Nuril Arifin Husein alias Gus Nuril ketika berpose untuk Beritagar.id di Pesantren Abdurrahman Wahid Soko Tunggal di Jakarta Timur, Kamis (2/5/2019)
Nuril Arifin Husein alias Gus Nuril ketika berpose untuk Beritagar.id di Pesantren Abdurrahman Wahid Soko Tunggal di Jakarta Timur, Kamis (2/5/2019) Bismo Agung / Beritagar.id
RAMADAN 2019

Gus Nuril yang kontroversial itu

Gus Nuril lebih dulu kesohor sebagai panglima Pasukan Berani Mati menjelang Gus Dur dilengserkan dari kursi presiden. Dia sebenarnya berpandangan moderat.

Bagi golongan tertentu, lisan Gus Nuril seperti lidah api yang menjilat-jilat pantat wajan. Apa pun yang sedang ditanggung penggorengan itu--mau air atau minyak--bakal menggelegak.

Reaksi pihak tersundut macam-macam. Biasanya sontak kasih julukan. Ragamnya bisa dicari di Google. Ada yang menyebut pria kelahiran Gresik itu "Kiai Sesat". Ada yang menganggapnya "Kiai Setan". Ada pula yang melabelinya "Kiai Comberan". Ad infinitum.

Sebutan-sebutan negatif tersebut agaknya brojol dari batin dongkol. Lumrah diuar-uar anggota kelompok bercap "radikal" dan mudah "mengafirkan"--golongan yang jadi target sindirannya. Atau kerap dilontarkan oleh mereka yang rajin menabung keki karena berhati serapuh bakaran kertas.

Gus Nuril pun pernah kena batu dari gaya bicaranya. Respons seketika atas kata-kata tajam. Peristiwa berlangsung empat tahun lalu di sebuah masjid di Jatinegara, Jakarta Timur, pada sebuah acara peringatan hari lahir Nabi Muhammad.

Nuril Arifin Husein, nama tulen Gus Nuril, saat itu diminta turun dari panggung tatkala ceramahnya tengah mengangkat efek buruk gerakan Wahabisme di pelbagai wilayah Indonesia. Kata si penyetop, materi pidatonya dikata menyimpang dari tema maulidan.

Namun, alih-alih menyebut pengusiran, dia mengatakan sikap tuan rumah cuma salah paham belaka.

Tentang golongan "radikal" berbasis agama, dia bilang sepak terjang mereka kian mengancam keutuhan Indonesia. Jika dibiarkan, ujarnya, kekhususan lokal yang menjadi corak keagamaan bangsa ini bakal luntur.

"Khasnya Islam Indonesia itu Islam yang damai. Dan bisa menerima apa saja. Menerima Ketidaksempurnaan. Karena yang Mahasempurna adalah Allah," kata Gus Nuril kepada Beritagar.id, Kamis (2/5/2019), di Pondok Pesantren Abdurrahman Wahid Soko Tunggal, Jakarta Timur.

Kekhasan lokal pula yang menjadi dalihnya dalam menentukan nama pesantren asuhannya itu. Penyebutan yang mengadopsi khazanah setempat. Satu diambil dari nama mantan presiden Indonesia sekaligus cucu pendiri Nahdlatul Ulama, sisanya dari kosakata bahasa jawa.

Secara fisik, penampilannya pun lebih terlihat sebagai produk lokal ketimbang impor. Selama berbincang dengan kami, jarinya nyaris tak berhenti mengepit rokok. Kebiasaan banyak kiai NU. Dalam sehari dia bisa habis empat bungkus. Padahal per pak berisi 16 batang. Dia bilang, rokok membuatnya santai.

Sebagian rambut keritingnya terlindung destar Bali. Bukan peci berpeluk serban ala imam tarekat seperti yang pernah dia kenakan saat kena 'usir' di Jatinegara. Sikap duduknya mantap, berlatar belakang sebidang gebyok kayu asal Kudus.

Tak pernah berpikir menjadi pendakwah

Dan sebagaimana wajarnya juru siar agama, Gus Nuril leluasa mengutip ayat-ayat dari Alquran serta perkataan-perkataan Muhammad Sang Rasul. Dia juga sesekali menyelipkan kisah-kisah hikmah dari abad-abad silam untuk mendukung premis-premisnya.

Tetapi, sesungguhnya, dia tak pernah berpikir untuk menjadi seorang kiai. Soalnya, latar belakang pendidikannya di rel umum, bukan agama.

"Saya enggak pernah memilih untuk itu. Sama sekali enggak ada rencana. Komitmennya itu dua minggu sebelum Gus Dur meninggal," katanya.

Nuril Arifin Husein alias Gus Nuril beberapa kali bilang bahwa dia canggung kalau berfoto tanpa rokok. Katanya, rokok bikin dia santai.
Nuril Arifin Husein alias Gus Nuril beberapa kali bilang bahwa dia canggung kalau berfoto tanpa rokok. Katanya, rokok bikin dia santai. | Bismo Agung /Beritagar.id

Memori Gus Nuril kemudian terseret ke masa-masa ketika Radio KBR68H rutin menggelar acara Kongkow Bareng Gus Dur (KBGD).

"Gus Dur ngundang saya (untuk ikut mengisi acara). 'Kita ngobrol aja', katanya. Bermanfaat atau tidak, enggak masalah. Yang penting kita niatnya tulus untuk bangsa ini," ujarnya.

Gus Dur mengupas Al Hikam, sebuah kitab klasik tentang tasawuf, karya sufi Mesir, Ibnu Athaillah as-Sakandari. Sebagai ikutannya, urusan berbangsa dan bernegara juga diulik.

Hal lain, acara itu menjadi metode lain untuk mengobati Gus Dur. Sebab, kata Gus Nuril, dunia pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu hanya telinga sejak tak dapat melihat.

Suatu hari, seusai acara, Gus Dur berkata kepada Nuril Arifin di dalam mobil yang tengah bergerak di Jakarta Pusat, "Gus, saya sudah memasuki kawasan akhir. Sampeyan bikin pesantren, kasih nama saya".

Dengan rasa takzim yang begitu besar terhadap Gus Dur, kata-kata itu menjadi semacam penguji ketaatan ala guru-murid baginya. Sementara, di sisi lain, dia merasa tak punya apa-apa.

Lalu, di belakang hari, gayung bersambut. Seorang habib menanyakan perihal keseriusannya untuk bikin pesantren. Sang habib memiliki tanah yang sebelumnya dia beli dari warga Jakarta berdarah Tionghoa.

"Di bagian depan lahan, ada rumah kecil. Tidak dihuni selama 15 tahun karena penghuninya bunuh diri. Waktu saya melihat tanah ini, dipikir akan shooting Dunia Lain. Karena rambut saya masih gondrong," kata Gus Nuril tentang tanah di kawasan Cipinang.

Lalu, jika berjalan ke masa lebih lampau, Nuril Arifin Husein, 60, sepertinya memang telah diarahkan untuk menapaki jalur para sepuhnya--yang dari pihak ayah naik hingga ke Sunan Pandanaran, dan dari pihak ibu naik hingga ke Sunan Giri. Jadi, mesti merasa diri ugal-ugalan, Gus Nuril seperti ditarik ke lajur asal, keluar dari kumpulan "domba tersesat".

Kisah Gus Nuril ceramah pertama dan pasukan berani mati /Beritagar ID

"Dalam kondisi terpepet, akhirnya saya mengaji di tempatnya Gus Nursalim Bahar, Malang," ujarnya.

Maksud "terpepet" itu, nyawanya tinggal di ujung tanduk. Menurut dokter, waktu sekarat Nuril mungkin tiba enam bulan lagi. Padahal, usianya waktu itu belum lagi 35. Ancaman mati muda muncul dari kanker liver dan diabetes.

"Saat itu baru terjadi kembali ke jalannya Gusti Allah. Saya cari murid-muridnya mbah saya," katanya.

Pengalaman dicap mati cepat itu menuntunnya untuk blusukan. Bukan sembarang jalan, tapi bertandang dari kuburan ke kuburan. Dari makam wali yang telah mati, atau yang masih hidup. Tiap hari. Jika tengah malam tak bisa tidur, dia akan terus jalan. Kadang sampai tak pulang.

Sekali waktu, setelah rutin melewati itu, dia ditugasi atasannya untuk mengisi seminar tentang konsep ekonomi. Selagi cuap-cuap, dia bertanya tentang keberadaan kiai hebat yang rumahnya butut. Seorang peserta menjawab, "ada".

Gus Nuril--yang masih gondrong, demen pakai celana jin serta topi laken--lantas menyambangi kiai dimaksud. Setelah berinteraksi, dia diminta berceramah. Gus Nuril menampik, beralasan bahwa dia tak bisa mengaji. "Sekolahmu apa?" kata sang kiai. "Manajemen," balas Gus Nuril. "Ya sudah, kuliah manajemen saja," kata Gus Nuril.

Pas mau ke mimbar, dia meminjam kupluk dari seseorang yang masih dia ingat namanya: Haji Zaenuri. Sebabnya, dia tak merasa pantas berceramah dengan topi koboi. Dan di podium, Gus Nuril merasakan keajaiban. Hafalan-hafalan lama tentang agama yang bertahun-tahun tak terjamah tiba-tiba muncul secara runtut.

"Ketika turun panggung, kiai-kiai yang di depan berdiri. Bilang, 'Gus, nyuwun barokahe'. Saya nangis di situ. Barokah apa, batin saya. Kelakuan kayak gini kok barokah," ujarnya.

Pada saat itu, pekerjaan Gus Nuril masih berurusan dengan perusahaan-perusahaan asing. Namun, dia diminta melepaskan cantolan keduniaan itu. Permintaan datang dari Kiai Abdul Aziz Bakri Imampuro, kakak Mbah Liem Imampuro, Klaten. Pinta itu meminjam firman Tuhan dari Alquran, potongan ayat 7 surat Muhammad: "...in tansurullaha yanshurkum wa yutsabbit aqdamakum".

Dihadapkan pada situasi itu, Nuril Arifin Husein menjawab, "Inggih, Yayi, Insya Allah". "Kapan?" tanya sang kiai. "Setahun, Kiai" jawab Nuril. "Yo wis, setahun. Tak enteni". Tetapi, baru dua bulan, Gus Nuril melepas semua pekerjaannya.

Agama sebagai nasihat, dan penghormatan terhadap keberagaman

Di ruang publik, Gus Nuril lebih dulu kesohor sebagai pentolan Pasukan Berani Mati. Kelompok yang, menurutnya, menampung "380 ribu" orang terlatih. Ramai diberitakan tak mempan senjata tajam.

Gus Nuril saat berpose untuk Beritagar.id di Pesantren Abdurrahman Wahid Soko Tunggal di Jakarta Timur, Kamis (2/5/2019)
Gus Nuril saat berpose untuk Beritagar.id di Pesantren Abdurrahman Wahid Soko Tunggal di Jakarta Timur, Kamis (2/5/2019) | Bismo Agung /Beritagar.id

"Kebal atau tidak kebal bergantung saat itu Allah memandangnya bagaimana. Kalau Allah memandang harus ditolong, bisa jadi kebal. Semuanya enggak lepas dari kekuasaan Allah," katanya. "Toh masih bisa digigit nyamuk".

Sumpah pasukan itu adalah melindungi Gus Dur sebisa-bisanya dari upaya pendongkelan. Warta tentangnya jadi konsumsi khalayak berkat pemberitaan luas media menjelang hari-hari dilengserkannya Abdurrahman Wahid sebagai presiden pada 2001.

Selain itu, kepopuleran Gus Nuril terbit karena aksinya merangkul orang-orang beragama non-Islam. Oleh beberapa pihak, aksi itu dianggap berlebihan. Namun, Nuril justru menganggap biasa. Maka kebiasaan itu berlangsung terus. Dia menerima santri dari agama lain pesantrennya yang di Semarang, dan konsisten berceramah di gereja, pura, atau wihara.

Laku itu punya dasar yang masuk di akal. Menurutnya, berdakwah di rumah ibadah pemeluk non-Islam justru sebuah langkah jitu mengampanyekan ajaran-ajaran Islam. Jika hanya di masjid belaka, "namanya penguatan iman".

"Kenapa saya harus ceramah ke mana-mana? Memangnya Nabi Muhammad ketika lahir berapa jumlah orang Islam? Lalu kenapa bisa banyak. Itu karena dia berceramah. Di Kabah, tuhan yang disenderkan di (dindingnya) ada ratusan. Belum yang di dalam Kabah," ujarnya menyinggung berhala-berhala sesembahan orang Quraisy. "Dakwah itu justru menyampaikan keindahan-keindahan islam. Perkara dia mau masuk atau nggak terserah. Karena yang memberikan petunjuk adalah Allah.

Cara pandang moderat sebegitu merupakan refleksi atas sebuah hadits Nabi Muhammad. Dalam pernyataan berusia ribuan tahun itu, Nabi mengatakan agama adalah nasihat. Karena sifat sedemikian, ajaran-ajaran agama hendaknya tak disampaikan dengan cara memaksa.

Dakwah Gus Nuril menerapkan ilmu komunikasi yang dia dapatkan selagi muda. Menurutnya, seorang komunikator seyogianya memahami komunikannya lebih dahulu sebelum mengantarkan pesan. "Ngerti bahasanya dulu, ngerti adat-istiadatnya," katanya. Jika caranya begitu, kemungkinan besar pesan akan terjangkau.

Pengalaman sebagai wartawan dan pegiat teater pun turut memudahkan geraknya. Teater membantunya mengolah perkakas tubuh untuk membetot perhatian. Sementara kewartawanan memudahkannya mencari sudut pandang unik ketika berceramah.

Pertanyaan yang diajukan dari satu audiensi ke audiensi lain rata-rata sama. Pertanyaan bertolak dari keheranan mereka tentang kelakuan sebagian besar Muslim yang seakan-akan memperlihatkan bahwa Islam melazimkan kekasaran.

"Saya jelaskan, Islam itu sebenarnya gimana. Yang penting saya tetap mesti berupaya. Allah kan tidak melihat hasil. Dari ratusan ribu nabi, yang berhasil cuma beberapa. Allah menghukum Yunus, misalnya, itu karena meninggalkan tugas (kenabian). Makanya dia dimakan paus," ujarnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR