Maestro legong, Bulantrisna Djelantik, saat berpose untuk Beritagar.id pada Rabu (06/06/2018) di kediamannya, Jalan Martimbang, Jakarta Selatan.
Maestro legong, Bulantrisna Djelantik, saat berpose untuk Beritagar.id pada Rabu (06/06/2018) di kediamannya, Jalan Martimbang, Jakarta Selatan. Wisnu Agung Prasetyo / Beritagar.id
FIGUR

Gairah abadi Bulantrisna Djelantik

Baginya, menari bukan pilihan. Inilah hidupnya. Dan legong adalah nafasnya.

Selama 60 tahun ia dedikasikan hidupnya untuk menari legong. Dari kecil ketika menjadi penari istana, hingga sekarang setelah menyandang gelar doktor spesialis pendengaran.

"Legong adalah akar tari Bali. Usianya 200-300 tahun. Saya ingin mempertahankan keasliannya," ujar Ayu Bulantrisna Djelantik pada Rabu (06/06/2018).

Gara-gara itu, sejak 2004 Bulan tak lagi mengajar kedokteran di Unversitas Padjajaran, Bandung, Jawa Barat. Beberapa tahun terakhir ia juga sudah tidak praktik. Ia fokus menari.

"Teman-teman di spesialis THT (telinga, hidung, dan tenggorokan) sudah banyak. Yang mendalami legong sedikit," kata perempuan yang kerap dipanggil Bulan itu.

Hidupnya kerap berpindah tempat. Lahir di Belanda, besar di Bali, sempat ke Inggris, kuliah di Bandung, Jerman, Belgia, lalu bermukim sebentar di Amerika Serikat, terakhir menetap di Jakarta.

Ke mana pun kakinya melangkah, ia jarang menolak permintaan menari. Termasuk ketika menerima wawancara kami.

Bulan menunjukkan tari legong Kupu-Kupu Carung. Dari posisi duduk ia mulai menari. Seluruh badannya bergerak mengikuti irama gamelan. Lalu, ia berdiri.

Bulan menjalin wirama, wiraga, dan wirasa tanpa banyak kendala. Usia 70 tahun tak membatasi geraknya. Matanya masih tajam mendelik. Jari-jarinya bergerak lentik. Pantaslah ia disebut maestro legong.

Selama 5,5 menit ia menari. Napasnya tak tersengal-sengal dan ia masih banyak senyum. Padahal siang itu Jakarta panas terik dan Bulan sedang menjalani puasa.

Usai menari, cepat-cepat ia berganti baju, membersihkan riasan wajah di lantai dua rumahnya, Jalan Martimbang, Jakarta Selatan. Ia kemudian turun dan mengajar menari murid-murid Studio Lestari Ayu Bulan.

Kami yang sedari tadi mengikuti aktivitasnya selama tiga jam dari wawancara, berdandan, menari, dan terakhir mengajar sudah terasa penat. Namun, Bulan tetap cerah dan ceria. "Ini olahraga buat saya. Keluar keringat bagus untuk badan," ujarnya.

Sekitar satu jam ia mengajar. Lalu, sembilan orang muridnya yang mayoritas berusia Sekolah Dasar beristirahat. "Karena banyak yang sedang puasa, saya mengajar pelan-pelan saja," kata Bulan kepada orang tua murid yang datang.

Setelah 15 menit, Bulan duduk bersimpuh, begitu pula para muridnya. Kali ini ia mengajarkan teknik menggerakkan kipas. Properti penting tari legong itu ia gerakkan ke kiri, kanan, atas, bawah. Ia juga menunjukkan cara memutarkannya.

Semua murid tampak antusias dengan pelajaran tersebut. Ini adalah pertama kali mereka belajar di rumah itu. Sebelumnya mereka belajar di kediaman Bulan di kawasan Bintaro.

Ada alasan spesial di balik kepindahan tempat itu. Bulan baru saja menikah dan pindah ke rumah suaminya, Martiono Hadianto. "Dia teman hidup saya di masa senja," ujarnya kepada Fajar WH, Sorta Tobing, dan Wisnu Agung Prasetyo.

Martiono bukan orang baru di pemerintahan dan industri pertambangan. Ia pernah menempati posisi penting di Kementerian Keuangan, Kementerian BUMN, serta perusahaan plat merah, seperti Garuda Indonesia, PLN, Pertamina, dan Telkom. Terakhir, ia pensiun sebagai Presiden Direktur PT Newmont Nusa Tenggara.

Bulan tak menyangka bakal menikah dengan pria yang akrab dipanggil Nono itu. Mendiang istri Martiono, Hermieningsih, adalah sahabat satu indekos saat kuliah di Bandung.

Jodoh tak ke mana. Setahun setelah Hermieningsih wafat karena kanker, Bulan dan Martiono bertemu melalui Facebook. "Milenial dong," kata Bulan tertawa. Ngobrol sana-sini akhirnya klop. Mereka sepakat menikah pada akhir April lalu.

"Syaratnya, anak-anak memberi restu," ujar ibu tiga anak ini. Babak baru kehidupannya dimulai. Bulan tampak antusias meskipun mencari colokan listrik di rumah itu pun ia masih sulit.

Seperti apa kisah hidupnya sebagai penari, dosen, dan dokter? Simak ceritanya berikut ini.

Bulantrisna Djelantik saat mengajar murid-muridnya di Studio Lestari Ayu Bulan (kiri atas), sesaat sebelum menari (kanan atas), dan ketika membawakan tari legong Kupu-Kupu Carung.
Bulantrisna Djelantik saat mengajar murid-muridnya di Studio Lestari Ayu Bulan (kiri atas), sesaat sebelum menari (kanan atas), dan ketika membawakan tari legong Kupu-Kupu Carung. | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Undangan istimewa dari Jepang

Ia berdarah biru, tapi bukan Bali tulen. Ayahnya, Dokter AA Made Djelantik, adalah anak raja terakhir Karangasem, Anak Agung Anglurah Djelantik.

Ibunya, Astri Henriette Zwart, 100 persen Belanda. Seorang bidan yang bertemu Dokter Djelantik ketika sekolah di Negeri Kincir Angin. "Saya termasuk indo pertama yang tinggal di Bali," ujarnya.

Usia tujuh tahun ia mulai belajar menari. Kakeknya yang meminta.

Bulan masih ingat jarak dari rumahnya di Singaraja ke puri kakeknya mencapai 70 kilometer. Tapi ia tak surut langkah seminggu sekali datang ke sana.

Saking senangnya menari, ia memutuskan pindah sekolah supaya dapat belajar di Karangasem. Setelah setahun, Bulan kembali ke rumah orang tuanya.

Lalu, ia pergi ke London selama enam bulan, mengikuti ayahnya, Dokter AA Made Djelantik, yang sekolah di sana. "Saya sempat diundang menari waktu itu. Nari tiga tarian. Senang sekali rasanya," kata sulung dari lima bersaudara itu.

Kembali ke Pulau Dewata, keluarga Djelantik tinggal di Denpasar. Ayahnya senang anaknya menyukai tari. Ia mencari guru terbaik untuk Bulan dan memasukkannya ke dalam grup tari prestisius di Desa Peliatan, Ubud.

"Mereka terkenal sekali karena pertama kali membawa tari legong ke Amerika Serikat pada 1952," ujar Bulan. Di sini, ia berkesempatan belajar dengan seorang maestro pada zamannya, Gusti Biang Sengog.

Dari sinilah Bulan mengenal legong. Sebuah tarian klasik yang membutuhkan teknik tingkat tinggi, layaknya balet. Butuh dua tahun latihan dengan tekun untuk menguasainya.

Gaya Peliatan berbeda dengan legong di daerah Bali selatan. Gerakan tubuhnya lebih melengkung, patah-patah, dan bergetar sehingga terlihat dinamis berpadu dengan iringan gamelan.

Tak semua perempuan penari bisa menarikannya. Ada ciri fisik khusus. "Badannya tidak bisa terlalu panjang, kurus, atau gemuk. Mukanya bulat supaya cocok mengenakan hiasan kepala," katanya.

Penari legong juga harus lentur. Tapi bukan berarti lemah. Justru harus kuat. Kadang tarian ini menuntut penarinya berperan sebagai tokoh yang maskulin, bisa pula anggun dan gemulai.

"Ceritanya bisa macam-macam. Ciri khasnya adalah pakaian yang sama seperti ini," ujar Bulan sambil menunjuk kostum yang ia kenakan.

Butuh satu jam Bulan mempersiapkan diri siang itu. Ia dibantu oleh muridnya, penari legong juga, Ni Ketut Putri Minangsari, saat berias dan mengenakan kostum.

Bulan bergabung dengan sanggar tari Peliatan selama 10 tahun. Dari sinilah jalan masuknya sebagai penari istana. Mulanya Istana Tapak Siring. Saat itu usia Bulan 12 tahun.

Pada 1964 Sukarno, Presiden RI yang pertama, melakukan diplomasi budaya. Bulan terpilih menjadi anggota rombongan penari. Ia pergi ke Pakistan, Thailand, Singapura, dan Kamboja.

Ayahnya sempat tak setuju Bulan pergi ke Tiongkok dan Korea Utara karena sentimen antikomunisme. Akhirnya, izin dikeluarkan setelah tahu ternyata Jepang juga menjadi negara tujuan.

"Tapi saya enggak bilang, undangan ke Jepang itu dari partai komunis di sana. Ha-ha-ha...," katanya.

Maestro legong, Bulantrisna Djelantik, saat berpose untuk Beritagar.id pada Rabu (06/06/2018) di kediamannya, Jalan Martimbang,, Jakarta Selatan.
Maestro legong, Bulantrisna Djelantik, saat berpose untuk Beritagar.id pada Rabu (06/06/2018) di kediamannya, Jalan Martimbang,, Jakarta Selatan. | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Kulminasinya sebagai penari adalah ketika terpilih sebagai penari untuk EXPO 70 Osaka di Jepang pada 1970. Pavilion Indonesia saat itu dirancang dengan baik sehingga pengunjung dari berbagai negara datang melihatnya.

Bulan ikut rombongan penari dalam acara tersebut selama tiga bulan. Ia menari dua kali dalam sehari, pagi dan sore. "Pengunjung melihat kami, konsepnya seperti menonton sabung ayam," ujarnya.

Di acara itu juga ia baru mengetahui kakeknya dari pihak ibu adalah seorang seniman gerakan De Stijl tersohor bernama Piet Zwart. "Saya kaget setengah mati ketika di depan pavilion Belanda ada foto kakek saya besar sekali," kata Bulan tertawa.

Pada 1971 Bulan menikah dan memiliki tiga anak. Aktivitasnya sebagai penari sempat berkurang. Ia fokus mengajar sebagai dosen.

Pada 1994, Studio Lestari Ayu Bulan buka pertama kali di Bandung. Tempat kursus ini masih ada sampai sekarang dan merambah ke ibu kota. Untuk penari profesional yang ingin mempelajari legong, Bulan mendirikan Bengkel Tari Ayu Bulan.

Bintang pelajar

Berhasil menjadi penari, Bulan ternyata sukses pula di bidang pendidikan. Walaupun sibuk manggung sana-sini, nilainya tetap bagus.

"Saya nari sambil bawa buku. He-he-he...," kata peraih bintang pelajar Sekolah Menengah Pertama se-Bali itu.

Itu pula yang terjadi ketika ia berada di EXPO 70 Osaka. Buku pelajaran kedokteran ia bawa dan baca setiap kali ada kesempatan.

Kerap pergi untuk misi budaya, Bulan jadi mendapat dispensasi untuk ikut ujian susulan. Termasuk saat mau lulus Sekolah Menengah Atas.

Tapi dengan hasil yang baik ia mendapat keistimewaan boleh masuk jurusan dan kampus mana saja yang ia tuju. Kedokteran ia pilih semata karena kerap melihat ayahnya. Tapi di dalam hati, Bulan sebenarnya ingin menjadi penari.

Ayahnya tak mau Bulan menempuh pendidikan di Unversitas Udayana, Bali karena dirinya menjadi pengajar di sana. Bulan juga tak boleh ke Universitas Indonesia. "Kalau di Jakarta, kata beliau, saya pasti nari terus," ujarnya.

Konsistensi legong, Bulantrisna Djelantik /Beritagar ID

Akhirnya Universitas Padjadjaran menjadi pilihannya. Ternyata, di sana ia malah semakin sering menari.

Lulus strata pertama, ia langsung mendapat tawaran mendirikan Akademi Seni Tari Indonesia di Bandung. Jabatan pegawai negeri sipil ia terima pada 1972, sebelum menjadi dokter.

Tapi setelah bergelar dokter ternyata ia tidak boleh bekerja di bidang lain. Bulan akhirnya pindah menjadi dosen Fakultas Kedokteran di almamaternya. "Memang saya cepat sekali menjadi pegawai negeri sipil. Makanya, cepat juga pensiunnya," ujar Bulan.

Menjadi dosen membuka peluang Bulan untuk mengejar pendidikan lebih tinggi. Sarjana strata dua ia raih di Jerman. Lalu, lanjut lagi ke Belgia untuk menempuh gelar doktor. Di kedua negara itu, lagi-lagi, Bulan sering menerima undangan menari.

Ia mengambil THT semata karena antrian masuknya tidak panjang. Target dia sebenarnya menjadi dokter anak.

Tapi di THT ia menemukan kesukaannya, yaitu ilmu pendengaran. "Mungkin karena saya penari juga ya," katanya.

Keilmuan ini pula yang membuat Bulan dipanggil oleh Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO untuk membentuk Sound Hearing 2030. Sebuah program inisiatif untuk pencegahan dan penghapusan gangguan pendengaran, terutama di kawasan selatan dan timur Asia.

Ia sempat menjabat sebagai presiden lembaga tersebut pada 2005-2009. "Saya juga sering menjadi konsultan bidang pendengaran di Jerman, Kamboja, Nepal, Bhutan, Yaman," ujar Bulan.

Dari semua keberhasilannya di bidang kedokteran, menari tetap menjadi gairah terbesarnya. Tak peduli siapa yang menonton, kala berada di panggung Bulan hanya fokus pada tariannya. "Denting gamelan seperti merasuk ke tubuh saya," katanya.

Bulan saat ini mulai membatasi penampilannya di atas panggung. Ia mengakui fisiknya tak seperti dulu. "Masalahku di keseimbangan," ujarnya.

Namun, ia tetap semangat mengajar. Ia berharap dari studio tarinya akan muncul bibit baru penari legong. "Nama studio ini lestari. Untuk melestarikan dan juga les tari," kata Bulan tersenyum.

Maestro legong, Bulantrisna Djelantik, saat berpose untuk Beritagar.id pada Rabu (06/06/2018) di kediamannya, Jalan Martimbang V Nomor 3, Kebayoran Ba
Maestro legong, Bulantrisna Djelantik, saat berpose untuk Beritagar.id pada Rabu (06/06/2018) di kediamannya, Jalan Martimbang V Nomor 3, Kebayoran Ba Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id
BIODATA Diperbarui: 28 Juni 2018

Bulantrisna Djelantik

Nama lengkap:
Ayu Bulantrisna Djelantik

Tempat, tanggal lahir:
Deventer, Belanda, 8 September 1947

Pendidikan:

  • Dokter, Universitas Padjadjaran, Bandung (1975)
  • Spesialis THT (1985)
  • Doktor medizin/S2, LM Universitat Munich, Jerman (1989)
  • Doktor/S3, Antwerp University, Belgia (1996)

Pekerjaan:

  • Pendiri dan Dosen Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI), Bandung (1972-1974)
  • Dosen di Bagian Ilmu Faal Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung (1974-1980)
  • Dosen di Bagian Ilmu Penyakit THT Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung pada 1980, Koordinator sub-bagian Audiologi dan THT Komunitas sejak 1990, pensiun PNS pada 2004
  • Pendiri, Koreografer dan Pelatih ”Bengkel Tari AyuBulan” (1992 - sekarang)

Pendidikan tari:

  • Sejak kecil menari berbagai tari klasik Bali dan belajar dari penguruk Ida Bagus Raka Bongkasa di Puri Karangasem, I Wayan Kakul dari Batuan, I Mario dari Tabanan, I Wayan Brata di Belaluan, Denpasar, Gusti Biang Sengog dan Anak Agung Mandera di Peliatan.
  • Pada usia relatif lanjut belajar Topeng pada Ida Bagus Anom di Mas dan Legong pada Ibu Muklen di Pejeng, dan terakhir belajar Joged Pingitan pada Ibu Sekar di Batuan.

Kegiatan seni tari dan budaya:

  • 1955: Pertama kali pementasan sebagai penari cilik khusus tari Condong Kebyar, tari Baris dan tari Oleg untuk umum di lingkungan Puri Karangasem.
  • 1956: Pentas di Belanda dan di London ketika mengikuti ayah yang sedang studi di London.
  • 1957-1965: Menari untuk berbagai pementasan di Puri Kaleran Peliatan, Bali Hotel dan Istana Tampaksiring, umumnya Condong Legong Lasem dan Oleg, sebagai anggota Sekaa Gong Wargasari Peliatan. Sering menari dengan Sekaa Gong Belaluan dan Sekaa Gong lainnya di Denpasar, Singaraja dan Gianyar.
  • 1959: Pada usia 12 tahun mendapat undangan dari Presiden RI Bung Karno menari Oleg Tamulilingan di Istana Negara Jakarta, untuk Tamu Negara Ho Chi Minh.
  • 1962: Menari Oleg Tamulilingan pada Pembukaan Bali Beach Hotel di Sanur Bali.
  • 1964-1965: Mengikuti rombongan Misi Kesenian Kepresidenan ke luar negeri:Pakistan, Thailand dan Jepang, lalu ke Korea Utara, Cina, Jepang (bersama banyak tokoh seni tari Bali: Made Bandem, Ketut Sukaraka, Wayan Dibia, alm Raka Astuti, dsb). Saat terjadinya G30S pada 30 September 1965, berada di training center Senayan untuk persiapan Misi Kesenian ke Romania dan Belanda yang kemudian dibatalkan.
  • 1965: Pindah ke Bandung, sambil studi di Fakultas Kedokteran, tetap mengajar tari Bali dan sering ikut pementasan perkumpulan Gita Saraswati di Bandung dan berbagai kota di Jawa Barat
  • 1967-1970: Pada masa Presiden Soeharto mengikuti Misi Kesenian ke Thailand dan Filippina (1967), Singapura, Bangkok (1968), Hongkong (1969), EXPO 70 di Osaka .
  • 1972-1974: Anggota tim pendirian Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Bandung dan diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil Dep P&k sebagai Dosen Tari Bali.
  • 1974: Pindah sebagai dosen PNS Fakultas Kedokteran Unpad Bandung, mengajar tari Bali untuk kelas anak2 di Sanggar2 dan pementasan bersama Mahagotra Ganesha ITB.
  • 1986-1989: Tugas belajar untuk S2 Kedokteran di Munich Jerman. Aktif mengajar tari danpentas bersama Sekaa Gamelan Cara Bali di Stadt Museum, maupun pementasan di Kedutaan di Bonn dan Konsulat di Hamburg.
  • 1992: Mulai merintis ”Bengkel Tari AyuBulan”, sanggar yang mendalami khususnya tarian Palegongan, dengan tema menjaga tradisi dan inovasi untuk panggung masa kini. Bengkel Tari ini masih aktif sampai sekarang dengan kelompok di Jakarta dan Bandung, dan menggarap berbagai karya baru, khususnya drama tari Legong.
  • 1994: Pekan Apresiasi Legong untuk masyarakat di luar Bali. Prof Edi Sediawati, bpk Gunawan Mohamad dan bpk Wy Dibia ikut menjadi pembicara pada Seminar perkembangan tari Legong.
  • 1995: Mengikuti Festival Legong di Ubud, yang diadakan Yayasan Walter Spies, sebagai pembicara saresehan, dan menari dalam Legong Surapati karya Guruh Sukarnoputra bersama Sekaa Gong Gunungsari Peliatan.
  • 1996-1998: Bengkel Tari AyuBulan menggarap drama tari Palegongan Asmarandana bersama Made Suartini dan komposer alm Wayan Sadra, dan mengadakan pementasan di Bandung Jakarta, dan muhibah kesenian ke Jepang (1996), Swiss (1997), Rusia dan Paris (1998). Menggarap tari kontemporer “Energi Legong” bersama Alex Dea dan Teguh Ostenrik, pementasan di Sharing Time Solo dan Galeri Nasional Jakarta.
  • 1997-2007: Anggota Pengurus Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia (MSPI) yang bersekretariat di Taman Budaya Bandung hingga th 2002 , lalu pindah ke TIM Jakarta.
  • 9 September 1999: menjadi Ketua Panitia FESTIVAL MILENIART MSPI di Taman Air Tirtagangga Bali, diikuti oleh 300 budayawan seluruh Nusantara.
  • 2002-2003: Menggarap Drama tari Legong Witaraga bersama Made Suartini dan alm Putu Suwecana dari ASTI di Bandung. Pementasan perdana di Nu Art Bandung dan TIM Jakarta.
  • 2004-2006: Selama bermukim paruh waktu di Auburn, North California USA, mengajar sanggar Sekar Jaya di El Cerrito. Mengajar dasar tari Legong di University of South California di Santa Cruz dengan pementasan amal untuk korban Tsunami. Pertunjukan Topeng bersama Irawati Durban dan Prof. Kathy Foley, pada Asia Mask Exhibition di East West Center, Hawai, 19-21 Februari 2004. Membuat karya Janger untuk Indonesia Day di Union Square San Fransisco (Agustus 2005 dan Agustus 2006).
  • 2005: Menggarap tari Topeng Sitaresmi bersama I Wy Dibia, busana oleh Harry Darsono, komposisi gamelan alm Pt Putrawan dari Munduk, pementasan perdana di Danes Veranda Art Denpasar dan Galeri Cemara Jakarta.
  • 2006: Bengkel Tari Ayu Bulan berkolaborasi dengan Padneswara membuat karya “Bedoyo Legong Calon Arang (BLCA)”, penata tari Retno Maruti dan Bulantrisna Djelantik. Pementasan di TIM (21-23 April 2006), , PKB Bali ( 2008), dan terakir pada Peringatan 30 tahun The Jakarta Post di TIM (25 April 2013).
  • 2007: Pementasan BLCA di Esplanade Theatre Singapura (10 Feb 2007) Wakil Ketua Panitia acara “Mengenang Sang Guru” untuk penghormatan terhadap Agung Mandera dan Gusti Biang Sengog, serta napak tilas gaya Pelegongan khas Peliatan melalui penerbitan buku acara dan pementasan selama dua hari (Agustus 2007). Menggarap “Legong Mintaraga” komposisi 6 penari.
  • 2008: Pementasan Topeng Sitayana di IDF Jakarta (30 Nopember 2008).
  • 2009: Pementasan Legong Kupu Tarum untuk World Lupus Day, Syamsi Duha Foundation di Bandung (8 Mei 2009). Pementasan BLCA di Gedung Kesenian Jakarta
  • 2010: Legong Semarandana, bersama AA Kusuma Arini pada Pentas Pragina Mas, PKB , Taman Budaya Denpasar (July 2010). Pementasan Topeng Sitayana di International Gamelan Festival Amsterdam (IGFA) 11-15 Sept 2010, bersama Sekaa Gong Semara Ratih Ubud pp AA Anom.
  • 2011: Menggarap Joged Bumbung Podang yang merupakan tarian pergaulan ceria dengan selingan poco-poco dan dangdut bersama untuk World Lupus Day (7 Mei 2011). Mengunjungi Vienna, Austria untuk mengajar dan pentas di KBRI. Membantu identifikasi kostum tari Bali kuno di Weltmuseum Vienna.
  • 2012: Pementasan BLCA di World Dance Day , ISI Solo. Anggota Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI), mulai aktif memperjuangkan pengajuan Tari Bali sebagai Warisan Budaya Dunia Tak Benda ke Unesco bersama tim Direktorat Jendral Budaya, Depdiknas.
  • 2013: “Temu Sang Ayu Muklen di desa Pejeng” dan “Workshop Legong di Balerung Peliatan”. Pada puncak Peringatan Hari Pusaka Dunia yang diselenggarakan BPPI pentas Legong Keraton di Candi Bajang Ratu situs Majapahit Trowulan (18 April 2013). Mementaskan koreografi baru Legong ARYA”” , HUT Arysuta Center, Ritz Carlton Jakarta (25 April 2013). Pentas Legong Keraton, pelatihan dan wawancara pada acara Tong-Tong Fair, The Hague, Netherlands bersama A A Kusuma Arini ( 1 - 2 Juni 2013). Pementasan , workshop tari Legong, dan dialog public pada pameran “Danced Creations” World Museum Vienna, bersama penari Jawa Didiek Ninik Thowok, (15-25 Juni 2013). Rekonstruksi Legong Kupu2 Carum dari desa Bedulu bersama Sanggar Dewi Sri, Teges, Peliatan. Mementaskan Legong Bapang Lasem sebagai Condong dan Goak, pada acara Maestro-Maestro! Dewan kesenian Jakarta di TIM (11 Nopember 2013), memperoleh Piagam Penghargaan MURI sebagai penari Goak Legong yang terlama, selama 55 tahun.
  • 2014: KEMILAU LEGONG di Galeri Indonesia Kaya (GIK) Jakarta. “SANG PANJI”, karya Bulantrisna, gamelan komposisi Dewa Alit, untuk acara MUSEUM GALERI CEMARA pp Prof Toeti Nurhadi Roosseno, dan untuk acara Catur Magothra di JakartaKEMILAU LEGONG sebagai peringatan 20 th Bengkel Tari AyuBulan di Goethe Institut Jakarta. CITRA SARASWATI karya Bulantrisna pada acara launching buku “Saraswati”, Goethe Institut Jakarta, Gamelan Sinom Ladrang dari album Tabuh Semar Pegulingan Saih Pitu STSI.
  • 2015: Program pementasan dan dokumentasi pada program JELAJAH CANDI SUKUH Solo, dan SUNIARAGI CIREBON. Beforeeiforget – Eksplorasi Legong kontemporer bersama koreografer Kenzo Kusuda, INDOMANIA Amsterdam. DRAMATARI PANJI INU, kolaborasi dengan Swargaloka, karya Ayu Bulantrisna dan Dewi Sulastri, GEDUNG KESENIAN JAKARTA. LEGONG SAMPIK ENGTAY, Galeri Indonesia Kaya, Bengkel Tari Bandung dan Jakarta. ARJUNA DIBIASAKTI, kolaborasi Legong dan tari India Bharatanatyam, pada perayaan Kemerdekaan India dan Indonesia – GEDUNG SAPTA PESONA Kemenpar Jakarta (16 Agustus 2015). Muhibah seni Bengkel Tari AyuBulan ke India dengan dukungan DirBud Diknas ke New Delhi India, pementasan di Delhi International Arts festival (DIAF) di Kamani Theatre Delhi dan di Kullu. Pagelaran Legong Kupu Tarum pada acara Kongres Kesenian Indonesia di Bandung, dihadiri Mendikbud (2 Desember 2015).
  • 2016: Arjuna Dibiasakti, WDD Solo. Citra Saraswati, ARMA Ubud. Revitalisasi Legong Kupu Carum, Pura Samuantiga, Gianyar , kolaborasi dengan Melati Danes Dance. Satua Calonarang , karya Bulantrisna Djelantik , KONGRES JURNAL PEREMPUAN, Jakarta. Arjuna Dibiasakti, untuk penggalangan dana Yayasan JaRI , Gedung RRI Bandung. SANGA SARI ROADSHOW EUROPE, ke Berlin Jerman, Leiden, Belanda, Sofia Bulgaria dan Skopje Macedonia, mambawakan tarian kolaborasi Legong Mintaraga dan beberapa tarian yang telah masuk list warisan budaya dunia tak benda Unesco.
  • 2017: Panca Sesari – GIK Jakarta: Kompilasi tarian dalam list Unesco yang ditata bersama pembacaan puisi. Tari Rejang Shanti Hari Wanita Sedunia di depan Istana Negara tari doa perdamaian dan tolak bala, konseptor Biyang Bulan, penata Dayu Ani, composer gending genjek Ida Bagus Made Widnyana dan lirik oleh Cok Sawitri. Tari Rejang Shanti Masal (70 penari dari berbagi sanggar) pada acara TMII MENARI Jakarta. Tarian Citra Dewi karya Bulantrisna Djelantik yang menampilkan busana aneka tenunan tradisional Nusantara , PAMERAN WASTRACITRA , JCC, Jakarta.
  • 2018: Muhibah Seni Bengkel Tari AyuBulan ke India atas undangan ICCR India pada acara Festival Ramayana pada ICCR- INDIA-ASIAN COMMEMORATIVE SUMMIT, menari koreografi Legong Topeng Ramasita di Delhi dan Lucknow (21-27 Jan 2018).

Publikasi

  • Djelantik, B: TRANSMISSION IN TRANSFORMATION: Teacher-Student Connections in Balinese Performance Practice, paper presentation at AAP Conference, San Fransisco, 28 July 2005
  • Djelantik B. Book REVIEW: “BALINESE DANCE, DRAMA AND MUSIC, A GUIDE TO THE PERFORMING ARTS OF BALI”by I Wayan Dibia and Rucina Ballinger with illustrations by Barbara Anello, Asian Theatre Journal, Vol 22. Number 2, Fall 2005, pp 361-362
  • Djelantik AB. NIYANG SENGOG DAN LEGONG PELIATAN, Majalah Gong 91/VIII/2007 Djelantik AB. GUSTI MADE SENGOG, GURU DENGAN SEJUTA KARISMA. Dalam buku kenangan (terbitan terbatas) Mengenang Sang Guru, Yayasan Balerung Peliatan (Agustus 2007)
  • Djelantik AB, PEREMPUAN DAN KONFLIK BUDAYA ( Women and Cultural Conflict), presented at Indonesian Dance Festival, Jakarta (30 November 2008)
  • Dr. Ayu Bulantrisna Djelantik , EXPLORING THE SOURCE OF HARMONY WITHIN: Women Finding Inner Peace Through Cultural Expressions, presentation at the International Women Conference, Nusadua Bali (28th March 2010)
  • Bulantisna Djelantik: PREFACE in Leonard Lueras (editor) The Art of Ogoh2 , Yayasan Purnati Bali (2011)
  • Djelantik, Ayu Bulantrisna. MARTABAT SEORANG PENARI. Dalam: Menjadi Indonesia, Surat dari & untuk Pemimpin. TEMPO INSTITUTE (2012)
  • Bulantrisna Djelantik (editor). Tari Legong, Dari Kajian Lontar Ke Panggung Masa Kini, penerbitan Dinas Budaya Pemkot Denpasar (2015).

Kreasi Tari

  • Energi Legong, tari kontemporer bersama Teguh Ostenrik dan komposer Alex Dea (1996)
  • Drama Tari Legong Asmarandana , bersama Made Suartini dan komposer Wayan Sadra (1997)
  • Drama Tari Legong Witaraga, bersama Made Suartini dan alm Sang Pt Suwecana (2000)
  • Topeng Sitarasmi, bersama Wy Dibia dan komposer alm Pt Putrawan (2005)
  • Janger Hip-Hop (2005)
  • Janger Anti-Stress (2006)
  • Bedoyo Legong Calon Arang (BLCA) bersama Retno Maruti (Padneswara), komposer Gusti Raka Kompyang (IKJ) dan Lukas (2006)
  • Legong Mintaraga (2007)
  • Topeng Sitayana (2008)
  • Joged Bumbung Podang (2012)
  • Legong Arya (2012)
  • Sang Panji (2013)
  • Citra Saraswati (2014)
  • Topeng Panji dan Rengganis (2014)
  • Kidung Tari Gayatri Rajapatni (2015)
  • Legong Sampik Engtay (konseptor) bersama Made Suartini dan Tjatur, Bandung (2015)
  • Beforeiforget bersama Kenzo Kuzuda, Amsterdam Belanda (2015)
  • Panji Inu kolaborasi dengan Dewi Lestari (Swargaloka Jakarta (2016)
  • Kirana (2017)
  • Rejang Shanti (konseptor) bersama Dayu Ani Arya, Cok Sawitri (narasi) dan I B Widnyana (2017)
  • Opera Wayang Panji Semirang (2017)
  • Legong Topeng Ramasita (2018)
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR