Atlet angkat besi nasional, Eko Yuli Irawan, berpose untuk Beritagar.id pada Jumat (16/11/2018) di Mess Kwini, Jalan Kwini II Nomor 2, Senen, Jakarta Pusat.
Atlet angkat besi nasional, Eko Yuli Irawan, berpose untuk Beritagar.id pada Jumat (16/11/2018) di Mess Kwini, Jalan Kwini II Nomor 2, Senen, Jakarta Pusat. Beritagar.id / Wisnu Agung Prasetyo
FIGUR

Eko Yuli Irawan, Si Mungil pencetak rekor

Ia satu-satunya atlet nasional yang meraih medali dalam tiga olimpiade berturut-turut.

Wajahnya terlihat segar sore itu. Ia baru saja istirahat siang setelah mejalani sesi latihan pagi harinya.

"Baru awal minggu ini saya mulai latihan lagi," kata Eko Yuli Irawan pada Jumat (16/11/2018) di Mess Kwini, Jalan Kwini II Nomor 2, Senen, Jakarta Pusat.

Di mes marinir itu, Eko bersama 15 atlet angkat besi lainnya rutin menjalani latihan pagi dan sore. Hanya Sabtu-Minggu saja mereka istirahat.

Kami sempat melihat sesi latihan sore tersebut tepat pukul empat sore. Selama dua jam para atlet mengangkat barbel yang beratnya hingga lebih 100 kilogram.

Brang! Brak! Brang! Tak henti-henti terdengar bunyi bantingan barbel ketika menyentuh karpet karet setelah diangkat oleh para atlet nasional tersebut. Saking berisiknya, kami seperti berada di lokasi pekerjaan konstruksi jalan.

"Kok tenang banget nih," ujar Eko menggoda teman-temannya yang berlatih. Langsung saja irama dangdut koplo bergema di sasana tersebut. Suasana semakin berisik. Tapi para atlet tambah bersemangat.

Eko tak tergesa-gesa dalam berlatih. Di saat atlet lain sudah mulai mengangkat beban, ia memilih pemanasan dari ujung kaki hingga kepala.

Baru setelahnya ia mengangkat tiang barbel tanpa beban. Beratnya 20 kilogram. Pelan-pelan ia melakukan clean and jerk dan snatch. Dua gaya dalam olahraga angkat besi ini memang wajib dikuasai oleh para atletnya.

Clean and jerk ibarat mengangkat ember berisi penuh air ke atas kepala. Ada dua tahap supaya air tak tumpah. Beban diangkat terlebih dulu sampai batas dada dalam posisi jongkok. Baru setelahnya angkat ke atas sampai kedua tangan dalam posisi lurus.

Nah, kalau snatch lebih sederhana tapi sama sulitnya. Barbel langsung diangkat ke atas kepala dalam posisi badan tegak dan tangan lurus.

Setelah pemanasan, Eko mulai mengangkat barbel dengan beban. Dari 40 kilogram, ia istirahat, duduk, sambil melihat telpon genggamnya. Lanjut ke 60 kilogram. Setelah itu, Eko kembali melihat layar ponselnya.

Ia melakukan hal tersebut hingga lebih 80 kilogram. Ketika masuk ke angkatan di atas 100 kilogram, ia mulai berkeringat. Ia kerap duduk untuk mengambil napas dan melap badannya.

Eko Yuli Irawan (kanan) ketika berlatih di Mess Kwini, Jalan Kwini II Nomor 2, Senen, Jakarta Pusat, pada Jumat (16/11/2018).
Eko Yuli Irawan (kanan) ketika berlatih di Mess Kwini, Jalan Kwini II Nomor 2, Senen, Jakarta Pusat, pada Jumat (16/11/2018). | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Latihan gratis

Tinggi badannya tak sampai 160 sentimeter. Badannya kekar. Otot terlihat menyembul dari balik kaos hitam dan celana pendeknya.

Di balik tubuh yang mungil, ia menyimpan berbagai prestasi. Hanya Eko yang berhasil menyumbangkan medali untuk negara ini selama tiga olimpiade berturut-turut.

Ia juga tak tanggung-tanggung untuk kejuaraan regional. Pada Asian Games kemarin di Jakarta, ia menjadi atlet kelima yang meraih medali emas untuk Indonesia.

Bonus dari pemerintah dalam bentuk uang miliaran rupiah tentu saja ia terima dengan sukacita. Tapi ada yang lebih menyenangkan hatinya. Putra keduanya lahir tak lama setelah Eko berhasil menorehkan prestasi di pesta olahraga se-Asia tersebut.

Lalu, awal bulan ini Eko juga memperoleh medali emas di Kejuaraan Dunia Angkat Berat di Ashgabat, Turkmenistan. Ia berhasil mencetak rekor dalam angkatan clean and jerk 174 kilogram. Rekor sebelumnya kurang sekilo dari catatan Eko.

Dalam kejuaraan tersebut total angkatan Eko adalah 317 kilogram. Sisanya adalah snatch 143 kilogram.

"Semua butuh kerja keras dan pengorbanan," kata pria berusia 29 tahun itu kepada Fajar WH, Sorta Tobing, dan Wisnu Agung Prasetyo.

Di usia remaja ia sudah hidup terpisah dari orang tuanya. Ia awalnya berlatih di kampung halamannya di Lampung, lalu pindah ke Bogor, Jawa Barat.

Ia tak pernah bercita-cita menjadi atlet angkat besi. Keinginannya waktu itu hanya berolahraga. Di sekolah ia senang pelajaran tersebut. "Tapi enggak kepikiran jadi atlet," katanya.

Bermain sepak bola dengan teman-teman sekolah menjadi kesukaannya ketika kecil. Tapi ia tak bisa menggeluti serius olahraga ini karena terkendala biaya.

Saat umur 12 tahun ia melihat ada tempat latihan angkat besi di dekat rumahnya. Sasana itu milik pemerintah Kalimantan Selatan. "Masuk ke sana tidak ada biaya, jadi saya coba saja," ujar Eko.

Dari coba-coba itu, Eko malah semakin menggeluti. "Kalau latihan serius langsung dikasih uang saku," katanya. Setiap sore ia berlatih, setelah pulang sekolah.

Saat itu ia tak punya target apa pun. Eko menjalani semua apa adanya. Badannya sakit, tapi bisa ia atasi. Teman-temannya yang ikut dalam pelatihan tersebut mengundurkan diri karena tak kuat menahan nyeri. Hanya Eko yang bertahan.

Kehidupan keluarga Eko waktu itu cukup sulit. Ayahnya bekerja serabutan menjadi tukang bangunan hingga tukang becak. Ibunya bekerja mengurus rumah. Sulung dari tiga bersaudara ini mau-tak mau berjuang untuk membiayai kehidupannya sendiri.

Tawaran untuk pindah ke Bogor tak ia tolak. Lagi-lagi karena ia tak keluar ongkos sama sekali. Orang tuanya pun mendukung, walau tak mengerti apa itu olahraga angkat besi.

Keputusan tersebut tak sia-sia. Prestasi Eko menanjak. Dari awalnya meraih emas di kejuaraan remaja, langsung nasional, lalu regional, dan dunia seperti sekarang.

Mimpinya sekarang hanya satu. Dalam dua tahun ini ia fokus mempersiapkan diri untuk berlaga di Olimpiade Tokyo 2020. "Setiap atlet pasti ingin medali emas olimpiade. Itu target saya," kata Eko.

Selama 17 tahun, kehidupannya hanya berputar untuk angkat besi. Latihan intensif pagi dan sore tak pernah absen dalam hidupnya. Bahkan soal makan pun ia harus disiplin. Tak makan nasi, mie, apalagi gorengan.

Untuk menyeimbangkan hidup agar tak jenuh, Eko harus pintar-pintar mengisi waktu luang. Kalau malam tiba, ia mengajar untuk siapa saja yang ingin berlatih angkat besi. Ia membuka kelas sejak pukul 19 hingga 20.30.

"Biasa yang datang warga sekitar mes," katanya.

Usai mengajar, kalau masih ada tenaga, Eko bermain PlayStation dengan teman-teman satu mes. Kadang mereka juga bermain futsal bersama-sama. "Nyari keringat saja," ujar Eko.

Saat akhir pekan, ia pulang ke rumahnya di kawasan Bekasi, Jawa Barat. Berkumpul bersama istri dan dua anaknya menjadi momen melepas penat.

Pulang ke kampung halaman belum sempat ia lakukan karena kejuaraan beruntun harus Eko jalani. "Mungkin Desember nanti saya ke Lampung," kata pria murah senyum tersebut.

Atlet angkat besi Eko Yuli Irawan berpose di Mess Kwini, Senen, Jakarta Pusat pada Jumat (16/11/2018).
Atlet angkat besi Eko Yuli Irawan berpose di Mess Kwini, Senen, Jakarta Pusat pada Jumat (16/11/2018). Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id
BIODATA Diperbarui: 23 November 2018

Eko Yuli Irawan

Tempat, tanggal lahir:
Kota Metro, Lampung, 24 Juli 1989

Profesi:
Atlet nasional angkat besi

Prestasi:

  • Medali emas Sea Games, Thailand (2007)
  • Medali emas kejuaraan dunia junior di Praha, Republik Ceko (2007)
  • Dua buah medali perunggu kejuaraan dunia di Chiang Mai, Thailand (2007)
  • Medali emas PON XVII, Kaltim (2008)
  • Medali perunggu Olimpiade Beijing 2008
  • Medali perunggu Olimpiade London 2012
  • Medali perak Olimpiade Rio de Janeiro 2016
  • Medali emas Asian Games, Indonesia (2018)
  • Medali emas kejuaraan dunia di Ashgabat, Turkmenistan (2018)
BACA JUGA