Keterangan Gambar : Vokalis band ska Shaggydog, Heru Wahyono, berpose di sebuah kafe di Yogyakarta, pada Kamis (31/08/2017). © Beritagar.id / Reza Fitrianto

Pernah terpuruk dan menjadi perajin anyaman pandan, Heru dan kelima temannya sekarang menikmati kesuksesan 20 tahun Shaggydog dalam bermusik.

Agustus lalu menjadi bulan terpadat selama 20 tahun berdirinya Shaggydog. Band asal Yogyakarta ini manggung sampai 13 kali. Bahkan di antaranya, dalam tempo lima hari mereka konser di empat kota di Indonesia.

Dari Bontang, Kalimantan Timur, kembali ke Yogyakarta untuk pentas Prambanan Jazz Festival. Lalu, mereka langsung ke Kediri, Jawa Timur, dan lanjut ke Tangerang, Banten.

Semua show itu tak membuat Heru Wahyono capek. Justru di atas panggunglah, pria yang akrab disapa Heru atau Heruwa itu merasa mendapat energi.

"Shaggydog itu band berbasis komunitas," katanya. Kelahirannya memang tak terlepas dari ajang kumpul anak-anak muda di daerah Sayidan, Yogyakarta.

Di sanalah Heru bersama teman-temanya sering jamming musik saat mereka masih sekolah menengah atas. Ia ingat tangan kanannya masih kaku memetik gitar kala itu. "Yang ada di pikiran saya cuma berkumpul dan bersenang-senang," ujarnya saat ditemui di sebuah kafe di Yogyakarta, Kamis 31 Agustus 2017.

Bagi Heru, Sayidan tak hanya jadi tempat nongkrong tapi juga laboratorium bermusik. Mereka bereksperimen beragam genre hingga akhirnya menemukan satu yang mereka anggap paling pas, yakni ska.

Musik ska yang riang gembira, lanjut dia, cocok dengan karakter anak band Sayidan yang suka bermusik dan senang-senang. "Itu yang paling klop sama kami," kata Heru.

Shaggydog memang kental dengan kegembiraan dan keceriaan. Dengarkan saja "Hey Cantik". Lagu ini diawali dengan rangkaian nada piano dalam irama stakato. Lalu masuklah hentakan drum dan gamitan gitar diiringi nada bas yang berjalan naik-turun. Suara terompet kadang masuk menguatkan ritme musik riang ini.

Sekali mendengar, "Hey Cantik" bisa membius tubuh untuk berjoget. Para doggies (sebutan untuk penggemar Shaggydog) biasa bergoyang ska dengan khas ketika Shaggydog manggung. Kepala menoleh kanan-kiri. Siku tangan bergantian mengarah ke depan. Lalu, kaki diangkat satu per satu mengikuti ritme.

Tapi Shaggydog juga pernah membuat lagu yang lumayan serius, meskipun tetap dengan irama yang cepat dan riang. Seperti "Di Sayidan". Inilah lagu yang membuka nostalgia pertemanan mereka. Atau "Ditato" yang membalas kritikan negatif orang-orang bertato.

Sejak berdiri 1 Juni 1997, Shaggydog telah melahirkan enam album. Shaggydog (1999), Bersama (2001), Hot Dogz (2003), Kembali Berdansa (2006), Bersinar (2009), dan Putra Nusantara (2016).

Tak hanya di dalam negeri, Shaggydog juga telah pentas ke mancanegara. Terakhir pada tahun lalu, mereka pentas ke Amerika Serikat.

Vokalis band ska Shaggydog, Heru Wahyono, berpose di sebuah kafe di Yogyakarta, pada Kamis (31/08/2017).
Vokalis band ska Shaggydog, Heru Wahyono, berpose di sebuah kafe di Yogyakarta, pada Kamis (31/08/2017).
© Reza Fitriyanto /Beritagar.id

Bertemu di Sayidan

Saat kecil, Heru tak mendengarkan musik ska yang asli Jamaika itu. Ia justru mendengarkan Deep Purple, The Doors, dan Snoop Dogg. Ia bahkan akrab dengan grup breakdance The Electric Boongaloos saat demam joget jalanan ini melanda dunia.

Masa kecilnya di Pulau Dewata membuatnya terekspos dengan musik barat. "Umur 8 tahun aku sudah kemasukan bermacam jenis musik," kata Heru.

Orang tuanya membuka usaha garmen di sana. Di luar rumah, ia langsung mendapat akses menuju daerah Kuta yang tak pernah sepi turis. Kafe dan toko-toko di sana memperdengarkan beragam musik. Ia sering mendengarkan lagu-lagu yang diputar meskipun tak tahu siapa penyanyinya.

Pengetahuan musiknya berubah ketika keluarganya pindah ke Yogyakarta pada 1996. Heru mulai tahu satu per satu para pemusik yang pernah ia dengar lagunya.

Semua gara-gara pertemanannya dengan Bandizt (bassis dan pendiri Shaggydog) dan Raymond (gitaris Shaggydog). Mereka sama-sama sekolah di SMA Marsudi Luhur. Bandizt kakak kelas untuk keduanya.

Sekolah itu terletak di kawasan Bintaran. Lokasinya di timur Sayidan, tempat keluarga Bandizt tinggal. Sungai Code memisahkan kedua kampung itu. Namun, ada jembatan kecil yang menjadi jalur alternatif menghindari kemacetan.

Heru kerap mampir ke rumah Bandizt seusai sekolah. Di sanalah mereka berlatih musik memainkan lagu dari Netral hingga Nirvana.

Ia kemudian bertemu Richard (gitaris), Lilik (keyboard), dan Yoyo (drumer). Mereka sepakat membentuk band bernama Shaggydog.

Nama itu muncul begitu saja dari mulut Bandizt. Penyebabnya, ia terpesona dengan film hitam-putih keluaran Walt Disney pada 1959 berjudul The Shaggy Dog. "Ini saja namanya ya," kata Heru menirukan ucapan Bandizt 20 tahun lalu.

Kala itu Green Day sangat ngetop dan masuk ke kuping anak muda, termasuk Heru. "Aku suka Green Day dan kubawa ke Sayidan," katanya. Kelima kawannya ketularan menyukai musik band asal Amerika Serikat itu.

Saking sukanya, mereka menggali setiap lapis band beraliran punk rock tersebut. Dari penggalian itu mereka menemukan aliran musik ska. "Kalau punk terlalu kenceng," ujar Heru. "Ska lebih cocok dengan karakter personel Shaggydog."

Selama dua tahun awal mereka membawakan lagu band lain yang sudah ternama. Belakangan, para penggemar mendesak mereka membuat lagu sendiri dan merilis album. Shaggydog akhirnya meluncurkan album pertamanya pada 1999.

Album itu langsung booming. Sebanyak 20 ribu kopi berhasil terjual lewat jalur indie, dari tangan ke tangan.

Shaggydog saat itu juga menangani sendiri hubungannya dengan para doggies. Heru mengenang setidaknya ada 10 lembar surat datang setiap harinya ke Doggy House (markas Shaggydog).

Ia rutin membalas surat-surat itu dengan tulisan tangan. Semua arsipnya masih ia simpan hingga sekarang. "Itu harta karun terbesar karir bermusik Shaggydog," ujar Heru.

Dua tahun berikutnya menjadi titik terendah band ini. Album keduanya, Bersama, anjlok. Demam ska memudar. Shaggydog sepi order manggung. "Kami terkena imbas hilangnya tren ska," katanya.

Padahal, para personelnya memproduksi album itu dengan berdarah-darah. Mereka sampai harus menggadaikan motor untuk membiayai produksi rekaman di Bandung.

Heru masih ingat para personel ketika itu berusaha bertahan hidup dengan menjadi perajin anyaman pandan alas minum teh. Ia datang ke kakaknya yang memiliki bisnis barang kerajinan tangan dan meminta pekerjaan untuk digarap bersama awak Shaggydog. "Duitnya dikumpulin buat makan," kata Heru.

Peruntungan akhirnya berbalik kembali kepada mereka pada 2003. Perusahaan rekaman besar, EMI Music Indonesia, bersedia meluncurkan album ketiga Shaggydog, Hot Dogz. "Di Sayidan" dan "Anjing Kintamani" menjadi kebangkitan Shaggydog setelah sempat mati suri.

Bahkan "Di Sayidan" masuk posisi 139 dalam daftar 150 lagu terbaik Indonesia versi Rolling Stone. "Album Hot Dogz kembali menjadikan kami anak band," katanya.

Namun, peluncuran album itu sempat mendapat caci maki dari para penggemar. Banyak penggemarnya mengkritik keputusan Shaggydog yang tak konsisten di jalur indie.

Heru mengatakan pilihan masuk ke major label itu diambil karena EMI sepakat tak akan mencampuri urusan manajemen dan membebaskan Shaggydog menjadi diri sendiri. Di sisi lain, Shaggydog butuh meluaskan musik mereka melalui jaringan industri rekaman. "Mereka (fans) akhirnya mengerti kenapa kami gabung dengan major label," katanya.

Bermusik bersama

Heru mengaku proses kreatif Shaggydog tak muncul dari satu individu saja. Mereka bersama-sama bekerja dari menulis lirik hingga menciptakan melodi. Tapi kadang gagasan bisa muncul dari orang per orang.

Ia sempat menulis sendiri lirik untuk lagu-lagu Shaggydog, seperti "Kembali Berdansa". Lagu pada album ketiga itu menandai kembalinya Shaggydog ke panggung musik Indonesia.

Salah satu bait lagu tersebut jelas menggambarkan kerinduan serta kegembiraan mereka untuk kembali bermusik. Begitu lama aku menunggu/Tuk bisa lagi berdansa denganmu/Dan cukup lama aku menghilang/Kini kudatang sambutlah aku dan kita berdendang.

Bagi Heru, tak ada resep rahasia dalam menulis lirik. Ia bisa menuliskan dulu apa yang ada di kepalanya, kemudian menyimpan lirik itu sambil menunggu melodi lagunya. "Mood-nya bisa di mana saja dan kapan saja," kata Heru.

Apa yang ia rasakan dan alami bisa menjadi lirik lagu. Tema lagu juga bisa apa saja. Satu lagu juga bisa menjadi momen magic bagi mereka. "Itu kalau bisa nemu lagu saat itu juga. Pecahlah! Kekuatan jamming memang paling...," ujarnya tanpa bisa berkata-kata lebih lanjut.

Album Putra Nusantara merupakan yang tersulit. Selain disibukkan oleh jadwal manggung, kebanyakan personelnya mulai punya kesibukan baru. Dari berkeluarga hingga urusan bisnis dan kegiatan di luar dunia musik.

Perlu perlakuan khusus, atau tepatnya "dipaksa", untuk menghasilkan lagu-lagu di album itu. Selama 10 hari lamanya, seluruh personel Shaggydog dikarantina di kawasan Kaliurang, Sleman. Kebersamaan itu terbukti ampuh melahirkan ide kreatif. Satu lagu di album itu, berjudul "Kere Hore", muncul secara spontan bersama-sama saat bangun tidur.

"Shaggydog itu band yang punya musik sendiri."

Heru, vokalis Shaggydog

Shaggydog berusaha tak lupa diri dengan kesuksesan yang telah mereka raih. Doggyhouse Record, studio Shaggydog, juga mensponsori produksi dan rilis album band lain. Salah satunya, beberapa waktu lalu, band ska asal Jakarta Sentimental Moods.

Tahun sebelumnya, Doggyhouse Record juga memproduksi album V/A Doggy Barks #1 yang berisi kompilasi lagu Shaggydog bersama sejumlah grup band indie. Sangkakala, DPMB, Gerap Gurita, Summer in Vienna, FSTVLST, Indigo Moon, Serigala Malam, WVLV, Everyday, Morning Horny, Something Wrong, dan Rabu.

Meski menganggap ska paling pas, Shaggydog tak meninggalkan genre lainnya. Kita bisa mendapati jejaknya dalam lagu-lagunya yang diwarnai punk, jazz, rock, swing, reggae, dan bahkan dangdut.

Dangdut? Ya. Dengarlah irama "Ambilkan Gelas" dalam album Putra Nusantara.

Saat ini, kata dia, Shaggydog tak bisa dicap sebagai band ska. "Shaggydog itu band yang punya musik sendiri," katanya.

Vokalis band ska Shaggydog, Heru Wahyono, berpose di sebuah kafe di Yogyakarta, pada Kamis (31/08/2017).
Vokalis band ska Shaggydog, Heru Wahyono, berpose di sebuah kafe di Yogyakarta, pada Kamis (31/08/2017).
© Beritagar.id / Reza Fitiryanto
BIODATA Diperbarui: 07 September 2017

Heru "Shaggydog"

Nama:Heru Wahyono
Tempat, tanggal lahir:Denpasar, 20 April 1980
Pendidikan:Modern School of Design, Jurusan Desain Grafis, Yogyakarta
Diskografi Shaggydog:

  • Shaggydog (1999)
  • Bersama (2001)
  • Hot Dogz (2003)
  • Kembali Berdansa (2006)
  • Bersinar (2009)
  • Putra Nusantara (2016)
Pengalaman tur luar negeri:
  • Tur ke Belanda bersama Shaggydog (2004 & 2006)
  • Tur ke Australia bersama Shaggydog (2009)
  • Tur bersama Dubyouth ke Paris & Berlin (2009)
  • Tur solo sebagai featuring bersama Chinese Man (Perancis & Belgia 2011)
  • Main di festival SXSW di Texas, Amerika Serikat bersama Shaggydog (2016)

Beberapa penghargaan yang pernah diperoleh Shaggydog:

  • Indonesia Cutting Edge Music Awards, Best Ska & Reggae Band (Shaggydog, 2010)
  • Indonesia Cutting Edge Music Awards, Best Electronic group (Dubyouth, 2012)
  • Hai Readers Poll Music Awards, Best Ska & Reggae band (Shaggydog, 2013 & 2015)
  • AMI (Anugerah Musik Indonesia) awards : Best Ska/Reggae/Dub (Shaggydog, 2014)


MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.