Lindswell saat pengambilan foto dengan Beritagar.id di Walking Drums Cafe, Jakarta Selatan, Rabu (20/2/2019).
Lindswell saat pengambilan foto dengan Beritagar.id di Walking Drums Cafe, Jakarta Selatan, Rabu (20/2/2019). Wisnu Agung Prasetyo / Beritagar.id
FIGUR

Jembatan kehidupan Lindswell Kwok

Gelar Ratu Wushu Asia Tenggara ia raih dengan latihan tanpa henti. Masa pensiunnya diawali dengan kondisi tak menyenangkan, dijauhi keluarga.

Small is beautiful. Kecil itu indah. Kata-kata ahli ekonomi Jerman, E.F. Schumacher, itu meluncur di kepala saat kami bersua Lindswell Kwok di sebuah restoran di Jakarta Selatan.

Meski sebenarnya kecil tidak tepat betul. Lindswell, begitu dia sekarang disebut, lebih pas dilukiskan sebagai petite. Kata yang bisa menampung gambaran tentang sosok mungil, ramping, interesan.

Gerak perempuan yang beberapa bulan belakangan sudah berjilbab itu waktu tiba di serambi belakang Walking Drums--lokasi kami menjalani rendezvous--seperti saat berada di gelanggang.

Tubuh petite itu cepat dan enteng saja kala menyelinap di antara meja-nyaris-terimpit. Kaki-kakinya seperti tak sepenuhnya menjejak ke lantai kayu waktu berjalan. Pun ketika menyeberangi jembatan kecil.

Wajar dia sanggup begitu. Tubuhnya bertahun-tahun akrab dengan disiplin olah fisik. Sejak kanak. Latihan keras itu bikin dia jadi atlet wushu unggul.

Di banyak kompetisi, dari level nasional hingga internasional, Lindswell tak bosan-bosan jadi kampiun. Lima emas Kejuaraan Dunia. Satu emas Piala Dunia dan Asian Games. Atau lima emas SEA Games, untuk menyinggung beberapa di antaranya.

Julukan 'Ratu Wushu Asia Tenggara' lantas dialamatkan kepadanya. Walau begitu, Lindswell agaknya biasa saja menyikapi label tersebut.

"Masih banyak yang lebih hebat. (Lagian) saya dari kecil memang pemalu. Saya juga orang kuper (kurang pergaulan)," katanya, Rabu (20/2/2019) sore.

Bungsu dari enam bersaudara itu mengaku capaiannya tak melulu bersandar pada kecakapannya. Dia bilang, kuncinya ada pada timing tepat.

"Saat naik ke senior, kebetulan yang bagus di sana pensiun," ujarnya.

Seutas kerendahan hati itu mungkin saja warisan masa kanaknya. Lindswell tak bertumbuh di tengah keluarga kaya.

"Ekonomi keluarga mungkin menengah ke bawah. (Uang) hanya cukup untuk biaya pendidikan dan hidup," katanya.

Dan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, sang ibu, Nuraini, berjualan keripik ubi.

"Mamah beli ubi dan bawa sendiri (dari pasar), itu berat banget. (Dijual) di mana aja, kadang dititipin ke kakak jual di sekolah, atau jualan depan rumah," katanya. "Bahkan mamah pernah bersih-bersih restoran sampai jam 1 malam."

Selama sekitar satu jam, Lindswell bercakap dengan Andya Dhyaksa , Bonardo Maulana, dan Nunung Nur di Walking Drums Cafe, Jakarta Selatan. Segala gerak Lindwell pun diabadikan melalui fotografer Wisnu Agung Prasetyo dan videografer Melissa Octavianti.

Sambil acap kali membenahi kerudung, Lindswell menceritakan potongan kehidupan masa kecilnya, keputusan pensiun, hingga kekecewaan orang tuanya.

Malas latihan

Lindswell saat pengambilan foto dengan Beritagar.id di Walking Drums Cafe, Jakarta Selatan, Rabu (20/2/2019).
Lindswell saat pengambilan foto dengan Beritagar.id di Walking Drums Cafe, Jakarta Selatan, Rabu (20/2/2019). |

Lindswell bukan anak menonjol. Saban hari hanya bermain dan bersekolah. Seperti banyak bocah pula, dia pemalu.

Pembawaan tersebut kini masih melekat padanya. Volume suaranya yang kecil merupakan isi paket itu. Karena cenderung menarik diri, teman-temannya pun tak banyak.

Memang ini agak menyimpang dari stereotip sebagai orang Sumatra Utara. Tapi begitulah dia. Ke-sumatra-annya cuma muncul kalau "ketemu sesama orang dari sana, ujarnya.

Keluarga besarnya peranakan Tionghoa. Perempuan yang lahir di Binjai pada 24 September 1991 itu generasi ketiga. Yang pertama kali merantau ke Indonesia adalah kakek dan neneknya.

"Kakek dari mamah ke Indonesia dibawa pengasuhnya karena kehidupan di Tiongkok sangat susah saat itu," kata Lindswell. Sedangkan cerita orang tua dari ayahnya, Tjoa Eng Hing, tak begitu ia ketahui. "Papah pendiam, enggak pernah cerita-cerita."

Kondisi dimaksud tak serta-merta berubah ketika sudah ke Indonesia, setidaknya untuk keluarga Eng Hing. Saat Lindswell masih berusia sekitar tujuh tahun, keluarga intinya hijrah ke Medan untuk memperbaiki peruntungan.

Awal kehidupan di Kota Medan dilalui dengan tak mudah. Untuk tinggal, mereka dipinjami rumah oleh kenalan sang ibu.

"Kadang untuk makan kami harus berutang," ujarnya.

Di tengah problem tersebut, sang kakak ketiga, Iwan Kwok--yang nama belakangnya diadaptasi oleh Lindswell--mengenalkan wushu kepada sang adik. Prosesnya tak mudah. Butuh waktu lebih dari dua tahun bagi Iwan untuk 'menjerumuskan' Lindswell.

Kesan pertama Lindswell saat berlatih di Yayasan Kusuma Wushu Indonesia adalah bingung. Usianya waktu itu 9 tahun.

"Banyak banget orangnya. Karena saya pemalu, saya jadi bingung," katanya.

Namun, Lindswell menyimpan keistimewaan. Ia cepat menyerap ilmu yang diberikan. Tiga tahun kemudian, dia masuk tim inti junior yang dipersiapkan untuk mengikuti Kejuaraan Nasional di Jakarta.

Yang sedikit mengejutkan, Lindswell tak mendongkrak skill dengan latihan berlebihan. Padahal, dia diminta menambah intensitas latihan di luar padepokan.

"Latihan sekali, hari berikutnya enggak latihan lagi deh," katanya sambil tertawa. "Dulu, kalau di rumah, aku malas latihan."

Sikap itu berdasar. Menurut Lindswell, dia telah memberikan segalanya saat berlatih di sasana. Ketika di rumah, waktunya diarahkan untuk kegiatan lain seperti mengerjakan PR atau sekadar menonton televisi.

Dalihnya bisa dimaklumi. Sebab, kehidupannya setelah fokus pada wushu cuma habis di tiga tempat: rumah, sekolah, dan sasana. Saban hari, ia mulai berlatih pukul 15 dan berakhir pukul 23.

"Sabtu dan Minggu latihan juga. Jadi, dari Senin sampai Minggu latihan terus," katanya. Sebenarnya, latihan resmi dimulai pukul 19.30. Tapi karena sore sepi, "saya latihan private dengan kakak," ujarnya.

Siklus kehidupan demikian berlangsung bertahun-tahun. Bahkan, kala usianya menjelang 14, porsi latihannya kian bertambah. Musababnya, ia sudah masuk asrama.

"Aku tidak hanya kehilangan masa kecil saja. Tapi juga masa remaja," ujarnya.

Toh semua kehilangan tersebut tak ia sesali.

"Saat teman-teman masih bingung mau ngapain sekarang, saya justru sudah punya jalan hidup dan membantu orang tua," katanya.

Dijauhi keluarga

Sebagai atlet, Lindswell telah meraih sejumlah prestasi yang diimpikan banyak rekannya. Emas Kejuaraan Dunia, Piala Dunia, Asian Games, dan SEA Games. Jika wushu dipertandingkan di Olimpiade, bukan tak mungkin Lindswell bakal pula menyambarnya.

Namun, dia memilih khusnul khatimah di jalur atlet. Akhir yang baik. Terjadi kala dia mengikuti Asian Games 2018.

Taijiquan menjadi pelengkap dari torehan prestasinya. Di nomor itu dia meraih emas. Penanda akhir kariernya dalam olahraga wushu. Setelah ajang olahraga terbesar Asia itu berakhir, dia memutuskan pensiun.

"Cedera dengkul kanan pada 2009 menjadi salah satu penyebab. Pada 2015, giliran dengkul kiri saya cedera, bahkan lebih parah," katanya.

Usianya 27 waktu menyatakan mundur. Usia yang tak lagi masuk hitungan 'periode emas'. Menurutnya, ini waktu ideal untuk undur diri dari dunia yang membesarkan namanya.

"Yang semakin membuat saya sedih, mamah bilang 'kenapa kamu milih orang lain, bukan mamah'?"

Lindswell

Dan dia bahagia dengan pilihannya. Meski kebahagiaan itu seumur jagung.

Dia "dijauhi" keluarganya. Kondisi ini tak lepas dari keputusan Lindswell untuk beralih dari Budha ke Islam. Juga, menikah dengan Achmad Hulaefi pada awal Desember 2018.

"Yang semakin membuat saya sedih, mamah bilang 'kenapa kamu milih orang lain, tapi bukan mamah'?" kata Lindswell berusaha menirukan kata-kata sang ibu.

Keputusan Lindswell membuat kedua orang tuanya, khususnya sang ibu, mendiamkan sang anak bontot. Bolak-balik Lindswell menghubunginya. Tak satu pun berujung sahutan.

Kondisi tersebut berlangsung dua bulan. Lindswell dapat memahami kemarahan dan kesedihan orang tuanya. Namun, ia memiliki pendirian yang tak mungkin lagi diubah.

Segala yang bermula pada waktu, akan berakhir dalam waktu. Belakangan, kebekuan komunikasi antara anak dan orang tua mulai meleleh. Sang ibu sudah bersedia dihubungi. Pun sang ayah.

Lindswell bilang, membaiknya hubungan tersebut tak terlepas dari jasa seseorang yang menjadi jembatan. Seseorang yang identitasnya tak dia ungkap.

Meski begitu, ia belum berani menemui kedua orang tuanya. Pikirannya dikuasai kecemasan mengenai reaksi yang mungkin muncul dari kampung halamannya.

"Mungkin mereka sudah melihat penampilan saya sekarang dari media, tapi pasti beda kalau melihat langsung," katanya.

Sasana yang masih cita-cita

Keputusan Lindswell pensiun dari wushu diikuti suaminya, Hulaefi, peraih perunggu Asian Games 2018 untuk nomor daoshu dan gunshu putra.

Berbeda dari suami yang kini menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kantor Pemerintah Daerah Jakarta Selatan, Lindswell saat ini memilih di rumah saja.

Dia begitu bukan karena tak berpeluang untuk bekerja sebagai abdi negara. Namun, tawaran menjadi PNS justru ia tolak.

"Saat ini saya sedang mengembangkan bisnis baju abaya (busana khas Arab). Kini tengah masuk tahap produksi," ujarnya.

Sebagai sosok yang tumbuh dengan wushu, Lindswell memiliki cita-cita yang mungkin akan diwujudkannya di masa mendatang. Yakni, mendirikan sasana wushu.

Anggaran besar dan keinginannya untuk rehat dari dunia wushu, menjadi alasan Lindswell.

"Saya ingin mencoba hal-hal lain dulu. Namun, cita-cita saya mendirikan sasana," katanya.

Lindswell saat pengambilan foto dengan Beritagar.id di Walking Drums Cafe, Jakarta Selatan, Rabu (20/2/2019).
Lindswell saat pengambilan foto dengan Beritagar.id di Walking Drums Cafe, Jakarta Selatan, Rabu (20/2/2019). Beritagar.id /Wisnu Agung Prasetyo
BIODATA Diperbarui: 21 Februari 2019

Lindswell

Tempat, tanggal lahir:

Binjai, Sumatra Utara 24 September 1991

Prestasi:

  • Medali Emas World Championships 2009 Toronto (Taijiquan)
  • Medali Emas World Championships 2013 Kuala Lumpur (Taijijian)
  • Medali Emas World Championships 2015 Jakarta (Taijijian dan Taijiquan)
  • Medali Emas World Championships 2017 Kazan (Taijiquan)
  • Medali Emas World Combat Games 2010 Beijing (Taijijian dan Taijiquan)
  • Medali Emas World Combat Games 2013 St. Petersburg (Taijijian dan Taijiquan)
  • Medali Emas World Games 2013 Cali (Taijijian dan Taijiquan)
  • Medali Emas Asian Games 2018 Jakarta-Palembang (Taijiquan)
  • Medali Emas SEA Games 2011 Jakarta-Palembang (Taijijian dan Taijiquan)
  • Medali Emas SEA Games 2013 Naypyidaw (Taijijian dan Taijiquan)
  • Medali Emas SEA Games 2015 Singapura (Taijiquan)
  • Medali Emas SEA Games 2015 Singapura (Taijijian)
  • Medali Emas SEA Games 2017 Kuala Lumpur (Taijijian)
  • Medali Emas Islamic Solidarity Games 2013 Jakarta-Palembang (Taijijian)
  • Medali Emas Islamic Solidarity Games 2013 Jakarta-Palembang (Taijiquan)
  • Medali Emas World Junior Championships 2008 Bali (Taijiquan)
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR