Herry Iman Pierngadi sedang berpose untuk pengambilan gambar Beritagar.id di kediamannya di kompleks Taman Semanan Indah, Jakarta Barat, Jumat (29/3/2019) malam.
Herry Iman Pierngadi sedang berpose untuk pengambilan gambar Beritagar.id di kediamannya di kompleks Taman Semanan Indah, Jakarta Barat, Jumat (29/3/2019) malam. Wandha Saphira / Beritagar.id
FIGUR

Herry IP, suhu murai menolak status legenda bulu tangkis

Ada tiga dunia yang ditekuni Herry I.P. dalam hidupnya. Dari ketiganya, ia justru menolak julukan besar di dunia yang membesarkan namanya.

Herry Iman Pierngadi menampik anggapan banyak orang yang menyebutnya sebagai legenda di dunia kepelatihan bulu tangkis. Meski sudah berderet anak didiknya meraih trofi, dia belum berpikir status tersebut laik disandangnya.

Namun, lain halnya jika Anda menanyakannya soal burung. Khususnya jenis murai. Herry cukup pede mengamini julukan agung yang banyak orang sematkan kepadanya: suhu.

"Soal burung, saya iya bisa dibilang begitu (suhunya). Burung murai tapinya," katanya.

Ia tahu betul seluk-beluk murai. Mulai dari calon murai gacoan, kapan mereka siap ikut kompetisi, hingga kebiasaan-kebiasaan burung tersebut sudah di luar kepalanya.

Bisa dimaklumi. Sebab, sudah puluhan tahun Herry berkecimpung di sana. Jauh sebelum dia mengenal bulu tangkis. Dan semua berawal dari lingkungan masa kecilnya di daerah Susilo, Grogol, Jakarta Barat.

Ada dua kegiatan yang digemari anak-anak di daerah Susilo akhir dasawarsa 1960-an. Pertama adalah burung, dan kedua sepak bola. Pria kelahiran Pangkal Pinang, Bangka Belitung, 21 Agustus 1962, tersebut menyukai keduanya.

Ia dengan senang hati melihat orang-orang di daerahnya bermain burung dara saat sore tiba. Kecepatan makhluk tersebut kala melesat di udara membuatnya bahagia. Herry bisa berjam-jam menikmati momen tersebut.

Sedangkan untuk sepak bola, siapa anak-anak zaman itu yang tidak suka? Mulai dari jagoan nasional seperti Andi Ramang, Iswadi Idris, atau Abdul Kadir, hingga 'dewa' internasional asal Brasil, Pele. Mereka idola anak-anak saat itu. Termasuk Herry.

"Saya posisi main sebagai bek tengah," kata pria yang menyukai sosok Marco van Basten tersebut.

Dia rela bermain bola hingga ke daerah Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, bersama klubnya, Remaja Susilo. Saat hujan, ia pun tak ragu berbecek-becekan main di lapangan bola dekat rumahnya--yang kini menjadi tempat parkir Universitas Trisakti.

Namun, sang ibu, Suzana Sunarjo, tak suka dengan aktivitas itu. "Mami enggak suka saya main bola. Katanya kasar," ujarnya kepada Andya Dhyaksa dan Wandha Saphira,

Namun, kini nama Herry justru besar di dunia bulu tangkis. Bukan sebagai pemain, karena prestasi tertingginya mentok di level daerah. Tetapi, sebagai pelatih. Dia sukses melahirkan duet ganda putra kelas dunia.

Beberapa di antaranya Chandra Wijaya/Tony Gunawan (juara All England 1999 dan emas Olimpiade 2000, Chandra Wijaya/Sigit Budiarto (All England 2003 dan juara dunia 1997), hingga teranyar, Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon.

"Apakah saya layak disebut legenda? Belumlah. Biasa saja," katanya.

Herry tampil santai saat menemui kami. Dia mengenakan kaus dan celana pendek. Senyuman khasnya, dengan kedua sudut bibir tertarik agak ke atas, kerap ia tampilkan. Sesekali, sang istri, Loa Kim Fun, ikut nimbrung dalam obrolan.

Ditemani sang anjing, Mini, dan kicauan puluhan burungnya, Herry menceritakan kegemarannya di luar dunia bulu tangkis di kediamannya di kompleks Taman Semanan Indah, Jakarta Barat, Jumat (29/3/2019) malam. Berikut kisahnya.

Cinta pertama

Herry I.P. sedang berpose untuk pengambilan gambar Beritagar.id di kediamannya di kompleks Taman Semanan Indah, Jakarta Barat, Jumat (29/3/2019) malam.
Herry I.P. sedang berpose untuk pengambilan gambar Beritagar.id di kediamannya di kompleks Taman Semanan Indah, Jakarta Barat, Jumat (29/3/2019) malam. | Wandha Saphira /Beritagar.id

Januari 2009 menjadi momen yang sangat menyakitkan Herry sebagai pelatih ganda Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI). Ia dipecat setelah 20 tahun mengabdi dengan alasan tak jelas.

"Saya tidak siap dipecat. Orang prestasi ada, kok," ucapnya dengan nada sedikit naik.

Bisa dimaklumi bila Herry kesal. Pasalnya, pada 2008, anak didiknya, Markis Kido/Hendra Setiawan, berhasil meraih emas di Olimpiade Beijing, Tiongkok.

Herry menyebut keputusan penendangannya sangat politis. Ia teramat kecewa dengan keputusan itu, meski Malaysia tak lama kemudian tertarik merekrutnya. "Saya seminggu enggak mau mendengar atau melihat bulu tangkis," ucap Herry.

Yang lebih terpukul atas keputusan itu adalah sang ayah, Senjaya Pierngadi. "Almarhum papi paling enggak bisa terima. Ngamuk dia. Kecewa banget," tambahnya.

Akan tetapi, nasib apesnya itu justru seperti menjadi berkah. Herry bisa kembali fokus ke dunia yang sudah agak lama dia pinggirkan. Dunia yang menjadi cinta pertamanya: burung.

Bapak dari tiga orang anak itu bukan orang kemarin sore di dunia burung. Sejak kecil, ia sudah bermain di dunia itu. Diawali dengan suka melihat para pemuda daerah Susilo adu kecepatan burung dara, Herry pun mulai tertarik.

Ia mengoleksi banyak jenis burung dari kecil hingga remaja. Mulai dara, kenari, poksay, hingga murai; kecepatan, hingga kicauan.

Herry bukan sekadar main, tapi juga membiakkan burung dara sejak saat itu. Bahkan, ia mengaku, penghasilan terbesarnya saat bujang bukan dari bulu tangkis, tapi dari bisnis burung.

Sebagai contoh, sekitar 1983-1984, ia pernah menjual seekor dara seharga Rp2 juta, harga yang sangat mahal kala itu.

"Itu anakan (bibit) yang juara nasional. Jadi enak saja (menetapkan harga) jualnya," kata Herry sambil tertawa.

Namun, saat masuk ke pelatnas badminton sebagai pemain pada pertengahan 1980-an, ia perlahan meninggalkan hobinya mengoleksi dara. "Sejak aktif sebagai pemain pelatnas, saya main di kicauan. Nggak main burung dara lagi," ucapnya.

Kegemarannya bermain burung ini sudah mendarah daging. Saat menikahi Loa Kim Fun pada 1991, ada satu syarat yang Herry minta kepada calon istrinya tersebut. Kim harus menerima kegemarannya bermain burung.

"Saya bilang ke istri bahwa hobi saya burung. Dia harus ngikut, dukung. Dia ngerti," ucapnya.

Waktu berlalu, dan Kesenangannya yang satu ini tak jua luntur. Masalahnya, waktu sebagai pelatih ganda putra timnas bulu tangkis Indonesia membatasi interaksinya dengan hobi tersebut.

"Saya membuktikan bahwa pemecatan saya saat itu adalah sebuah kesalahan,"

Herry Iman Pierngadi

Pemecatannya dari PBSI pada 2009 mengembalikan fokusnya kepada burung. Seminggu usai dipecat, ia pun memutuskan untuk mencoba menggantungkan hidup dari dunia burung. BnR, penyelenggara kompetisi (EO) burung berskala nasional, merekrutnya.

Selama dua tahun ia berkeliling Indonesia untuk menjadi juri dalam puluhan, bahkan ratusan, kompetisi adu kicau burung. "Jadi, kalau dulu saya keliling dunia, saat menjadi juri saya keliling Indonesia," katanya.

Herry memang memiliki insting apik terhadap burung kicau. Ia bisa mengetahui mana burung yang bagus dan tidak hanya dari melihatnya sekilas.

Kemampuan tersebut sebenarnya menjadi buah simakalama. Tak jarang ia didatangi orang dari sejumlah daerah untuk meminta penilaian terhadap seekor burung. Namun, dampak "buruknya", dia tak bisa leluasa membeli burung jika menyukainya.

"Kalau saya yang langsung turun menawar, pasti harganya mahal. Mereka sudah tahu, kalau yang saya pilih pasti bagus," katanya.

Namun, hal itu tak mengurangi niatnya untuk terus mengoleksi hewan bersayap tersebut. Salah satu caranya, ia akan menyuruh seseorang untuk menawar burung yang ia sukai. "Seperti jaringan lah. He he," katanya.

Petualangan Herry dengan BnR hanya bertahan dua tahun. Pasalnya, pada 2011, PBSI kembali menariknya untuk menangani ganda putra Indonesia. Kembalinya Herry ke pelatnas lagi-lagi menyita waktunya di dunia burung.

Kini, jumlah piaraannya tak begitu banyak--meski mencapai 100-an. Di rumahnya saja, Herry mengaku tak kurang dari 28 burung ia rawat sendiri. Lainnya, ada di rumah orang tua--yang sepelemparan batu dari rumah Herry--dan rumah teman-temannya.

Menurut Herry, ada satu pendekatan dalam memelihara burung yang bisa dipraktikkan dalam bulu tangkis. Memelihara "burung aduan" memerlukan kejelian. Ia harus tahu kapan burung siap dikompetisikan atau tidak.

Caranya, dengan melihat secara saksama profil burung. Gerakan paruhnya, jenis kotoran, reaksi kala diganggu, hingga tingkat volume suara burung, adalah beberapa yang perlu diperhatikan.

Hal yang sama berlaku dalam menentukan komposisi pemain bulu tangkis di nomor ganda. Untuk menentukan pasangan hebat, tiap pelatih harus jeli melihat karakter dari masing-masing pemain.

"Kalau dari cara latihan, saya pikir semua pelatih sama saja. Tapi, soal kejelian dan pendekatan kepada pemain, pasti berbeda tiap pelatih," katanya.

Dengan pendekatan inilah Herry sukses menjelma sebagai salah satu pelatih bulu tangkis terbaik. Bukan hanya sekali dua kali ia membuktikan tangan dinginnya.

Saat dipecat dari PBSI pada 2009, prestasi ganda putra Indonesia tak semoncer di tangannya. Sepanjang musim itu, praktis hanya Markis/Hendra saja yang berprestasi di nomor tersebut. Kondisi serupa terjadi musim 2010.

Setelah Herry masuk kembali ke PBSI untuk kali keduanya pada 2011, ganda putra mulai berprestasi. Ia "mengocok dadu" para pemain di nomor ganda putra. Salah satu di antaranya Hendra ia pasangkan dengan Mohammad Ahsan.

Hasilnya tak salah. Hendra/Ahsan menjadi kekuatan baru saat itu, dengan merebut sejumlah turnamen bergengsi, seperti Kejuaraan Dunia 2013 dan 2015, All England 2014, serta Indonesia Open 2014.

Kini, ganda putra menjadi nomor andalan Indonesia di sejumlah turnamen. Duet Kevin/Marcus, Fajar Alfian/Mohammad Rian Ardianto, serta Hendra/Ahsan, bolak-balik merebut trofi di sejumlah turnamen papan atas Badminton World Federation.

"Saya dapat membuktikan bahwa keputusan memecat saya saat itu adalah sebuah kesalahan," ucap Herry yang sudah bolak-balik ditawari Korea Selatan, Malaysia, dan Thailand untuk menjadi pelatih di negara tersebut.

"Merah-Putih saya masih kuat."

Hanya hobi, bukan suhu

Herry I.P. sedang berpose untuk pengambilan gambar Beritagar.id di kediamannya di kompleks Taman Semanan Indah, Jakarta Barat, Jumat (29/3/2019) malam.
Herry I.P. sedang berpose untuk pengambilan gambar Beritagar.id di kediamannya di kompleks Taman Semanan Indah, Jakarta Barat, Jumat (29/3/2019) malam. | Wandha Saphira /Beritagar.id

Kejuaraan Nasional Bulu Tangkis 1986 di Samarinda, Kalimantan Timur, menjadi ingatan yang berbekas cukup kuat di benak Herry.

Bukan karena hasil kompetisinya, yang tak memberinya gelar juara di nomor ganda putra. Namun, saat itu, ia membeli sebuah batu akik berjenis kecubung yang harganya cukup mahal.

"Waktu itu saya beli Rp35.000," katanya.

Jelas saja, sebab batu adalah hobi lain Herry. Ia seperti dunia ketiga di luar keluarga, setelah bulu tangkis dan burung. Koleksi batunya lebih dari 40, mulai dari berjenis akik seperi bacan, sungai dareh, kecubung, hingga batu-batuan permata.

Dari puluhan batu yang dia simpan, ada dua yang terasa spesial baginya. Safir, zamrud, atau rubi? Bukan. Bukan pula bacan yang harganya sempat membubung tinggi pada pertengahan dekade 2010-an.

Batu favoritnya adalah batu biasa dengan fosil menyerupai burung yang ia dapatkan dari seorang kenalannya di daerah Banjarnegara, Jawa Tengah.

"Saya menyukai batu bergambar hasil dari proses fosil. Karena, batu-batu ini tak ada duanya," ucap Herry.

Tersebab perkara batu pula Herry sempat membuat keriuhan pada 2016. Musababnya, pada beberapa pertandingan ganda putra Indonesia di All England tahun itu, ia berulang kali tertangkap kamera memegang batu cincin di jarinya saat mendampingi tim bertanding.

Christian Hadinata, legenda bulu tangkis Indonesia, pun kemudian mengatakan bahwa batu cincin tersebut adalah jimat bagi Herry--tentu dalam konteks bercanda.

"Ha-ha. Itu bisa-bisanya Koh Chris aja. Saya cuma iseng aja saat itu, karena disuruh Hafid (Yusuf) 'pamerin kalau disorot kamera'," katanya.

Kegemarannya mengoleksi batu ini, menurut Herry, hanya sekadar hobi. Ia tak fanatik terhadap batu, tidak seperti pada burung. Oleh karena itu, meski sudah mengoleksinya puluhan tahun, ia tak banyak tahu seluk-beluk batu.

Maka, tak heran jika ia menolak disebut ahli dalam bidang batu, apalagi suhu.

"Kalau suhunya batu sih, salah satu menteri kita saat ini. Saya nggak perlu menyebutkan namanya," katanya.

Beritagar.id /Wandha Saphira
BIODATA Diperbarui: 12 April 2019

Herry Iman Pierngadi

Lahir:
Pangkal Pinang, Bangka Belitung, 21 Agustus 1962

Prestasi:

  • Mengantar Tony Gunawan/Chandra Wijaya meraih emas Olimpiade 2000
  • Mengantar Markis Kido/Hendra Setiawan meraih emas Olimpiade 2008
  • Mengantar Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan juara All England 2014 dan 2019
  • Mengantar Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan meraih emas Kejuaraan Dunia 2013 dan 2015
  • Mengantar Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan meraih emas Asian Games 2014
  • Mengantar Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan meraih juara Indonesia Open 2013
  • Mengantar Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon juara All England 2017 dan 2018
  • Mengantar Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon meraih emas Asian Games 2018
  • Mengantar Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon juara Indonesia Open 2018
  • Mengantar Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon juara China Open 2016 dan 2017
  • Mengantar Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon juara BWF World Tour Final 2018
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR