Hendra Setiawan berpose untuk Beritagar.id di Pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta Timur, Senin (07/10/2019)
Hendra Setiawan berpose untuk Beritagar.id di Pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta Timur, Senin (07/10/2019) Bismo Agung / Beritagar.id
FIGUR

Hendra Setiawan, eksekutor lapangan depan badminton

Hendra Setiawan jadi kampiun di lapangan badminton bersama dua rekan berbeda: Markis Kido dan Mohammad Ahsan. Dikenal disiplin, tenang, dan rendah hati.

Dalam bekapan sorak-sorai lebih dari 5.000 penonton di Beijing University of Technology Gymnasium, Beijing, Cina, 16 Agustus 2008, suara Sigit Pamungkas masih dapat ditangkap mikrofon televisi. "Atur diri!" pada satu momen, atau "lurus aja!" pada kali lain.

Teriakan pelatih ganda putra tersebut ditembakkan ke arah Hendra Setiawan dan Markis Kido, pasangan Indonesia yang malam itu menghadapi tuan rumah, Cai Yun/Fu Haifeng, dalam final bulutangkis Olimpiade Musim Panas.

Tekanan berlipat seolah-olah merayapi persendian mereka. Sebab, pada Olimpiade sebelumnya di Athena, Yunani, ganda putra Indonesia tak kebagian emas. Berbeda dari Atlanta 1996 atau Sydney 2000.

Di Amerika Serikat, Ricky Subagja/Rexy Mainaky--yang masuk lis Badminton Hall of Fame pada 2009--menyumbang emas. Di Australia, giliran Tony Gunawan/Chandra Wijaya kasih kontribusi.

Beijing, karenanya, seperti lebih menuntut. Apalagi kalau menengok hasil set pertama. Hendra/Markis, yang dianggap oleh Haifeng terlalu gugup dan cemas, kalah dengan skor 12-21.

Meski begitu, set berikut berlaku lain. Kapasitas pasangan Indonesia--yang datang ke Beijing sebagai pemegang gelar juara dunia--mengemuka melalui hasil sah 21-11. "Kami ingin menyerang," ujar Haifeng dikutip Chinadaily.com, "tapi kami tak punya cukup peluang melancarkannya".

Hatta, pada set ketiga, Indonesia dengan meyakinkan sanggup memberikan desakan-desakan yang kian sulit dicari jawabannya oleh Cina. Markis ulet menguji ketahanan lawan lewat smes-smes dari lini belakang. Hendra dengan tenang menempatkan bola secara akurat ke zona kosong atau tubuh musuh.

Markis berulah seperti bagian dari batalion artileri. Howitzer dan mortirnya mengikis pertahanan Cai Yun/Haifeng. Sementara Hendra menjadi infanteri, yang menjajal refleks lawan dari jarak dekat lewat jentikan-jentikan dan dorongan-dorongan tajam.

Hingga ketika Cina tertinggal tujuh poin, dan berupaya memburu lewat pendapatan empat poin berturut-turut, komentator di televisi mendengus, "mereka tak mungkin mengejar delapan poin beruntun".

Begitulah. Saat kedudukan 20-16--dan Cina pegang servis--Indonesia melakukan serangan penghabisan. Markis mengajukan sejumlah smes yang diselingi beberapa dropshot, dan Hendra mengawasi di lapangan depan. Ketika Cai Yun mengembalikan kok sejajar wajah Hendra, partner Markis itu sontak menjawab dengan backhand drive menyilang ke bidang kiri Cina yang tak terkawal.

Gim. 21-16.

"Itu momen puncak (dalam karier saya)," ujar Hendra kepada Beritagar.id ketika ditemui di Pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta Timur, Senin (07/10/2019), mengingat kejayaan dengan eks rekannya itu. "Karena semua pemain (badminton) maunya juara (di Olimpiade)".

Cai Yun/Haifeng--seteru Hendra/Markis--bukan lawan sembarangan. Analisis head-to-head Federasi Badminton Dunia (BWF) menunjukkan prestasi mereka masih setimbang hingga 2008. Namun, jika dihitung sampai 2011, Hendra/Markis kalah 3-6.

"Mereka lebih komplet. Pemain-pemain sekarang belum ada yang seperti mereka," kata Hendra sembari pula menyinggung Koo Kien Kiet/Tan Boon Heong dari Malaysia dan Chung Jae Sung/Lee Young Dae dari Korea Selatan sebagai rival dengan ketangguhan setaraf.

Pengakuan itu enteng dia sampaikan tanpa sekali pun berupaya membesarkan diri sendiri. Dia bahkan sempat bilang bahwa 'The Minions', julukan bagi Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon, setara para kompetitor silamnya. Padahal, Hendra Setiawan juga bukan pemain asal. Dia salah satu macan lapangan depan (front court) terbaik dunia. Sampai sekarang.

Setidaknya, itu penilaian Herry Iman Pierngadi, pelatih ganda putra Indonesia, yang dihubungi via telepon pada Selasa (08/10/2019). Dalam hemat Herry, Hendra seiring waktu semakin unggul dalam penempatan kok, antisipasi pukulan, dan visi permainan. "Dan yang terutama adalah disiplinnya yang tinggi," ujar sosok yang sukses meramu ganda putra andalan Indonesia seperti Candra/Tony, Hendra/Mohammad Ahsan, dan The Minions.

"Dia adalah pembunuh berdarah dingin," kata Cai Yun--salah satu jagoan dunia di lapangan depan--disadur dari laman Badmintalk. "Di lapangan dia sangat pandai menyembunyikan niatnya yang sesungguhnya. Dia membuatmu mati dengan tidak memahami mengapa bisa (mati)".

Tentu saja komentar-komentar itu bukan semacam gula-gula kapas penyenang bocah semata. Hendra membuktikannya dengan gelar-gelar bergengsi. Tidak dengan satu mitra, tapi dua. Pertama waktu berpasangan dengan Markis hingga pertengahan 2012, dan lalu Mohammad Ahsan sejak akhir 2012.

Bersama mereka, Hendra mengamankan emas Olimpiade, dua kali juara All England nan berwibawa (bersama Ahsan), juara dunia (tiga di antaranya dengan Ahsan), emas Asian Games, dan emas Sea Games, untuk menyebut beberapa.

Hendra Setiawan berpose untuk Beritagar.id di Pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta Timur, Senin (07/10/2019).
Hendra Setiawan berpose untuk Beritagar.id di Pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta Timur, Senin (07/10/2019). | Bismo Agung /Beritagar.id

Pria yang lahir pada Agustus 1984 itu bahkan memegang rekor sebagai pebadminton tertua yang merengkuh gelar juara dunia pada usia 35 tahun pada Agustus 2019.

Arkian, mengenai pelbagai capaiannya, dia hanya sedia jawaban pendek. "(Punya) motivasi untuk selalu pengin menang," ujarnya, dan "selalu ada target. Lupakan (gelar-gelar) yang sudah didapat".

Masuk Jaya Raya

Tentu saja pelbagai prestasi yang barusan disebut tak mencerminkan pencapaian Hendra yang sesunguhnya selama lebih dua dasawarsa menjadi atlet. Itu belaka efek dari kekerasan hatinya untuk menjaga derap latihan. Kedisplinan yang diserap dari ayahnya, Ferry Yugianto. Ujungnya, kemampuan Hendra di atas rata-rata.

Pada paruh awal 1970-an, Ferry pernah menjadi atlet Pekan Olahraga Nasional (PON) Jawa Tengah dan sempat mengalahkan pemain Thomas Cup Malaysia, Abdul Rahman Muhammad, dalam satu pertandingan di Singapura. Pada 1982, dia melatih di PB Djarum Kudus dan dua tahun kemudian mendirikan PB Sinar Mutiara.

"Saya latihan di Sinar Mutiara Pemalang dan Tegal. Senin-Rabu-Jumat di Tegal, dan Selasa-Kamis-Sabtu di Pemalang. Itu dari umur 7," kata Hendra tentang mula keseriusan menekuni badminton.

Bocah pendiam tersebut menghabiskan hari-harinya untuk berlatih. Siang sepulang sekolah, dia bakal berangkat ke sasana untuk "main lob-lob, lalu (belajar) smes, baru dropshot". Pukulan terakhir itu paling disukainya hingga kini.

Latihan bisa selesai sore atau petang. Sekelarnya, dia mesti tidur dulu sebentar sebelum lanjut belajar. Hiburannya di sela-sela itu cuma menonton televisi. Itu juga tak berlangsung lama.

Ketika mesti berlatih di Tegal--tempat dia bertemu Simon Santoso, pemain yang kelak beberapa kali meraih emas di Sea Games--dia harus menaklukkan jarak lebih dari 80 km pergi-pulang dengan membonceng ayahnya. Tiap minggu terus begitu sampai 1997, tahun dia hijrah ke Jaya Raya.

"Kalau ngantuk, bisa istirahat di pinggir jalan untuk minum es kelapa," ujarnya. "Papa saya udah negesin kalau mau terjun ke badminton harus semangat dan jangan malas. Pernah pas latihan di Pemalang dan malas, saya disuruh pulang".

Dengan bekal kata-kata itu, penyuka babi masak sayur asin buatan sang ibu, Kartika Christyaningrum, itu kukuh masuk ke PB Jaya Raya, Ragunan, Jakarta Selatan, saat dia masih kelas dua SMP. Dia berkumpul dengan kakak sulungnya, Silvia Anggraeni--istri Hendrawan, pebulutangkis tangguh dalam nomor single pada dasawarsa 1990-an--yang sudah lebih dulu di sana.

Di klub milik taipan properti, Ciputra, tersebut Hendra bertekad menjadi pemain profesional. Selain itu, dia juga berhasrat menjadi tunggal putra terbaik di Indonesia. Bagaimanapun, nasib berkata lain. Gaya bermain Hendra waktu itu yang terlalu menyerang terbaca oleh Herry Iman Pierngadi. Cita-citanya pun buyar.

"Saya bilang ke Hendrawan, (Hendra) kayaknya kalau di ganda bagus," ujar Herry.

Rekomendasi Herry dipatuhi. Hendra lantas mulai digembleng sebagai tandem, dan menikmati peran barunya. Dia pun punya idola: Tony Gunawan, salah satu legenda di nomor ganda putra.

"Dia komplet," kata Hendra mengenai Tony. "Menurut saya, dia bisa main di depan, bisa main di belakang juga. Partner dengan siapa saja bisa masuk".

Tony Gunawan jebolan Jaya Raya, melanjutkan tradisi klub itu melahirkan atlet-atlet kesohor semacam--sekadar menyebut beberapa--Rudy Hartono, Susi Susanti, atau Mia Audina. Belakangan dia memilih kewarganegaraan Amerika Serikat.

Berbeda dari masa sekolah dasar--ketika Hendra masih beroleh ranking 10 besar di kelas--masa-masa sekolahnya saat di Jaya Raya tak pernah bertabur nilai memuaskan.

"Tahun pertama ada merah satu. Tahun kedua nambah merahnya," ujarnya.

Ditambah lagi, dia keranjingan gim daring yang biasa dimainkan di warung internet (warnet). Dia biasa memainkan Ragnarok Online yang bergagrak RPG, serta Counter-Strike yang menyodorkan langgam tembak-tembakan pakai perspektif orang pertama. Bahkan, menginap di warnet pun dijabanin.

"Sekarang sih udah enggak ada waktu (main gim). Kalau udah pulang, mainan sama anak-anak, terus tidur. Kadang sampai rumah langsung tidur," katanya.

Pasangan ganda pertama Hendra waktu di Jaya Raya adalah Joko Riyadi. Setahun setelahnya mereka pisah. Hendra kemudian berpartner dengan Markis Kido. Bersamanya, dia menjadi juara dunia pada 2007 dan beroleh emas Olimpiade.

Hendra Setiawan berpose untuk Beritagar.id di Pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta Timur, Senin (07/10/2019).
Hendra Setiawan berpose untuk Beritagar.id di Pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta Timur, Senin (07/10/2019). | Bismo Agung /Beritagar.id

Bersama Mohammad Ahsan

Selama berpasangan dengan Markis, Hendra mengalami transformasi sistem penghitungan angka dalam pertandingan. Metode lama yang berbasis pindah bola, dengan target akhir 15, berganti dengan model reli poin dengan skor akhir 21 yang berlaku sejak 2006.

Perubahan itu mempengaruhi cara berlatih dan gaya bermain secara keseluruhan. Mereka yang biasa mengandalkan corak bertahan takkan mampu bersaing.

"(Modalnya) speed and power," ujar Hendra. "Kalau speed and power bagus, akan lebih baik. (Sebab), pemain menyerang semua".

Namun, pada 2012, Hendra berpisah dari Markis tak lama setelah mereka juara di Singapura Terbuka. Di tahun sama, mereka tak berhasil lolos kualifikasi untuk tampil sekaligus mempertahankan emas di Olimpiade London.

Keduanya hanya duduk di peringkat 12 dunia, sedangkan Olimpiade mensyaratkan delapan besar. Hendra dan Markis takkan bisa mendongkrak ranking karena mesti absen di dua turnamen tersisa.

"Itu (titik) paling rendah, enggak bisa ikut Olimpiade karena poin beda sedikit doang," kata Hendra.

Lalu, pada akhir 2012, dia dipasangkan dengan Mohammad Ahsan yang tiga tahun lebih muda darinya. Hendra akur saja. Apalagi, dia merasa Ahsan lebih kuat di belakang. Itu bisa menutupi kelemahan Hendra dalam urusan pertahanan.

Harapan meraih gelar kembali menyala. Kebiasaan baru pun muncul. Setelah tak lagi menulis jurnal tentang kekuatan dan kelemahan musuh, Hendra selalu "menonton video di YouTube" untuk mempelajari lawan. Jika memang lokasi pertandingan tak jauh, dia bakal mendatangi stadion untuk melihat langsung bagaimana calon lawannya bermain.

Dan pelan-pelan, Hendra/Ahsan merengkuh gelar demi gelar, serta meningkatkan peringkat mereka di jagat bulutangkis. Pada 2013, setelah menang di Indonesia Terbuka dan Malaysia Terbuka, Hendra meraih juara dunia untuk kali kedua (pertama untuk Ahsan). Setahun berikutnya, dia beroleh gelar yang selama ini belum pernah mampir di lemarinya: All England.

Pada 2015, sekali lagi Hendra/Ahsan menjadi juara dunia. Lantas, mereka sempat pisah pada 2016, tapi kembali disatukan pada 2018. Pada 2019, keduanya kembali juara All England, diikuti gelar juara dunia. Bagi Hendra, itu kali keempatnya. Prestasi itu menyamai Liliyana "Butet" Natsir dari sektor ganda campuran yang mendapatkan empat juara dunia dari dua mitra berbeda.

Capaian Hendra/Ahsan tahun ini istimewa karena usia mereka sudah melewati periode keemasannya. Utamanya Hendra, yang menuju 36 tahun. Selain label 'The Daddies' yang disematkan kepada mereka karena sama-sama sudah beranak, Hendra sudah tak merasa cepat lagi. Namun, bukan berarti tak mengupayakan kompensasi. Kini, dia makin tenang, kian ciamik menempatkan bola, dan jeli membaca permainan.

"Yang penting latihan tetap. Kalau bisa, program (latihan) habis (diikuti). Kalau sekarang, nambah-nambah (program latihan) takut enggak nyampe. Soalnya, pas program utamanya sudah capek. Saya fokus abisin program dari pelatih dulu," ujarnya.

Bagi yang belajar, usia memang mengajarkan banyak hal. Hendra--dan Ahsan--agaknya demikian. Mereka kini relatif setara di lapangan belakang dan depan. Mereka juga berbagi ketangkasan sederajat kala beradu ketelitian dengan lawan di muka net. Smes-smes keras jelas kian jarang dipertontonkan, berganti dengan drive-drive saksama--yang Hendra sebut sebagai "no lob", fitur yang dikuasai semua pemain di Cipayung.

Saat para lawan yang lebih cepat mulai lengah dan tergiur oleh tempo permainan yang disodorkan Hendra, mereka jatuh ke dalam perangkapnya. Dengan ketepatan penilaian dan eksekusi cermat--berpasang tubuhnya yang bertinggi 183 cm--Hendra kelak menunjukkan kualitas dirinya.

Setelah pasangan Korea Selatan, Chung Jae Sung/Lee Yong Dae lengser, lawan Hendra/Ahsan yang paling memikat mungkin The Minions. Namun, ketika ditanya apa ada strategi tertentu meladeni generasi di bawahnya itu, Hendra tersenyum. Rileks.

"Enggak ada cara khusus untuk menghadapi (The) Minions," kata sosok yang bisa berlatih di pusat kebugaran hingga hampir lima jam per minggu.

Dengan kondisi sekarang, Hendra berharap bisa tembus ke Olimpiade Tokyo 2020 bersama Ahsan, dan merebut emas. Target terdekatnya adalah tur Eropa--Denmark Terbuka dan Prancis Terbuka--serta BWF World Tour Finals di akhir tahun. Dia--yang ketika bertanding selalu menyerahkan segala hasil kepada Tuhan--masih optimistis.

"Saya sampai saat ini belum pernah merasa ingin menyerah dan berhenti. Penginnya muda lagi. Penginnya main terus," ujarnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR