Romo Karl Edmund Prier, SJ, saat ditemui Beritagar.id di kantor Pusat Musik Liturgi, Kotabaru, Yogyakarta pada Sabtu (03/03/2018).
Romo Karl Edmund Prier, SJ, saat ditemui Beritagar.id di kantor Pusat Musik Liturgi, Kotabaru, Yogyakarta pada Sabtu (03/03/2018). Reza Fitriyanto / Beritagar.id
FIGUR

Karl Edmund Prier, gembala dan serangan serigala

Hampir 50 tahun ia berkiprah dalam inkuluturasi musik liturgi. Peristiwa Februari lalu membuktikan kesetiaan sekaligus keberaniannya dalam menjalankan misi gereja Katolik.

Senyumnya terkembang sejak kami bertemu. Bicaranya pun santun. Karl Edmund Prier, imam Katolik berusia 80 tahun itu adalah orang yang ramah.

Romo Prier, begitu jemaat menyapanya, menjadi korban aksi teror di Gereja Santa Lidwina Bedog, Sleman, Ahad 11 Februari 2018 pagi. Ia sedang memimpin misa saat pelaku teror Suliyono (23 tahun) membabi buta menyabetkan pedang. "Kena (sabetan pedang) tapi tidak mati," katanya enteng.

Kami bertemu di Pusat Musik Liturgi (PML) di Kotabaru, Yogyakarta, Sabtu 3 Maret 2018. Di sinilah Prier berkantor sejak tahun 1971. Selain membawahi misi pengembangan liturgi, ia rutin memimpin misa. Ada tiga gereja tempatnya rutin memimpin misa; ASMI Santa Maria, Kumetiran, dan St.Lidwina Bedog.

Hari itu ia menyambut di lobi. Berkemeja merah lengan pendek dan bercelana panjang warna biru. Ia tampak bugar. Topi pet hitam menutup kepalanya, menyembunyikan luka akibat sabetan pedang Suliyono.

Ia bercerita mulai pulih. Pusing dan mual yang dideritanya sudah tak terasa lagi. Tapi sesekali tubuhnya terasa lemas.

Ternyata ketika menjalani perawatan di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta pasca aksi teror, dokter memberitahukan kadar hemoglobin romo Prier rendah. Maka sejak keluar dari rumah sakit, empat hari setelah aksi teror, ia wajib periksa kesehatan sepekan sekali.

"Cek darah," katanya memperlihatkan bekas tusukan jarum di lengan kanannya yang tertutup kapas.

Obat-obatan dokter sudah dicoba tapi tak cukup ampuh mengembalikan kadar hemoglobin. Beruntung, seorang karib datang menawarkan ramuan buah merah asal Papua.

Buah yang dikenal dengan nama kansu (Pandanus conoideus) di Wamena itu terbukti mujarab. Pada cek kesehatan terakhir terlihat kadar hemoglobin dalam darahnya mencapai angka 11,4. Tubuhnya fit kembali, lemah dan lesunya berkurang.

"Kalau untuk video mungkin di atas lebih pas," katanya ketika videografer Beritagar.id, Reza Fitriyanto mengutarakan niatnya mengambil merekam gambar wawancara.

Kami berjalan menapaki tangga di ujung lorong untuk naik ke lantai tiga. Romo Prier ringan melangkah. Tak terlihat lelah di wajahnya. Naik turun tangga ke lantai itu sudah biasa, katanya.

Ada ruangan berisi alat musik tradisional dari penjuru nusantara di sana. Suasananya lebih tenang. Tapi sesekali wawancara terpaksa berhenti. Pesawat yang hendak mendarat di bandara Adisutjipto melintas di atas gedung. Suara mesinnya menderu keras membuyarkan konsentrasi.

Awalnya, Romo Prier ingin melakukan tugas misionaris ke Kutub Utara. Namun niat itu gagal setelah menerima penugasan ke Indonesia. Di Yogyakarta ia menemukan renjananya, mengembangkan inkulturasi musik liturgi gereja Katolik.
Awalnya, Romo Prier ingin melakukan tugas misionaris ke Kutub Utara. Namun niat itu gagal setelah menerima penugasan ke Indonesia. Di Yogyakarta ia menemukan renjananya, mengembangkan inkulturasi musik liturgi gereja Katolik. | Reza Fitriyanto /Beritagar.id

Pakar inkulturasi musik liturgi

Karl Edmund Prier lahir di Weinheim, Jerman Barat pada 18 September 1937. Belajar piano pada usia 9 tahun, bakat musik mengalir pada darahnya.

Pada 1953, ketika usianya 16 tahun dan bersekolah di Gymnasium Albertus Magnus Schule Viernheim, Prier remaja juga nyambi les privat organ dan teori musik.

Enam tahun kemudian ia belajar filsafat di Munchen. Setelah tamat pada 1962, ia mengajar musik di Kolese Stella Matutina Feldkirch, Austria.

Ia terpanggil menjadi biarawan sejak remaja. Sebuah buku yang mengisahkan perjalanan seorang misionaris di pedalaman Eskimo mengantarnya melakukan novisiat (masa pendidikan awal bagi seorang rohaniawan Katolik) di ordo Serikat Jesuit.

Bagi sebagian orang, kondisi sulit dan serba terbatas di ujung utara dunia itu mungkin pantangan. Tapi bagi Prier muda, itu adalah kesempatan meraih pengalaman berbeda.

"Nanti kalau jadi Jesuit saya ingin ditugaskan di luar Jerman," katanya mengenang cita-cita semasa remaja.

Gayung bersambut. Tawaran mengemban tugas misionaris di luar Jerman datang pada 1960 ketika ia masih belajar filsafat. Bukan di Eskimo seperti impiannya, melainkan di Indonesia.

Setelah berkorespondensi dengan misionaris Jerman yang terlebih dulu tiba di Indonesia, ia menginjakkan kaki untuk pertama kali di Indonesia pada 1964.

"Awalnya saya terkejut (dapat penugasan ke Indonesia), tapi karena sudah mendapat informasi, saya mempersiapkan diri," katanya.

Kesan pertama di Indonesia, kesulitannya mungkin sama meski bentuknya berbeda. "Di Eskimo kedinginan, di Indonesia kepanasan," ujar Romo Prier.

Mula-mula ia belajar bahasa Jawa di Wonosari, Gunungkidul. Ini daerah kering sulit air dan kekurangan makanan. Setahun kemudian, ia belajar bahasa Indonesia di Semarang pada 1965 selama enam bulan. Setelah itu kembali ke Yogyakarta dan mengajar di SMA de Britto hingga Desember 1966.

Pada 1967 ia belajar teologi di Institut Filsafat dan Teologi Kentungan, Yogyakarta. Setahun sebelum lulus, Prier ditahbiskan sebagai imam pada 1969.

Awal tinggal di Indonesia, ia kagum dengan beragam musik tradisional yang ada. Dari situ ia terpikir untuk menggabungkan musik tradisional ke dalam lagu-lagu gereja. Inkulturasi begitu istilahnya. Romo Prier lalu mengusulkan pendirian sebuah pusat musik liturgi.

Serikat Jesuit menyetujui usul itu dan didirikanlah Pusat Musik Liturgi Yogyakarta pada 1971. Romo Prier mendapat amanah mengepalainya lembaga itu hingga sekarang. "Tugas utama saya untuk musik," katanya.

Romo Prier dan kisah kepala yang terbacok /Beritagar ID

Pusat Musik Liturgi Yogyakarta memiliki visi mengembangkan inkulturasi musik rohani. Kala itu, musik rohani yang dinyanyikan di gereja-gereja Katolik di Indonesia didominasi gaya Gregorian. Sebagian di antaranya berbahasa Belanda. Kalau pun ada berbahasa Indonesia, jumlahnya sedikit.

Ia mengatakan, sejarah musik gereja berakar pada musik Gregorian di Eropa pada abad 6 dan berkembang hingga abad 13. Meski berlangsung berabad-abad, musik ini hanya berkembang di biara dan dikuasai para biarawan. Strukturnya yang sulit, syair berbahasa latin, dan intonasi panjang dan meliuk-liuk membuat umat tak banyak memainkannya.

"Sekarang siapa yang ngerti bahasa Latin," kata lelaki yang menguasai setidaknya tujuh bahasa ini. Jerman, Inggris, Indonesia, Jawa, Latin, Perancis, dan Yunani. "Sebagian (kosakata) banyak yang sudah lupa."

Pusat Musik Liturgi Yogyakarta memiliki peran yang vital dalam mengembangkan inkulturasi ke musik liturgi di Indonesia. Lembaga ini berperan aktif dalam kongres liturgi pertama di Indonesia pada 1973 di Jakarta.

Dalam kongres itu, Romo Prier mendapat mandat untuk memperluas peserta kongres liturgi kedua yang digelar di Yogyakarta pada 1975. Sepanjang dua tahun ia melawat ke daerah-daerah di Indonesia, semisal Medan dan Flores, untuk menjaring peserta baru sekaligus menggali khazanah musik tradisional.

Pada kongres kedua diputuskan untuk menggelar lokakarya inkulturasi musik liturgi di daerah-daerah serta mendokumentasikannya. Pada kongres berikutnya, pada 1980, dokumentasi itu diperkenalkan untuk pertama kali dalam bentuk Madah Bakti.

Buku ini kerap dipakai umat Katolik saat bernyanyi dalam gereja, selain tentu saja buku liturgi resminya, yaitu Puji Syukur.

Madah Bakti berisi ratusan lagu disertai syair dan not angka. Beberapa lagu ada yang berirama musik Jawa, Manado, Nias, Batak, Papua, Flores, Ambon, dan lainnya.

Seiring berkembangnya pemakaian Madah Bakti, jumlah peserta kongres inkulturasi pun bertambah pada 1983 di Yogyakarta.

Lokakarya ini masih berlangsung hingga sekarang. Romo Prier mengatakan memandu sedikitnya 50 lokakarya di banyak daerah.

Dari hulu sungai Barito di Kalimantan pada 1984, hingga berikutnya Pematang Siantar, Larantuka, Maluku, Mentawai, Nias, sampai Papua. "Dua tahun lalu di Toraja, Juni 2018 nanti di Ketapang Kalimantan," katanya.

Menurut dia, budaya Indonesia yang beragam menyimpan kekayaan musik tradisional. Banyak penduduk lokal mahir bermusik meskipun tak paham not balok. Karena itu, kala menggelar lokakarya, Romo Prier datang dengan pendekatan khusus.

Ia tak menggurui dengan teori musik dan not balok yang njelimet kepada para pemusik lokal. Seperti kecambah menjadi pohon, ia biarkan syair dan musik mereka tumbuh alami. "Saya hanya memandu," katanya.

Dari lokakarya itu, ia melanjutkan, dihasilkan sekitar 1800 musik inkulturasi. Tak seluruhnya terangkum dalam Madah Bakti. Sebagian lain dicetak menjadi buku kumpulan musik rohani di tempat asalnya. Lagunya dinyanyikan dalam misa di gereja setempat.

Toh musik adalah bahasa universal. Banyak di antara lagu-lagu inkulturasi yang dihasilkan di satu daerah, ternyata digemari di daerah lain.

Lagu Misa Dolo-Dolo yang bergaya Flores Timur dan "Menjadi Utusan" asal Batak kerap dinyanyikan di gereja-gereja seluruh Indonesia. Begitu pula "Raja Agung" asal Jawa, irama laras pelognya juga dimainkan dimana-mana.

Selain mengurus musik inkulturasi, Romo Prier juga mengajar musik liturgi bagi umat Katolik. Di Pusat Musik Liturgi Yogyakarta, ia membuka program pendidikan musik liturgi. Jemaat yang ingin belajar teori musik, organ, dan paduan suara bisa datang ke sana.

Baginya, gembala yang baik bertahan ketika serigala datang. Hal ini semata untuk melindungi dombanya. Romo Prier melakukan itu ketika peristiwa teror terhadap gerejanya terjadi awal Februari lalu. Ia bergeming ketika ada pelaku teror membabi buta menyabetkan pedang ke arahnya.
Baginya, gembala yang baik bertahan ketika serigala datang. Hal ini semata untuk melindungi dombanya. Romo Prier melakukan itu ketika peristiwa teror terhadap gerejanya terjadi awal Februari lalu. Ia bergeming ketika ada pelaku teror membabi buta menyabetkan pedang ke arahnya. | Reza Fitriyanto /Beritagar.id

Teror itu untuk menebar ketakutan

Kekhusyukan misa di Gereja St.Lidwina Bedog, Sleman buyar, pagi itu. Seorang lelaki bernama Suliyono menyusup sembari mengayunkan pedang. Jemaat berhamburan keluar menyelamatkan diri. Ia menuju altar. Romo Prier yang memimpin misa bergeming.

Lima orang terluka dalam peristiwa teror itu. Satu di antaranya Romo Prier. Kepalanya terluka tersabet pedang Suliyono.

"Kenapa Anda tidak lari?" saya bertanya di pengujung wawancara.

Romo Prier tersenyum lalu menjawab.

"Kalau serigala datang gembala tak boleh lari."

"Bahkan ketika nyawanya terancam diterkam serigala?" tanya saya lagi.

"Itulah risikonya," jawab Romo Prier.

Penggembala yang buruk, kata dia, pasti lari. Tapi yang baik pasti bertahan untuk melindungi dombanya.

Imam Katolik pendiri Serikat Jesuit, Santo Ignatius, mengajarkan ada roh baik dan tak baik. Bila manusia takut, ia dikuasai roh yang tak baik. Tapi sebaliknya, jika tenang dan damai berarti ia sedang dilindungi roh baik. "Saya teringat (pesan) itu," katanya.

Romo Prier mengatakan tak melihat indikasi pelaku teror sebagai orang yang terganggu kondisi kejiwaannya. Suliyono terlihat sadar melakukan aksinya. "Tujuan dia membuat orang takut dan itu berhasil," katanya.

Seperti ia meyakini serigala adalah hewan berkelompok dan berburu mangsa bersama-sama, ia pun sangsi jika pelaku dianggap bertindak sendiri (lone wolf). Kuat dugaannya ada pihak lain yang memengaruhi pelaku dan membantu melancarkan aksinya. Baik langsung maupun tidak. "Tugas polisi untuk mengungkap itu," katanya.

Ya, gembala boleh jadi tak gentar berhadapan dengan serigala. Tapi bagaimana dengan dombanya?

Romo Karl Edmund Prier, SJ saat memimpin misa di Gereja Santa Lidwina, Bedog, Sleman, Yogyakarta, pada Minggu (11/03/2018).
Romo Karl Edmund Prier, SJ saat memimpin misa di Gereja Santa Lidwina, Bedog, Sleman, Yogyakarta, pada Minggu (11/03/2018). Reza Fitriyanto /Beritagar.id
BIODATA Diperbarui: 15 Maret 2018

Karl Edmund Prier, SJ

Tempat, tanggal lahir:
Weinheim, Jerman Barat, 18 September 1937

Pendidikan:

  • Belajar piano sejak usia sembilan tahun
  • Belajar organ dan mata pelajaran teori musik di Weinheim (1953-1956)
  • Gymnasium Albertus Magnus Schule Viernheim, Jerman (1953-1956)
  • Studi Filsafat di Munchen, Jerman (1959-1962)
  • Belajar bahasa Jawa di Wonosari, Gunungkidul, Yogyakarta (1964)
  • Belajar bahasa Indonesia di Semarang, Jawa Tengah (1965)
  • Studi Teologi, Institut Filsafat dan Teologi, Kentungan, Yogyakarta (1967-1970)

Tiba di Indonesia pada 1964 dan ditahbiskan menjadi Imam Katolik pada 1969

Pengalaman mengajar:

  • Mengajar musik di Kolese Stella Matutina Feldkirch, Austri (1962-1963)
  • Mengajar di SMA de Britto, Yogyakarta (Juli 1965-Desember 1966)
  • Mengajar musik gereja di Fakultas Filsafat dan Teologi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta (1971-sekarang)
  • Mengajar liturgi di IPPAK, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta (1982-sekarang)
  • Mengajar ilmu bentuk musik dan ilmu kontrapung di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta (1971-2004)
  • Mengajar liturgi, ilmu harmoni, aransemen inkulturatif, dan praktek organ di Kurus Musik Gereja, Pusat Musik Liturgi, Yogyakarta (1971-sekarang)
  • Pelatihan dirigen dan organis lokakarya komposisi musik gereja di daerah-daerah seluruh Indonesia hingga kini.

Jabatan:

  • Pimpinan Pusat Musik Liturgi, Yogyakarta (1971-sekarang)
  • Ketua Seksi Musik Komisi Liturgi, Konferensi Waligereja Indonesia (1973-1988)

Karya atau Buku:

  • Ilmu Harmoni
  • Menjadi Dirigen
  • Menjadi Organis
  • Sejarah Musik
  • Ilmu Bentuk Musik
  • Kamus Musik
  • Roda Musik Liturgi
  • Buku-Buku Nyanyian Gereja

Pengalaman lain:

  • Memberi kuliah di Universitas Innsbruck, Austria, tentang inkulturasi di Indonesia (November-Desember 1985)
  • Kongres liturgi internasional (di Roma, Italia, 2002), (Bangkok, Thailand, 2004), (Fortaleza, Brazil, 2006), dan (Montserrat, Spanyol, 2008)


BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR