Musikus Ebiet G Ade berpose untuk Beritagar.id di rumahnya, Jalan Mawar, Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan pada Rabu (07/11/2018).
Musikus Ebiet G Ade berpose untuk Beritagar.id di rumahnya, Jalan Mawar, Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan pada Rabu (07/11/2018). Beritagar.id / Bismo Agung
FIGUR

Jin biola dan sisi lain Ebiet G Ade

Dalam kesehariannya, ia tak mendengarkan musik, tak bergaul dengan pemusik, apalagi bermain musik.

Kata-kata menjadi tumpuannya. Puisi menjadi pengikatnya. Ia memilih gitar sebagai teman setia merangkai melodi. Hanya itu modalnya dalam berkesenian selama empat dekade.

"Sebenarnya saya mau menulis puisi, bukan niat membuat lagu," kata musikus Ebiet G Ade pada Rabu (07/11/2018).

Ia jujur mengatakan itu karena memang tak pernah belajar musik. Ebiet hanya ingat saat kecil ayahnya secara otodidak bermain biola.

Alat musik tersebut kemudian diberikan padanya. Padahal Ebiet pun tak bisa memainkannya. "Mungkin jin dalam biola itu masuk ke saya," ujarnya terbahak.

Kami bertemu dengan Ebiet di rumahnya yang asri di Jalan Mawar, Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Bangunannya berdiri di lahan yang tinggi dan punya pemandangan langsung ke arah Taman Tabebuya. Dari sana akan terlihat kolam teratai dikelilingi rumput hijau dan pepohonan yang rindang.

Ia menerima kami di ruang tamunya yang luas dan menghadap ke taman tersebut. Beberapa kali ia berguyon soal masa-masa sebelum sukses kepada Fajar WH, Sorta Tobing, Bismo Agung, dan Mellyana Desi Shara.

Hal ini tak kami duga. Ebiet di panggung ternyata jauh berbeda dengan kesehariannya. Di balik ketenangannya saat mengeluarkan suara bariton dan bermain gitar, ternyata ia kocak dan murah senyum.

Kisah hidupnya yang lucu ia paparkan dalam tulisan berikut ini.

Musikus Ebiet G Ade berpose untuk Beritagar.id di rumahnya, Jalan Mawar, Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan pada Rabu (07/11/2018).
Musikus Ebiet G Ade berpose untuk Beritagar.id di rumahnya, Jalan Mawar, Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan pada Rabu (07/11/2018). | Bismo Agung /Beritagar.id

Mual dengar lagu sendiri

Perjalanan ini/trasa sangat menyedihkan/Sayang engkau tak duduk/di sampingku kawan.

Liriknya melekat di telinga para pemirsa televisi. Lagu berjudul Berita Kepada Kawan itu ibarat lagu wajib ketika malapetaka terjadi. Banyak stasiun televisi memakainya untuk mengisi gambar kerusakan bencana bersama dengan wajah korban yang sedang menderita.

Ebiet menciptakan lagu tersebut ketika bencana gas beracun di Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, pada 1978. Liriknya memang pas menggambarkan kesedihan seseorang yang terkena petaka. Sulit mencari lagu lain untuk menggantikannya.

Ia menyadari hal tersebut. Tapi ketika kami tanya lagu apa yang paling bosan ia nyanyikan, dengan cepat ia menjawab, Berita Kepada Kawan. "Sering sekali saya diminta menyanyikannya," ujarnya tertawa.

Lalu, coba simak sepenggal lirik Untuk Kita Renungkan:

Kita mesti telanjang dan benar-benar bersih/suci lahir dan di dalam batin/Tengoklah ke dalam sebelum bicara/singkirkan debu yang masih melekat/hoo singkirkan debu yang masih melekat

Kalau didengar sepintas, melodi dua lagu di atas hampir mirip. Ebiet selalu memainkan lagu dengan komposisi chord tak rumit, tempo lambat, bergenre pop. Kekuatan karya Ebiet sepertinya bukan pada komposisi musik, tapi liriknya.

Tak ada bahasa yang rumit. Ia bersikap apa adanya dalam menuangkan ide atau kejadian yang menarik untuk menjadi sebuah lagu. Hal ini justru resepnya menuju kesuksesan. Banyak penggemarnya merasa tersentuh dengan lagu-lagu Ebiet.

Ia nyaris tak memiliki referensi musik. Saat awal berkarier, Ebiet sempat mendengar lagu-lagu folk karya Bob Dylan, John Denver, dan Jose Feliciano. Tapi semakin lama berkarya, ia tak lagi punya minat mendengarkan musik.

"Saya juga tidak pernah bergaul dengan musisi," ujar ayah empat anak itu. "Mungkin ini kekurangan tapi juga kelebihan saya. Saya jadi tidak terinfiltrasi oleh banyak jenis musik."

Di dalam mobil ia bisa stres kalau mendengar suara lagu. Di saat orang lain mengagumi karyanya, ia bisa merasa mual mendengar musiknya sendiri. "Pas lagi makan di restoran, lalu dipasang lagu saya, langsung enggak enak makanannya," kata Ebiet.

Jangan harap juga melihat dia bermain musik di rumah. Ebiet tak biasa melakukannya. Sebuah grand piano di rumah pun jarang dimainkan karena Ebiet tak tahan mendengar suaranya.

Tak ada latihan juga sebelum pertunjukkan. "Ngapain main gitar kalau tidak dibayar," ujarnya, lagi-lagi, sambil tertawa.

Meskipun tak pernah berlatih, tapi Ebiet hafal seluruh lagu yang ia ciptakan. Jumlahnya sekarang mencapai ratusan.

Sejak awal, Ebiet memang sudah menentukan sikapnya dalam berkesenian. Ia ogah disetir produsen, pengarah musik, dan lainnya. Ia menulis sendiri lirik lagunya. Melodinya keluar dari mulutnya. Musik Ebiet adalah dirinya sendiri.

Gara-gara ini, saat mengawali karier, posisi Ebiet sempat menjadi perdebatan di industri musik. Apakah ia penyair yang bermusik atau musikus yang berpuisi?

Dulu ia sempat kesal dengan pertanyaan tersebut. Tapi sekarang ia sudah santai menanggapinya. "Silakan disebut penyanyi jadi-jadian, oke. Penyair setengah matang juga boleh. Yang penting inilah saya," kata pria berusia 64 tahun tersebut.

Perjalanan hidup dan musikalitas Ebiet G Ade /Beritagar ID

Sepeda dicuri

Sikap idealis Ebiet membuatnya berjarak dengan popularitas. "Saya sering terlewat dalam sejarah musik Indonesia," ujarnya.

Albumnya meledak di pasaran pada era 1980-1990an. Tak seperti penyanyi top lain, ia minim sensasi apalagi gosip miring. "Setelah album Camellia I sampai IV, kalau mau, bisa saya terusin sampai tujuh atau delapan," kata Komisioner Lembaga Manajemen Kolektif Nasional itu.

Kesuksesan empat seri awal mendatangkan kelimpahan luar biasa untuk Ebiet. Dari penjualan album itulah Ebiet bisa membeli tanah luas di Jagakarsa yang sampai sekarang menjadi tempat tinggalnya.

Tapi kesuksesan itu juga yang membuat dirinya takut. Ia lalu memutuskan ingin kehidupan yang biasa-biasa saja. Cukup, sejahtera, jangan berlebihan. "Cara ini membuat saya jadi manusia seutuhnya. Saya tidak kehilangan kendali terhadap emosi saya," katanya.

Sampai sekarang ia masih menjaga irama hidupnya tersebut. Di sisi lain, ia mengakui mengelola popularitas tidak mudah. "Harus dikelola supaya tidak menjadi bumerang bagi diri sendiri," ujar Ebiet.

Kemampuan Ebiet dalam menjalani hidup secukupnya tak lepas dari pengalaman masa kecilnya. Bungsu dari enam bersaudara ini menjalani kehidupan pas-pasan ketika merantau dari kota kelahirannya, Banjarnegara, Banyumas, Jawa Tengah, ke Yogyakarta.

Saat itu usianya baru mulai masuk sekolah menengah pertama. Orang tuanya, Aboe Dja'far dan Saodah, menginginkan Ebiet menjadi guru agama. Ebiet sebenarnya tak mau tapi tak bisa menolak.

Tes masuk ke sekolah itu ia isi asal-asalan. Tapi orang tuanya tak kalah ide. Ada seorang paman Ebiet yang bekerja di Kantor Urusan Agama dan punya koneksi ke sana. Ebiet diterima.

Ia tak habis akal juga untuk keluar dari sekolah tersebut. Ikatan dinas tidak pernah ia ambil. Melihat ada teman sekolah yang naik sepeda di selasar, lalu dikeluarkan, Ebiet pun mencobanya. "Tapi saya tidak dikeluarkan," katanya.

Hanya satu tahun ia bersekolah di sana. Ebiet akhirnya benar-benar dikeluarkan setelah para guru melihat ketidaksesuaiannya di sekolah tersebut. Ia kemudian masuk sekolah umum.

Uang orang tua yang ia terima setiap bulan hanya Rp5 ribu. Kawan-kawan yang sesama perantauan bisa mendapat hingga tujuh kali lipat dari itu.

Untungnya, ia memiliki kakak tertua di sana. Kerap kali Ebiet berhasil mengisi perut dengan bekal belas kasih kakaknya itu.

Ia sempat memiliki sepeda, warisan dari ayahnya. Tapi alat gowes itu hilang di depan rumah temannya. Yang membuat Ebiet sedih bukan kehilangan sepeda tersebut. "Ilang-nya enggak seberapa, tapi tuduhan keluarga kalau sepeda dijual itu sakit," katanya setengah berguyon.

Saat lulus SMA, Ebiet lolos tes masuk Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada. Tapi orang tuanya hanya punya uang untuk satu anak saja yang kuliah. Ebiet legowo memberikan kesempatan itu untuk kakak yang berada persis di atasnya.

"Soalnya saya tidak pintar di sekolah," ujarnya tersenyum.

Berkesenian kemudian menjadi pilihannya. Ia bergaul dengan banyak seniman di Kota Gudeg tersebut. Emha Ainun Nadjib, Eko Tunas, dan EH Kartanegara adalah kawan karibnya. Keempatnya saat ini telah sukses di bidangnya masing-masing.

Dari kamar indekos Emha, Ebiet menemukan buku-buku puisi. Karya Emily Dickinson berjudul Nobody yang pertama ia lagukan. Kemudian Emha meminta Ebiet membuat melodi untuk puisi karyanya berjudul Kubakar Cintaku. Hasilnya memuaskan.

Dengan modal bermain gitar, Ebiet kemudian membuat lagu sendiri. Sampai sekarang ia masih dengan pakem menulis lirik dulu, baru musiknya.

Teman-temannya merekam lagu-lagu tersebut lalu mengirimnya ke perusahaan rekaman di Jakarta. Jackson Records kepincut dengan suara Ebiet. Mereka memintanya datang ke studio.

Butuh dua hari untuk membujuk Ebiet bernyanyi di depan produser Jackson Record. "Saya enggak ngerti disuruh datang, terus nyanyi. Seperti melecehkan, mereka enggak yakin saya yang nyanyi," ujarnya.

Sikap Ebiet yang ngeselin ini ternyata membuat produser rekaman semakin penasaran. Ia membujuk terus, sambil menyodorkannya sebuah gitar. Ebiet pura-pura protes dengan kualitas gitar tersebut. Padahal, sebenarnya ia tak mau mengeluarkan suaranya.

Akhirnya Ebiet mau bernyanyi walau hanya sepotong. Semua orang di dalam studio bertepuk tangan. Ebiet bingung dan bertanya kenapa. Ternyata mereka hanya ingin memastikan kalau suara di dalam kaset benar-benar milik Ebiet.

Saat itu juga, Ebiet mendapat tawaran untuk rekaman. Nalurinya langsung mengatakan harus melindungi diri. Ia minta pulang, balik ke rumah temannya untuk menginap sambil berpikir.

Di rumah itu banyak buku soal hukum. Kebetulan ayah temannya adalah rektor IKIP Jakarta saat itu. Ia belajar, membuka banyak buku, hingga menemukan kata royalti.

Esoknya, ia bersedia rekaman dengan catatan dibayar dengan sistem pembayaran royalti. "Kata inilah yang menyelamatkan saya dari kekejaman industri. Kalau tidak mengenal royalti, mungkin sekarang saya sudah kehilangan semuanya," kata Ebiet.

Musikus Ebiet G Ade berpose untuk Beritagar.id di rumahnya kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan, pada Rabu (07/11/2018).
Musikus Ebiet G Ade berpose untuk Beritagar.id di rumahnya kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan, pada Rabu (07/11/2018). Bismo Agung /Beritagar.id
BIODATA Diperbarui: 15 November 2018

Ebiet G Ade

Nama asli:
Abid Ghoffar bin Aboe Dja'far

Tempat, tanggal lahir:
Wanadadi, Banjarnegara, Banyumas, Jawa Tengah, 21 April 1954

Nama istri:
Yayu Sugianto (Koespudji Rahayu Sugianto)

Nama anak:

  • Abietyasakti Ksatria Kinasih
  • Aderaprabu Lantip Trengginas
  • Byatriasa Pakarti Linuwih
  • Segara Banyu Bening

Album solo:

  • Camellia I (1979)
  • Camellia II (1979)
  • Camellia III (1980)
  • Camellia IV (1980)
  • Langkah Berikutnya (1982)
  • Tokoh-Tokoh (1982)
  • 1984 (1984)
  • Zaman (1985)
  • Isyu! (1986)
  • Menjaring Matahari (1987)
  • Sketa Rembulan Emas (1988)
  • Seraut Wajah (1990)
  • Kupu-Kupu Kertas (1995)
  • Cinta Sebening Embun (1995)
  • Aku Ingin Pulang (1996)
  • Gamelan (1998)
  • Balada Cinta (2000)
  • Bahasa Langit (2001)
  • In Love: 25thn Anniversary (2007)
  • Masih Ada Waktu (2008)
  • Tembang Country 2 (2009)
  • Serenade (2013)

Album kompilasi:

  • 20 Lagu Terpopuler Ebiet G. Ade (1988)
  • Perjalanan (1988)
  • Perjalanan Vol. II (1988)
  • Kumpulan Lagu-Lagu Religius (1996)
  • Kumpulan Lagu-Lagu Religius Vol. II (1996)
  • 21 Tembang Puisi Dan Kehidupan (1996) 20 Lagu Terpopuler (1997)
  • Lagu-Lagu Terbaik (1997)
  • Renungan Reformasi (1997)
  • 12 Lagu Terbaik Ebiet G. Ade (1997)
  • 12 Lagu Terbaik Ebiet G. Ade Volume II (1997)
  • Best of The Best (1999)
  • Akustik (2001)
  • Balada Country (2002)
  • M. Nasir vs Ebiet G. Ade - Penyair Nusantara (2002)
  • Nyanyian Cinta (2003)
  • Tembang Renungan Hati (2003)
  • Tembang Slow (2004)
  • Kumpulan Lagu-Lagu Terbaik (2004)
  • 22 Lagu Hits Sepanjang Masa (2005)
  • Yogyakarta (2006)
  • Tembang Cantik (2006)

Penghargaan:

  • 18 Golden dan Platinum Record dari Jackson Record dan label lainnya dari album Camellia I hingga Isyu!
  • Pencipta Lagu Kesayangan Angket Musica Indonesia (1980-1985)
  • 10 Lagu Terbaik Asosiasi Industri Rekaman Indonesia (1980-1981)
  • BASF Awards (1984 - 1988)
  • Penyanyi solo dan balada terbaik Anugerah Musik Indonesia (1997)
  • Lagu Terbaik AMI Sharp Award (2000)
  • Planet Muzik Awards dari Singapura (2002)
  • Penghargaan Lingkungan Hidup (2005)
  • Duta Lingkungan Hidup (2006)
  • Penghargaan Peduli Award Forum Indonesia Muda (2006)
  • Satyalencana Kebudayaan (2018)
BACA JUGA