Lalu Nasib, di rumahnya Dusun Perigi, Desa Gerung Selatan, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu.
Lalu Nasib, di rumahnya Dusun Perigi, Desa Gerung Selatan, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Beritagar.id / Dedi Suherman
FIGUR

Lalu Nasib dan nasib wayang sasak

Menurut dia, wayang adalah miniatur kehidupan manusia. Ia bisa menjadi tontonan dan tuntunan.

Lalu Nasib AR (70) pertama kali belajar menjadi dalang kala duduk di kelas lima Sekolah Rakyat (SR) pada 1957. Waktu itu ia membuat wayang menggunakan kardus bekas di depan halaman rumahnya, di Dusun Perigi, Desa Gerung Selatan, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Bersama kawan-kawan, ia bermain wayang-wayangan. Pada saat itu ia hanya mengingat-ingat jalan cerita wayang sasak dari apa yang pernah ia tonton di lapangan umum desanya. "Dulu teman saya banyak yang belajar sendiri. Tapi sekarang teman-teman saya itu sudah meninggal semua," kenang Lalu Nasib saat ditemui pada Jumat (01/12).

Berawal dari iseng, Lalu Nasib malah jadi terjerumus ke dalamnya. Ia pun menjadi dalang wayang sasak.

Ia mulai menjalani profesi itu pada 1965. Masa tersebut merupakan peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru. "Akhir pemerintahan Presiden Sukarno, saya mulai mendalang tapi belum banyak disewa orang," kata anak semata wayang dari pasangan Lalu Aruman dan Bq Mustiare ini.

Lalu, empat tahun kemudian, ia mulai popular. Undangan datang dari mana-mana. Ia kerap dipakai pemerintah untuk mensosialisasikan Pancasila, program Keluarga Berencana (KB), pencegahan penyakit menular, dan penghijauan di hutan. Sekali nanggap, ia mendapat honor sekitar Rp50 ribu sampai Rp100 ribu.

Pemerintah kala itu menganggap Lalu Nasib berhasil mengemas pertunjukan lebih enak didengar. Ia mencontohkan, salah satu tokohnya bertanya, "Anakmu berapa?" Tokoh lainnya menjawab, "Enam. Kalau kamu berapa?" Tokoh awal itu menjawab, "Dua."

Dialog itu kemudian menjadi pintu masuk untuk membicarakan dengan gamblang program KB. "Saya bandingkan mengurus enam dan dua anak. Tentu lebih mudah mengurus dua anak," kata Lalu Nasib.

Ia mengakui tak banyak mengolah gagasannya kala itu. Lalu Nasib hanya mendalang sebagaimana dalang-dalang sebelumnya, serta lebih terikat pada naskah. "Dulu saya masih buta isu politik dan pengetahuan umum," ujarnya.

Rezim itu memang tak memberi ruang untuk membahas isu politik, apalagi kritik. "Di era Soeharto, hanya bayangan bernegara yang terus ditampilkan," kata Lalu Nasib. "Terlebih saya tak punya data otentik tentang pemerintah."

Ia berinisiatif memasukkan benda-benda moderen dalam pagelarannya, seperti dokar, motor, hingga pesawat antariksa Apollo. Masyarakat di Lombok senang dengan gayanya mendalang yang terkesan moderen.
Ia berinisiatif memasukkan benda-benda moderen dalam pagelarannya, seperti dokar, motor, hingga pesawat antariksa Apollo. Masyarakat di Lombok senang dengan gayanya mendalang yang terkesan moderen. | Dedi Suherman /Beritagar.id

Pagelaran budaya, bukan konten porno

Perjuangan Lalu Nasib bukan semata dalam kariernya sebagai dalang. Selama lebih 50 tahun ia berjuang untuk melestarikan keberadaan wayang sasak.

Keberadaan wayang ini sudah pudar di tengah masyarakat sejak 1969. Banyak generasi muda yang bosan dan tak mengerti menontonnya karena memakai Bahasa Kawi (Jawa Kuno).

Ia harus berinovasi. Langkah pertama yang ia lakukan adalah mengubah bahasa pendalangan. Lalu Nasib kemudian perlahan-lahan menyisipkan Bahasa Indonesia dan Bahasa Sasak.

Ternyata perubahan ini sangat berpengaruh pada penonton pertunjukan wayangnya. Generasi muda mulai datang dan betah duduk berlama-lama menyaksikan aksi Lalu Nasib.

Langkah kedua, ia mengubah perlengkapan wayangnya. Lampu teplok yang dibuat dari benang dan minyak kelapa ia ganti dengan lampu petromaks.

Banyak yang protes dengan perubahan itu. Lampu teplok justru lebih menghidupkan wayang karena kerap berkedip. "Seperti bernapas," ujarnya. Tapi dengan lampu petromaks (sekarang sudah menjadi lampu listrik), seni tatahan dan ukiran wayang kulit tampak jelas dari bayangan.

Ia juga berinisiatif memasukkan benda-benda modern dalam pagelarannya. Ada dokar, motor, hingga pesawat antariksa Apollo. Menurut dia, masyarakat kala itu kaget menyaksikannya.

Tapi berkat perubahan tersebut, Lalu Nasib berhasil melambungkan namanya. Masyarakat senang dengan gayanya mendalang yang terkesan modern.

Lalu Nasib kemudian berinovasi lagi dengan menghadirkan tokoh modern dengan karakter lokal. Kalau di wayang kulit Jawa ada Bagong, Gareng, Semar, dan Petruk, nah di Lombok ada Inak Amak Ocong, Amak Amat, Amak Baok, dan Inak Etet.

Keempat tokoh tersebut tak ada hubungannya dengan karakter wayang Jawa. Mereka memiliki karakter masing-masing dan menggunakan bahasa Sasak dalam berkomunikasi. "Dari keempat tokoh tersebut hanya Inak Etet yang mewakili perempuan," katanya.

Karakter keempat tokoh tersebut, terdapat makna simbolis dari struktur sosial-politik masyarakat. Misalnya, figur Ocong dibentuk sebagai penyambung lidah antara raja dan rakyat. Amak Amat sebagai pengontrol atau pengawas pemerintah.

Amak Baok berperan sebagai penyensor kultur yang kira-kira relevan atau tidak dengan struktur sosial masyarakat. Baok sendiri dalam bahasa Indonesia berarti 'jenggot' yang bermakna bijaksana.

Lalu Nasib menciptakan empat tokoh itu berdasarkan pengamatan berbagai karakter orang-orang di Nusa Tenggara Barat. Di NTB terdapat tiga etnis besar, yaitu Sasak, Samawa dan Mbojo. Saat mendalang, Lalu Nasib berusaha mengemas cerita dan memakai bahasa yang bisa merangkul ketiga etnis tersebut.

Tapi gara-gara mendekatkan dengan kehidupan masyarakat, Lalu Nasib pun pernah kena semprit pemerintah. Pada Februari 2015 Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) NTB mengeluarkan larangan dan penghentian penayangan pagelaran wayangnya di stasiun televisi lokal.

Lembaga itu menilai pertunjukan wayang Lalu Nasib mengandung konten porno dan ada makian. Seniman NTB ramai membincangkan kasus tersebut. Tapi Lalu Nasib malah tak pernah mendapat konfirmasi dari pihak KPID.

Lalu Nasib memakai kata sundal, godek (monyet), dan acong (anjing), dan diksi lainnya. Hal tersebut ia gunakan sebagai guyonan sehari-hari, sebagaimana percakapan masyarakat Sasak pada umumnya.

Menurut dia, kata-kata yang dilontarkan oleh tokoh wayangnya tidak bisa dilihat sebagai makian atau porno. Kata-kata yang terlontar hanya untuk mengisi karakter tokoh dan melengkapi visualisasi wayang. "Intinya, kata-kata tersebut jadi bahasa rakyat, bukan kategori kasar," katanya.

Kata dia, KPID sebagai lembaga negara seharusnya bisa menilai pagelaran wayang itu adalah hasil budaya. "KPID itu tidak tahu namanya budaya. Manusia tanpa budaya itu sama seperti hewan," ujar Lalu Nasib.

Filosofi wayang

Pertunjukan wayang, menurut Lalu Nasib, mengandung dua unsur, yaitu tontonan dan tuntunan. Hakikatnya, ia bisa menghibur tapi juga bisa mengarahkan orang ke jalan yang benar.

Hal itu merujuk pada naskah awal wayang sasak yang berasal dari Serat Menak atau Hikayat Amir Hamzah. Hikayat itu merupakan wiracarita bangsa Melayu yang menceritakan perjuangan Amir Hamzah dalam berdakwah dan menyebarluaskan Islam.

Namun, karena wujud Sang Nabi tak bisa diwakili dalam medium apa pun, maka dipinjamlah figur Amir Hamzah, seorang paman dan saudara sepersusuan Nabi Muhammad.

"Hikayat Amir Hamzah digunakan Sunan Kalijaga untuk menyebarkan Islam," kata Lalu Nasib.

Naskah ini awalnya berasal dari Persia. Pujangga dari Kasunanan Surakarta bernama Yasadipura I (1729-1802) menuliskannya kembali dari bahasa Arab ke Kawi. Itulah yang menjadi pakem Serat Menak dan menyebar sampai ke Lombok, meskipun kerajaan itu tak memiliki hubungan langsung dengan Kerajaan Selaparang (Lombok).

Lalu Nasib kerap mendengar Serat Menak dari para dalang. Naskah itu berjumlah dua jilid. "Sekarang naskah itu sudah tidak dicetak lagi," ujarnya.

Di Jawa naskah tersebut sudah jarang dimainkan. Para dalang lebih tertarik memainkan naskah Mahabarata dan Ramayana. Tapi mereka pun kerap memainkan cerita tentang dewa dengan disisipi pandawa lima yang berarti rukun Islam. "Meskipun bicara tentang dewa, namun misinya tetap tentang ajaran Islam," kata Lalu Nasib.

Berbeda dengan di Lombok. Naskah Serat Menak pasti menjadi acuan para dalang wayang sasak, meskipun tidak beragama Islam.

Tapi di sisi lain, menurut dia, seorang dalang harus berpikir terbuka dan dapat melihat situasi masyarakatnya. Ketika memainkan wayang di daerah yang mayoritas bukan muslim, maka ia berupaya mengurangi materi tentang syiar Islam.

Lalu Nasib mengutip budayawan dan pakar sastra Jawa kuno, Profesor Poerbatjaraka, kala menjelaskan filosofi wayang. "Wayang itu miniatur kehidupan manusia. Wayang berhadapan dengan dalang sebagaimana manusia berhadapan dengan Tuhan," ujarnya.

Menurut Lalu Nasib, wayang berarti bayangan. "Menonton wayang ibarat menonton bayangan sendiri," katanya. Gerak wayang adalah rahasia dalang. Gerak manusia adalah rahasia Tuhan. Hidup dan mati wayang bergantung pada dalang.

Dalang berhak mengeluarkan pelbagai tokoh yang ia kehendaki. Itulah sebabnya dalang tidak boleh lebih dari satu.

Lalu Nasib, dalang wayang sasak, berpose untuk Beritagar.id di rumahnya Dusun Perigi, Desa Gerung Selatan, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat beberapa
Lalu Nasib, dalang wayang sasak, berpose untuk Beritagar.id di rumahnya Dusun Perigi, Desa Gerung Selatan, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat beberapa Beritagar.id /Dedi Suherman
BIODATA Diperbarui: 11 Januari 2018

Lalu Nasib

Nama:

Lalu Nasib AR

Istri:

Hj. Endang Hartaningsih

Anak:

Enam

Cucu:

Sepuluh

Cicit:

Satu

Riwayat Pendidikan

Sekolah Rakyat (1952)

Sekolah Pelayaran Ampenan (1959)

Penghargaan

Mendapat hadiah dari Bina Graha di era presiden Soeharto (1981)

BACA JUGA