Joko Anwar saat berpose di sebuah rumah di Jalan Cililin II, Jakarta Selatan, Selasa (23/4/2019)
Joko Anwar saat berpose di sebuah rumah di Jalan Cililin II, Jakarta Selatan, Selasa (23/4/2019) Wisnu Agung Prasetyo / Beritagar.id
FIGUR

Joko Anwar, jago bikin film, lihai buru belut

Joko Anwar tak pernah belajar film dari sekolah resmi. Namun, karya-karyanya senantiasa ditunggu. Semua berawal dari kecintaan.

Konon, dalam diri tiap manusia terbelenggu jiwa tukang cerita. Ia betah menanti waktu pembebasan.

Namun, tak semua orang beroleh keistimewaan untuk memerdekakannya.

Tidak dengan Joko Anwar. Pria berusia 43 itu sukses membuka kungkung dimaksud. Justru berkat hidup yang terbawa ke sana kemari. Yang penuh guncangan mental dan finansial. Proses memeretelinya berat dan makan waktu tahunan. Mungkin Dilan pun takkan sanggup.

Sebab, setiap waktu yang berlalu melahirkan kecemasan. Bikin batin bergulung-gulung. Seperti adukan semen di punggung truk molen. Sebelum menjadi tiang atau fondasi tangguh, adonan itu mesti tahan diombang-ambingkan dahulu.

Joko ambil film sebagai medium bercerita karena itu obsesinya. Rata-rata karyanya menonjol. Ada yang diganjar penghargaan, ada yang laku keras. Beberapa di antaranya, Janji Joni, Pintu Terlarang, Modus Anomali, A Copy of My Mind, Pengabdi Setan.

Kelak, dan terbaru adalah Gundala. Adaptasi dari komik karya Harya Suraminata (Hasmi). Di masa lalu, karya itu ikut berkontribusi dalam hal kompas moral pribadinya.

Pun demikian, Joko sempat merasa tak lagi cocok dengan hidup. Pikiran yang terbit pada 1997 saat dia masih mahasiswa tingkat tiga Teknik Penerbangan Institut Teknologi Bandung (ITB).

Tetapi, juru selamat tiba untuk menyiasati momen kritis itu. Hadir dalam wujud album karya pemusik Inggris, Elvis Costello. Judulnya Mighty Like A Rose.

"All Grown Up", sebuah lagu dalam kumpulan tersebut, akurat mewakili sejarah personalnya.

"Hidup gue kayak di satu lagu itu," ujarnya.

Empat tahun lalu, di Singapura, dalam kondisi hidup yang sudah berbeda, dia kesampaian melihat konser Costello. Sebelum bertolak ke lokasi, Joko membagikan statusnya di akun media sosial, Path. "Malam ini," tulisnya, "akhirnya gue memutuskan ketemu 'ayah' gue".

Duduk di barisan kedua dekat bibir panggung, Joko merasa emosional. Terutama saat pahlawannya itu berada di platform dan menyemburkan bait pembuka.

Dia masih mengingat kata-kata yang ditembakkan Costello sembari seolah-olah mengarahkan telunjuknya pada Joko: "Tonight, we're gonna back in time, going to any places and meet a lot of people. Just you and me".

Demen film kungfu sembari berharap jadi bintang film

Hidup macam apa yang tersuarakan dalam lagu itu, Joko Anwar tak menjabarkannya. Namun, seporsi nan penting teralami waktu dia masih berdiam di kawasan Medan Amplas di Medan, Sumatra Utara. Masa-masa kanak hingga menuju akil balig. Periode ketika dia belum dipanggil Joko Anwar.

"Masa kecil gue agak extraordinary. Pada waktu itu, teman-teman gue merasa sebagai anak sukses kalau pernah melakukan kriminalitas," katanya kepada Beritagar.id pada sore 23 April 2019 di sebuah kantor di Cililin II, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Lokasi tinggalnya di belakang terminal. Kawasan Jalan Garu II. Tak sampai lima kilometer dari landmark Medan, Istana Maimun. Joko bilang, dengan kata-kata ala birokrat, lingkungan rumahnya "tidak kondusif buat seorang anak tumbuh dan berkembang".

Di sana-sini terjadi pemalakan. Narkoba beredar luas. Bahkan, dia pernah dicekoki ganja waktu masih kelas III SD.

Joko Anwar ketika berpose untuk Beritagar.id di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (23/4/2019).
Joko Anwar ketika berpose untuk Beritagar.id di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (23/4/2019). | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Keluarganya miskin. Ayahnya asal Solo. Merantau ke Medan pada 1968, dan lalu belasan tahun mengayuh becak. Ibunya asli Medan. Kadang harus bekerja di luar kota beberapa hari demi ikut menopang perekonomian keluarga. Keterbatasan uang bikin mereka sulit beli makanan. Apalagi menebus barang. Pinjam beras dari tetangga sudah jadi lumrah.

Karena sering ditinggal pergi--dua kakaknya juga bekerja--Joko harus mengusahakan makanan sendiri. Dia sering mencuri buah coklat yang berdaging sedap. Dia juga kerap menangkap belut di sawah. Untuk urusan disebut belakangan, dia mengaku ahli.

Tetapi, biar susah masa kecilnya menyenangkan. Satu sumber keceriaannya berada di rumah seorang tetangga yang dia panggil Tante Tina, orang kaya setempat. Pemilik pertama pemutar kaset VHS di lingkungan tersebut. Tante Tina punya warung di halaman rumah. Selalu ramai pembeli.

Bagi si tante, Joko termasuk anak tetangga favorit. Karenanya, kalau dia sedang putar video, Joko bakal diundang masuk. Duduk di depan TV. Anak-anak lain cuma bisa menonton dari balik kaca nako.

Film-film yang diputar biasanya tentang kungfu. Shaolin Vs. Ninja. Shaolin Vs. Lama. The 36th Chamber of Shaolin, untuk menyebut sejumlah di antaranya.

Sialnya, satu insiden bikin Joko kehilangan lapak menonton. Kejadiannya saat dia diminta mamaknya beli minyak lampu di warung Tante Tina. Joko terpantik komentar seorang pembeli mengenai kondisi warung tetangganya itu. "Syukur kali, Kak, laku kali kedai kakak," katanya merekonstruksi ocehan.

Mendengar itu, Joko spontan bereaksi. Tante Tina "pakai dukun," teriaknya. Keruan si tante keki. Meski mafhum kalau Joko kemungkinan bukan mengarang sendiri, tapi menguping dari ibunya.

Untungnya, tempat nonton Joko bukan cuma di rumah Tante Tina. Dia biasa pula pergi ke sinema. Jika tidak dengan membayar tiket, pasti lewat curi-curi. Ada dua gedung pertunjukan film di Medan yang rajin dia sambangi: Remaja dan Ria. Keduanya rata-rata memutar film Kelas B. Karcis masuknya sekitar Rp100-150.

"Remaja enggak ada AC. Jadi, pakai kipas angin. Di bawahnya ada ventilasi. Ada satu celah di ventilasi yang bisa dipakai mengintip. Kalau pagi, kungfu Indonesia kayak Jaka Sembung. Kalau malam, film semi bokep. Kalau ngumpulin duit, gue nonton di situ juga. Pengabdi Setan gue nonton di situ," ujarnya.

Kedemenan nonton itu membuatnya berandai-andai menjadi bintang film. Tapi abangnya mencibir dengan berujar bahwa dia "enggak ganteng" untuk bisa jadi aktor. Joko lalu mengadukan perkataan sang abang ke mamaknya. Ibunya malah mendengus--sambil memasak terong--bahwa Joko "tak jelek-jelek amat".

Selain getol menonton film, Joko pun rajin mengaji. Namun, sialnya, dia tak mengenal pesiar. Makanya waktu muncul kesempatan berekreasi, dia girang. Waktunya tak lama setelah ayahnya beli Vespa.

Suatu hari, ibunya mencetuskan ide untuk jalan-jalan. Dia menyeletuk kepada suaminya untuk membawa Joko ke luar kota. "Kasihan itu," kata Joko menirukan ibunya, "juara satu terus, enggak pernah jalan-jalan. Round-round kita. Brastagi kita".

Pada saatnya, ibunya menyiapkan bekal rantang berisi nasi, telur, ikan, dan rendang. Pula tikar. Dengan hati ringan, mereka bertiga lalu berangkat ke Brastagi, sebuah dataran tinggi yang lokasinya tak mereka ketahui secara pasti.

Di titik tertentu, mereka tiba di wilayah lahan kelapa sawit. Tadinya mau menepi untuk bersantap. Namun, keinginan itu diurungkan karena keadaan kotor di sekeliling.

Tak lama berselang, mereka dapat lokasi bagus. "Ada kolam renangnya," kata Joko, "ada bangunannya juga. Lalu mamakku gelar tikar di situ. Buka rantang, makan nasi".

Orang tua Joko tak sadar seseorang dari jendela bangunan di dekatnya sedari tadi mengamati keluarga kelaparan itu. Sebentar kemudian, ada yang keluar dari bangunan tersebut dan lantas berkata, "Kak, jangan di sini. Ini rumah orang".

Keluarga yang sedang asyik-asyiknya piknik itu akhirnya mesti beringsut. Mereka pun melanjutkan makan di perkebunan sawit.

Cinema Paradiso

Bioskop-bioskop di Medan, yang menjadi tempat Joko Anwar menabalkan dan menebalkan cita-cita untuk menaklukkan industri film, kini sudah tutup. Salah satunya berubah fungsi menjadi bank.

Segala ketidaksempurnaan yang melekat pada ruang untuk mengalami gambar hidup itu berpindah pada dirinya, mengalir dalam darah, menjadi passion.

Joko Anwar waktu berpose untuk Beritagar.id di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (23/4/2019).
Joko Anwar waktu berpose untuk Beritagar.id di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (23/4/2019). | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Seperti kisah Alfredo dan Salvatore dalam film Italia, Cinema Paradiso (1988), karya Giuseppe Tornatore. Film itu bercerita tentang orang-orang dari keluarga miskin yang menemukan kegembiraan hidup dari film. Ujungnya, Salvatore sukses di dunia film, tapi kehilangan Alfredo dan bioskop yang menyalakan gairahnya.

"(Bioskop di Medan) bisa dianggap sebagai 'Cinema Paradiso' gue. Gue sering masuk ruang projectionist-nya. Nama (operator proyektor) Pak Ucok. Hubungan gue dengan dia baik. Sering disuruh-suruh," ujarnya tentang sosok yang dia sertakan di Janji Joni itu. Ucok mengajak Joko masuk ke ruang proyektor karena tahu bocah itu sering mengintip.

Menjiplak nasib Salvatore, Joko pun di belakang hari berhasil merengkuh muruahnya di industri film. Berkebalikan dari pengalamannya di masa silam ketika tekad menjadi filmmaker berbentur biaya.

Mulanya dia mau kuliah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ)--satu-satunya kampus yang dia bidik. Karena mahal, keinginan itu dia buang.

Namun, dia mendengar ITB punya Liga Film Mahasiswa (LFM), unit kegiatan mahasiswa yang telah aktif sejak dasawarsa 1960-an. Dia berpikir kalau bisa berkuliah di sana, dia juga bisa belajar film di LFM.

Namun, setelah tembus kampus yang pernah meluluskan Soekarno itu, Joko mesti meredupkan hasrat ke LFM. Pasalnya, unit mahasiswa itu mewajibkannya ikut ospek internal. Menurutnya, keharusan itu tak relevan.

Empat kisah masa kecil Joko Anwar /Beritagar ID

Dia lalu pilih ke Studi Teater Mahasiswa (STEMA) ITB dan himpunan jurusan. Di luar itu, dia suka bermusik. Kelompoknya bernama Jokobians. Memainkan rock alternatif macam Pearl Jam, Radiohead, Live, Smashing Pumpkins, Creed, Collective Soul. Biasa tampil di O'Hara, Pacific Place.

Tempo-tempo, dia berjualan kaset-kaset atau kaus-kaus bekas. Kadang menulis artikel atau skenario film (Janji Joni ditulis pada periode ini). Artikel pertamanya yang dimuat media nasional menyinggung ihwal jenderal-jenderal dan politisi. Tayang di majalah Matra. Dia juga bikin film pendek dan dokumenter.

"Waktu di kampus, lebih sering enggak punya duit. Kalau pagi teman-teman gue makan gule--makanan paling mahal saat itu--gue suka minta kuahnya. Kalau mereka makan ikan lele, kepalanya dikasih ke gue," katanya.

Setelah lulus, Joko Anwar melamar ke sejumlah rumah produksi, tapi ditolak.

Peruntungannya berubah ketika dia bekerja sebagai wartawan di koran berbahasa Inggris yang berbasis di Jakarta, The Jakarta Post, dan mewancarai Nia Dinata. Dalam kesempatan langka itu, dia menyodorkan naskah yang kemudian berwujud film Arisan!

Medium bercerita

Sebenarnya cita-cita Joko Anwar dua: kalau tidak membuat film, menjadi pemain bulu tangkis. Masalahnya, kalau baru memulai badminton hari-hari ini, dia tahu bakal seperti menepuk angin. Tak mungkin.

Untuk cita-cita pertama, dia merasa jalannya tergambar lebih gamblang. Masalah demi masalah yang menderanya sejak kecil malah seperti mewarnai hidupnya.

"Perasaan-perasaan yang timbul ketika gue mengalami itu semua gue simpan di dalam bank emosi gue. Bagaimana kekecewaan yang timbul dari sesuatu hal. Gue ambil dan gue masukkan ke dalam karakter yang membutuhkannya," ujarnya.

Kepekaannya terasah, dan membantunya menciptakan kisah. Dia ingin penonton mendapat perasaan yang sama seperti pernah dia dapat waktu menonton film sebagai bocah.

"Gue percaya karya-karya kita adalah refleksi kita. Dan kegelisahan gue bukan kegelisahan personal, tapi kegelisahan (akan) hubungan. Kegelisahan yang gue rasakan sebagai manusia dalam sebuah lingkungan," kata penggila film Punch-Drunk Love karya Paul T. Anderson itu.

Kehendak untuk membagikan kisah kepada penonton itu membuatnya tak berhasrat meninggalkan "trade mark" pada film-filmnya. Gaya tertentu hanya muncul demi membuat cerita dalam film lebih mudah diakses penonton.

Misal pada A Copy of My Mind. Pilihan lensa, dan cara mengambil gambar ditujukan untuk memosisikan penonton betul-betul dalam adegannya.

Dalam kaitan itu, dia jadi harus punya kendali atas semua filmnya demi memastikan para penonton percaya dengan dunia bikinannya, dan mau memasuki dunia tersebut.

"Gue percaya bahwa sebagai seorang filmmaker, memberikan effort untuk hal-hal lain selain bercerita akan menjadi pretensius. Jadi, gue bikin film, semua effort gue curahkan untuk bercerita. Storytelling. Membuat cerita lebih gampang diserap penonton," ujarnya.

Beritagar.id /Wisnu Agung Prasetyo
BIODATA Diperbarui: 03 Mei 2019

Joko Anwar

Lahir:
Medan, 3 Januari 1976

Karya:
Arisan! (2003) (penulis)
Janji Joni (2005) (penulis/sutradara)
Jakarta Undercover (2007) (penulis)
Kala (2007) (penulis/sutradara)
Quickie Express (2007) (penulis)
Fiksi (2008) (penulis)
Pintu Terlarang (2009) (penulis/sutradara)
Modus Anomali (2012) (penulis/sutradara)
A Copy of My Mind (2015) (penulis/sutradara)
Pengabdi Setan (2017) (penulis/sutradara)
Gundala (2019) (penulis/sutradara)

Penghargaan:
Piala Maya untuk Penyutradaraan Terpilih 2017 (Pengabdi Setan)
Piala Citra untuk Sutradara Terbaik 2015 (A Copy of My Mind)
Piala Citra untuk Penulis Skenario Terbaik 2008 (Fiksi)

Pendidikan:
SMA Negeri 1 Medan (1993)
Wheeling Park High School, West Virginia, AS (1994)
Institut Teknologi Bandung, Teknik Penerbangan (1999)

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR