Penyair, penulis, dan pustakawan M Aan Mansyur berpose untuk Beritagar.id di Cafe Tiga Anak Bawang, Kemanggisan, Jakarta Barat, pada Selasa (20/03/2018).
Penyair, penulis, dan pustakawan M Aan Mansyur berpose untuk Beritagar.id di Cafe Tiga Anak Bawang, Kemanggisan, Jakarta Barat, pada Selasa (20/03/2018). Beritagar.id / Wisnu Agung Prasetyo
FIGUR

Lapisan pikiran M Aan Mansyur

Puisi dalam film AADC?2, menurut dia, sebenarnya politis, tak sekadar romantis.

Buku puisi Adam Zagajewski, Unseen Hand, ia tenteng di tangan kirinya. Langit Jakarta sore itu mendung. Aan Mansyur mengenakan hoodie hitam, celana jin, dan sepatu kets.

Ia baru saja mendarat dari Makassar, Sulawesi Selatan. Kami bertemu dengannya di lobi Hotel Blue Sky, Slipi, Jakarta Barat. Di sinilah ia menginap selama semalam.

Kami sepakat pindah lokasi untuk mencari tempat ngobrol yang lebih asyik. Mobil lalu melaju ke Cafe Tiga Anak Bawang di kawasan Kemanggisan.

Di lantai dua cafe itu Aan bercerita soal masa kecil dan kehidupannya sebagai penyair. Segelas kopi sesekali ia sesap.

Kami sempat menggodanya dengan bertanya apakah buku yang sedari tadi ia pegang adalah Tidak Ada New York Hari Ini. "Oh bukan. Saya tidak pernah menyimpan buku karya saya di rumah," katanya sambil tersenyum pada Selasa lalu (20/03/2018).

Kalau membaca kembali karyanya, ia melihat banyak hal yang belum selesai. Aan memilih tidak bersingungan lagi dengannya.

Tidak Ada New York Hari Ini adalah karya Aan yang fenomenal. Rasa-rasanya belum pernah ada buku puisi di Indonesia yang bisa laku lebih dari 100 ribu eksemplar dalam hitungan bulan.

Yang lebih ajaib lagi, buku ini bisa memikat para pembaca puisi pemula. Mereka pun tergolong anak muda, tak jarang remaja. Semua gara-gara film Ada Apa Dengan Cinta? 2.

Empat puisi yang dibacakan Rangga, salah satu tokoh utama film itu, merupakan karangan Aan. Setelah film tayang pada April 2016, ia lalu membuatnya menjadi buku dan menambah 26 puisi lainnya berdasarkan alam pikiran Rangga.

"Saya memang sengaja membuat puisi itu untuk anak-anak muda," ujar Aan kepada Sorta Tobing, Muammar Fikrie, Jessycha Nayoan, dan fotografer Wisnu Agung Prasetyo. Selain kebutuhan film, ia ingin puisi bisa menjangkau lebih banyak orang.

Strategi itu berhasil dan sukses besar. Laku terjual, bahkan masih dicari hingga sekarang. Tapi Aan melihat sebaliknya. Dibandingkan jumlah penonton filmnya yang hampir empat juta orang, 100 ribu eksemplar tak ada artinya. "10 persennya pun tidak," katanya.

Ia lahir dan besar di Sulawesi Selatan. Darah Bugis mengalir kuat di dalam dirinya. Hal ini memunculkan kesulitan bagi Aan untuk menjadi penyair.

Gaya bahasanya jauh berbeda dengan penyair Indonesia Barat yang mayoritas dari Jawa dan Sumatera. Belum lagi ia harus berhadapan dengan lingkungan sekitarnya yang belum akrab dengan profesi ini.

Aan menceritakan semua itu sekitar 1,5 jam pembicaraan. Ia bisa serius menjelaskan soal prosesnya berkarya. Tapi ia bisa tertawa mengakui kesibukan barunya sebagai bapak rumah tangga. Berikut kisahnya.

Aan lahir di Bone, Sulawesi Selatan, 36 tahun lalu. Ia tumbuh menjadi pribadi yang pendiam dan penyendiri. Buku menjadi temannya. Menulis menjadi caranya berkomunikasi.
Aan lahir di Bone, Sulawesi Selatan, 36 tahun lalu. Ia tumbuh menjadi pribadi yang pendiam dan penyendiri. Buku menjadi temannya. Menulis menjadi caranya berkomunikasi. | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Tentang ibu

"Kalian pasti jarang sekali mendengar ada orang Bugis menjadi penulis," katanya. Kami manggut-manggut. Pedagang atau politisi yang awam terdengar. "Ini pekerjaan menyakitkan, bahkan untuk sebuah profesi," ujarnya.

Ia mencontohkan, sejak menikah akhir tahun lalu, Aan masih kesulitan menjelaskan pekerjaannya kepada para tetangga. Di lingkungannya yang kental karakter maskulin dan patriaki, melihat ada seorang laki-laki mengantar-jemput istri kerja dan anak sekolah, memasak, mencuci adalah hal langka.

"Kalau ada penjual sayur naik motor, saya belanja di antara ibu-ibu. Mereka melihatnya aneh sekali," ujar laki-laki kelahiran Bone, 14 Januari 1982 itu. Padahal pekerjaan rumah tangga sudah akrab ia jalani sejak kecil.

Ibunya berjuang seorang diri membesarkan tiga anaknya. "Ibuku ditinggal suaminya waktu saya kecil," katanya. Ketika itu Aan baru berumur sekitar tujuh tahun.

Aan terpaksa membantu pekerjaan rumah. Memasak sudah ia lakoni sejak duduk di bangku sekolah dasar. Setelah pulang sekolah, ia biasa mengerjakan itu.

Ia juga sempat masuk pesantren tanpa asrama saat di bangku sekolah menengah. Kehidupan sebagai anak indekos membuat Aan semakin mandiri.

Tapi ada hal lain yang menyebabkannya akrab dengan urusan rumah tangga. Ia punya kelainan jantung sejak kecil. Lelah sedikit, ia bisa pingsan. Ia tak dapat menggarap sawah atau menggembalakan ternak seperti adiknya yang laki-laki.

Ia tak punya pilihan selain berada di rumah. Aan tumbuh menjadi pribadi yang pendiam dan penyendiri. Buku menjadi temannya. Menulis menjadi caranya berkomunikasi. Sekarang pun ia masih begitu. Sampai-sampai ia tak bisa bekerja kalau ada orang lain dalam satu ruangan.

Dengan ibunya, Safinah, ia selalu merasa ada jarak. "Kami sama-sama pendiam," katanya. Komunikasi keduanya kerap melalui surat yang diselipkan ke bantal.

Ketika Aan kecil ingin sesuatu, ia menyelipkan surat ke bantal ibunya. Beberapa hari kemudian, Safinah melakukan hal serupa untuk Aan sebagai balasan.

Hubungan yang berjarak ini dipicu karena keterbatasan fisik Aan. Sebagai anak sulung dan laki-laki, ia kerap diliputi rasa bersalah karena tak bisa diandalkan.

"Saya jadi susah sekali ngomong ke ibu dan tidak mau melihatnya sedih," ujar Aan. "Banyak sekali rahasia atau pertanyaan tentang ibu saya tulis menjadi puisi."

Kisah hidup ibunya sempat pula Aan tulis dalam kumpulan cerpennya Kukila, pada bab Setia adalah Pekerjaan yang Baik.

Setelah remaja dan masuk kuliah di Makassar, ia semakin jarang bertemu dengan ibunya. Komunikasi mereka sebatas via telpon atau pesan singkat.

Kalau tak ada kabar selama dua bulan, Safinah akan bertanya apakah Aan sudah berhenti menulis puisi. "Saya tahu maksudnya itu dia lagi kangen. Karena hampir semua puisiku yang paling awal membacanya adalah ibuku," katanya.

Momen paling mengasyikkan, menurut dia, kalau Safinah sudah membaca atau mendengar puisi karangan Aan. Tidak pernah ada komentar keluar dari mulutnya. "Saya jadi merasa terus menebak-nebak apa yang yang dia pikirkan," ujar Aan.

Tegangan di antara mereka menjadi landasan Aan dalam menulis puisi. Kadang ia membayangkan pembacanya pun mempunyai hubungan sedekat dan sejauh dirinya dengan Safinah. "Banyak di puisiku saya membayangkan jarak ini dengan ibu," katanya.

Menjadi penulis, menurut dia, harus dua langkah lebih maju dari pembacanya. Tapi awal ia menulis puisi tak semudah yang dibayangkan. Bahasa Indonesia ternyata tak segamblang bahasa Bugis yang kerap ia pakai.
Menjadi penulis, menurut dia, harus dua langkah lebih maju dari pembacanya. Tapi awal ia menulis puisi tak semudah yang dibayangkan. Bahasa Indonesia ternyata tak segamblang bahasa Bugis yang kerap ia pakai. | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Si Bocah Pikun

Ia membaca sejak kecil. Buku-buku milik kakeknya kerap ia baca. Buya Hamka dan Pramoedya Ananta Toer adalah sederet nama penulis yang ada di rak buku kakek Aan.

"Saya dulu mengira Pramoedya sastrawan Malaysia karena buku kakek berasal dari anaknya yang kerja di sana," ujar Aan sambil tertawa.

Begitu pula dengan menulis. Catatan harian rutin ia tulis sejak sekolah dasar. Kalau malam neneknya selesai bercerita, Aan akan segera menuliskannya ulang.

Banyak hal ia tulis dalam catatan hariannya, termasuk kisah cinta. Suatu hari teman sebangkunya di sekolah dasar menemukan buku itu. Lalu, dibacakanlah di depan kelas perasaan cintanya dengan seorang perempuan di sekolah yang sama. Aan kena bully.

"Sejak saat itu saya merasa harus menulis sesuatu yang hanya saya dan Tuhan yang tahu," katanya. Aan lalu membuat kamus sendiri.

Kebetulan kakeknya juga menyarankan hal yang sama. Aan kecil kerap disebut bocah pikun. "Kita bisa ngobrol gini, tapi nanti saya bisa lupa nama Anda," katanya. Ia harus belajar mengingat peristiwa dengan caranya sendiri.

Misalnya, seorang teman Aan pernah digigit anjing. Itu menjadi catatan di pikirannya. Kalau menulis anjing, ingatannya pasti ke temannya.

Semua benda di sekitarnya bisa menjadi referensinya dalam berpikir. Warna merah tak serta merta berarti mawar atau bibir. Bagi Aan, itu terlalu dekat. "Warna merah adalah ketupat," katanya.

Ketika orang bertanya apa hubungannya, di sinilah tantangan Aan untuk bercerita. Ceritanya begini, suatu kali neneknya sedang bikin ketupat dan tangannya teriris pisau, lalu berdarah. Itu bagian sederhananya. Lebih jauh lagi, Aan mengatakan, hari raya Lebaran berarti tanggal merah.

Dari sini, ia jadi terbiasa berpikir berlapis-lapis. Hal ini memudahkannya ketika menulis. "Saya merasa kalau jadi penulis harus berpikir minimal dua langkah lebih maju dari pembaca," ujar Aan.

Aan Mansyur tentang puisi dan AADC 2 /Beritagar ID

Tapi awal ia menulis puisi tak semudah yang dibayangkan. Bahasa Indonesia ternyata tak segamblang bahasa Bugis yang kerap ia pakai.

"Saya tahu persis cara saya menggunakan bahasa Indonesia berbeda dengan penyair Indonesia bagian Barat, di Jawa atau Sumatera," katanya.

Misalnya, ketika Aan kecil jatuh, neneknya tidak bilang kalau lari lihat dengan benar. Neneknya malah mengatakan, pakai matamu. Seolah-olah mata bisa dilepas dan dipasang

Ketika menulis untuk karakter Rangga dalam Ada Apa Dengan Cinta? 2, Aan mengaku sempat kesulitan membayangkan puisinya dalam semesta bukan Bugis. Ia perlu membeli peta New York (kota tempat tinggal Rangga) dan melihat foto-foto kota itu.

Tak pernah melihat salju. Aan juga harus membayangkan kesedihan dan kerinduan Rangga di tengah musim dingin.

Simaklah bait pertama dan terakhir puisinya yang berjudul Di Jalan Menuju Rumah.

Di jalan menuju rumah, aku tidak mampu
membedakan antara pagi yang lumrah
dan sore yang merah bagai kesedihan
pecah di sepasang matamu
...
Aku tidak mampu membedakan,
apakah bayanganmu yang datang
atau tubuhku yang pulang.

Puisi di atas tak masuk dalam film, tapi tercetak pada buku Tak Ada New York Hari Ini. Coba juga baca bait terakhir puisi yang paling terkenal di film itu yang berjudul Batas.

Apa kabar hari ini? Lihat, tanda tanya itu,
jurang antara kebodohan dan keinginanku
memilikimu sekali lagi.

Terasa romantis. Apalagi jika membayangkan seorang Rangga (diperankan oleh Nicholas Saputra) mengatakannya untuk Cinta (Dian Sastrowardoyo).

Aan mengatakan, ia tak semata menulis puisi cinta. Lagi-lagi, ada lapis-lapis lain di dalamnya. "Di kepala saya sudah terpikir relasi dunia pertama dan dunia ketiga, antara Indonesia dan Amerika Serikat," katanya. "Puisi-puisi ini sebenarnya politis sekali."

Judul Tak Ada New York Hari Ini bukan sekadar menarik perhatian pembaca. Itu sebenarnya pernyataan sikap Aan. "Pusat dunia bukan lagi di sana," ujarnya.

Puisi Batas pun serupa. Kisah sebenarnya jauh dari romantis. Aan menuliskan ini berangkat dari kisah para imigran di Amerika Serikat. Mereka tidak pernah benar-benar merasa di satu tempat yang pasti. Hidupnya di dua ambang dunia.

"Saya kira itu relevan dengan kita," kata Aan. "Saya ngomong dengan orang yang jauh tapi berada di sini, bersama kalian."

Tapi untuk mengatakan hal itu lewat kepala Rangga, Aan membayangkan, enggak mungkin bisa setelanjang itu. Ia percaya Rangga diciptakan sebagai sebuah karakter dengan pikiran politis tapi cara mengatakannya berbeda.

"Saya tidak memaksa anak muda yang baru membaca puisiku dapat langsung menafsirkannya," ujarnya. "Tapi saya selalu memikirkan lapisan-lapisan itu pada puisi saya."

Dari bocah pikun hingga penyair sukses. Aan tak menyangka pelariannya ke dalam bidang tulis-menulis justru membuatnya kerap berbicara di depan umum. Pelan-pelan ia belajar berkomunikasi langsung dengan orang lain.

Ia juga menulis novel dan menjadi pustakawan di Katakerja, sebuah ruang kreatif dan ruang publik di Makassar. Tapi puisi selalu menjadi hasratnya, walaupun yang tersulit.

Kehidupan pernikahan menjadi babak baru baginya. Ia menikah dengan mantan pacarnya saat kuliah, Anna Sahriana.

Anna adik kelas Aan tiga tahun lebih muda. Keduanya sempat putus. Lalu, berteman baik. Anna menikah dan memiliki dua anak. "Saya berkali-kali gagal menikah," katanya tertawa.

Belakangan Aan tahu Anna telah bercerai. Aan yang sudah merasa tua mengajaknya menikah. Sekarang keduanya tengah menanti kelahiran sepasang anak kembar.

"Saya bisa membayangkan menjadi bapak bukan pekerjaan mudah. Tapi saya senang karena bisa langsung punya anak," ujar Aan.

Proyek yang sedang ia kerjakan adalah menulis buku anak. Ia ingin mendekatkan anak-anak Indonesia kepada puisi. Paling tidak anak-anak sahabat-sahabatnya bisa menikmati karyanya.

Penyair, penulis, dan pustakawan M Aan Mansyur berpose untuk Beritagar.id di Cafe Tiga Anak Bawang, Kemanggisan, Jakarta Barat, pada Selasa (20/03/201
Penyair, penulis, dan pustakawan M Aan Mansyur berpose untuk Beritagar.id di Cafe Tiga Anak Bawang, Kemanggisan, Jakarta Barat, pada Selasa (20/03/201 Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id
BIODATA Diperbarui: 22 Maret 2018

M Aan Mansyur

Nama asli:
Martan Mansyur

Tempat, tanggal lahir:
Bone, 14 Januari 1982

Pendidikan:

  • Sastra Inggris, Universitas Hasanudin, Sulawesi Selatan (1998-2005)

Beberapa buku karyanya yang telah diterbitkan:

  • Hujan Rintih-Rintih (2005)
  • Perempuan, Rumah Kenangan (2007)
  • Aku Hendak Pindah Rumah (2008)
  • Cinta yang Marah (2009)
  • Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita Dalam Satu Cerita (2012)
  • Kukila (2012)
  • Kepalaku: Kantor yang Paling Sibuk di Dunia (2014)
  • Melihat Api Bekerja (2015)
  • Tidak Ada New York Hari Ini (2016)

Aktivitas selain menulis:

  • pustakawan Katakerja
  • sempat menjadi kurator Makassar International Writers Festival
  • relawan di Komunitas Ininnawa
BACA JUGA