Arsitek dan peneliti Rumah Gadang, Eko Alvares, beberapa waktu lalu. Foto diambil dari akun Facebook pribadinya.
Arsitek dan peneliti Rumah Gadang, Eko Alvares, beberapa waktu lalu. Foto diambil dari akun Facebook pribadinya. Facebook

Eko Alvares, Penyelamat Rumah Gadang

Ia membangkitkan kembali kecakapan arsitektur masyarakat Minangkabau.

Dua Rumah Gadang kayu berwarna cokelat kemerahan berdiri megah berhadapan. Keduanya dikepung hijaunya pepohonan. Jauh di bawahnya terbentang Danau Singkarak.

Nama rumah itu adalah Rumah Gadang Etek Nuarini dan Rumah Gadang Etek Siti Fatimah. Letaknya di Nagari Sumpu, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, sekitar 91 kilometer jaraknya dari kota Padang.

Tak terbayangkan empat tahun lalu keduanya habis terbakar. "Saya sedih sekali," kata arsitek Eko Alvares.

Eko masih ingat malam saat peristiwa pada 24 Mei 2013 itu, ia ditelpon oleh warga Sumpu. Sebanyak lima Rumah Gadang terbakar karena korsleting arus listrik.

Ketua Pusat Studi Konservasi Arsiktektur (Pusaka) dari Universitas Bung Hatta itu bergerak cepat. Ia menghubungi koleganya, Yori Antar, dan Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI).

Kiprah Yori sebagai arsitek tak diragukan lagi. Ia juga pendiri Rumah Asuh, sebuah yayasan yang bergerak dalam bidang pelestarian rumah adat di Indonesia, termasuk di Wae Rebo, Nusa Tenggara Timur.

Respon Yori saat itu positif. Ia memuluskan jalan Eko untuk dihubungkan ke Yayasan Tirto Utomo. Yayasan ini lalu setuju untuk memberikan dukungan dana.

Uang tak jadi persoalan. Tinggal membangun.

Eko mengakui kala itu pengetahuannya minim soal membangun Rumah Gadang. Ia dan para mahasiswanya sering mendokumentasikan hunian tersebut Bahkan seminggu sebelum peristiwa kebakaran terjadi, mereka mendata kelima yang terbakar. Tapi Eko tak pernah membangunnya dari nol.

"Saya bertahun-tahun membawa mahasiswa saya ke lapangan. Mengukur dan menggambar Rumah Gadang. Esoknya roboh, hilang," ujarnya.

Eko tak mau peristiwa seperti itu kerap terjadi. Rumah Gadang harus kembali hadir sehingga menjadi manfaat untuk banyak orang. "Pengetahuan kita soal membangun rumah adat perlu muncul kembali," ujar Eko.

Beritagar.id mewawancarai Eko pertama kali pada akhir Juli lalu. Tak lama setelah itu ia menjalani operasi pengangkatan tumor dari rongga dadanya di Jakarta. Pada 10 November, wawacara ini berlanjut via surat elektronik. Saat ini Eko tengah menjalani masa pemulihan pasca kemoterapi. Berikut kisahnya.

Rumah Gadang Siti Fatimah yang berhasil dibangun kembali oleh Eko Alvares pada 2014 lalu. Lokasinya di Nagari Sumpu, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Hunian ini sempat habis terbakar akibat korsleting arus listrik setahun sebelumnya.
Rumah Gadang Siti Fatimah yang berhasil dibangun kembali oleh Eko Alvares pada 2014 lalu. Lokasinya di Nagari Sumpu, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Hunian ini sempat habis terbakar akibat korsleting arus listrik setahun sebelumnya. | Febrianti /Beritagar.id

Kenangan masa kecil

Rumah Gadang sangat dekat dengan kehidupan Eko. Ia lahir 52 tahun yang lalu di Padang Panjang. Walaupun tak pernah tinggal di bangunan adat tersebut, namun di rumahnya kala itu, Eko tinggal bersama kakek, nenek, paman, dan bibinya.

"Saya tidak pernah tinggal di Rumah Gadang dalam pengertian rumah bagonjong, tapi menikmati tinggal di Rumah Gadang dalam pengertian budaya," katanya.

Pemahamannya tentang rumah sebagai kegiatan berbudaya sangat Eko alami dengan baik. "Saya merasakan kesenangan tinggal bersama keluarga besar," ujarnya.

Selepas lulus sekolah menengah atas, ia tak langsung memilih jurusan arsitektur. Ia justru ingin seperti ayahnya, menjadi dokter. Eko mengikuti tradisi keluarganya untuk merantau ke Jawa (dalam hal ini Bandung, Jawa Barat) untuk menempuh pendidikan tinggi.

Tapi nasib berkata lain. Sekolah kedokteran menolaknya menjadi mahasiswa. Pikirannya saat itu langsung tertuju pada bidang arsitektur. Penyebabnya sepele. Ia melihat kehidupan mahasiswa di jurusan itu penuh warna. Tak hanya berkutat dengan buku, tapi juga mendesain, menggambar, dan membuat maket.

Ia lalu memilih kuliah di Universitas Parahyangan, Bandung. Saat mata kuliah arsitektur Nusantara, Eko langsung teringat dengan kampung halamannya.

Ia jadi tertarik mempelajari Rumah Gadang. Apalagi pada 1988, ia berkesempatan untuk pulang kampung. Kala itu kelompok minat mahasiswa yang Eko ikut dirikan, Arsitektur Hijau, mengadakan Ekspedisi Ranah Minang.

Sejak itu, Eko tak berhenti melakukan pengamatan dan penelitian tentang Rumah Gadang. Bahkan setelah menjadi dosen, ia kerap mengajak para mahasiswanya untuk mendokumentasikan Rumah Gadang di Sumatera Barat.

Rumah adat ini sarat makna. Secara adat dari mulai pondasi hingga atapnya mengandung filosofi masyarakat Minangkabau. Tapi hal itu tak seberapa dibandingkan dengan aspek arsitekturnya.

Secara konstruksi, Rumah Gadang yang asli terbilang canggih. Ia tahan gempa bumi. Tak ada paku. Tapi memakai pasak. Bangunan jadi bisa bergerak mengikuti arah gempa.

Atapnya membumbung tinggi. Banyak yang percaya bentuknya mirip dengan tanduk kerbau. Hal tersebut merujuk pada kisah rakyat Minang yang memenangkan adu kerbau untuk mengakhiri kekuasaan kerajaan dari Jawa.

Tapi ada juga yang mengatakan bentuk itu melambangkan daun sirih bersusun. Lambang itu merujuk pada rumah sebagai penyambung tali silaturahmi.

Menurut Eko, ujung atap yang lancip berguna untuk membebaskan air hujan agar dapat meluncur cepat dan tidak masuk ke dalam rumah. Pada bagian bawahnya terdapat kolong agar hawa segar bisa mengalir, terutama pada musim panas.

Posisi bangunan selalu memanjang dari utara ke selatan. "Tujuannya membebaskan bangunan dari panas matahari dan terpaan angin," ujar Eko.

Secara fungsi, tak hanya menjadi tempat tinggal sebuah keluarga besar, Rumah Gadang juga menjadi tempat melangsungkan upacara adat, seperti kelahiran, pernikahan, dan kematian.

Dahulu, rumah itu hanya didiami nenek, para ibu dan anak-anak perempuannya. Hal ini sejalan dengan tradisi matrilineal yang dianut masyarakat Minangkabau. Pemilik Rumah Gadang selalu dari garis keturunan ibu yang diwarisi turun-temurun.

Banyaknya ruang di dalam Rumah Gadang tergantung dari jumlah penghuni rumah. Biasanya ganjil, tidak pernah genap. Di bagian belakang terdapat bilik-bilik kamar wanita yang sudah berkeluarga dan anak-anak

Lebih dari 20 tahun mempelajari Rumah Gadang, Eko lalu harus membangunnya. Langkah pertama yang ia lakukan adalah meminta izin kepada lima pemilik rumah yang terbakar. Butuh 21 kali pertemuan untuk menentukan rumah mana yang dibangun. Semua akhirnya sepakat memilih hunian milik Etek Nuraini.

"Itu melalui rapat saparuik (satu perut atau keluarga sekandung keturunan Etek Nuraini), sajurai (sesuku), sajorong (sedesa), dan sanagari (senagari)," katanya. Ia tak mau mengambil risiko membangun rumah adat tanpa persetujuan semua pihak.

Setelah semua sepakat dan mendapat izin dari keluarga pemilik, pada 20 April 2014 batagak tunggak tuo pun dilakukan. Acara meneggakkan tiang utama itu menjadi penanda mulainya pembangunan Rumah Gadang. Hadir pada saat itu Wali Nagari, para Datuk dan Ninik Mamak beserta perangkat adat lainnya.

Eko Alvares (memegang mikrofon) memimpin pendirian konstruksi Rumah Gadang Etek Siti Fatimah pada akhir 2015.
Eko Alvares (memegang mikrofon) memimpin pendirian konstruksi Rumah Gadang Etek Siti Fatimah pada akhir 2015. | Febrianti /Beritagar.id

"Saya menganggap ini heritage (pusaka), sudah berusia 100 tahun, dan tak ada lagi yang membangunnya sejak 100 tahun terakhir. Jadi harus dibangun kembali," ujar Eko.

Eko memakai tukang di Nagari Sumpu yang biasa memperbaiki Rumah Gadang. Namanya, Novesman Datuk Majo Lelo. "Dia belum pernah membangun Rumah Gadang, tapi pernah memperbaikinya. Kami belajar bersama," katanya.

Rumah Gadang Etek Nuraini dibuat dalam ukuran yang sama seperti sebelumnya. Atapnya terdiri dari empat gonjong, dengan lima ruang. Tinggi lantai dari tanah dua meter. Tinggi rumahnya sekitar 10,5 meter. Panjangnya 17,2 meter. Lebarnya 7,8 meter. Bangunan ini berisi enam kamar tidur.

Yang menarik, kulah atau bak besar dari beton berukuran 3 kali 3 meter dan sedalam tiga meter tetap dipertahankan oleh Eko. Bak itu memang menjadi ciri khas rumah adat Minangkabau. Fungsinya untuk menampung air hijau yang kemudian dimanfaatkan oleh pemilik rumah untuk keperluan rumah tangga.

Materialnya sedikit berbeda. Kalau dulu Rumah Gadang memakai kayu dari hutan di sekitar rumah. Eko terpaksa membeli kayu dari toko bangunan. "Sudah bergeser dari alam ke produksi massal," katanya.

Ukuran kayu pun berubah. Rumah Gadang yang asli memakai ukuran 3,2 meter. Sementara yang umum dijual sekarang panjangnya empat meter. "Jadi lebih mahal karena ukurannya harus sama," ujar Eko. Ia memakai kayu jenis pohon bayur, surian, johor, dan bambu dalam proyek ini.

Dalam lima bulan, pembangunan Rumah Gadang Etek Nuraini selesai. Akhir September 2014, hunian itu sudah bisa ditempati. Kemudian, rumah milik Etek Siti Fatimah dibangun dan selesai pada Februari 2016.

"Saya menganggap ini heritage, sudah berusia 100 tahun, dan tak ada lagi yang membangunnya sejak 100 tahun terakhir."

Eko Alavares

Rumah Etek Siti Fatimah lebih besar dibandingkan milik Etek Nuraini. Terdapat anjung di bagian sayap bangunan itu. Anjung adalah ruangan yang lebih tinggi satu meter dibanding ruangan lainnya. Di sinilah pengantin bersanding, bisa juga menjadi tempat penobatan kepala adat.

Di dalam rumah Etek Siti Fatimah, terdapat enam kamar dan ruang tamu yang panjang. Eko menambah dua kamar mandi dari awalnya satu di dalam hunian itu. Untuk memenuhi kebutuhan Rumah Gadang sebagai tempat upacara adat, Eko membesarkan ruang makan yang berada di bagian belakang bangunan.

"Kami menyesuaikan dengan zaman tapi esensinya tidak berubah," ujar Eko.

Eko sedang mempelajari cara mempersingkat tahapan pembangunan Rumah Gadang. Misalnya, dalam mengangkat tiang, meletakkan jurai, dan merangkai atap. "Karena Rumah Gadang sangat tinggi sehingga perlu merasionalkan tahapan pembangunannya," katanya.

Ia juga berencana mengganti material kolom menggunakan pohon kelapa yang lebih murah dan mudah didapat. Tapi hal itu tentu mengundang konsekuensi. Untuk menggabungkannya dengan material kayu lain harus ada sambungan khusus agar bangunan dapat tahan guncangan gempa, seperti konstruksi Rumah Gadang asli.

Usai dibangun, tak hanya pujian yang ia dapat, Eko juga mendapat protes dari berbagai pihak. Penyebabnya karena ia memilih material penutup atap berupa seng, bukan ijuk atau sirap seperti aslinya.

"Kalau pakai ijuk payah mencarinya. Kalau rusak, pemilik akan repot menggantinya," kata Eko. Ia juga merujuk pada aturan pemerintah kolonial Belanda pada masa penjajahan yang melarang pemakaian ijuk atau sirap karena mudah terbakar.

Sejak pembangunan kembali dua hunian itu, menurut Eko, masyarakat mulai ingin memperbaiki Rumah Gadangnya. Apalagi kini Nagari Sumpu sedang bersiap sebagai tempat wisata Kampung Rumah Gadang.

"Saya pikir keinginan beberapa keluarga di Sumpu yang mau memperbaiki rumah mereka tersebut karena semakin muncul kesadaran tentang identitas dan kebanggaan," ujar Eko Alvares.

Ia berharap pelestarian Rumah Gadang bisa menjadi pintu masuk peningkatan pariwisata di Sumatera Barat. "Dari Rumah Gadang-lah puncak kekayaan warisan budaya masyarakat Minangkabau," katanya. Para wisatawan bisa mempelajari sistem matrilineal, kekerabatan, prosesi adat, hingga kuliner Sumatera Barat.

Arsitek, Eko Alvares, berpose di depan maket Rumah Gadang Etek Nuraini yang kala itu sedang ia bangun pada 2014 lalu
Arsitek, Eko Alvares, berpose di depan maket Rumah Gadang Etek Nuraini yang kala itu sedang ia bangun pada 2014 lalu Febrianti /Beritagar.id
BIODATA Diperbarui: 07 Desember 2017

Eko Alvares

Nama:

Eko Alvares

Tempat, tanggal lahir:

Padang panjang, 10 Maret 1965

Pendidikan:

  • Sarjana Arsitektur Universitas Parahyangan Bandung (1991)
  • Magister Teknik Arsitektur, Institut Teknologi Bandung (1993)
  • Doktor Arsitektur, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta (2002)

Pekerjaan:

  • Dosen Jurusan Arsitektur Universitas Bung Hatta, Padang
  • Dosen Pasca Sarjana, Universitas Bung Hatta, Padang

Karier:

  • Ketua Jurusan Arsitektur, Univ Bung Hatta (2006-2007)
  • Kepala Pusat Studi Konservasi Arsitektur (PUSAKA), Jurusan Arsitektur, Universitas Bung Hatta (sejak 2003)
  • Direktur Sekolah Profesional dan Pendidikan Berkelanjutan (SPACE), Universitas Bung Hatta (2008-2009)
  • Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Penjaminan Mutu, Universitas Bung Hatta (2008-2015)
  • Fasilitator Wilayah Kopertis Will X, tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi, Direktorat Penjaminan Mutu, Kemristekdikti, (2015)
  • Auditor Bersertifikat pada Sistem Penjaminan Mutu Internal, Direktorat Penjaminan Mutu, Kemristekdikti (sejak Mei 2016)
  • Tim Evaluasi Kinerja Akademik (EKA), Kopertis Wilayah X, Kemristekdikti (sejak April 2017)

Organisasi:

  • Anggota Profesional Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Anggota No. 2765 (sejak 1991)
  • Ketua Dewan Pengurus Daerah IAI (Ikatan Arsitek Indonesia), Sumatera Barat (2004-2007)
  • Ketua Kehormatan IAI (Ikatan Arsitek Indonesia), Sumatera Barat (2007-2010)
  • Wakil Ketua Pokja UU Arsitek, Pengurus Nasional Ikatan Arsitek Indonesia (sejak 2012)
  • Anggota Dewan Pendidikan Arsitek, Pengurus Nasional Ikatan Arsitek Indonesia (sejak 2012 – sekarang)
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR