Dokter Syarief Alwi Maruapey berpose untuk Beritagar.id di Restoran Dua Nyonya, Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (8/5/2019).
Dokter Syarief Alwi Maruapey berpose untuk Beritagar.id di Restoran Dua Nyonya, Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (8/5/2019).
FIGUR

Dokter Syarif Alwi, Luis Milla, dan pembalap kelas teri

Prinsip dr. Syarif Alwi Maruapey jitu. Bekerja dengan ikhlas, dan yakini hasilnya bakal luar biasa. Tecermin pada jejak prestasinya sejak masih jadi atlet.

Pemilik cerita berikut Syarif Alwi Maruapey. Laki-laki berusia 63 yang tahu bergaya. Wajahnya tak retak dipalu zaman. Tetap memakai kumis varian chevron--berbentuk huruf V terbalik--yang berpatron pada Tom Selleck, aktor nan jadi beken lewat serial televisi lawas Magnum, P.I.

Tampilan klasik itu disangga bretel--atawa suspender--melewati bahu. Menjadi aksen cermat bagi tubuh yang seakan-akan menampik pergantian era. Namun--berani bertaruh--sulit bilang tongkrongannya kuno. Mungkin anak sekarang justru bakal berkomentar bahwa dia kakek-kakek cool.

"(Suspender) ini saya pakai supaya celana enggak melorot," katanya dalam dialek kepada Beritagar.id di Restoran Dua Nyonya, Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (8/5/2019).

Menerka asal Syarif Alwi semata lewat 'topografi' wajah teramat pelik. Sebab, genealoginya juga cukup kompleks. Dalam dirinya mengalir darah Belanda, Arab, Ambon, dan Jawa. Kebelandaan didapat dari kakek maternalnya (pihak ibu). Sementara kearaban menurun dari ayahnya yang asal Ambon.

Sang mbah londo bernama Henrik van Meyer. Fam Maruapey diwariskan oleh nenek paternalnya (sisi ayah).

"(Van Meyer) masuk warga negara Indonesia dan mengubah nama jadi Radjiman. Dan anak-anaknya mungkin ada 9 atau 11. Semua pakai nama Jawa zaman dulu. Ada namanya Seneng. Ada namanya Painah. Ada namanya Buang. Ada namanya Suratidjo. Padahal muka Belanda," ujarnya.

Para pembaca terhormat, tuan pemilik cerita ini seorang dokter umum. Bagi yang mengenalnya, dia mungkin sekali selalu disapa 'Dok', sebagaimana para dokter lazim dipanggil. Sepanjang wawancara dengannya, saya pun memanggil, 'Dok'. Agak kikuk kalau harus mengundangnya, 'Pak'.

Dokter Syarif tak sengaja tercemplung ke olahraga. Sejak akhir 1960-an. Dan sudah lebih dari tujuh tahun ini dia menjadi tenaga medis andalan tim nasional bola kaki Indonesia. Senior maupun yunior. Turnamen pertamanya adalah Piala AFF 2012.

Dia direkrut saat iklim sepak bola nasional sedang tak keruan. Khalayak luas menyaksikan terjadinya dualisme federasi, yang berakhir pada pembelahan kompetisi domestik. Pemain-pemain yang dipanggil bertanding mewakili negara hanya mereka yang merumput pada liga versi federasi resmi.

Namun, sang dokter pantang balik badan. Bukan karena yang memintanya bergabung Risdianto, penasihat teknis tim senior Indonesia saat itu, mantan bomber Persija dan timnas dekade 1970-an. Tapi pula karena sepak bola bukan hal baru buatnya.

Dia lahir dan besar di sebuah kampung dekat Stadion Mattoanging, gelanggang berwibawa yang tabah mengawetkan kejayaan 'dewa bola' Makassar seperti Ramang dan Ronny Pattinasarany.

Untuk menonton PSM Makassar--klub kebanggaan setempat--menguji ketahanan lawan, Syarif Alwi sudi berbuat apa pun. Termasuk memanjat dinding stadion. Hingga kini, ingatannya masih tajam memutar-ulang sejumlah laga yang pernah dia saksikan.

"Waktu PSM lawan Persija Jakarta. Atau lawan Persipura waktu masih ada pemain lamanya seperti Bob Mathias," ujarnya.

Pada awal dasawarsa 1980-an, Syarif Alwi merantau ke Kalimantan Timur demi menjawab panggilan tugas dari Pertamina. Kepergian itu mempertautkan nasibnya dengan Persiba Balikpapan. Kebetulan, dua mantan kapten tim nasional Indonesia, Ronny Pattinasarany dan Soetjipto Soentoro, tengah menggarap Persiba. Mereka memintanya mengisi pos dokter di klub itu.

Syarif Alwi bersedia. Dia berbakti di tim berjuluk 'Selicin Minyak' itu pada 1982-1985 mulai dari Divisi Dua hingga berhasil terangkat ke Divisi Utama.

Pada rentang waktu sama, dia juga menangani kontingen balap sepeda Kalimantan Timur. Bukan sebagai dokter, tapi pelatih. Sandarannya adalah pengalaman pribadi di masa lalu sebagai atlet balap sepeda.

Dia lalu sukses mengantar Wiratno, pembalap berusia 25, merebut medali emas pada Pekan Olahraga Nasional (PON) 1985 di Jakarta. Karena prestasi itu pula, Syarif dipanggil PB ISSI (Ikatan Sport Sepeda Indonesia) untuk melatih atlet balap sepeda di Jakarta. Bersiap untuk Sea Games 1989 yang berlangsung di Kuala Lumpur, Malaysia.

"Waktu itu, seandainya (Wiratno) sudah berpengalaman, mungkin (Kalimantan Timur) dapat empat medali," kata sosok yang pernah juga menjadi dokter di PB IPSI (Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia) pada 1991-2007 dan PP Pertina (Pengurus Pusat Persatuan Tinju Amatir Indonesia) pada 2008-2011.

Dokter Syarif Alwi Maruapey berpose untuk Beritagar.id di Restoran Dua Nyonya, Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (8/5/2019)
Dokter Syarif Alwi Maruapey berpose untuk Beritagar.id di Restoran Dua Nyonya, Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (8/5/2019) | Bismo Agung /Beritagar.id

Menjadi atlet balap sepeda

Syarif Alwi meraih gelar dokter dari Universitas Hasanuddin, Makassar, pada 1979. Tidak dengan jalan mudah. Dia sempat lama meninggalkan masa dokter muda (koasistensi) karena sibuk menyokong perekonomian keluarga.

Penyebabnya tunggal. Ayahnya yang seorang tentara wafat ketika Syarif masih masih mahasiswa tingkat dua. Buat Ina, panggilan kanaknya, itu malapetaka. Adiknya tujuh, dan seorang di antaranya baru diterima kuliah. Kontan, bahunya terasa bak ditekan bukit besar.

"Dulu setiap hari kita bangun setelah salat subuh harus lari. Kira-kira bisa berjarak lima kilometer. Kalau tidak lari dimarah ayah saya. Dan bangun pagi harus gantian azan subuh di atas bubungan rumah," ujarnya mengenangkan sang ayah.

Namun, dia tak berlarut-larut memendam kedukaan. Hidup harus terus. Sinyal survival di kepalanya menyala. Ia menajamkan indra untuk mencari peluang penghidupan. Makanya dia sempat menjadi guru honorer untuk mata ajar Biologi dan Kimia Organik di sebuah SMA Katolik dan SMAN 1 Makassar.

Selain itu, Syarif Alwi pernah berjualan layang-layang. Tanpa rasa canggung. Dia juga ulet menawarkan obat-obatan. Malah, kegigihan itu membuatnya dinobatkan sebagai wiraniaga obat-obatan terbaik di Bangkok, Thailand.

Pada 1968, dia mulai menjajal kecerdasan kinestetiknya. Itu periode populer bagi balap sepeda. Orang pun sudah awas dengan pelbagai jenama beredar. Menurut Syarif, Phoenix atau Raleigh saat itu sudah terhitung top.

Namun, Syarif Alwi cuma bisa mengusahakan sepeda biasa. Sepeda balap yang dia mau terlalu mahal. Karenanya, dia bertekad menerapkan asas D.I.Y alias do it yourself. Dengan bahan yang ada--plus siasat sana-sini--barang yang bisa menopang ambisinya niscaya mewujud.

Dan kun fayakun. Sepeda balap itu jadilah. Batangnya pinjam dari Prius hasil pembagian dari kesatuan ayahnya. Setangnya dirakit dari susuan pipa-pipa air. Sadel yang terlalu kecil dirombak dan ditambal dengan kulit simpanan. Gir depan ukuran 58 dia comot dari motor Ducatti. Gir belakang tunggal saja. Ukuran 18. Untuk Toe clip pada pedal, dia rakit dari kaleng bekas wadah susu.

Urusan pakaian, Syarif Alwi tak ambil pusing. Bahan dasarnya merek Swan yang biasa dikenakan tukang daging di los-los pasar. Supaya berkantong dan punya motif warna-warni, dia minta ibunya menjahitkan. Sepatu hitam dia tak punya. Maka dia cukup mengecat sepatu kets putihnya. Sialnya, keputusan itu bikin sepatunya jadi keras.

Dengan bekal seadanya, dia ikut seleksi daerah untuk PON 1969 Surabaya, Jawa Timur. Rute yang mesti dia taklukkan Pa'Baeng-Baeng-Takalar bolak-balik. Total jaraknya sekitar 80 kilometer. Para pesaingnya menunggang sepeda canggih. Mungkin itu yang bikin mereka mencibir Syarif dengan menjulukinya 'pembalap beseng-beseng'. Pembalap kelas teri.

Tapi dia tak kalah abu. Dia membuktikan teri bisa cekatan. Di garis akhir, dia masuk empat besar.

"Sampai sprint masuk, sebenarnya saya kuat. Tapi saya malu kalau mengalahkan mereka. Dapat nomor empat. Tapi itu pengurus semuanya jiwa besar. Mereka bilang, 'Itu Ambon-Arab pilih saja. Sepedanya masih begitu tapi sudah kuat'. Saya berangkat (ke PON) akhirnya. Dikasih sepeda balap merek Favorite," katanya.

PON 1969 tak memberinya medali. Begitu pun PON 1973 di Jakarta. Dia bilang, prestasi puncaknya sebagai atlet sepeda hanya di nomor beregu. Walau sebenarnya itu caranya merendah. Di tingkat Sulawesi Selatan, dia acap kali juara. Titel kampiun pun pernah diraihnya dalam ajang Tour de Java. Syarif juga mencicipi juara dalam Pekan Olahraga Wilayah Irian, Maluku, Sulawesi, Kalimantan (Porwil Iramasuka).

Dokter Syarif Alwi Maruapey berpose untuk Beritagar.id di Restoran Dua Nyonya, Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (8/5/2019)
Dokter Syarif Alwi Maruapey berpose untuk Beritagar.id di Restoran Dua Nyonya, Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (8/5/2019) | Bismo Agung /Beritagar.id

Menjajal tinju

Dua tahun menjelang lulus kuliah, Syarif Alwi merasa jemu bersepeda. Dia melirik tinju. Alasannya remeh belaka. Sport pukul-tangkis itu sedang ramai orang suka. Kebetulan pula di dekat rumahnya berdiri sasana tinju. Itu seperti pucuk dicinta, ulam tiba. Walau dia insaf banyak atlet tinju berujung parkinson.

Waktu ditanya tentang sistem diet ketika beralih ke tinju, dia tertawa keras-keras. "Zaman dulu tidak ada itu. Karena miskin, makan sayur dengan buah dan telur sudah bagus," ujarnya. Syarif beruntung karena pekarangannya masih luas. Di situ dia menanam pisang yang berbuah nyaris sepanjang tahun. Jika beras tak ada, dia hanya makan buah tersebut.

Kelak, Syarif mendapat jatah susu dan telur saat menjalani pemusatan latihan. Kuota dari KONI cabang daerah itu sebenarnya berlaku untuk sebulan. Tetapi, karena adik-adiknya ikut mengonsumsi, pasokan itu seminggu sudah habis.

Ihwal sarana kebugaran, dia kembali pada format D.I.Y. Samsak bikin dari karung beras berbahan terpal. Isinya serbuk gergaji dan serutan karet ban. Dumbbells terbuat dari kaleng susu berisi adukan semen. Wahana bench press pun hasil olahan tangan sendiri. Menurutnya, alat-alat tak perlu beli. Duitnya lebih baik untuk makan.

Syarif juga tahu petinju punya risiko setimpal. Baik si pemenang, maupun pecundang. Bekas hantaman selalu menyisakan nyeri. "Apalagi kalau muka sudah bengkak," katanya. Buka mulut saat makan pagi bakal jadi perjuangan besar.

Namun, kemauannya setangguh titanium. Dia akhirnya bisa ikut seleksi PON di Sulawesi Selatan pada 1977, dan juara untuk kategori Kelas Bulu (56-58 kilogram).

Padahal, sebelum itu, dia sudah kena damprat dari para pengajarnya. Pasalnya, dokter ring yang menanganinya ternyata dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. Orang yang menyampaikan informasi mengenai kegiatannya bertinju ke kampus. Dia pun kena hardik. "Mau jadi dokter, ngapain main tinju," ujarnya menirukan perkataan pengajar lain, "mau gegar otak?"

Hari final, dia bertemu sang dokter ring lagi. Dasar gampang mimisan, Syarif Alwi pasti diperiksa. Satu momen di pinggir arena, dokter tersebut membisiki, "saya kasih berhenti saja". Namun, dia cepat menjawab, "jangan, saya sudah menang".

Nantinya, ketidaksetujuan para dosen, pun--terpokok--ibunya, memicu Syarif Alwi untuk mundur dari gelanggang tinju sebelum dia lulus kuliah.

Dokter Syarif Alwi Maruapey berpose untuk Beritagar.id di Restoran Dua Nyonya, Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (8/5/2019)
Dokter Syarif Alwi Maruapey berpose untuk Beritagar.id di Restoran Dua Nyonya, Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (8/5/2019) | Bismo Agung /Beritagar.id

Dokter 'Papi'

Berpuluh-puluh tahun setelah tak lagi bertinju, ingatan motorik Syarif Alwi masih berfungsi. Jika sedang berkumpul dengan atlet-atlet timnas di lokasi fitness, dia suka iseng memukuli samsak. Satu kali Luis Milla, eks pelatih timas sepak bola Indonesia, memergoki pergerakannya, merekamnya dengan telepon genggam. "Kalau bukan petinju, tidak akan pukul samsak seperti itu," kata Syarif menirukan Milla.

Mantan gelandang FC Barcelona dan Real Madrid itu pernah mengundang Syarif ke Spanyol. Tujuannya, magang di klub Real Madrid. Masa-masa berharga yang dia lakoni selama dua pekan. Di sana dia tahu level psikologis pemain teramat penting. Pagi pada hari pertandingan, tingkat stres pemain dicek. Semakin tertekan, pemain bakal semakin cepat lelah. Psikolog pun disertai untuk memberikan dukungan.

Syarif juga sedikit memiliki peran 'psikolog' di tengah pemain. Dia dianggap bisa ngemong. Tak sedikit pemain mau mendengar kata-katanya. Di antaranya mereka yang berasal dari Papua.

"Dipanggil 'Papi' sebenarnya oleh anak-anak Papua. Mereka seperti anak sendiri," ujarnya merunut asal panggilan 'Papi'.

Salah seorang pemain dari Papua yang karib dengannya Boaz Solossa. Anggota tim yang menurut Syarif Alwi "memiliki semuanya". Lengkap. Dia menyayangkan pemain Persipura itu tak bisa bermain di liga Eropa. Dia yakin jika dibina dan dikelola dengan baik, Boaz bisa ke Benua Biru.

Kehangatan dengan pemain membuatnya kerap memberikan wejangan. Di antara pesan itu, "menjadi juara tidak sulit. Yang sulit kemauan keras waktu berlatih, dan kemauan keras waktu bertanding".

Karena meluncur dari lisan mantan atlet dan pelatih peraih emas, ucapan itu terasa sahih. Meski begitu, tugas inti seorang dokter, dalam hemat Syarif, tetap berhubungan dengan faal pemain. Di luar itu, anggap saja ekstra.

"Tugas seorang dokter itu bagaimana menjaga pemain mulai dari masuk. Kalau mereka tidak sehat waktu masuk, kita bikin sehat. Dan waktu latihan, mereka tetap sehat. Kalau bisa pada saat bertanding mereka tetap sehat," katanya.

Karenanya, dia terus meningkatkan keahlian. Beberapa kali sudah mengikuti kursus mengenai penanganan cedera olahraga di Jerman. Syarif sebenarnya sempat ditawari melanjutkan studi sebagai spesialisasi olahraga di negara tersebut. Namun, dia terpaksa menolak karena memikirkan anak-anaknya.

Syarif Alwi pun menemui rupa-rupa tantangan dalam menjaga kebugaran dan ketahanan para pemain. Salah satu halangan berkenaan dengan mitos. Tak sedikit pemain percaya banyak makan daging sebelum bertanding bakal memberi faedah. Padahal, Syarif bilang, yang harus diprioritaskan justru karbohidrat kompleks. Ia berguna untuk cadangan glikogen otot dan hati. Sehingga, kalau main hingga 120 menit pun berdaya.

"Makan daging banyak tak bikin otot kuat dan besar. Otot besar dan kuat terbentuk karena latihan," ujarnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR