Pelukis Djoko Pekik berpose untuk Beritagar.id pada Sabtu (17/02/2018) di kediamannya, Pelataran Djoko Pekik, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta.
Pelukis Djoko Pekik berpose untuk Beritagar.id pada Sabtu (17/02/2018) di kediamannya, Pelataran Djoko Pekik, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Reza Fitriyanto / Beritagar.id
FIGUR

Dunia celeng dan pisuhan Djoko Pekik

Kariernya sebagai pelukis bermula di pengujung Orde Lama. Saat Soeharto berkuasa ia dibelenggu. Ia punya cara melawan: misuh.

Januari lalu usianya genap 81 tahun. Usia senja tak mengalanginya terus berkarya. Ia seniman tiga zaman. Kariernya sebagai pelukis bermula di pengujung Orde Lama. Saat Soeharto berkuasa ia dibelenggu. Namanya kembali moncer paska reformasi. Dialah Djoko Pekik.

Sabtu (17/2/2018) siang, Beritagar.id menemui Djoko Pekik di rumahnya, di Bantul. Pekarangan luas mengelilingi huniannya.

Menuju ke rumahnya serasa menyusuri hutan kecil. Dari jalan utama beraspal, tiap tamu harus melewati jalanan kecil dengan pepohonan di kanan dan kiri. Rimbun dan adem.

Ia menyambut kedatangan kami di teras. Bercelana pendek dan berkaus oblong. Ia melangkah pelan menuju bangku kayu panjang. "Angin seperti ini bikin ngantuk," katanya setelah duduk.

Djoko Pekik lahir di Grobogan, Jawa Tengah. Desanya terletak di tepi hutan jati berjarak 40 kilometer dari ibu kota kabupaten, Purwodadi. Orang tuanya petani. Ia bungsu dari tujuh bersaudara. Enam saudaranya telah tiada.

Seperti kebanyakan petani, keluarganya menanam tembakau. Sebagian hasilnya dikonsumsi sendiri. Pekik kecil kala itu sering membantu memanen, merajang, dan menjemur. Tembakau kering itu lantas ia bungkus daun pisang untuk disimpan. "Mereka tak tahu seniman itu apa. Mereka tahunya macul dan pergi ke sawah," katanya.

Toh nasib berkata lain. Pekik tak jadi petani seperti orang tuanya.

Pada 1957, Pekik pergi ke Yogyakarta untuk kuliah di Akademi Seni Rupa Indonesia (kini ISI Yogyakarta) hingga lulus pada 1962. Setahun sebelum lulus, bersama Amrus Natalsya, Isa Hasanda, dan Misbach Tamrin, ia membidani Sanggar Bumi Tarung.

Bumi Tarung adalah satu-satunya sanggar yang mendeklarasikan diri berkedudukan di bawah Lembaga Kebudayaan Rakyat, organisasi kesenian Partai Komunis Indonesia. Misbach lewat bukunya "Amrus Natalsya dan Bumi Tarung" mengisahkan seniman Bumi Tarung menjadikan seni sebagai alat perjuangan untuk mengangkat harkat martabat kaum papa.

Prahara politik pecah pada 1965. Soeharto berkuasa lewat kudeta. Pemerintah baru ini memburu anggota dan simpatisan komunis. Hidup atau mati. Bumi Tarung bubar. Senimannya ditangkap dan dijebloskan penjara tanpa proses peradilan.

Pekik ditangkap November 1965 dan dipenjara di Benteng Vredeburg Yogyakarta. Ia bebas 1972, setelah tujuh tahun mendekam di balik jeruji. Tapi bagi pesakitan politik Orde Baru, hidup di luar bui sama buruknya dalam jeruji. Pekik dilarang melakukan kegiatan seni apalagi berpolitik.

Itu dulu. Sekarang tak perlu sembunyi-sembunyi melukis. Ia tak perlu lagi menjadi penjahit -seperti masa sekeluarnya dari penjara- untuk menyambung hidup. Bayangkan saja, pada 1998 satu lukisannya berjudul "Berburu Celeng" tembus terjual Rp1 miliar. Rekor pertama bagi pelukis Indonesia.

"Gayaku iki yo gaya feodal, gaya borjuis tapi kenapa orang-orang nuding aku PKI," katanya, setengah berkelakar.

Pelukis Djoko Pekik berpose untuk Beritagar.id pada Sabtu (17/02/2018) di kediamannya, Pelataran Djoko Pekik, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta.
Pelukis Djoko Pekik berpose untuk Beritagar.id pada Sabtu (17/02/2018) di kediamannya, Pelataran Djoko Pekik, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. | Reza Fitriyanto /Beritagar.id

Celeng satu, celeng semua

Tahan semua pedih itu
dengan ketabahan
Ia akan menjadi mutiara
bagi kerang yang luka
(Amrus Natalsya, 1999)

Dari teras bangunan tempatnya menyimpan gamelan, Pekik mengajak kami masuk kediamannya berlantai dua. Lantai pertama dimanfaatkan menjadi galeri khusus penyimpan lukisan. Sedangkan lantai dua menjadi tempat tinggalnya.

Begitu masuk, lukisan berjudul Go To Hell Crocodile langsung terpampang di depan pintu. Ukurannya gigantik (2,75 X 6 meter), gambarnya seekor buaya raksasa melingkari galian tambang. Di baliknya, tergantung Sirkus Adu Badak, lukisan seukuran 2,5 X 5 meter bergambar dua ekor badak beradu di tengah arena sirkus.

Dua lukisan itu tergantung berpunggungan. Keduanya pernah dipamerkan di bursa seni rupa terbesar tanah air, Art Jog. Go To Hell Crocodile dibanderol Rp6 miliar di Art Jog 2014, sedangkan Sirkus Adu Badak ditawarkan seharga Rp5 miliar di Art Jog 2016. "Saya jual kalau ada yang nawar," katanya.

Sebuah hygrometer tergeletak di bawah lukisan Go To Hell Crocodile. Jarum panjangnya menunjuk angka 71 persen sementara jarum pendeknya mengarah pada angka 27 derajat celsius.

Pekik memperlakukan ruangan ini secara istimewa. Beberapa unit pendingin udara, kipas angin, dan exhaust fan dipasang untuk mengendalikan suhu dan kelembaban udara. Sepanjang hari mesinnya tak pernah mati agar lukisan yang tersimpan tak cepat rusak.

Menurut dia, kelembaban di atas 80 persen akan membuat kanvas bercendawan. Lukisan berjamur karena udara terlalu lembab. Sebaliknya, kelembaban di bawah 50 persen akan menyebabkan udara kering dan kanvas menjadi rawan pecah. "Jadi harus diatur rata-rata 60-70," katanya.

Begitu istimewanya tempat ini, sampai-sampai Pekik mengharamkan cat basah masuk ke ruangan ini. Untuk melukis, ia punya tempat tersendiri. Sebuah studio berdinding kaca di halaman belakang tepat di tepi kali Bedog.

Ia mempersilakan kami memutari ruangan. Di sudut ruangan tergantung replika Berburu Celeng. Ukurannya lebih kecil dibanding aslinya. "Itu foto yang ditempel di kanvas," katanya.

Berburu Celeng menggambarkan dua lelaki kurus bertelanjang dada memikul babi hutan. Hitam legam bertubuh tambun. Mereka berjalan di tengah kerumunan massa diiringi permainan seni tradisional, jathilan.

Menurut Pekik, meski lukisan itu baru dibuatnya 1998, gagasannya sudah muncul sejak 1966 ketika ia mendekam di penjara.

Penderitaan semasa di bui yang mengilhami karya itu. Tidur di ubin, makan nasi jagung. Tahanan sengaja dibuat mati kelaparan.

Gara-gara bertahun-tahun tidur di ubin, punggungnya kapalan. Hitam dan mati rasa. Saban hari, tahanan dijatah setengah gelas jagung grontol. "Ayam saja kurang," katanya.

Pekik mengumpat tak habis-habis. Ia merapal nama-nama hewan untuk mengutuki nasib yang dialami. Asu, celeng, dan entah apa lagi. Baginya, terpenjara bukan berarti menyerah. Ketika memakai sandal jepit saja dilarang, misuh adalah caranya melawan.

Pada 1998, gelombang gerakan massa berhasil melibas kediktatoran Soeharto. Ia terjungkal dari kursi kepresidenan. Satu pisuhan Pekik menjelma jadi lukisan, Berburu Celeng.

Djoko Pekik, Petruk dan dunia celeng /Beritagar ID

Banyak orang memaknai Berburu Celeng adalah ekspresi peristiwa reformasi 1998. "Silakan saja menganggap seperti itu, boleh," katanya.

Yang jelas, kata dia, lukisan itu menggambarkan bagaimana petani di kampung halamannya, Grobogan, memburu babi hutan. Jika dapat, bangkainya digotong dan diarak keliling kampung. Dan, massa merayakannya sebagai kemenangan.

Tak disangkal. "Lengsernya Soeharto ya seperti celeng itu."

Dua tahun sebelum melukis Berburu Celeng, Pekik menggambar lukisan bertema serupa. Judulnya Susu Raja Celeng dan dipamerkan di pameran bersama sewindu tahta untuk rakyat Sultan Hamengku Buwono X di Keraton Yogyakarta.

Dua karya itu --Susu Raja Celeng (1996) dan Berburu Celeng (1998)-- adalah rangkaian. Keduanya menarasikan peribahasa; raja alim raja disembah, raja lalim raja disanggah. Maka kalau menjadi penguasa janganlah berlaku seperti celeng.

Menurut dia, celeng adalah simbol keserakahan. Binatang itu doyan segala. "Tapi matinya terhina," katanya.

Meski kebebasannya terpasung Orde Baru, ia tak pernah mendendam pada siapa pun. Termasuk Soeharto. "Soeharto hanya suruhan," katanya.

Siapa yang menyuruh Soeharto melakukan kekejian itu? "Neokolonialisme," jawabnya mantap.

Inilah kekuatan besar yang menghancurkan bangsa Indonesia, kata dia. Dengan politik belah bambunya, neokolonialisme menggarong sumber daya alam di negeri ini. "Karena itu saya melukis Adu Badak dan Go To Hell Crocodile," katanya.

Adu Badak bercerita tentang prahara politik 65. Anak bangsa diadu, bertikai saling bunuh, sementara bangsa asing masuk dengan leluasa mencuri kekayaan Indonesia. Adapun Go To Hell Crocodile berkisah tentang sepak terjang Freeport mengeruk simpanan emas Papua.

Pekik mengibaratkan watak rakus penjarah itu sebagai celeng. Watak itu tak hanya hinggap di kepala bangsa asing, tapi juga kepala bangsa sendiri. Gara-gara watak serakah, kedaulatan negara ini tergadai. Sampai-sampai memproduksi tempe saja harus bergantung pada dolar.

"Serakah itu tak bisa hilang, celeng itu tetap hidup," katanya. "Lihat kasus korupsi KTP elektronik. Itu lengji lengbeh."

Apa itu? "Celeng siji celeng kabeh."

Foto sekuens pelukis Djoko Pekik ketika sesi wawancara untuk Beritagar.id pada Sabtu (17/02/2018) di kediamannya, Pelataran Djoko Pekik, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta.
Foto sekuens pelukis Djoko Pekik ketika sesi wawancara untuk Beritagar.id pada Sabtu (17/02/2018) di kediamannya, Pelataran Djoko Pekik, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. | Reza Fitriyanto /Beritagar.id

Melukis adalah berkomunikasi

Perintah itu datang ketika ia masih mendekam di penjara. Suatu hari, seorang sipir menyuruh Pekik mengecat kopel dan helm tentara. Sebagai ganjaran, Pekik bebas mengambil dan memilih makanan di dapur umum.

Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, ia makan sebanyak-banyaknya. Mulutnya terus melumat meski perutnya tak mampu menampung. Akibatnya ia klenger. Duduk tak nyaman, tidur apalagi. Bernapas saja susah. Dalam kondisi itu ia merasa hidupnya segera berakhir.

"Sejak saat itu saya selalu berhati-hati kalau makan. Tak mau banyak-banyak, makan secukupnya saja," katanya.

Di usianya yang senja, kondisi fisik Pekik terbilang prima. Kerap, ia terlihat mengunjungi pameran seni rupa di pusat kota Yogyakarta sendirian. Satu-satunya penyakit yang ia khawatirkan adalah diabetes yang menderanya sejak 20 tahun lalu. Jika kambuh, fisiknya langsung lemas tak bertenaga.

"Jangan makan enak-enak terus, secukupnya saja dan apa adanya," kata dia ketika ditanya resep sehatnya.

Tahun ini, ia berencana membuat satu hingga tiga lukisan. Satu di antaranya sudah ia persiapkan judul dan temanya. Petruk Jadi Ratu. Petruk adalah tokoh punawakawan dalam cerita pewayangan Jawa. Ia simbol rakyat jelata. Hidupnya sederhana bahkan ketika sudah menjadi raja dan hidup di istana.

Narasi itu menjadi antitesis Petruk Mantu, lukisan yang dibuatnya pada 2011. Pada Petruk Mantu, Pekik menggambarkan ribuan tikus keluar dari istana.

Ia mengatakan tiga lukisan itu persiapkan untuk pameran dalam peluncuran buku biografinya. Naskahnya, di antaranya ditulis budayawan Goenawan Mohamad, Sindhunata, sejarawan Baskara T. Wardaya, Rektor ISI Yogyakarta Agus Burhan, dan kurator seni Dwi Maryanto. "Naskahnya sudah jadi, dibuat dalam dua bahasa Inggris dan Indonesia," katanya.

Baginya, melukis adalah caranya berkomunikasi. "Melukis itu gantinya saya ngomong. Suatu saat kalau saya ingin ngomong ya melukis," katanya.

Djoko Pekik berpose di rumahnya, Bantul, Yogyakarta, Sabtu (17/2/2018).
Djoko Pekik berpose di rumahnya, Bantul, Yogyakarta, Sabtu (17/2/2018). Beritagar.id /Reza Fitriyanto
BIODATA Diperbarui: 05 Maret 2018

Djoko Pekik

Nama:
Djoko Pekik

Tempat/Tanggal Lahir:
Grobogan, Jawa Tengah, 2 Januari 1937

Pendidikan:
Akademi Seni Rupa Indonesia (sekarang ISI Yogyakarta) tahun 1957-1962

Istri:
C.H.Tini Purwaningsih

Anak:
8 orang

Cucu:
18 Orang

Organisasi:
Ikut mendirikan Sanggar Bumi Tarung (afiliasi Lembaga Kebudayaan Rakyat) pada 1961

Tahanan Politik Orde Baru:
1965-1972

Karya-karya:

Susu Raja Celeng (1996)
Berburu Celeng (1998)
Demit (2000)
Kali Brantas (2008)
Bengawan Solo (2008)
Petruk Mantu (2011)
Pawang Kesurupan (2012)
Ledek Gogik (2012)
Go To Hell Crocodile (2014)
Sirkus Adu Badak (2016)

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR