Gamal Albinsaid saat ditemui di rumahnya, Jalan Kyai Parseh Jaya Nomor 2, Bumi Ayu, Kedungkandang, Malang, Sabtu (4/11/2017).
Gamal Albinsaid saat ditemui di rumahnya, Jalan Kyai Parseh Jaya Nomor 2, Bumi Ayu, Kedungkandang, Malang, Sabtu (4/11/2017). Fully Syafi / Beritagar.id
FIGUR

Gamal Albinsaid, barter sampah yang mendunia

Asuransi sampah yang dirintis Gamal kini tengah dikembangkan di sejumlah daerah dengan metode dan pendekatan kearifan lokal.

Ketika mahasiswa, Gamal Albinsaid membaca berita tentang anak berusia tiga yang meninggal di tumpukan sampah. Namanya Khairunnisa, yang mempunyai ayah pemulung dan tak mampu membiayainya berobat. Ayahnya cuma mengobati Khairunnisa seadanya hingga akhirnya menutup mata karena tak kuat lawan diare yang diderita.

Tiadanya Khairunnisa pada 2005 menginspirasi Gamal yang kala itu tengah mengenyam pendidikan kedokteran di Universitas Brawijaya. Dia, bersama tujuh temannya, mencetuskan ide asuransi kesehatan, yakni premi asuransi dibayar dengan sampah. Dalam arti, masyarakat tak perlu bayar pakai uang, tetapi bisa dengan sampah--yang diperhitungkan nilai rupiahnya.

"Banyak orang memulai gagasan dengan melihat peluang dan masalah. Tetapi mereka lupa empati. Ini sangat penting," katanya kepada Beritagar.id di kantor Indonesia Medika Jalan Kedawung Nomor 17 Kota Malang, Sabtu (4/11/2017).

Dari gagasannya, pemuda 27 tahun asal Malang itu kini dikenal luas hingga luar negara. Ia berhasil raih penghargaan "The Prince of Wales Young Sustainability Entrepreneur" dari Pangeran Charles di Inggris. Ia menyisihkan 511 peserta wirausaha dari 90 negara.

Gamal pun berkesempatan bertemu dengan sejumlah tokoh dunia: dua kali diundang makan malam dengan Pangeran Charles, serta minum teh bersama Presiden Rusia, Vladimir Putin. "Ketika bersama mereka saya sangat nyaman dan berkesempatan belajar banyak hal," ujarnya

Ia sempat bicara panjang dengan Charles, karena makan dalam satu meja di Istana Buckingham. Charles kagum dengan program asuransi sampah dan memberi masukan untuk pengembangannya. Charles juga mengucapkan selamat atas inovasi yang bisa menyelesaikan dua masalah bersamaan: sampah dan kesehatan.

Gamal mengakui ketika menerima penghargaan dari Charles perasaannya linglung. Pasalnya sehari sebelum pengumuman resmi, ia sudah tahu dirinya keluar sebagai pemenang. Persoalannya, ia tak boleh menceritakan kepada siapa pun termasuk pada keluarganya.

Yang membuatnya tambah gelisah adalah dirinya terus menerus menerima pesan pendek dari ibunya, Eliza Abdat, yang menanyakan siapa pemenangnya. "Doa ibu adalah bagian yang tak terpisahkan dalam keberhasilan saya," katanya.

Bersama Putin obrolan juga hangat. Sosok Putin di mata Gamal amat bersahabat dan mau sabar mendengarkan ketika ia menyampaikan pemikiran. "Aura kepemimpinannya juga terasa. Saya perhatikan betul bagaimana cara ia berjalan, berbicara, menatap, dan berkomunikasi."

Gamal minum teh bersama Putin selama hampir dua jam. Jamuan itu terjadi usai Putin berpidato pada acara 19th World Festival of Youth and Students--untuk memberi motivasi kepada 25 ribu pemuda dari 150 negara sebulan silam.

Ada dua nasehat penting yang diingat Gamal dari Putin: "Kehidupan manusia tak ternilai harganya. Perawatan kesehatan lebih penting dari aktivitas lainnya dan perawatan kesehatan jadi komponen kemanusiaan dan ekonomi," kata Gamal menirukan ucapan Putin.

Sebelum dapat penghargaan dari Kerajaan Inggris, Gamal telah mendapatkan penghargaan dari Asoka--sebagai pemuda perubahan tahun 2013. Asoka adalah lembaga social entrepreneur yang berpusat di Inggris. Asoka inilah yang kemudian mengusulkan namanya menjadi salah satu kandidat penghargaan ke kerajaan.

Gamal Albinsaid saat ditemui di rumahnya, Jalan Kyai Parseh Jaya Nomor 2, Bumi Ayu, Kedungkandang, Malang Sabtu (4/11/2017).
Gamal Albinsaid saat ditemui di rumahnya, Jalan Kyai Parseh Jaya Nomor 2, Bumi Ayu, Kedungkandang, Malang Sabtu (4/11/2017). | Fully Syafi

Demi buku dan playstation

Kisah masa kecil Gamal tak bisa dipisahkan dari pola didik kedua orang tuanya. Ayahnya, Saleh Arofan Albinsaid, memberikan tantangan kepada anaknya untuk melakukan sesuatu dan mampu bertahan dalam ketidaknyamanan. Tujuannya untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. "Saya dibesarkan orang tua dengan prinsip delaying gratification (menunda kesenangan)."

Saat tengah duduk di sekolah dasar, dia harus berkeliling ke permukiman di sekitar rumahnya menaiki sepeda. Dia berkeliling berhari-hari mengumpulkan sampah demi hadiah. Dari pengalaman hidup masa kecil itu, dia belajar betapa berat tugas seseorang yang bekerja mengumpulkan sampah. "Pekerjaan itu butuh kesabaran yang besar," katanya.

Dia tak ingat persis apa hadiah yang diberikan kedua orang tuanya setelah mengumpulkan sampah itu. Menurutnya, keinginannya masa itu antara lain buku, alat tulis atau playstation. Sehingga dalam berinovasi sampai saat ini, dia tak bisa melepaskan diri dari persoalan sampah.

Saat menempuh pendidikan SD sampai SMA, dia terlihat menonjol dalam akademik. Ketika SMA dia menempuh pendidikan percepatan atau akselerasi selama dua tahun. Kemudian melanjutkan pendidikan kedokteran.

Selama kuliah itu dia juga mengamati salah seorang dosen pembimbingnya yang menerapkan sistem pasien sakit berbayar sampah.

Lantas, dia bersama ke tujuh temannya berinovasi mengembangkan menjadi sistem asuransi sampah. Berdasarkan keanggotaan dan iuran kesehatan berbayar sampah. Hingga kini, dia terus berinovasi melalui Indonesia Medika. Jiwa kewirausahaan sosial ditularkan dari ayahnya yang seorang pengusaha jual beli mobil.

Dia sangat dekat dengan ayahnya, apalagi sejak kecil ayahnya bercita-cita jadi dokter. Kini, Gamal yang mewujudkan cita-cita ayahnya. Oleh karena itu, ketika Gamal diterima di Fakultas Kedokteran, ayahnya gembira bukan main.

"Tuhan menitipkan rahmat ke tangan-tangan dokter. Bisa menggendong bayi di posyandu, menyentuh kaki pengemis dan mengetuk pasien sakit dengan keterbatasan. Profesi ini sebagai bentuk pengabdian," kata Gamal.

Keluarga ayahnya ini memiliki sejumlah showroom di Kota Malang. Sehingga Indonesia Medika dikelola layaknya sebuah perusahaan. Selain mencari keuntungan juga menyalurkan dana sosial. Apalagi, sejauh ini, tak banyak dokter yang bekerja sebagai wirausaha sosial.

Saat kuliah, kata Gamal, dia juga sering mengangkut sampah. Dia menggunakan mobil yang sangat bagus. Mobil tersebut merupakan kendaraan yang tengah dijual di showroom ayahnya. Saat itu, keluarga kaget karena mobil bagus menjadi kotor dan bau karena digunakan mengangkut sampah.

Tapi kini, seluruh anggota keluarganya mendukung. Saat awal memulai membuka Indonesia Medika, Gamal menggunakan mobil operasional dari showroom ayahnya. Mobil digunakan untuk menjalankan program Klinik Asuransi Sampah.

Kewirausahaan sosial

Menapaki tahun ke tiga, Indonesia Medika melahirkan inovasi baru. Yakni membikin siapapeduli.id dan homemedika.com. Siapapeduli.id merupakan platform crowdfunding pembiayaan kesehatan dengan pendekatan digital, sosial media dan gerakan kerelawanan. Sedangkan homedika.com menghubungkan antara tenaga kesehatan dengan masyarakat untuk memberikan layanan kesehatan.

Program siapapeduli.id diluncurkan Februari lalu, melibatkan 500 relawan. Dalam waktu singkat, telah mengumpulkan dana sebesar Rp1 miliar untuk membantu 300 pasien. Program ditujukan kepada siapapun yang membutuhkan biaya kesehatan karena keterbatasan finansial. Indonesia Medika tetap bertanggungjawab memverifikasi penerima untuk memastikan dana dari masyarakat disalurkan kepada orang yang tepat.

Program ini memiliki dua skema, yakni menggalang dana secara terbuka dan pasien datang langsung ke kantor Indonesia Medika. Sejumlah pasien yang telah terbantu antara lain bayi Adi Laksono, pasien pendarahan otak yang membutuhkan biaya operasi sebesar Rp200 juta. Dalam waktu singkat terkumpulkan dana sebesar Rp800 juta. Gamal mengaku belajar dari masyarakat yang memiliki kepedulian dan empati ikut mengumpulkan dana.

"Ada ibu yang hidupnya serba terbatas ikut menyumbang. Klub vespa mengumpulkan dana. Ada pelayan restoran patungan memberikan sumbangan. Dalam keterbatasan membantu orang lain, ini bentuk lain kepahlawan dan pengorbanan," kata Gamal.

Sementara homedika merupakan sistem aplikasi yang terhubung dengan 650 mitra. Meliputi dokter umum, perawat, bidan, ahli gizi, analis kesehatan, dokter gigi dan apoteker. Serta fasilitas kesehatan berupa ambulans, apotek dan klinik. Aplikasi ini telah tersebar di 100 kota di Indonesia.

Melalui sistem aplikasi ini pasien bisa mendapat pelayanan langsung di rumah. Jika ada pasien sakit, bisa langsung ditangani secara cepat. Menggunakan sistem subsidi silang, pasien miskin bisa mendapatkan layanan secara cuma-cuma.

"Kaki menginjak bumi tetapi mata tetap tertuju ke masalah yang diselesaikan. Ini jadi spirit"

Gamal Albinsaid

Gamal menjelaskan wirausaha tak cukup menyelesaikan masalah di Indonesia. Dibutuhkan wirausaha sosial, tak hanya memikirkan uang di tangan. Tetapi bagaimana penyelesaian masalah. Orang yang menyelesaikan masalah dengan dompetnya sendiri.

Inovasi ini diharapkan menginspirasi orang lain, bisa melakukan hal yang sama atau lebih. Indonesia Media, katanya, merupakan wirausaha sosial. Sehingga Gamal menjaga lembaganya menghasilkan uang dan menyelesaikan masalah sosial. Dengan menggabungkan fungsi wirausaha untuk menyelesaikan soasial. Indonesia Medika berbentuk perusahaan dan yayasan.

"Ditarik ke tengah, perusahaan tak hanya memikirkan uang tapi juga kebermanfaatan. Sedangkan yayasan ditarik ke tengah supaya mencapai keberlanjutan. Tak hanya mengandalkan donasi, tapi harus mandiri secara keuangan."

Untuk itu, dia memastikan inovasi berjalan berkelanjutan, stabil dan terus berjalan. "Indonesia Medika menjaga prinsip kewirausahaan sosial. Bagaimana setiap inovasi baru menghasilkan uang. Tapi bagaimana inovasi juga memberikan kemanfaatan kepada orang lain."

Indonesia Medika juga telah bekerjasama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Tahap awal BPJS Kesehatan diberikan kepada 100 peserta asuransi sampah. Indonesia Media menyeleksi dan memprioritaskan peserta yang sangat membutuhkan. Sehingga peserta asuransi sampah bisa mendapat pelayanan sekunder di Rumah Sakit.

Peserta tetap membayar sampah senilai Rp10 ribu per bulan untuk pelayanan kelas III. Sementara iuran BPJS Kesehatan sebesar Rp25.500, kekurangan biaya iuran dibayar melalui dana tanggung jawab sosial yang dikelola Indonesia Medika.

Indonesia Medika menyusun modul asuransi sampah secara terbuka. Bisa direplikasi dan dimodifikasi sesuai kearifan lokal di tempat lain. Seorang dosen dari Cambridge Institute for Sustainability Leadership membantu membuat profil dan manual asuransi sampah. Sehingga program serupa bisa dikembangkan di tempat lain.

Gamal menerima pesan pendek dari seorang guru Taman Kanak-Kanak dan pemerintah daerah untuk membantu menerapkan di daerahnya. Indonesia Medika, katanya, akan menyiapkan tim ahli dan manual book. Konsep serupa dikembangkan Banjarmasin, Bandung, dan Medan. Asuransi mikro sampah ini didukung sebuah klinik yang menjangkau 200-300 peserta.

Menjaga visi dan cita-cita menjadi tantangan terbesar Indonesia Medika. Ia ingin keberlanjutan program berlangsung 10 hingga 20 tahun ke depan. Bukan dua bulan, tiga bulan. Gamal tak ingin terjebak dengan kebanggaan atas semua hasil yang diraihnya. Tetapi harus fokus dengan rencana yang harus diselesaikan.

"Kaki menginjak bumi tetapi mata tetap tertuju ke masalah yang diselesaikan. Ini jadi spirit," ujar CEO Indonesia Medika ini.

Gamal Albinsaid saat ditemui di rumahnya, Jalan Kyai Parseh Jaya Nomor 2, Kedungkandang, Malang, Sabtu (4/11/2017).
Gamal Albinsaid saat ditemui di rumahnya, Jalan Kyai Parseh Jaya Nomor 2, Kedungkandang, Malang, Sabtu (4/11/2017). Beritagarid /Fully Syafi
BIODATA Diperbarui: 24 November 2017

Gamal Albinsaid

Tempat Tanggal Lahir : Malang, 8 September 1989

Ayah : Saleh Arofan Albinsaid

Ibu : Aliza Abdat

Moto : Jangan bangga dengan idemu, tapi fokuslah pada masalah yang ingin diselesaikan

Pendidikan :

- Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya Malang 2007-2011

- Pasca Sarjana Biomedika, Universitas Brawijaya Malang 2011-2013

- Program Mentoring selama setahun di Cambrige Program Sustainability Leadership 2014

Penghargaan :

1. The HRH Prince of Wales Young Sustainability Entrepreneur

2. People of The Year 2015

3. People Choice Award 2015 from California University

4. Unilever Sustainibility Living Young Entrepreneur Award

5. Sustainable Housing Campaigners Habitat Award Category Creative Idea 2014

6. Promising Social Innovator Award 2013

7. GSVC South East Asia Award 2015

8. People Choice Award 2013

9. Indonesia Youngster Inc. Startup Champion 2014


BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR