard, (atau) radio kampus di luar negeri. (Dan) mereka suka banget membawa keindonesiaan gue. Mereka bilang itu otentik," ujarnya.

Beberapa titik pencapaian itu bukan berakar dari angan-angan. Dipha--yang dilarang orang tuanya untuk menjadi musikus--senantiasa menjaga hasratnya akan musik lewat upaya, seperti seorang pemahat yang telaten mengukir kayu lalu pelan-pelan mengenali wujud rancangannya.

Makanya, waktu berkuliah di jurusan desain grafis di Limkokwing University, Selangor, Malaysia, pada 2004, dia tak henti berusaha untuk memperkaya kecakapan bermusik lewat jalan autodidaktik. Dengan mengandalkan internet, dia fokus belajar produksi musik dan musik elektronik.

Pilihan itu merupakan pengaruh dari kesan pertamanya waktu menyambangi satu ajang musik dansa underground di Singapura pada awal dekade 2000-an, periode ketika drum and bass (DnB), sejenis langgam dalam EDM, lagi ramai.

"Kelas tiga SMP lagi ada acara ke sana. Nama party-nya Guerrilla apa gitu. Di situ orang moshing, loncat-loncat. Tapi, enggak ada band, cuma satu orang (penampil). Banyak anak skate, dan gue lagi really into skateboarding," ujarnya.

Kesenangan itu berlanjut. Ketika SMA, dia mulai rajin ke acara rave dan warehouse bawah tanah Jakarta yang dipelopori oleh Anton Wirjono sejak pertengahan 1990-an di Jakarta Pusat.

Anton kesohor sebagai salah satu pendiri kolektif Future 10 dan paguyuban musik elektronik berwibawa, Agrikulture. Pada dua entitas itu, Dipha pernah menjadi bagian.

Namun, pada masa sekolah menengah itu pula, Dipha dikuasai pelbagai zat psikotropika. Pada dasawarsa 1990-an, memang banyak anak muda Jakarta dicengkeram narkoba. Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) bahkan menerima pasien-pasien dari level sekolah dasar hingga sekolah menengah atas.

"Gue bicarakan dengan bokap (masalah ketergantungan itu). Dia marah, dan marahnya keren. 'Saya bapakmu, dan saya menjalankan fungsi sebagai bapak. Saya mohon kerja sama, jangan menyusahkan masing-masing'. Gue (lalu) dimasukkan ke retret--kayak rehabilitasi--di Sukabumi. Beberapa bulan (di sana)," kata pria yang pernah bekerja sebagai kasir dan customer service di Toko Buku Aksara pada 2008-2009. .

Yang paling Dipha ingat saat menjadi junkie adalah perasaan jauh dari esensi musik. Maka itu, dia bersyukur ketika album Screamadelica rilisan grup Skotlandia, Primal Scream, yang dia dengarkan pada suatu hari di Kuala Lumpur, Malaysia, menyadarkannya. Saat itu, dalam keadaan sadar, dia bisa menghayati keindahan matahari terbit seperti ketika dia menikmatinya sambil mabuk. Dia lalu tobat.

Dipha Barus di sebuah studio rekaman di Taman Bona Indah, Jakarta Selatan, Kamis (10/10/2019)
Dipha Barus di sebuah studio rekaman di Taman Bona Indah, Jakarta Selatan, Kamis (10/10/2019) | Bismo Agung /Beritagar.id

"Gue enggak bilang itu masa gelap, (tapi sekadar bagian dari) proses pertumbuhan. Itu sangat-sangat manusiawi. (Akhirnya) gue merasa (narkoba) enggak cocok buat tubuh dan proses berhidup. Sekarang enggak ada tuh (pakai narkoba). Gue (bahkan enggak) minum alkohol" ujar sosok yang kini malahan telah menjadi vegan.

Ayah, musik fisik, meditasi

Gaya woles pria berdarah Karo, Sumatra Utara, itu dalam menyikapi hidupnya menjadi cermin dari berbagai permutasi gagasan dan pengalaman yang dia cerap sejauh ini. Di antara yang menonjol adalah sumbangan sang ayah dalam urusan kompas estetika dan etika pada dirinya.

Sebagai pemamah teologi kristen, ayah Dipha, yang mengabdi di Gereja Bethel Indonesia (GBI) Mawar Saron, Kelapa Gading, Jakarta Utara, terbiasa dengan wacana ketuhanan. Namun, tak berhenti di situ, dia juga membagi gagasan mengenai pentingnya sikap menghargai manusia dan faedah musik sebagai pendongkrak daya hidup.

"Gue lupa dia pendeta muda (Pdm.) atau pendeta pembantu (Pdp.). Tapi, gue enggak nganggap (kami) relijius. Enggak terlalu fanatik. (Dia) masih menjunjung tinggi kemanusiaan. Kayak misalnya, (gue mempertanyakan) ada pemuka agama ngomong apa, dia jawabnya, 'manusia dia, kan, bukan Tuhan?' Buku-buku yang didoktrin ke gue itu buku kemanusiaan, bukan yang relijius banget," ujarnya. "Gue baru nyadar pas gue udah gede".

Di telepon selulernya, Dipha rajin mencatat semua pesan sang ayah yang masih bisa diingatnya. Di kala butuh, dia tinggal menengoknya lagi. Termasuk ketika saya menanyainya tentang petuah yang paling menancap.

"Ini dia banget, nih. Dia bilang, 'lo jangan lupa kalau berdoa atau merem ngucapin terima kasih ke diri lo bilang, makasih udah buat jiwa ini tersenyum'," katanya menirukan wejangan mendiang bapaknya. "Dia suka bilang, kalau mau tempat paling tenang di Jakarta, ya di kuburan".

"Dia pernah juga bilang kayak gini. 'Bang, yang keren itu bukan orang kaya, tapi orang yang punya taste. Kalau lo banyak duit, tapi enggak punya taste, enggak kelihatan (kaya). Dari awal seharusnya kita sadar membentuk taste kayak apa'," ujar Dipha mengenangkan.

Dengan posisi ayahnya, wajar ketika Dipha tidak sekali-dua ikut meramaikan kegiatan musik gereja. Bukan hanya di Jakarta, kota kelahirannya, tapi pula Maluku. Dipha sempat menyanyi sebagai bagian dari Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) di Ambon saat masih awal sekolah dasar.

"Gue belajar banyak (dari main musik di gereja). Itu bawa pengaruh ke musik gue. Untuk pemilihan chord, gue lebih suka yang gospel. Dulu gue suka banget sama Stevie Wonder. Ke gereja juga dengernya chord yang sama. (Akhirnya musik gereja) udah kayak di otak gue secara langsung," kata penyuka Ennio Morricone dan Ryuichi Sakamoto itu.

Namun, Dipha tak cuma terpapar musik gereja, sebenarnya. Tumpukan kaset ayahnya serta pergaulannya dengan David Tarigan, seorang sepupu dengan pengetahuan musik nan kaya dan di belakang hari turut mendirikan Yayasan Irama Nusantara, meluaskan referensinya.

Sang ayah--yang wafat pada 2007--mengenalkannya pada "The Beatles yang The White Album dan semua karya Quincy Jones". Ayahnya juga "tiap weekend" sering mengajaknya ke sejumlah toko kaset dan pelat terkemuka Jakarta seperti Musik Plus Sarinah, Duta Suara Sabang, dan Jalan Surabaya. Itu membuka jalan Dipha ke khazanah musik lebih lapang.

Untuk lokasi terakhir disebut itu, kenangan tersolidnya justru bersama David Tarigan. Dia selalu bertanya, dan David selalu memberikan arahan. "Lo harus dengerin ini, nih," kata Dipha menjiplak ucapan sepupunya. "(Dia kasih unjuk musik) surf rock, terus Indonesian psychedelic. 'Pergi Tanpa Pesan' waktu masih dibawain Nina Kirana. Bimbo yang gue tahu relijius tapi bawain 'Light My Fire'".

Dipha Barus memasang gaya untuk fotografer Beritagar.id, Bismo Agung, di sebuah studio rekaman di Taman Bona Indah, Jakarta Selatan, Kamis (10/10/2019).
Dipha Barus memasang gaya untuk fotografer Beritagar.id, Bismo Agung, di sebuah studio rekaman di Taman Bona Indah, Jakarta Selatan, Kamis (10/10/2019). | Bismo Agung /Beritagar.id

Selain terpapar musik, Dipha juga mencoba mulai bermeditasi pada sekitar 2011-2012 setelah bergabung dengan Agrikulture. Ketertarikan itu timbul tanpa sengaja. Namun, dia merasa nyaman dan seperti diingatkan tentang tujuan hidupnya, yakni bisa berbagi energi yang baik. "Gue bisa ketawa atau senang for no reason. Tubuh enak, kerja enak, tidur enak," ujarnya.

Lalu, dia memutuskan untuk belajar lebih jauh dengan Reza Gunawan, pakar penyembuhan holistik. Melaluinya, Dipha tahu tubuhnya mampu didorong untuk menyembuhkan diri dengan cara tertentu. Dia juga akhirnya belajar metode untuk menyembuhkan trauma.

"Semua trauma gue hilang. Trauma kecelakaan, atau trauma laptop hilang," katanya.

Dalam fase lanjutan, sekitar 2015 atau 2016, Dipha mempelajari terapi penyembuhan dengan bunyi atawa sound healing. Konsepnya adalah, ada frekuensi suara yang dipercaya punya kekuatan menyembuhkan, dan itu bisa dimasukkan ke dalam musiknya. Dia memang tak yakin betul dengan daya tersebut. Namun, frekuensi-frekuensi itu sudah dia terapkan sejak menciptakan "No One Can Stop Us" pada 2016.

"Liriknya juga (bersinggungan dengan) mindfulness," ujarnya menukil istilah yang ngetren di kalangan kelas menengah perkotaan.

Dengan serba pengaruh dan kesadaran batin itu, wajar jika album mendatangnya--yang dijadwalkan rilis pada kuartal kedua 2020--terinspirasi dari buku berjudul Inner Engineering karya Jaggi "Sadhguru" Vasudev, seorang penulis sekaligus mistikus India.

"Salah satu di bukunya, (Sadhguru) bilang kayak gini: yang penting selama kita berproses dalam hidup adalah bukan untuk menjadi manusia super, tapi menyadari bahwa being human is super," kata Dipha mengutip salah satu pokok pikiran Sadhguru.

Dalam perbincangan sore itu, ketika ditanya apa patokan keberhasilannya, Dipha tak mengacu kepada capaian komersial. Sukses adalah ketika karyanya berdampak pada para pendengarnya. Dan pada lagu pertama dan terbarunya, dia mendapat pengalaman sedemikian.

"Pernah ada cewek message kayak gini (via media sosial): Kak, gue enggak jadi bunuh diri gara-gara 'You Move Me'. Waktu 'No One Can Stop Us', pernah ada bapak-bapak yang sebenarnya enggak pernah ke klub ngucapin terima kasih karena lirik (lagu itu) kena buat dia yang lagi bankruptcy," ujarnya.

Terasa seperti menggemakan pekerjaan ayahnya sebagai penyelamat jiwa?

"Kata nyokap, gue kayak pendeta yang menyelamatkan orang. Tapi, message dari gue lebih universal," katanya.

***

Catatan redaksi: judul telah mengalami perubahan

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR