Hendra Wijaya, pelari Indonesia pertama yang menaklukkan Kutub Utara, berpose saat melakukan latihan di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat, pada Selasa pagi (25/07/2017).
Hendra Wijaya, pelari Indonesia pertama yang menaklukkan Kutub Utara, berpose saat melakukan latihan di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat, pada Selasa pagi (25/07/2017). Wisnu Agung Prasetyo / Beritagar.id

Hendra Wijaya, kekuatan pikiran Sang Ultraman

Gara-gara kecelakaan sepeda ia jadi gandrung olahraga lintas alam. Pegunungan Himalaya dan Kutub Utara sudah pernah ia lalui. Target selanjutnya, Kutub Selatan.

Bagi Hendra Wijaya tak ada ujung untuk melakukan olahraga ekstrem lintas alam. Berhasil menaklukkan satu perlombaan, maka akan ada candu untuk melakukan tantangan yang lain. Ini bukan masalah skor, apalagi menjadi tercepat atau terkuat. Ia lebih suka menyebutnya sebuah petualangan dengan kaki.

Petualangan ini menuntunnya ke tempat dengan suhu minus hingga 50 derajat Celcius di Kutub Utara. Kakinya juga yang membuat langkahnya berhasil melaju ke garis finis di perlombaan lari di Gunung Himalaya, Gunung Alpen, hingga Gurun Gobi.

Bahkan dalam waktu dekat ia bakal berpetualang lagi dalam sebuah ekspedisi di Kutub Selatan. Benua super dingin ini bisa menjadi jalur kematian bagi siapa pun, termasuk Hendra. "Kalau (saya) hilang, ya sudah," katanya datar.

Tak ada orang yang menemani, Hendra akan berjalan sejauh 1.400 kilometer selama 40 hingga 45 hari untuk mencapai garis finis . Suhunya lebih dahsyat lagi dari Kutub Utara. Di Antartika suhu udara bisa mencapai minus 70 derajat Celcius.

Hendra kecanduan olahraga ini tanpa sengaja. Gara-gara kecelakaan saat bersepeda pada 2008, tangan kirinya patah. Hendra memilih berlari untuk menjaga kebugaran sambil menunggu tangannya pulih. Dari lari iseng-iseng, ia mencoba maraton. Perlombaan maraton dalam dan luar negeri ia ikuti.

Berhasil berlari 42,2 kilometer, ia lanjut ke lari gunung. Sampai sekarang Gunung Gede Parangro menjadi tempatnya berlatih fisik. Lalu, Hendra menjajal triathlon, sebuah perlombaan mencakup tiga cabang olahraga, yaitu renang (3,86 kilometer), sepeda (180,25 kilometer), dan lari (42,2 kilometer).

Hendra kemudian meningkatkan tantangannya. Ia pernah mengikuti ultra marathon (di atas 42,2 kilometer), ultra triathlon, dan deca ultra triathlon (10 kali jarak dari ultra triathlon). Predikat Ultraman sepertinya layak diberikan padanya.

Tenaganya seperti tak pernah habis dalam mencoba. Kalau sudah berlomba berhari-hari, ia bisa hanya tidur satu jam dalam sehari. Hendra tak masalah dengan itu. Fisiknya masih kuat dan mumpuni untuk tetap melangkahkan kaki.

Tapi kurang tidur juga mendatangkan musuh utamanya, halusinasi. Hendra mengaku sudah makan asam garam soal itu. Ia bisa mengembalikan akal budinya dengan cepat dan kembali mengikuti lomba.

Perlombaan lintas alam yang ia ikuti sejak 2011 ini juga menghasilkan ide briliannya, membuat perlombaan Bromo Tengger Ultramarathon dan Rinjani Ultramarathon. Keduanya saat ini menjadi lomba bergengsi karena jalur-jalurnya yang sulit dan memberikan panorama yang indah.

Banyak yang mengira Hendra bisa melakukan semua ini karena dukungan finansial yang kuat. Padahal jauh sebelum itu ia menjalani kehidupan yang cukup sulit. Ia bukan terlahir dari keluarga kaya raya. Bisnis garmennya yang sukses sekarang pun ia peroleh dari modal nol rupiah.

Kepada Fajar WH, Sorta Tobing, dan fotografer Wisnu Agung Prasetyo, ia menceritakan kisah hidupnya dari awal memulai bisnis hingga menjadi pecinta olahraga lintas alam. Berikut kisahnya.

Hendra Wijaya, pelari Indonesia pertama yang menaklukkan Kutub Utara, saat melakukan latihan di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat, pada Selasa pagi (25/07/2017).
Hendra Wijaya, pelari Indonesia pertama yang menaklukkan Kutub Utara, saat melakukan latihan di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat, pada Selasa pagi (25/07/2017). | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Bisnis bermodal nol Rupiah

Hendra lahir 51 tahun yang lalu di Bogor, Jawa Barat. Orang tuanya sempat memiliki toko kelontong, namun usaha itu bangkrut. Ia hidup miskin tapi kemauannya selalu keras.

Sejak duduk di bangku sekolah dasar, setiap hari ia sudah bangun jam empat pagi. Tidak ada yang menyuruh atau mengajak, Hendra berlari dari rumahnya ke Kebun Raya Bogor. Bolak-balik dan sendirian ia lari. "Saya pikir-pikir memang sejak kecil sudah suka lari," kata pria berusia 51 tahun itu.

Saat kuliah di Institut Pertanian Bogor, bungsu dari tujuh bersaudara ini tak punya tempat tinggal. Ia menumpang di rumah orang dan menjadi pekerja rumah tangga tanpa gaji. Setiap hari ia mengantar-jemput empat anak pemilik rumah.

"Saya antar mereka sekolah dulu," kata Hendra. "Kalau nanti ada yang pulang jam 10, saya keluar ruang kuliah supaya bisa mengantar anaknya ke rumah, lalu saya balik lagi ke IPB."

Tak hanya itu, Hendra juga mencuci baju, mengepel, dan mencuci piring di rumah itu. "Pokoknya sedih sekali waktu itu," ujarnya.

Lulus kuliah, ia bekerja di sebuah bank swasta. "Saya juga salah satu pendiri bank itu," kata Hendra. Di usia 27 tahun, ia berhasil menjadi manajer bidang teknologi informasi. Tapi empat tahun bekerja di sana, ia memutuskan untuk keluar.

Ia sebenarnya berencana untuk melanjutkan studi ke Australia. Namun, rencana itu gagal karena ia keburu diajak kakak iparnya membuka usaha konfeksi di Jakarta.

Awalnya perusahaan ini berjalan dengan 11 mesin. Hendra belajar setahap demi setahap proses pengerjaan konfeksi. Dari mulai membuat pola hingga menjadi pakaian siapa pakai. Ia juga secara langsung mengantarkan barang-barang itu kepada pemesan demi menjalin hubungan baik.

Sampai suatu saat Hendra merasa tak memiliki apa-apa. Tapi ia punya mimpi memiliki 500 karyawan dan pabrik konfeksi sendiri. Ia kemudian memberanikan diri mengajukan pinjaman kepada bank tempatnya dahulu bekerja, Bank Ganesha. "Jaminannya tanah yang mau saya beli, sekitar 6.100 meter persegi," katanya.

Sebenarnya tanah itu tak bisa dijadikan jaminan karena belum menjadi hak miliknya. Hendra bermodal nekad mengajukan pinjaman dengan keyakinan kalau pun gagal toh ia tak punya apa-apa.

Tapi nasib berkata lain, ia berhasil mendapatkan pinjaman Rp450 juta dan segera membeli tanah yang ia incar. Tanah itu ia bagi dua. Yang pertama ia jaminkan ke Bank Ganesha. Sisa tanah lainnya, ia jaminkan ke Bank Mandiri untuk membangun pabrik.

Sisa kisah ini berujung manis. Pabriknya sukses. PT Rajawali Mulia Perkasa sekarang berkembang mengerjakan pakaian jadi untuk pria dan wanita dalam skala lokal. Jenama seperti Hammer, Aero, Stanley Adams, dan Nail menjadi pelanggan tetap perusahaan tersebut.

Hendra saat ini bisa menikmati hasil kerja kerasnya. Uang tak menjadi kendala baginya untuk melakukan olahraga ekstrem. Ia bisa mengongkosi diri sendiri hingga ratusan juta rupiah untuk sebuah perlombaan. Kalau ia berlomba, sang keponakan bertugas memimpin perusahaan.

Hendra Wijaya, pelari Indonesia pertama yang menaklukkan Kutub Utara, berpose di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat, pada Selasa pagi (25/07/2017).
Hendra Wijaya, pelari Indonesia pertama yang menaklukkan Kutub Utara, berpose di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat, pada Selasa pagi (25/07/2017). | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Perjalanan ke Kutub Selatan

Southern Force, a Journey to Antarctica, begitu Hendra menyebut petualangannya tahun ini. Sebuah perjalanan yang bakal membawanya dari Kutub Utara ke Selatan.

Perjalanan ini mulai pada April lalu. Hendra mengikuti perlombaan terberat dalam hidupnya, Great Himalaya Race. "Yang finis cuma 11 orang dari 45 negara," ujarnya.

Di Pegunungan Himalaya, medan perlombaan bisa jadi neraka bagi para peserta. Kadang jalur tertutup oleh kabut. Kadang harus melewati gunung salju. Hendra mengikuti jalur lintasan sejauh 1.800 kilometer selama 43 hari.

Setelah melewati Tashi Lapsa 5755m pda stage/hari ke 13. Cuaca sangat buruk, hujan salju dan angin kencang betul2 harus berjuang keras dan sering terpeleset karena sangat licin berjalan di bebatua tertutup salju. Pandangan sangat terbatas, selain hujan salju juga berkabut. Kami menyerah pada jam 8 malam untuk mencari jalan. Akhirnya rombongan kami memutuskan untuk menginap di ketinggian 4800m dalam keadaan hujan salju. Bersyukur saya selalu membawa bivy/tenda, termarest dan sleeping bag. Teman2 lain hanya membawa sleeping bag dan termarest, sehingga mereka harus mencari perlindungan batu besar. Saya langsung diatas salju saja tanpa ragu2. Karena pengalaman di kutub utara yg bahkan lebih dingin. Video ini diambil keesokan pagi hari setelah bangun tidur.

A post shared by Hendra Wijaya (@hendra.w) on

GHR stage #39 : kadang terjadi longsor di jalur, tapi tetap harus dilalui jika memungkinkan.

A post shared by Hendra Wijaya (@hendra.w) on

Setelah dari Himalaya, hanya dalam hitungan minggu ia lanjut lagi ke perlombaan lintas alam di gunung tertinggi Kutub Utara, Denali. Saat kami mewawancarainya, Hendra baru empat hari berada di tanah air.

Bulan ini Hendra bakal berlomba di Petite Trotte a Leon di Prancis. Ajang ini lumayan bergengsi karena bagian dari Ultra Trail Mont Blanc (UTMB). Para peserta akan melintasi alam pegunungan Alpen dengan rute yang lumayan sulit dan menantang.

Untuk berlaga di Prancis, Hendra sudah bersiap diri dengan berlatih setiap hari. Ia bersepeda dari rumahnya ke Cibodas sejauh 50 kilometer. Lalu, ia berlari 25 kilometer di Gunung Gede Parangro. Semuanya ia lakukan dari jam lima pagi hingga dua siang.

Dari Prancis, perlombaan berikutnya yang akan ia ikuti adalah Tor des Geants (Italia), Gunung Aconcagua (Argentina), Gunung Everest (perbatasan Tiongkok dan Cina), Transpyrenea (Prancis), dan terakhir ekspedisi ke Antartika. Targetnya, Februari-Maret 2018 Southern Force berhasil ia selesaikan.

Khusus untuk Antartika, selain fisik, ada lagi yang perlu disiapkan oleh Hendra, berat badan. Ia harus menaikkan berat badannya menjadi 80 kilogram. "Berat badan saya pasti habis setelah lomba," ujar Hendra.

Naik-turun berat badan bukan perkara rumit baginya. Ia selalu memperhitungkan hal ini ketika mengikuti perlombaan yang memakan waktu berhari-hari. Misalnya ketika ke Himalaya, Hendra sengaja menaikkan bobotnya menjadi 71 kilogram. Selesai pertandingan, beratnya susut jadi 59 kilogram.

Nah, ekspedisi Kutub Selatan bisa lebih parah lagi menurunkan bobotnya. Selain udaranya sangat dingin, Hendra juga harus membawa perbekalan seberat 100 kilogram, termasuk makanan, minuman, kompor, bahan bakar, pakaian, tenda, dan lainnya. Bekal ini bakal ia bawa menggunakan slide yang dikaitkan ke tubuhnya.

Bagi saya, ketika berlomba kontribusi fisik itu cuma 20 persen, sisanya kekuatan pikiran,

Hendra Wijaya

Ia mengaku tak ada yang bisa menyurutkan niatnya. Rasa takut dan kesepian sudah tak ada lagi dalam dirinya ketika telah memasang target. Pikirannya hanya fokus menuju garis finis.

Berbagai kejadian telah ia alami sejak menggeluti olahraga ini pada 2011 lalu. Ia pernah mengalami pengalaman spiritual ketika berlomba di Gurun Gobi tahun lalu. Tak tidur berhari-hari membuatnya hampir tak bisa melanjutkan perlombaan. "Mata saya sudah merah sekali, seperti saga," ujar Hendra.

Tim medis tak mengizinkannya berlomba sebelum dirinya tidur. Hendra sempat minum obat tidur, tapi tak mempan juga. Sampai akhirnya ia tertidur. Tapi itu pun hanya dalam hitungan detik.

Hendra terbangun karena bermimpi buruk. Jiwanya seolah melihat raganya. "Saya kaget sekali. Saya cepat-cepat bangun dan tidak mau tidur lagi. Rasanya seperti meninggal," katanya.

Halusinasi, yang menjadi musuh utamanya, juga kerap datang kalau ia kurang tidur. Pada saat mengikuti Tor des Geants pada 2014, ia mengaku kerap berhalusinasi. "Saya tidur cuma enam jam dalam enam hari ketika itu," ujar Hendra.

Ada saat ia seolah sedang berlari sambil ngobrol dengan temannya, Nyoman. "Padahal rumahnya di Singapura," katanya. Setelah itu, ia melihat batu-batu yang ia lintasi seperti daging-daging merah besar. Sempat pula ia tercenung melihat bendera-bendera petunjuk di sisi lintasan.

Ia tak punya resep rahasia atau jurus sakti mandraguna untuk mengikuti perlombaan lintas alam. Semua ia pelajari secara otodidak, seperti bisnis konfeksinya, setahap demi setahap. Daya tahan tubuh memang penting. Tapi, menurut dia, ada lagi yang lebih utama.

"Bagi saya, ketika berlomba kontribusi fisik itu cuma 20 persen, sisanya kekuatan pikiran," kata Hendra. Kekuatan tersebut termasuk kerja keras, tidak gampang putus asa, dan selalu mau belajar. Semua itu, menurut dia, buah tempaan sejak kecil.

Ia belum tahu kapan akan berhenti melakukan olahraga yang menguji daya tahan tubuh ini. "Setiap perjalanan memberi ilmu dan pengetahuan baru bagi saya. Minimal saya jadi bisa menjaga kebugaran," ujarnya.

Hendra Wijaya, "Ultraman" yang akan taklukan Kutub Selatan /Beritagar ID
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR