Sejarawan Harry Poeze berpose di kantor Beritagar.id, Jalan Jatibaru Nomor 28, Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada Kamis (22/11/2018).
Sejarawan Harry Poeze berpose di kantor Beritagar.id, Jalan Jatibaru Nomor 28, Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada Kamis (22/11/2018). Beritagar.id / Bismo Agung
FIGUR

Harry Poeze, kehidupan dan kematian Tan Malaka

Usia membuatnya harus bergegas menyelesaikan beberapa buku sejarah Indonesia. Termasuk jilid terakhir biografi Tan.

Tak pernah berjumpa, apalagi bertegur sapa, Harry Poeze dan Tan Malaka adalah dua individu yang tak terbelah. Keduanya hanya terpisah oleh zaman. Melalui buku dan surat-surat mereka bertemu.

Tanpa Harry, tak ada kisah hidup Tan. Tanpa Tan, nama Harry mungkin tak harum di Indonesia.

"Saya heran sendiri. Sudah (hampir) 50 tahun sibuk dengan Tan Malaka," kata Harry Poeze sambil tertawa pada Kamis (22/11/2018).

Setengah abad itu melebihi separuh umurnya yang sudah masuk 71 tahun. Tepat pada 20 Oktober, Harry lahir di Loppersum, Belanda.

Ia kuliah di Universitas Amsterdam mengambil jurusan ilmu politik. Pada saat itulah ia "berjumpa" dengan Tan.

Nama Tan kerap disebut dalam buku teks kuliahnya. Tapi tak pernah ada riwayat hidupnya.

Harry penasaran. Ia menelusuri jejak Tan ketika masih sekolah keguruan (rijkskweekschool) di Haarlem, Belanda. Harry berjumpa dengan 12 teman sekelasnya.

Salah satu kawannya, bernama Dick van Wijngaarden, ternyata masih menyimpan 27 surat korespondensi dengan Tan dari 1916 sampai 1921. Isinya menarik karena menceritakan perkembangan pemikiran politik Tan.

Di antara periode itu Tan bekerja sebagai guru anak-anak kuli kontrak perusahaan tembakau di Deli, Sumatera Utara.

"Dulu ia seorang yang tak tertarik dengan politik," kata Harry. "Tapi setelah di Deli, melihat nasib sedih kuli kontrak, Tan menjadi seorang yang insaf atas keburukan kolonialisme Belanda."

Harry tak menyia-nyiakannya bukti otentik tersebut. "Surat-surat itu saya pakai untuk menulis skripsi dan disertasi saya," katanya.

Kami bertemu Harry saat ia sedang berada di Jakarta. Kedatangannya untuk misi penting. Mengawal delapan surat asli Tan, yang ia peroleh dari Dick, untuk dipamerkan di Museum Nasional dari tanggal 10 sampai 22 November 2018.

Pameran bertajuk "Surat Pendiri Bangsa" tak hanya memajang surat Tan. Ada tujuh tokoh lainnya, yaitu Sukarno, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Ki Hadjar Dewantara, Agus Salim, John Lie, dan Kartini.

Di sela-sela kesibukannya itu, Harry menyempatkan diri datang ke Kantor Beritagar.id, Jalan Jatibaru Raya Nomor 28, Tanah Abang, Jakarta Pusat dan berbincang kepada kami selama lebih satu jam. Topiknya, tentu saja, tak jauh dari Tan. Berikut ceritanya.

Sejarawan Harry Poeze berpose di kantor Beritagar.id, Jalan Jatibaru Nomor 28, Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada Kamis (22/11/2018).
Sejarawan Harry Poeze berpose di kantor Beritagar.id, Jalan Jatibaru Nomor 28, Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada Kamis (22/11/2018). | Bismo Agung /Beritagar.id

Agen rahasia

Tak terhitung berapa kali Harry bolak-balik Belanda-Indonesia. Tapi ia masih setia dengan tempat penginapannya, Wisma Shalom.

Sebuah wisma sederhana di kawasan Senen, Jakarta Pusat, yang selalu ia pakai sejak pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta pada 1980.

Harry baru bisa datang ke negeri ini setelah satu dekade mempelajari Tan. "Saya tidak ada uang (ke Indonesia). Saya miskin waktu itu," ujarnya.

Pertama kali sampai Jakarta ia berbekal visa peneliti. Tak ada nama Tan disebut dalam surat permohonan visanya. "Saya tulis, meneliti sejarah revolusi Indonesia," katanya.

Tan pada saat itu seolah lenyap. Rezim Orde Baru menganggap sosoknya lebih baik dilupakan saja. Tak ada buku sejarah yang berani mengisahkan hidupnya. Buku karya Tan pun masuk dalam daftar hitam.

"Dia disebut dalam daftar pahlawan nasional. Lain daripada itu, Orde Baru menghalangi penerbitan ulang tulisan dan penelitian Tan," ujar Harry.

Kontribusi Tan bagi negara ini kemudian disalahartikan. Cap komunis dan antek PKI melekat padanya.

Tapi Harry berbeda. Ia mengagumi Tan sejak awal. "Ia tanpa pamrih memperjuangkan cita-citanya," kata ayah dua anak dan kakek dua cucu itu.

Sebagai politikus, Tan seolah anomali. Ia tak haus kekuasaan, apalagi kekayaan.

"Seumur hidupnya, Tan hanya punya satu stel pakaian, buku tulis, helm, dan topi. Yang lainnya tidak ada," ujar Harry. "Tidak punya rumah dan keluarga, tidak pernah kawin. Yang paling tragis, dia ditembak mati oleh seorang letnan dua."

Pemikiran Tan revolusioner pada zamannya. Setelah bekerja di pabrik tembakau Senembah Maatschappij, Deli, ia pergi ke Jawa. Ia mendirikan sekolah anti-kolonial, mengerahkan massa untuk aksi buruh dan politik.

Pemerintah kolonial lalu membuangnya ke Belanda pada 1922. Tan menulis banyak buku dalam masa pembuangannya tersebut, salah satunya Naar de Republiek Indonesia (1925). Buku ini berisi pemikiran soal kemerdekaan Indonesia.

Di negeri penjajah Tan sempat mencalonkan diri menjadi anggota parlemen Belanda. "Tapi ia tak terpilih," kata mantan anggota dewan kota Castricum dari Partai Buruh itu.

Tak berhasil menjadi anggota parlemen, Tan pergi ke Rusia selama setahun. "Ia dididik menjadi wakil agen rahasia Moskow di Asia Tenggara," kata Harry.

Sebagai wakil Komintern (Komunis Internasional), Tan bertugas mendirikan organisasi melawan imperialisme di banyak negara. Ia ke Tiongkok, Filipina, Singapura, Thailand, Hongkong, Myanmar, dan Malaysia.

Bersamaan dengan kedatangan Jepang, Tan baru kembali lagi ke Indonesia. Perannya sebagai penggerak kemerdekaan negara ini sangat besar. Bahkan, menurut Harry, Presiden RI saat itu, Soekarno, mengganggap Tan sebagai seseorang dalam pengetahuan dan pengalaman melebihi dirinya.

Soekarno sempat menyusun testamen politik yang menyebutkan kalau ia dan wakilnya, Mohammad Hatta, tak mampu memimpin Indonesia, maka Tan diangkat sebagai presiden. "Tapi surat itu hilang setelah sekutu menyetujui Soekarno-Hatta sebagai wakil negara ini," kata Harry.

Seumur hidupnya, Tan hanya punya satu stel pakaian, buku tulis, helm, dan topi. Yang lainnya tidak ada

Harry Poeze

Kembali ke masa ketika Tan menjadi agen rahasia, hidupnya kerap berpindah-pindah untuk meloloskan diri dari ancaman. Ia diburu oleh agen dinas rahasia dari enam negara, yaitu Tiongkok, Jepang, Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan Belanda.

"Ia hidup di bawah tanah dan berita tentang Tan jarang sekali muncul dalam surat kabar atau arsip Belanda," ujarnya.

Bahkan fotonya pun sulit ditemukan. "Mungkin selama hidupnya kurang dari 20 foto," kata Harry. Ada foto ketika ditahan di Manila, Hongkong, kemudian dalam ruang pengadilan.

Apakah aksi mata-mata Tan layaknya James Bond? "Iya, seperti itu," kata Harry. Tapi Tan bukan playboy. Ia malah menghindari percintaan.

Dalam bukunya Madilog (1943), ia menulis, seorang revolusioner tidak mungkin beristri karena ia harus selalu siap meloloskan diri.

Tapi, juga tak seperti James Bond, misi Tan tak selalu berhasil. Malah kebanyakan gagal. "Suksesnya terbatas saja," ujar Harry. Ia mendapatkan informasi tersebut dalam arsip Komintern di Rusia yang banyak pula mendokumentasikan surat-surat asli Tan.

Sejarawan Harry Poeze berpose di kantor Beritagar.id, Jalan Jatibaru Nomor 28, Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada Kamis (22/11/2018).
Sejarawan Harry Poeze berpose di kantor Beritagar.id, Jalan Jatibaru Nomor 28, Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada Kamis (22/11/2018). | Bismo Agung /Beritagar.id

Kematian Tan

Dari semua misteri dalam hidup Tan, Harry paling tertarik meneliti detail kematiannya.

Harry memiliki beberapa informasi terkait hal itu, tapi tidak lengkap. Hasil dari beberapa wawancara mengerucut pada satu hal, Tan ditembak mati di Kediri, Jawa Timur.

Dengan menyewa motor dan sopir, Harry mengunjungi banyak tempat di kota sebelah barat daya Surabaya tersebut. "Selama tiga hari saya mondar-mandir motor keliling Kediri," katanya.

Dari informasi seorang kepala desa, ia bisa bertemu orang-orang yang hidup, terutama veteran, pada 1949 . Tahun tersebut mengacu pada peristiwa Tan dieksekusi mati oleh Letnan Dua Soekotjo di usia 51 tahun.

Para veteran itu mengatakan lokasi Tan dikubur. "Saya kemudian yakin kuburannya berada di Selopanggung dan regu yang diketuai oleh Soektjo bertanggung jawab atas kematian Tan," ujar Harry.

Pada 2007, seorang wartawan meneruskan informasi tersebut. Ia mencari tahu kebenarannya dan menemukan veteran lainnya yang bisa menunjukkan lokasi persis kuburan Si Pacar Merah.

Jenazah Tan terkubur di bawah batu putih besar. "Tanpa nisan, tanpa nama," kata Harry.

Harry menerima kabar itu di Belanda. Ia langsung berangkat ke Selopanggung untuk mengecek kebenarannya.

Di sana, Harry bertemu dengan veteran yang mengetahui kuburan tersebut. "Ia bisa merekonstruksi perjalanan mayat Tan dan saya menuliskannya dalam laporan," katanya.

Tapi Harry tak melihat ketika kuburan itu dibuka pada 2009. Dari laporan yang ia terima, mayat Tan terkubur dalam keadaan tangan terikat. "Sayang sekali semuanya telah menjadi abu sehingga sulit mendapatkan hasil DNA-nya," kata Harry.

Penemuan lokasi kematiannya tak lantas membuat Harry berhenti menulis tentang Tan. Ia malah semakin tak bisa lepas dari sosok tersebut.

Bahkan ketika pensiun mengajar dan menjadi ketua penerbitan KITLV, ia "terpaksa" hanya memberikan satu hari, dari lima hari kerjanya, untuk menulis tentang Tan.

Masih ada satu buku lagi yang akan terbit tentang Tan. Harry sebelumnya sudah menuliskan lima jilid biografi laki-laki kelahiran Pandam Gadang, 2 Juni 1897, yang bernama asli Ibrahim Datuk Tan Malaka itu. "Jilid yang terakhir akan terbit tahun depan," ujarnya.

Tapi karya Harry tak akan berhenti di situ. "Masih ada beberapa buku yang mau saya tulis. Dan ya saya sudah tua karena itu harus tergesa," ujar Harry.

Perjalanan Harry Poeze mencari Tan Malaka /Beritagar ID
BACA JUGA